
Inilah aku di puncak Gunung Lawu di Jawa Timur. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku
bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute
IWANSUNTER is my adventure’s name. “Sunter” is a name of town where I was born and grew up. An adventure has become a part of mylife. Mountain climbing is my hobby. Ride a bike is another one. RIDE A BIKE TO MOUNTAINS PEAK is my new one. I always pray and hope that I can reach one by one another adventures...
(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)
Kamis pagi pukul 10, Iwan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta. Jalur pulang yang ia tempuh adalah jalur selatan pulau jawa. Hari itu ia melahap jarak Situbondo – Probolinggo. Malam hari ia menginap di Mapala Marabunta Univ Pancamarga.
Jumat, 8 Juni 2007, yang merupakan perjalanan hari ke-17 Iwan meneruskan perjalanan menuju arah Madiun. Ia memang mewajibkan dirinya untuk selalu singgah di sebuah desa di pinggiran kota kelahiran kedua orangtuanya. Terlebih lagi, sejak kepergian sang ayah tahun lalu, Iwan merasa sangat harus mengunjungi makam ayah yang sangat ia cintai. Perjalanannya hari ini hanya menempuh jarak Probolinggo – Kertosono. Iwan menuturkan bahwa saat ia melalui jalur Jombang – Kertosono, ingatannya menerawang ke masa dua tahun yang lalu, saat ia menuntaskan misi perjalanan bersepeda seorang diri untuk pertama kali dengan jarak Jakarta – gunung Rinjani, Lombok – Jakarta. Malam ini ia menumpang menginap di Pos Polisi Baron, Jawa Timur.
(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)
Sabtu pagi, Iwan dan Toto menuju ke kaki gunung Batur di pulau Bali. Iwan tetap menggunakan sepeda Polygonnya sedangkan Toto mengendarai sepeda motor. Saat mendaki gunung Batur, Iwan tetap menyertakan sepedanya hingga ke puncak gunung tersebut. Bila saya tidak salah, ini berarti adalah gunung ke-3 yang ia daki dengan menyertakan sepedanya hingga ke puncak, setelah gunung Rinjani di tahun 2005 dan gunung Sinabung di tahun 2006.
Minggu pagi Iwan dan Toto kembali menuruni gunung Batur. Perjalanan cukup melelahkan mengingat Iwan harus membopong ranselnya dan sekaligus, secara bergantian, membopong sepedanya.
Senin pagi Iwan kembali melalukan perjalan menuju Jakarta. Saat saya hubungi sore tadi, ia sedang berada di kapal feri yang membawanya menyeberangi selat yang menghubungkan pulau Bali dengan pulau Jawa. Malam ini ia berencana menginap di kantor pelabuhan di Banyuwangi. Menurutnya, esok ia akan mengayuh sepedanya menuju kota Situbondo dan akan memenuhi janji dengan seorang temannya di sana untuk mendaki gunung Ringgit. Tentu saja dengan menyertakan sepeda Polygon hingga ke puncak.
Tanggal 22 Februari 2004 aku “menakdirkan” diri ke Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Lampung Selatan yang berada di kaki Gunung Tanggamus untuk mendaki Gunung Tanggamus (2132 mdpl) dalam rangkaian perjalananku mendaki 15 gunung pulau sumatera. Gunung Tanggumus merupakan gunung ke-13 dalam perjalanan kali itu.
Pilihanku memilih Mallory untuk kusandangkan nama tersebut pada anakku semata-mata karena aku lebih “feeling” kepadanya. Aku kagum padanya lantaran ia merupakan pendaki tahun 1920-an yang menghajar Everest sebanyak tiga kali dalam cuaca dan iklim yang masih perawan dan amat berbahaya. Dan saat banyak orang bertanya padaku tentang alasan pemberian nama Mallory pada anakku, kujawab, “because he born there” sambil kutunjuk kaki Gunung Tenggamus.
Bila saja anakku yang lahir tersebut berjenis kelamin perempuan, pastilah ia kuberi nama Inerie Cartensz


Rencana perjalanan Iwansunter kali ini terbilang sangat pendek, karena hanya mengayuh untuk rute di pulau Jawa saja. Terbilang pendek pun karena ia adalah sang penakluk rute Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT dengan bersepeda seorang diri beberapa bulan lalu.
Hari ke-2 dan ke-3 (Minggu-Senin, 5-6 November 2006)
Sore ini Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di kota batik, Pekalongan, Jawa Tengah. Ini merupakan hari ke-3 Iwan mengarungi jalan pantura untuk kesekian kalinya dengan bersepeda seorang diri. Kemarin ia menempuh jarak: Pamanukan, Jawa Barat hingga ke Desa Playangan, Cirebon. Hari ini dan kemarin, problem yang dihadapi Iwan sama yaitu terik panas matahari yang luar biasa! Ditambah lagi, menurutnya, ternyata bersepeda dengan menggunakan sepeda Onta cukup berat. Di samping bentuknya yang tinggi yang mengharuskan Iwan berjinjit saat mengayuh, juga karena kayuhan yang berat. Iwan merasakan perbedaan luar biasa antara bentuk sepeda gunung dengan sepeda tukang ojek! Bila kemarin malam ia menginap di rumah seorang sahabatnya di Desa Playangan, malam ini Iwan menumpang nginap di Kampus STAIN Pekalongan. (ksg)
Hari ke-4 (Selasa, 7 November 2006)
Perjalanan hari ini dimulai dari Kampus STAIN Pekalongan dan berakhir di Kampus Universitas Diponegoro Semarang. Menurut Iwan kondisi di perjalanan masih sama dengan kemarin, yaitu panas terik.
Hari ke-5 (Rabu, 8 November 2006)
Jalur yang ditempuh Iwan hari ini adalah Semarang – Solo. Jalan yang kadang menurun dan kadang menanjak ia raih dengan relatif mudah. Alhamdulillah tidak ada halangan berarti yang menerpa Iwan. Ia pun tiba di kota Solo sore hari tadi. Malam ini ia menumpang nginap di Malimpa Universitas Muhammadiyah Solo. Besok, sesuai rencana ia telah tiba di desa kelahiran sang ayah tercinta yang berada di pinggiran kota Madiun. (ksg)
Hari ke-6 (Kamis, 9 November 2006)
Menjelang magrib Iwan tiba di Desa Patihan Kabupaten Magetan yang berada di pinggir kota/kabupaten Madiun. Hari ini ia mengayuh sepeda tuanya dari kota Solo hingga desa tersebut. Saat tiba di desa kelahiran sang ayah, ia tidak menuju ke rumah sang ayah melainkan langsung menyambangi makam sang ayah tercinta. Meskipun hari telah gelap namun tidak menyurutkan langkah Iwan untuk bertandang ke pemakaman yang sunyi tersebut. Ia nampak puas mampu menyelesaikan misi pendeknya kali ini. Ia puas mampu menunjukkan bahwa sepeda tua ayahnya ternyata mampu ia kayuh dari Jakarta hingga ke tanah kelahiran sang ayah.
Seharian ini Iwan menghabiskan waktunya untuk beristirahat dan mengunjungi kerabat-kerabat nya yang ada di desa tersebut dan desa tetangga lainnya. Tak lupa siang hari inipun ia kembali mendatangi makam sang ayah untuk sekedar menghibur diri. Menurutnya, masih ada rasa penyesalan mendalam yang ia rasakan saat ini. Kenangan pahit beberapa bulan lalu pun tersirat kembali. Ia teringat saat sang ayah dipanggil oleh-Nya, ia sedang berada di pinggiran kota Larantuka, NTT. Saat itu ia baru saja akan meninggalkan kota Larantuka setelah ia rengkuh dengan kayuhan sepeda dari Jakarta.
Hari ke-10 (Selasa, 13 November 2006)
Sepanjang hari Sabtu dan Minggu kemarin, Iwan menggunakan waktunya untuk lebih banyak berinstopeksi diri dan bersilaturahmi dengan kerabat-kerabatnya. Sesekali ia mengunjungi makam sang ayah. Bahkan selesai acara tahlilan (doa bersama) yang diadakan pada minggu malam, Iwan menyempatkan datang ke makam sang ayah. Keadaan area pemakaman saat itu tentu saja hening plus gelap gulita. Namun tekad bajanya telah menghilangkan rasa takut dalam diri Iwan. Baginya menyambangi makam pada siang atau malam hari tidak ada bedanya. Semakin sering mengunjungi makam, semakin sadar pula ia akan datangnya hari akhir. Pagi ini Iwan kembali mengayuh sepedanya untuk menuju kembali ke Jakarta. Ekspedisinya kali ini tidak diselinginya dengan mendaki gunung. Ekspedisi singkatnya benar-benar ia gunakan untuk mengayuh sepeda onta tua peninggalan sang ayah. Ia merencanakan menempuh jalur selatan untuk menuju Jakarta. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah hari minggu ia bisa tiba di Jakarta, begitu tutur Iwan via sms kepada saya. (ksg)

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-105 s.d. ke-108 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA
Senin, 31 Juli 2006 (Hari ke-105) Perjalanan ke Arah Timur:
Pagi ini kumulai perjalananku di pulau Flores nan indah. Sejak pukul 7 pagi aku telah siap untuk mengayuh kembali sepedaku. Tubuhku terasa lebih segar setelah kemarin aku lebih banyak beristirahat di atas kapal yang menyeberangkan aku dari Pelabuhan Sape di Pulau Sumbawa ke Labuhan Bajo yang terletak di ujung barat pulau Flores. Perjalanan membelah Selat Sape selama 8 jam tersebut memang menjemukan. Tapi bagiku, itulah saat-saat dimana aku bisa beristirahat sejenak dari ”kewajiban” mengayuh sepeda.
Setelah berpamitan dengan komandan pasukan marinir yang mengijinkan aku menumpang nginap di markasnya tadi malam, segera kukayuh sepedaku ke arah pegunungan yang berdiri angkuh seolah telah menantikan kedatanganku. Target capaianku hari ini adalah kota Ruteng yang berada di dataran tinggi. Di luar dugaanku jalan yang kulalui menanjak terjal. Kewalahan juga aku dibuatnya. Saat lepas dari Labuhan Bajo, di sisi kanan jalan yang kulalui berupa tebing nan tinggi sementara di sisi kiri berupa jurang yang di bawahnya menganga pemandangan laut nan indah. Setelah itu jalan terasa tidak ada yang menurun. Tanjakan-tanjakan terjal sering memaksaku untuk menuntun sepeda Polygon yang kubawa. Sungguh menguras tenaga! Bila dibandingkan dengan kondisi jalan menanjak di Sumatera, maka jalan menanjak di Flores ini tak tertandingi. Ibaratnya, bila tanjakan di Sumatera adalah sebuah bukit maka tanjakan di Flores adalah sebuah gunung tinggi!
Dengan kondisi jalan seperti itu, jarak yang berhasil kutempuh hanya beberapa puluh kilometer saja. Saat gelap mulai menyerang aku tiba di Desa Paang Lembar Kabupaten Manggarai Barat. Aku sempat kebingungan di desa ini. Aku tidak tahu dimana harus menginap dan menunaikan sholatku. Tidak kutemui masjid ataupun musholah di desa ini. Sebelum aku sempat mencari rumah kepala desa, seorang pemuda bernama Avelinus Jaman menegur dan bertanya ke arahku. Tak kusangka, ia segera bersimpati kepadaku setelah kuceritakan maksud dan tujuan perjalananku ini. Ia pun mempersilakan aku untuk bermalam di rumahnya yang sederhana. Bahkan aku diijinkan menunaikan sholatku di salah sebuah kamar rumahnya. Terima kasih Saudaraku....
Selasa, 01 Agustus 2006 (Hari ke-106) Perjalanan ke Arah Timur:
TANJAKAN DAN TURUNAN TERKEJAMMMMM...!!!
Setelah sarapan seadanya di rumah Avelinus, pemuda yang menolongku, segera aku berpamitan dan mengayuh kembali sepedaku sekuat tenagaku. Namun genjotan sepedaku terasa sia-sia. Tanjakan tajam yang menghadangku semakin sadis saja. Serasa sepedaku tak berhasil maju melangkah. Kusemangati diriku sendiri. Kuyakinkan diriku bahwa aku pasti mampu melalui tanjakan terjal ini. Sekitar 3,5 jam kemudian, semangatku langsung rontok. Ada rasa marah dalam diriku karena ternyata mentalku belum siap menghadapi tanjakan yang sungguh luar biasa ini yang panjangnya sekitar 30 KM . Kuakui, jalur menuju kota Ruteng inilah jalur menanjak ”tergila” yang pernah kujalani!!!
Down sudah mental dan semangatku. Kunyatakan dalam diriku bahwa rasanya aku tak akan sanggup bila harus melalui jalan itu lagi saat perjalanan pulang nanti. Ingin rasanya bisa segera tiba di jalur datar. Sempat terlintas sebuah niat, setibaku nanti di Larantuka aku akan kembali ke pulau Sumbawa melalui jalur laut saja!
”Penderitaanku” ternyata belum berakhir. Setelah kugapai kota Ruteng, jalan menurun yang sangat terjal menghadangku untuk menuju kota Mborong. Aku sunguh-sungguh mengandalkan rem sepedaku yang tak ada cadangannya. Di sisi kanan dan kiri jalan menganga jurang yang sangat dalam. Maut rasanya sudah dekat dengan diriku Sedikit saja aku lengah, maka akibat fatal yang kan kuterima. Hanya doa yang bisa membantuku melalui jalur itu. Dan saat aku berhasil tiba di kota Mborong yang berada di tepi pantai selatan Flores, segera kupanjatkan doa syukur karena aku bisa selamat tiba di sana. Sungguh tak bisa kubayangkan kejamnya jalur yang baru saja kulalui...!!!
Setelah cukup beristirahat dan sambil berusaha menghilangkan rasa shock dalam diriku, kulanjutkan kembali kayuhan sepedaku. Menjelang sore, sekitar pukul 17.00 WITA, aku tiba di kota Aimere, sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di pesisir selatan pulau Flores. Malam ini aku berisitirahat di sebuah masjid yang ada di kota tersebut.
Rabu, 02 Agustus 2006 (Hari ke-107) Perjalanan ke Arah Timur:
Meskipun kurasakan badanku masih letih, hari ini aku tetap berupaya mengayuh sepeda Polygon type Unitoga sekuat tenaga. Perjalanan hari ini memang tidak seberat kemarin.
Meskipun masih berkutat dengan jalur yang menanjak namun tidaklah securam jalur kemarin. Sekitar pukul 07.00 WITA kutinggalkan kota Aimere yang terletak di pesisir selatan pulau Flores. Kukayuh sepeda dengan rasa penat dan letih yang mulai sangat terasa. Aku bersyukur tidak ada hambatan berarti untuk mencapai kota Bajawa. Sekitar pukul 11.00 WITA aku telah berada di kota itu.
Setelah cukup beristirahat, kupaksakan kayuhanku agar bisa mencapai kota Ende sebelum hari gelap. Dengan sisa kekuatan tenaga yang kumiliki, meskipun harus melalui jalan menanjak yang berada di kaki gunung Inerie dan gunung Ambulombo, keinginanku tercapai. Sekitar pukul 17.30 WITA aku tiba di kota Ende. Saat itu hari sudah gelap. Saat kudapati sebuah masjid di kota itu, segera saja kutunaikan kewajibanku sekaligus meminta ijin kepada pengurus masjid untuk menumpang bermalam. Udara dingin yang menerpa tubuhku sepanjang perjalanan hari ini membuat tubuhku mengigil saat akan tidur. Semoga saja esok hari tenagaku pulih kembali.
Kamis, 03 Agustus 2006 (Hari ke-108) Perjalanan ke Arah Timur:
JALUR SERAAMMM...!!!
Sepanjang malam aku tertidur dengan tubuh menggigil. Vitalitas tubuhku menurun setelah diterpa perjalanan yang maha berat tiga hari kemarin. Maha berat, karena memang baru kali ini aku berhadapan dengan jalur yang sangat sadis untuk dilalui dengan bersepeda. Namun demikian, aku patut bersyukur dan berbangga telah mampu melaluinya. Perjalanan bersepeda di Sumatera pada bulan April hingga Juni lalu seolah menjadi ajang latihan bagiku untuk menghadapi medan berat di Flores ini. Aku sungguh tak tahu apakah perjalanan di depan sana, menuju Larantuka, akan lebih ringan atau lebih berat.
Saat pagi datang, kepalaku terasa sedikit pusing dan perut serasa bermasalah. Beberapa kali aku buang air besar. Aku berdoa memohon kepada Allah agar aku diberi kesehatan pagi itu. Kutunggu sampai rasa mulas diperutku berkurang sebelum kelanjutkan kembali perjalananku. Dengan kondisi tubuh yang kurang fit, akhirnya kupaksakan juga untuk meneruskan kayuhanku. Kupasrahkan diriku pada Yang Mahakuasa...!
Maut ternyata masih setia mengintai diriku. Selepas kota Ende menuju Maumere, aku melalui jalur terseram yang pernah kulalui. Di jalur ini kehati-hatian kembali dituntut karena nyawa taruhannya. Betapa tidak, jalur tersebut adalah jalur pegunungan dengan sisi kanan dan kiri menganga jurang dalam. Yang mengkhawatirkan diriku adalah karena tidak semua jalan tersebut terpasang road barriers (palang baja pengaman di sisi jalan).
Alhamdulillah, sekali lagi aku diberi perlindungan oleh Allah untuk melalui jalur tersebut dengan selamat. Sebenarnya hari ini aku berkonsentrasi untuk bisa mencapai kota Maumere, namun aku tersadar saat kakakku menginformasikan bahwa di dekatku terdapat tempat wisata yang amat terkenal, yaitu Kelimutu, sebuah gunung mirip Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat yang memiliki keunikan berupa Danau Tiga Warna. Segera saja kuarahkan sepedaku ke sana. Untuk mencapainya, jalan menanjak sejauh kurang lebih 13 kilometer harus kulalui terlebih dahulu. Setelah itu, aku harus menapaki jalan tanpa sepeda sekitar setengah jam. Sepeda kutinggalkan di tempat parkir yang telah disediakan. Allahu Akbar. Itulah kata-kata bisa kuucapkan saat melihat ciptaan Allah tersebut. Ada tiga buah danau yang letaknya tidak terlalu berjauhan di sana. Sebuah berwarna hitam. Yang lainnya berwarna kuning dan coklat kehitaman. Danau yang saat kulihat berwarna coklat kehitaman tersebut, kabarnya akan berwarna merah pada saat-saat tertentu. Setelah puas menikmati pemandangan di sana, aku pun turun kembali menuju sepeda dan selanjutnya mengayuh menuju kantor Pos Taman Nasional Kelimutu yang berada di kecamatan Kelimutu. Malam ini aku menumpang menginap di kantor tersebut setelah. Jarak yang berhasil kulalui hari ini hanya sekitar 66 kilometer!

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-101 s.d. ke-104 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA
Kamis, 27 Juli 2006 (Hari ke-101) Perjalanan ke Arah Timur:
Hari ini kuawali perjalanan menelusuri Pulau Sumbawa NTB dari pelabuhan Pototano yang terletak di sebelah barat pulau ini. Setelah berpamitan dengan petugas KP3 pelabuhan Pototano, pagi ini kukayuh kembali sepedaku sekuat tenaga. Entah mengapa, hari ini aku mengikat rambut panjangku yang selama ini kubiarkan terurai apa adanya. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku mengikat rambut selama melakukan perjalanan ini hehehe. Jalur hari ini cukup enak untuk kulalui dengan bersepeda. Sekalipun jalur tersebut naik-turun dan kadang sangat sepi, aku tetap merasa nyaman melaluinya.
Apalagi setiap penduduk yang berpapasan denganku selalu menegur sapa dan memanggilku dengan sebutan Mister! Hahaha aku jadi teringat saat perjalanan di provinsi Bengkulu. Panggilan seperti itu juga yang kuterima dari penduduk setempat. Belakangan kuketahui bahwa ternyata latar belakangnya pun sama yaitu karena rute tersebut sering dilalui oleh turis-turis asing yang hendak ke pulau Komodo. Apa aku mirip orang bule? Hmm mungkin aja kali ya kalo mereka beranggapan bahwa orang Afrika yang hitam itu pun juga adalah bule! Maklum kulitku sudah semakin legam!
Jarak tempuh yang berhasil kurengkuh dengan kayuhan sepeda hari ini sekitar 190 km saja. Menjelang magrib aku tiba di Kota Empang. Kebetulan seorang sahabat milis ku, Bang Faried, memiliki kerabat di kota ini. Langsung saja kuarahkan sepedaku menuju kediaman keluarga mertuanya tersebut sesuai dengan alamat yang diberikan. Tanpa bersusah payah, kediaman tersebut segera kutemukan. Dan....malam ini kurebahkan tubuhku di salah satu kamar yang ada di rumah tersebut.
Jumat, 28 Juli 2006 (Hari ke-102) Perjalanan ke Arah Timur:
Setelah berterima kasih, aku mohon pamit untuk melanjutkan perjalananku kembali pagi ini. Sesuai permintaan mereka, aku berjanji untuk mampir kembali ke rumah tersebut sekembaliku nanti dari Larantuka. Insya Allah.
Perjalanan hari ini lumayan berat. Aku harus menyusuri jalan-jalan menanjak dengan sisi kanan berupa tebing dan sisi kiri berupa lautan. Tak jarang pula aku berpapasan dengan monyet-monyet hutan yang berkeliaran bebas di pinggir jalan. Aku sempat menegur mereka tapi dijawab dengan cengiran yang memperlihatkan serangkaian gigi tajam mereka hehehe. Seandainya saja mereka bisa kuajak bicara pasti sudah kuluangkan waktu sejenak untuk beristirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan tentang perjalananku ini dengan mereka hihihi.
Frekuensi kendaraan yang melintasi jalur ini juga terbilang sangat jarang lho.
Setelah beristirahat beberapa kali pada kota-kota yang kulalui, menjelang sore aku tiba di kota Dompu, Sumbawa. Kebetulan di kota ini aku memiliki kenalan seorang aktivis Himpunan Masyarakat Pencinta Alam (HUMPA) sehingga malam ini aku bisa menumpang bermalam di rumahnya.
Sabtu, 29 Juli 2006 (Hari ke-103) Perjalanan ke Arah Timur:
Keraguan-raguan itu datang lagi! Yah, hari ini aku sempat ragu kembali apakah aku harus terus melanjutkan perjalananku ini hingga ke Larantuka atau tidak. Penyebabnya karena aku terlibat konflik batin dengan sahabatku yang berada ribuan kilometer nun jauh di seberang pulau sana. Segera saja kuraih hp-ku dan kukirimkan kabar via sms kepada kakak dan sahabatku, Faried, yang isinya mengabarkan bahwa aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan ini sampai di kota Dompu ini saja! Kuputuskan untuk kembali ke Jakarta.
Segera saja, kakak dan temanku bereaksi! Mereka menanyakan permasalahan yang sesungguhnya kuhadapi sambil memberikan dorongan semangat kembali padaku. Aku jadi ragu kembali! Kurenungkan kembali kata-kata kakakku dan Bang Faried. Tak lama kemudian aku berkata pada diriku sendiri, ”Aku memang egois!” Akhirnya, kusadari untuk tidak menyia-nyiakan perjalananku yang sudah tinggal beberapa ratus atau ribu kilometer lagi. ”Yah, perjalanan ini tidak boleh sia-sia!”, begitu pikirku kemudian.
Tanpa memberitahukan kepada siapapun yang ada di seberang pulau, kulanjutkan perjalanan ini menuju kota Sape yang berada di sebelah Timur pulau Sumbawa.
Sekitar pukul 16.00 WIB (17.00 WITA) aku telah tiba di kota Sape, sebuah kota pelabuhan yang menyediakan penyeberangan menuju pulau Komodo dan pulau Flores di Nusa Tenggara Timur. Malam ini aku menginap di Kantor KP3 Pelabuhan Sape.
Minggu, 30 Juli 2006 (Hari ke-104) Perjalanan ke Arah Timur:
Kapal yang menyeberangi Selat Sape dari Pelabuhan Sape menuju Labuhan Bajo di Pulau Flores baru akan berangkat pukul 10.00 WITA. Ini berarti cukup lama bagiku untuk menunggu jam keberangkatan tersebut. Kuhabiskan waktuku untuk melihat-lihat kota pelabuan yang kecil ini. Kesibukan sebagaimana layaknya sebuah pelabuhan sudah nampak sejak subuh tadi. Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan petugas KP3 dimana semalam aku menumpang tidur di salah satu sudut ruang yang ada di kantor tersebut. Tepat pukul 10.00 WITA kapal berangkat menuju Labuhan Bajo.
Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pelabuhan tujuan cukup lama yaitu 8 jam. Sehingga baru pada pukul 18.00 WITA kapal merapat di Labuhan Bajo, Flores. Selama di kapal lebih banyak waktuku kugunakan untuk beristirahat dan sesekali berbincang-bincang dengan penumpang lain yang kebanyakan adalah pedagang. Kujelaskan kepada mereka yang bertanya tentang perjalananku ini. Ada yang mengerti dan ada pula yang kelihatannya sama sekali tidak paham. Bahkan ada di antara mereka yang tidak tahu dimana letak kota Sabang!
Kuucapkan syukur Alhamdulillah saat kaki dan sepedaku menginjak tanah pulau Flores NTT ini. ”Tujuanku sudah semakin dekat”, begitu pikirku. Meski sesungguhnya aku sadar bahwa perjalananku di pulau ini masih sangat jauh. Aku masih harus mengayuh sepedaku dari sisi barat hingga sisi timur pulau Flores
Karena tidak ada kantor KP3 pelabuhan ini, aku menumpang bermalam di Pos Marinir malam ini. ”Besok kan kumulai perjalanan menyusuri pulau Flores ini”, gumamku sebelum tertidur.