Monday, July 31, 2006

PERJALANAN: POTOTANO, SUMBAWA NTB – LABUHAN BAJO, FLORES NTT


Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-101 s.d. ke-104 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA


Kamis, 27 Juli 2006 (Hari ke-101) Perjalanan ke Arah Timur:

Hari ini kuawali perjalanan menelusuri Pulau Sumbawa NTB dari pelabuhan Pototano yang terletak di sebelah barat pulau ini. Setelah berpamitan dengan petugas KP3 pelabuhan Pototano, pagi ini kukayuh kembali sepedaku sekuat tenaga. Entah mengapa, hari ini aku mengikat rambut panjangku yang selama ini kubiarkan terurai apa adanya. Jujur saja, ini adalah kali pertama aku mengikat rambut selama melakukan perjalanan ini hehehe. Jalur hari ini cukup enak untuk kulalui dengan bersepeda. Sekalipun jalur tersebut naik-turun dan kadang sangat sepi, aku tetap merasa nyaman melaluinya.

Apalagi setiap penduduk yang berpapasan denganku selalu menegur sapa dan memanggilku dengan sebutan Mister! Hahaha aku jadi teringat saat perjalanan di provinsi Bengkulu. Panggilan seperti itu juga yang kuterima dari penduduk setempat. Belakangan kuketahui bahwa ternyata latar belakangnya pun sama yaitu karena rute tersebut sering dilalui oleh turis-turis asing yang hendak ke pulau Komodo. Apa aku mirip orang bule? Hmm mungkin aja kali ya kalo mereka beranggapan bahwa orang Afrika yang hitam itu pun juga adalah bule! Maklum kulitku sudah semakin legam!

Jarak tempuh yang berhasil kurengkuh dengan kayuhan sepeda hari ini sekitar 190 km saja. Menjelang magrib aku tiba di Kota Empang. Kebetulan seorang sahabat milis ku, Bang Faried, memiliki kerabat di kota ini. Langsung saja kuarahkan sepedaku menuju kediaman keluarga mertuanya tersebut sesuai dengan alamat yang diberikan. Tanpa bersusah payah, kediaman tersebut segera kutemukan. Dan....malam ini kurebahkan tubuhku di salah satu kamar yang ada di rumah tersebut.

Jumat, 28 Juli 2006 (Hari ke-102) Perjalanan ke Arah Timur:

Setelah berterima kasih, aku mohon pamit untuk melanjutkan perjalananku kembali pagi ini. Sesuai permintaan mereka, aku berjanji untuk mampir kembali ke rumah tersebut sekembaliku nanti dari Larantuka. Insya Allah.

Perjalanan hari ini lumayan berat. Aku harus menyusuri jalan-jalan menanjak dengan sisi kanan berupa tebing dan sisi kiri berupa lautan. Tak jarang pula aku berpapasan dengan monyet-monyet hutan yang berkeliaran bebas di pinggir jalan. Aku sempat menegur mereka tapi dijawab dengan cengiran yang memperlihatkan serangkaian gigi tajam mereka hehehe. Seandainya saja mereka bisa kuajak bicara pasti sudah kuluangkan waktu sejenak untuk beristirahat sambil ngobrol-ngobrol dengan tentang perjalananku ini dengan mereka hihihi.

Frekuensi kendaraan yang melintasi jalur ini juga terbilang sangat jarang lho.

Setelah beristirahat beberapa kali pada kota-kota yang kulalui, menjelang sore aku tiba di kota Dompu, Sumbawa. Kebetulan di kota ini aku memiliki kenalan seorang aktivis Himpunan Masyarakat Pencinta Alam (HUMPA) sehingga malam ini aku bisa menumpang bermalam di rumahnya.

Sabtu, 29 Juli 2006 (Hari ke-103) Perjalanan ke Arah Timur:

Keraguan-raguan itu datang lagi! Yah, hari ini aku sempat ragu kembali apakah aku harus terus melanjutkan perjalananku ini hingga ke Larantuka atau tidak. Penyebabnya karena aku terlibat konflik batin dengan sahabatku yang berada ribuan kilometer nun jauh di seberang pulau sana. Segera saja kuraih hp-ku dan kukirimkan kabar via sms kepada kakak dan sahabatku, Faried, yang isinya mengabarkan bahwa aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan ini sampai di kota Dompu ini saja! Kuputuskan untuk kembali ke Jakarta.

Segera saja, kakak dan temanku bereaksi! Mereka menanyakan permasalahan yang sesungguhnya kuhadapi sambil memberikan dorongan semangat kembali padaku. Aku jadi ragu kembali! Kurenungkan kembali kata-kata kakakku dan Bang Faried. Tak lama kemudian aku berkata pada diriku sendiri, ”Aku memang egois!” Akhirnya, kusadari untuk tidak menyia-nyiakan perjalananku yang sudah tinggal beberapa ratus atau ribu kilometer lagi. ”Yah, perjalanan ini tidak boleh sia-sia!”, begitu pikirku kemudian.

Tanpa memberitahukan kepada siapapun yang ada di seberang pulau, kulanjutkan perjalanan ini menuju kota Sape yang berada di sebelah Timur pulau Sumbawa.

Sekitar pukul 16.00 WIB (17.00 WITA) aku telah tiba di kota Sape, sebuah kota pelabuhan yang menyediakan penyeberangan menuju pulau Komodo dan pulau Flores di Nusa Tenggara Timur. Malam ini aku menginap di Kantor KP3 Pelabuhan Sape.

Minggu, 30 Juli 2006 (Hari ke-104) Perjalanan ke Arah Timur:

Kapal yang menyeberangi Selat Sape dari Pelabuhan Sape menuju Labuhan Bajo di Pulau Flores baru akan berangkat pukul 10.00 WITA. Ini berarti cukup lama bagiku untuk menunggu jam keberangkatan tersebut. Kuhabiskan waktuku untuk melihat-lihat kota pelabuan yang kecil ini. Kesibukan sebagaimana layaknya sebuah pelabuhan sudah nampak sejak subuh tadi. Aku sempat ngobrol-ngobrol dengan petugas KP3 dimana semalam aku menumpang tidur di salah satu sudut ruang yang ada di kantor tersebut. Tepat pukul 10.00 WITA kapal berangkat menuju Labuhan Bajo.

Waktu yang dibutuhkan untuk mencapai pelabuhan tujuan cukup lama yaitu 8 jam. Sehingga baru pada pukul 18.00 WITA kapal merapat di Labuhan Bajo, Flores. Selama di kapal lebih banyak waktuku kugunakan untuk beristirahat dan sesekali berbincang-bincang dengan penumpang lain yang kebanyakan adalah pedagang. Kujelaskan kepada mereka yang bertanya tentang perjalananku ini. Ada yang mengerti dan ada pula yang kelihatannya sama sekali tidak paham. Bahkan ada di antara mereka yang tidak tahu dimana letak kota Sabang!

Kuucapkan syukur Alhamdulillah saat kaki dan sepedaku menginjak tanah pulau Flores NTT ini. ”Tujuanku sudah semakin dekat”, begitu pikirku. Meski sesungguhnya aku sadar bahwa perjalananku di pulau ini masih sangat jauh. Aku masih harus mengayuh sepedaku dari sisi barat hingga sisi timur pulau Flores

Karena tidak ada kantor KP3 pelabuhan ini, aku menumpang bermalam di Pos Marinir malam ini. ”Besok kan kumulai perjalanan menyusuri pulau Flores ini”, gumamku sebelum tertidur.

Wednesday, July 26, 2006

PERJALANAN: DENPASAR – POTOTANO, SUMBAWA


Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-98 s.d. ke-100 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA

Senin, 24 Juli 2006 (Hari ke-98) Perjalanan ke Arah Timur:

Tadi malam aku bisa tidur dengan pulas meskipun harus tidur di kamar sel tahanan kantor KP3 pelabuhan. Aku memang yang meminta tidur di tempat itu. Kebetulan memang sedang tidak terisi dan para petugas pun tidak keberatan. Setelah berterima kasih dan pamit kepada para petugas KP3 Gilimanuk, sekitar pukul 07.00 WITA kukayuh sepedaku menuju Denpasar. Entah mengapa hari ini aku ingin sekali segera tiba di ibukota pulau Dewata itu. Sejak bangun tidur pagi tadi, telah kutanamkan dalam diriku untuk tidak perlu lagi memikirkan hal-hal yang menurutku percuma untuk dipikirkan. Kekecewaanku kepada pihak Polygon tidak boleh menjadi penghambat tujuan perjalananku. Toh masih banyak rekan-rekanku yang sangat peduli kepadaku.

Jalur Gilimanuk menuju Denpasar sepanjang kurang lebih 130 km aku libas dalam waktu 6,5 jam saja! Sangat berbeda dengan tahun lalu dimana aku menempuh jalur tersebut dalam waktu lebih dari 8 jam. Saat itu aku memang belum mengenal medan jalan secara persis. Nah, berbekal perjalanan tahun lalu, aku jadi merasa mengenal setiap jengkal jalur tersebut. Aku bahkan merasa seperti baru kemarin aku melalui jalur tersebut.

Setibaku di Denpasar seorang rekan milis yang bernama Toto Totog telah menanti kedatanganku. Meskipun sempat sedikit misunderstanding dengannya tapi keakraban kami tetap terbina dengan baik. Sejak siang hingga malam kami saling berbagi cerita. Apalagi beberapa rekan Toto pun ikut nimbrung dalam perbincangan tersebut. Malam ini aku menginap di tempat kost-an sahabatku itu.

Selasa, 25 Juli 2006 (Hari ke-99) Perjalanan ke Arah Timur:

Wah aku nggak tau harus mengucapkan apa lagi kepada sahabatku, Toto. Ia telah memperlakukanku dengan sangat baik dan bahkan ia pun memberikan tambahan perbekalan untuk perjalananku. Karena memang perbekalanku mulai menipis, aku tak kuasa menolak pemberiannya. Tapi saat ia akan memberiku sejumlah uang, kutolak secara tegas pemberian tersebut. Kukatakan padanya bahwa aku masih memiliki dana cukup untuk bisa mengantarku hingga Larantuka. Aku berjanji akan memberinya kabar bila ternyata nanti danaku tidak mencukupi. Yah, bagiku yang terpenting saat ini adalah kepedulian rekan-rekan kepadaku. Itu saja sudah jauh dari cukup. Sejak beberapa hari lalu aku memang telah berusaha untuk menghemat setiap pengeluaran uangku.

Pukul 09.30 WITA, kulanjutkan perjalanan dengan kembali mengayuh sepedaku. Toto sempat mengantarku dengan sepeda motornya hingga ke jalan raya yang mengarah ke pelabuhan Padang Bai. Kukayuh sepedaku dengan sekuat tenaga. Hari ini aku seperti mendapat semangat baru!

Lewat pukul 1 siang aku telah tiba di Pelabuhan Padang Bai. Sayang, kapal feri yang menyeberangi pulau Bali ke Pulau Lombok mengalami keterlambatan jadwal. Hampir satu setengah jam kemudian aku baru bisa menaiki kapal Feri tersebut. Keberangkatan pun tertunda sedikit. Di atas kapal aku berkenalan dengan dua orang pria berkebangsaan Belanda yang berniat menikmati keindahan alam Pulau Lombok. Aku bisa berkomunikasi dengan mereka karena salah seorang yang bernama Mr. Andy adalah seorang Indo (Belanda-Sunda) yang lancar berbahasa Indonesia. Sedangkan seorang lagi yang bernama Mr. Ronny hanya bisa berkomunikasi dalam bahasa Belanda dan Inggris. Kesamaan dalam hal hobi berpetualang menjadikan kami tidak membutuhkan waktu lama untuk menjalin persahabatan. Dua jam lebih perjalanan menyeberangi Selat Lombok kami habiskan untuk saling berbagi pengalaman. Kuceritakan saja ekspedisi yang sedang kujalani. Tak kusangka antusiasme mereka terhadap perjalananku begitu besar. Mereka bahkan mengundangku untuk bergabung menikmati keindahan pantai Senggigi esok hari. Sayang aku tidak bisa memenuhi undangan mereka. Aku harus tetap konsen pada tujuan perjalananku saat ini.

Sekitar pukul setengah tujuh malam waktu setempat kapal bersandar di Pelabuhan Lembar, Lombok. Seorang rekan milisku bernama Mbak Nita telah menungguku.

Rabu, 26 Juli 2006 (Hari ke-100) Perjalanan ke Arah Timur:

Kasian Mbak Nita. Kelihatannya ia telah menunggu kedatanganku cukup lama di pelabuhan Lembar tadi malam. Segera saja kuperkenalkan diriku termasuk kuperlihatkan kulit lengan dan mukaku yang semakin legam terbakar matahari. Kuikuti langkah sepeda motor Mbak Nita menuju kediaman keluarganya di kota Mataram yang membutuhkan waktu satu jam perjalanan dengan bersepeda. Aku sangat terharu dengan sambutan keluarga Mbak Nita. Tak kusangka hanya dengan berkenalan via dunia maya kami bisa terasa begitu akrab satu sama lain.

Malam ini aku dan Mbak Nita diundang makan malam oleh sahabat baruku yang berasal dari Belanda. Kami penuhi undangan makan malam di sebuah Rumah Makan Padang dan nongkrong sejenak di sebuah kafe. Persahabatan diantara kami semakin terjalin erat. Sungguh aku tidak menyangka akan memperoleh begitu banyak teman dalam perjalananku kali ini. Selesai jamuan oleh Mr. Andy dan Mr. Rony, aku dan Mbak Nita kembali ke rumah dan menumpang bermalam di sana. Perlakukan keluarga Mbak Nita kepadaku pun tak kalah ramahnya.

Setelah mengucapkan terima kasih dan berpamitan dengan Mbak Nita dan keluarga, pagi ini aku menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke rekan-rekan pencinta alam di Universitas Mataram (MATER NAPALA). Siang harinya, sekitar pukul 14.00 WITA kulanjutkan perjalananku menuju pelabuhan Kayangan untuk menuju Sumbawa.

Sekitar pukul 17.30 WITA aku telah berada di atas kapal Feri di Pelabuhan Kayangan Lombok yang akan membawaku menyeberangi Selat Alas menuju Pulau Sumbawa NTB. Pukul 19.38 WITA aku tiba di pelabuhan Pototano Sumbawa. Malam ini aku menumpang bermalam di kantor KP3 pelabuhan tersebut.

Sunday, July 23, 2006

PERJALANAN: SURABAYA–GILIMANUK BALI


Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-95 s.d. ke-97 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA


Jumat, 21 Juli 2006 (Hari ke-95) Perjalanan ke Arah Timur:

Kemarin, seharian aku beristirahat di kota Surabaya. Kugunakan waktu istirahatku tersebut untuk memulihkan tenaga sekaligus merenung akan arti perjalananku kali ini.

Niatku untuk berkeliling pulau Madura tercapai sudah. Telah kugunakan tenagaku untuk mengayuh sepeda menyusuri jalan tepi pantai di pulau garam tersebut dalam waktu tiga hari.

Pagi ini, sekitar pukul 6 kukayuh sepedaku meninggalkan ibukota Jawa Timur. Satu jam lebih kemudian aku tiba di kota Sidoarjo. Sengaja kusinggah di kota ini karena aku ingin berkunjung ke kantor pusat Polygon untuk sekedar menyampaikan kisah tentang perjalananku selama ini bersama sepeda buatan mereka. Namun sayang, di kantor tersebut kekecewaan yang kuperolah. Pihak Polygon tidak menunjukkan respon positif atas apa yang telah kulakukan. Demikian pula saat kutunjukkan CD yang berisi dokumentasi perjalananku mendaki gunung Sinabung di SUMUT dengan menyertakan sepeda Polygon hingga ke puncak. Tidak ada respon sedikitpun dari mereka!

Dengan langkah gontai dan sedikit patah semangat kutinggalkan kantor tersebut. Ingin rasanya mengganti sepeda yang telah kukayuh selama ini dengan sepeda merek lain. Tapi aku sadar bahwa sepeda yang telah menemaniku selama ini tidak memberikan kontribusi salah sedikitpun padaku. Kebetulan saja ia bermerek Polygon, begitu pikirku sambil tersenyum sendirian.

Kupendam rasa kecewa dan amarahku pada pihak Polygon. Kutekadkan kembali semangatku untuk melanjutkan perjalanan ini hingga entah sampai kota mana aku mampu merengkuhnya.

Entah kebetulan atau tidak, siang ini aku dihinggapi rasa kantuk yang luar biasa. Memang, kuakui rasa malas telah mulai menyerangku sejak kutinggalkan kota Sidoarjo. Akhirnya kuputuskan untuk beristirahat sejenak memenuhi permintaan kantukku itu. Karena tidak ada masjid yang kutemui, kurebahkan saja tubuhku di rerumputan yang ada di pinggir jalan daerah Porong. Tak terasa aku tertidur selama hampir dua jam. Sampai-sampai aku lupa bahwa hari ini adalah hari Jumat! Astagfirullah aku telah lalai menunaikan sholat Jumat hari ini. Segera saja kukayuh sepedaku dan kucari masjid terdekat yang kutemui. Kutunaikan segera sholat Dzuhur di masjid tersebut.

Pukul setengah lima sore aku tiba di kota Probolinggo. Dengan sisa tenaga yang mulai melemah, sepeda kuarahkan menuju Universitas Panca Marga.

Malam ini aku menumpang bermalam di markas mapala perguruan tinggi tersebut yang bernama MARABUNTA.

Sabtu, 22 Juli 2006 (Hari ke-96) Perjalanan ke Arah Timur:

Persediaan dana perjalananku mulai menipis. Aku mencoba berhitung berapa lagi dana yang akan kukeluarkan untuk makan dan ongkos-ongkos penyeberangan serta biaya tak terduga hingga Larantuka. Dari hasil hitung-hitunganku rasanya uang yang kubawa akan sangat mepet sekali dengan kebutuhan yang kuperkirakan. Akhirnya, kubulatkan tekad untuk memulai program pengencangan ikat pinggang mulai hari ini. Yah, aku hanya akan makan dua kali sehari saja. Plus, terpaksa mengurangi atau bahkan menghilangkan makanan ringan ataupun supplement food yang kadang kukonsumsi. Aku yakin aku akan tetap sanggup mengayuh meski asupan makanan berkurang. Toh aku sudah biasa menderita, begitu pikirku. Aku jadi teringat saat melakukan petualangan mendaki 15 gunung di pulau Sumatera secara kontinyu di tahun 2004 lalu. Saat itu aku hanya membawa dana perjalanan satu juta rupiah. Toh aku tetap sanggup menyelesaikannya dengan baik. Untuk mengurangi biaya transportasi, saat itu aku nebeng angkutan barang untuk bisa tiba di kota-kota yang kutuju. Makanpun aku kurangi frekuensinya.

Kayuhanku pagi ini kumulai dengan terlebih dahulu berpamitan dengan rekan-rekan di Mapala Marabunta Universitas Panca Marga Probolinggo. Perjalanan hari ini terasa tak berbeda dengan hari sebelumnya. Rasa kecewa dan malas masih menaungi benakku. Dengan susah payah kucoba menghalau perasaan yang akan menjadikanku berpikir skeptis. Kucoba bangkitkan kembali semangatku sedikit demi sedikit. Kadang kuberbicara sendiri dalam hati agar aku hanya berkonsentrasi pada target perjalananku. Paling tidak hal itu bisa membantuku walau tidak banyak.

Menjelang pukul 3 sore kayuhanku membawaku tiba di kota Situbondo. Tidak jauh jarak yang kutempuh hari ini. Seharusnya, jarak Surabaya-Banyuwangi bisa kutempuh dalam 2 hari. Tapi karena kemarin aku mampir di Probolinggo, maka sangat sulit bagiku untuk menembus Banyuwangi hari ini.

Kuhabiskan waktuku di sore hari di Situbondo ini dengan beristirahat di masjid yang berada di depan alun-alun kota. Awalnya aku berpikir untuk bermalam di masjid ini, tapi keinginanku tersebut berubah. Aku merasa lebih nyaman dan tenang bila bermalam di kantor polisi. Yang kukhawatirkan bukanlah diriku semata tetapi juga sepeda dan perlengkapan-perlengkapan lain yang kubawa.

Akhirnya, kuputuskan untuk mencari kantor polisi yang mau mengijinkan aku bermalam di sana. Alhamdulillah Kepala Polsek Panji di kota tersebut mengijinkan aku bermalam di sana malam ini.

Minggu, 23 Juli 2006 (Hari ke-97) Perjalanan ke Arah Timur:

Setelah berpamitan dengan para petugas polisi Polsek Panji Situbondo, kukayuh kembali sepedaku menuju kota Banyuwangi. Hari ini kukayuh sepedaku dengan santai. Karena kutahu kalaupun aku bisa mencapai pelabuhan Ketapang Banyuwangi pada siang hari, toh aku tidak mungkin menembus kota Denpasar di sore harinya. Alasan itulah yang membuatku tidak memaksa kayuhan sepedaku hari ini.

Hanya berselang 3 jam perjalanan aku telah tiba di kawasan hutan Baluran Jawa Timur. Segera saja kuarahkan sepedaku ke kantor Perhutani yang ada di sana. Kebetulan beberapa petugas yang ada di sana telah mengenal aku. Meskipun aku tidak hafal persis nama-nama mereka tapi keakraban di antara kami tetap bisa terasakan. Sejenak aku merasa seperti berkumpul di tengah keluargaku saat berbincang-bincang dengan mereka.

Hampir satu jam aku berada di kantor Perhutani tersebut. Setelah merasa cukup bersilaturahmi, aku pamit dan meneruskan perjalananku. Sekitar pukul 4 sore aku tiba di pelabuhan Ketapang Banyuwangi. Awalnya aku ingin bermalam di pelabuhan tersebut, tapi karena kulihat ada kapal Feri yang siap menyeberang ke pulau Bali, kubatalkan niatku untuk bermalam di Ketapang. Akhirnya, kuputuskan untuk ikut menyeberang ke pulau Dewata sore ini juga.

Ombak sore ini cukup keras. Perjalanan menyeberang Selat Bali yang biasanya hanya memakan waktu setengah jam, kali ini ditempuh dalam waktu satu jam. Saat berada di atas kapal Feri, aku teringat akan perjalananku di tahun 2005 lalu. Rasanya baru kemarin aku menyeberang seperti ini dengan membawa sepeda dari Jakarta. Hmm waktu memang berlalu begitu cepat.

Setelah merapat di pelabuhan Gilimanuk, aku segera pergi menuju Kantor KP3 untuk melapor sekaligus memohon ijin untuk menumpang bermalam di sana. Alhamdulillah aku diijinkan bermalam meskipun isi tas yang kubawa kurelakan untuk digeledah terlebih dahulu. Aku sangat memaklumi tugas mereka. Semua aparat keamanan di pulau Bali hingga saat ini memang selalu waspada. Mereka sangat tidak menginginkan terjadinya aksi terorisme terulang kembali di sana.


Thursday, July 20, 2006

PERJALANAN: KELILING PULAU MADURA



Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-92 s.d. ke-94 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA


Selasa, 18 Juli 2006 (Hari ke-92) Perjalanan ke Arah Timur:

Pagi-pagi sekali setelah sarapan kukayuh kembali sepedaku meninggalkan kota Lamongan, Jawa Timur. Tujuanku adalah agar secepatnya bisa memasuki kota Surabaya. Entah mengapa tiba-tiba saja terbesit keinginan untuk menyeberang ke pulau Madura. Aku memang telah merencanakan untuk berkeliling di pulau garam itu dalam perjalananku, tapi bukan saat perjalanan menuju Larantuka melainkan nanti saat sepulang dari Larantuka. Aku Cuma berpikir, besok atau sekarang toh sama saja. Yang penting keinginanku berkeliling Madura bisa kupenuhi.

Ya, setibaku di Surabaya langsung kuarahkan kayuhan sepedaku menuju pelabuhan Tanjung Perak. Kebetulan Kapal Feri penyeberangan ke pulau Madura sudah siap berangkat. Aku pun tak perlu menunggu lama untuk bisa menyeberang.

Sekitar pukul 9 aku telah berada di pelabuhan Kamal, Madura. Tanpa banyak berbasa basi segera kukayuh kembali sepedaku untuk mengelilingi pulau ini. Wah senang rasanya bisa menginjak tanah pulau garam ini. Dengan penuh semangat kutempuh jalur utara untuk memulai mengelilingi pulau ini.

Kota Bangkalan, Arosbaya, Tanjungbumi, dan Ketapang kulewati begitu saja. Semua berjalan lancar karena jalan yang kulalui relatif sangat datar. Menjelang malam aku tiba di Tamberu, Kecamatan Batu Mampar. Aku pun mendapat tempat beristirahat di Polsek setempat. Oya, di Polsek Tamberu inilah sedang ditangani kasus Carok Masal yang belum lama ini terjadi di daerah ini.

Rabu, 19 Juli 2006 (Hari ke-93) Perjalanan ke Arah Timur:

Setelah berpamitan dengan para Polisi di Polsek Tamberu kulanjutkan kembali perjalananku mengeliling pulau Madura ini. Selama menyusuri jalan disepanjang pantai pulau ini, mengingatkan aku akan saat-saat menyusuri jalan pinggir pantai di Aceh, Sumatera Barat dan di Bengkulu beberapa minggu yang lalu.

Bedanya, bila di Bengkulu banyak turis yang bermain selancar, maka di pulau ini lebih banyak penduduk yang berselancar di atas hamparan petak-petak garam hehehe.

Perjalanan hari ini pun terbilang lancar. Aku sangat senang begitu mengetahui bahwa masyarakat Madura yang terkenal berwatak keras ternyata memiliki keramahan yang tinggi. Terus terang, awalnya aku agak khawatir lho melintasi daerah-daerah di pulau ini. Namun kekhawatiranku langsung sirna setelah merasakan keramahan mereka kepada setiap orang asing yang mereka jumpai.

Kota Sumenep dan Pamekasan aku lalui dengan senyuman. Aku sungguh merasa nikmat dan nyaman bersepeda di pulau ini. Namun saat melintasi desa Blega menuju kota Tanah Merah tenagaku terkuras. Jalan yang kulalui lumayan menanjak. Wah capek juga rasanya. Menjelang malam ini tiba di kota Tanah Merah dan menumpang bermalam di Polsek setempat.

Kamis, 20 Juli 2006 (Hari ke-94) Perjalanan ke Arah Timur:

Pukul 6 pagi, setelah sholat Subuh dan sarapan ala kadarnya, kumulai kembali mengayuh sepedaku. Kutinggalkan Polsek Tanah Merah dengan tak lupa mengucapkan terima kasih pada para Polisi yang baik hati. Kupercepat kayuhan sepeda agar bisa segera tiba di Pelabuhan Kamal. Tak sampai satu jam aku tiba di kota Bangkalan. Ini berarti aku telah selesai mengelilingi pulau Madura. Horee.....

Kayuhan tidak kuhentikan. Aku terus saja melaju melintasi kota Bangkalan yang pagi itu cukup ramai. Kurang dari satu jam kemudian aku pun tiba di pelabuhan Kamal. Kapal Feri telah bersandar di pelabuhan untuk mengantar penumpang menuju pelabuhan Tanjung Perak Surabaya. Aku pun bergegas membeli tiket dan menaiki kapal Feri. Tuntas sudah keinginanku mengelilingi pulau Madura!

Hanya ½ jam perjalanan yang dibutuhkan untuk menyeberangi Selat Madura oleh kapal Feri. Setiba di pelabuhan Tanjung Perak Surabaya segera kukayuh sepedaku menuju PATAGA, yaitu markas Mapala Universitas Tujuh Belas Agustus Surabaya yang berada di Jalan Semolo Waru Nomor 54. Setibanya di sana, kusampaikan niatku kepada rekan-rekan pencinta alam untuk menumpang beristirahat hingga esok hari. Merekapun menyambutku dengan penuh keramahan.

Wednesday, July 19, 2006

PERJALANAN: CIREBON – GRESIK




Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-88 s.d. ke-91 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA


Jumat, 14 Juli 2006 (Hari ke-88) Perjalanan ke Arah Timur:

Pukul 08.30 aku meninggalkan kantor Balai Diklat Keuangan VII yang terletak di Jalan Pemuda No.36 Cirebon, tempat aku menumpang nginap semalam. Tentu saja ucapan terima kasih tak lupa kusampaikan kepada para pegawai kantor tersebut. Setelah itu, aku pun kembali menyusuri jalan pantura dengan sepeda Polygon-ku.

Oya, untuk menghilangkan rasa jenuh selama mengayuh sepeda, dalam perjalanan kali ini aku sengaja menghitung berapa banyak orang gila yang kulihat. Menurut catatanku, di hari rabu yang lalu aku berpapasan dengan 9 orang gila. Kemarin sebanyak 13 orang sedangkan hari ini aku melihat 21 orang gila. Yang kuheran kok semakin ke arah Timur semakin banyak orang kurang waras yang kutemui ya? Semoga saja data tadi tidak menjadi sebuah hipotesa bahwa semakin ke Timur Jawa maka akan semakin banyak ditemukan orang-orang yang telah kehilangan kewarasannya hehehe.

Siang ini kutunaikan sholat Jumat di kota Brebes, sebuah kota pinggir pantai utara Jawa yang terkenal sebagai sentra bawang merah. Menjelang sore aku telah tiba di kota Pekalongan. Langsung saja sepeda kuarahkan ke markas Mapala STAIN Pekalongan yang bernama GEMAWALA. Malam ini aku menginap di sana. Aku pun teringat akan perjalananku di tahun lalu. Beberapa tempat yang kudatangi untuk menumpang bermalan adalah tempat-tempat singgahku dulu.

Sabtu, 15 Juli 2006 (Hari ke-89) Perjalanan ke Arah Timur:

Hari ini semangatku agak menurun. Entah mengapa mulai terbesit rasa ragu akan perjalanan tahap ini. Akankah aku bisa menyelesaikan targetku? Persiapanku memang minim tapi biasanya aku tidak terlalu mempedulikan hal tersebut. Kali ini tidak. Rasa ragu muncul begitu saja dalam diriku.

Sejak meninggalkan kota batik, Pekalongan, kucoba untuk memompa kembali semangatku. Aku tahu diriku mulai ragu tapi aku pun nggak mau perjalananku terhenti begitu saja. Saat terik menerpa di siang hari aku memasuki kota Kendal. Kulepaskan rasa lelah dengan tidur di sebuah masjid yang berada di pinggir jalan. Kutahu rasa lelah ini bukan karena baru saja aku melalui jalan menanjak di kawasan Alas Roban, tetapi lebih disebabkan oleh mulai pupusnya semangatku.

Dengan setengah hati kumasuki kota Semarang. Saat itu hari mulai gelap meskipun jalan-jalan yang kulalui tetap terang benderang karena disiram lampu-lampu jalanan. Tempat yang kutuju untuk melepas lelah malam ini pun sama dengan saat perjalananku tahun lalu. Kukayuh sepedaku menuju Universitas Diponegoro. Malam pun kulalui di markas mapala universitas tersebut.

Minggu, 16 Juli 2006 (Hari ke-90) Perjalanan ke Arah Timur:

Semalam aku tidak bisa tidur nyenyak. Penyebabnya adalah nyamuk-nyamuk yang merajalela kelaparan di kamar tempat aku beristirahat. Aku pun menyesal karena tidak memiliki lotion anti nyamuk. Akhirnya, kulalui malam dengan berkali-kali membiarkan nyamuk-nyamuk menghisap darahku.

Lewat pukul 9 baru kumulai kayuhanku. Kayuhan demi kayuhan di hari ini kurasakan sangat berat. Aku semakin meragukan perjalananku ini. Benar-benar ragu. Satu jam berselang setelah meninggalkan kota Semarang, kuhentikan sepedaku pada sebuah masjid berukuran sedang yang ada di pinggir jalan. Kuturunkan barang-barang bawaanku dan kukunci sepedaku. Selanjutnya aku tidur!

Saat bangun satu setengah jam kemudian kusadari aku telah menyia-nyiakan waktu perjalananku. Kubenahi barang bawaanku dan kukayuh kembali sepedaku menuju arah kota Purwodadi yang berarti tidak menyusuri jalan pantai utara pulau Jawa. Saat kayuhan tiba di wilayah Godong, rasa lelah kembali menyerangku. Entah mengapa saat kulihat sebuah masjid di pinggir jalan, kuhentikan kayuhanku. Tak lama kemudian kuhempaskan tubuhku untuk kembali tidur.

Saat terbangun rasa malas benar-benar menyerangku. Ku-sms kakakku untuk mengabarkan bahwa perjalananku menuju Larantuka kubatalkan. Aku hanya akan mengayuh sampai Denpasar Bali untuk kemudian kembali ke Jakarta. Mantap sudah tekadku kali ini!

Saat sore menjelang, aku tiba di daerah Wirosari, kota kecil yang terletak beberapa kilometer setelah kota Purwodadi, Jawa Tengah. Malam ini aku menumpang bermalam di Polsek Wirosari.

Senin, 17 Juli 2006 (Hari ke-91) Perjalanan ke Arah Timur:

Pagi ini aku mendapat dampratan dari rekanku melalui telpon. Tadi malam aku memang menceritakan niatku untuk tidak mencapai Larantuka. Target perjalanan kuperpendek sampai di Bali saja. Ternyata, pagi ini rekanku yang berada di seberang pulau tersebut memarahiku. Ia mengancam agar aku tidak pupus harapan. Ia menyemangatiku melalui amarahnya. Aneh, aku tidak sedikitpun merasa sedang dimarahi. Bahkan sebaliknya, saat rekanku itu marah-marah aku malah merasa sedang mendapat siraman semangat.

Ya, hari ini semangatku pulih kembali!

Dengan penuh semangat kukayuh sepedaku kembali untuk meneruskan perjalananku yang terbilang masih jauh. Tak terasa kulewati kota Blora dan Bojonegoro begitu saja. Ingin rasanya merengkuh kembali meter demi meter yang kemarin hilang karena semangatku mengendur.

Beban pikiran yang selama beberapa hari ini bergelayut di benakku mulai luruh. Menjelang malam aku telah tiba di kota Lamongan, Jawa Timur. Namun karena jalanan terang benderang aku tak ingin menghentikan kayuhanku. Kulanjutkan terus kayuhanku hingga memasuki kotakota pantai yang merupakan pintu gerbang untuk memasuki ibukota Provinsi Jawa Timur, Surabaya. Malam ini aku melepas penat dan lelah di sebuah masjid yang berada di kota semen tersebut.

Friday, July 14, 2006

PERJALANAN: JAKARTA - CIREBON



Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-86 s.d. ke-87 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA


Rabu, 12 Juli 2006 (Hari ke-86) Perjalanan ke Arah Timur:

Setelah dua belas hari aku berada kembali di Jakarta, kuputuskan untuk segera melanjutkan kembali perjalanan yang tersisa, yaitu Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta.

Ketika aku tiba kembali di Jakarta setelah melakukan perjalanan Jakarta – Sabang - Jakarta, sebenarnya aku tak ingin berlama-lama di sini. Kujadwalkan agar sesegera mungkin aku bisa melanjutkan perjalanan. Namun, manusia boleh berencana, tak bisa dielakkan, Allah-lah yang menentukan. Yang kulakukan selama di Jakarta bukan cuma untuk beristirahat setelah menempuh perjalanan melelahkan sejauh lebih dari 8.000 kilometer dalam waktu 74 hari. Aku juga melakukan beberapa persiapan untuk perjalanan berikutnya yang tak kalah jauhnya. Aku harus pontang-panting menghubungi kolega dan beberapa sponsorku agar perjalanan berikutnya mendapat suporting dana yang cukup. Sayang, semua usahaku gagal. Kalau pun aku mendapatkan tambahan dana, itu karena ada beberapa donatur yang peduli atas perjalananku. Meski bekalku minim untuk menuntaskan ekspedisiku hingga kota Larantuka di pulau Flores, aku tidak bersurut langkah. Kubulatkan tekadku dan kumantapkan semangatku sebagaimana ekspedisi-ekspedisiku sebelumnya.

Jam menunjukkan pukul 08.35 WIB saat aku berangkat dari tempat tinggal orang tuaku di daerah Sunter, Jakarta Utara. Iringian doa dari kedua orang tuaku mengawali kayuhan sepedaku. Tak lupa kumulai kayuhan tersebut dengan membaca basmallah dan bertawakal kepada Allah. Harapanku adalah aku bisa kembali lagi ke Jakarta dengan selamat.

Pukul 12 siang aku tiba di kota Karawang. Aku tidak bisa memasuki kota karena jalan menuju kota ditutup sementara oleh aparat keamanan. Aku pun mengikuti jalan yang diarahkan untuk semua jenis kendaraan menuju pinggiran kota Karawang. Kusempatkan untuk berisitirahat sejenak pada sebuah masjid yang ada di pinggir jalan raya. Kutunaikan sholat Dzuhur di sana. Setelah makan siang pada sebuah rumah makan sederhana, kulanjutkan kembali perjalananku.

Kukayuh terus sepedaku menyusuri jalan Pantura Jawa Barat. Menjelang sore aku tiba di kota Pamanukan dan beristirahat di kantor Polsek setempat. Malam itu pun aku menumpang tidur di kantor tersebut.

Kamis, 14 Juli 2006 (Hari ke-87) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah mandi pagi dan sarapan, kumulai kembali kayuhanku hari ini. Tak lupa kuucapkan terima kasih pada Bapak-Bapak Polisi yang telah mengijinkan aku bermalam di kantornya. Deru kendaraan dan debu yang mengepul di jalanan ditambah asap hitam yang keluar dari knalpot bus-bus dan truk-truk menemani setiap kayuhanku. Semuanya kunikmati saja. Bahkan aku merasa perjalananku terasa ringan kali ini. Jalan yang kulalui terbilang sangat datar. Berbeda dengan jalan-jalan di Pulau Sumatera yang penuh tanjakan dan turunan.

Jalan yang kulalui kemarin, hari ini, dan esok adalah jalan yang telah kukenal. Tahun lalu aku menyusuri jalan ini pula saat aku melakukan perjalanan bersepeda seorang diri dengan rute Jakarta – Puncak Gunung Rinjani – Jakarta. Semoga saja perjalananku kali ini lancar dan tidak mendapat hambatan. Amin!

Sore hari aku memasuki kota Cirebon. Sesuai saran kakakku, aku menumpang bermalam di Balai Diklat Keuangan VII Departemen Keuangan di Jalan Pemuda 36 Cirebon.

Sunday, July 09, 2006

CURAHAN HATI ANAK PETUALANG


PERJALANAN BUKAN AREAL UNTUK BICARA CINTA

PERJALANAN ADALAH SUATU TEMPAT UNTUK BELAJAR

SAAT MENATAP MATAHARI DAN JALAN RAYA ITU ADALAH

HAL YANG SESUNGGUHNYA

PERENUNGAN AKAN SEMUANYA ADA DISINI

DENGAN INGATAN YANG TAJAM AKAN 4JJI

YANG HADIR UNTUK DIAJAK BICARA

DAN MENGAKUI AKAN KEDAHSYATANNYA

NAMUN APA DAYA UNTUK SEORANG IWAN

YANG CUMA MANUSIA SETENGAH RUSAK

SAAT IA SINGGAH DAN KENA TEGUR WANITA

HATI BERGETAR RELUNG TERBUKA

MENYAMBUT SENYUMAN YANG MUANISSS…

YANG MENGAJAK MENARI DAN BERNYANYI

TENTANG CINTA DAN TENTANG SAYANG

HAL ITU MEMBUAT AKU CUMA BISA BILANG

AKU BELUM TAHU

MUNGKIN…..KARENA,

DIA TERLALU NEKAT MENUSUK HATIKU SETIAP SAAT

KALA PAGI DATANG

KALA AKU TERLELAP

ATAU SAAT AKU BERIRAMA DENGAN KAYUHAN

DAN HAL ITU MEMBUAT GETARAN…

BAGAIMANA AKU MENOLAK

BAGAIMANA AKU DIAM

ATAU BAGAIMANA AKU CUMA BILANG

“MAAF AKU GA MAU DI GANGGU”

KAN GA MUNGKIN, APALAGI…

DIA BERTUTUP

DIA MANIS

DIA CANTIK MENAWAN

DIA GEMULAI

DIA PINTAR

DAN DIA PEMERHATI AKU

BAGAIMANA AKU BERKATA TIDAK

KAN GA MUNGKIN ….

YA SUDAH,BIAR SAJA CINTA ITU ADA

WALAU KENYATAANNYA JARAK MEMBENTANG JAUH...

DAN AKU CUMA BISA BILANG “AKU TERLANJUR HANYUT”

KE DALAM CINTAMU YANG MEMPESONA

Friday, July 07, 2006

FOTO FOTO KU SELAMA PERJALANAN TAHAP I

Halo sobat, sebagian foto-foto perjalananku kemarin (Jakarta Sabang Jakarta, 18 April s.d. 30 Juni 2006) bisa di liat di http://iwansunter.multiply.com/photo/
Silakan mampir yach....
Trims.
Oya, rencananya hari Selasa tanggal 11 Juli 2006 aku akan melanjutkan perjalanan bersepedaku, yaitu Jakarta Larantuka Jakarta. Mohon doa restunya ya....

Friday, June 30, 2006

PERJALANAN: BENGKULU - LAMPUNG - JAKARTA



Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-66 s.d. ke-74 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA

Kamis, 22 Juni 2006 (Hari ke-66) Perjalanan Arah Pulang:

Seharian kemarin aku berada di kota Bengkulu. Kunikmati pojok-pojok kota agar bisa lebih mengenal kota ”ketupat” ini. Aku sempat mampir ke kantor teman kakakku yang berada di Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN) Bengkulu. Bahkan tadi malam aku menumpang menginap di kantor tersebut.

Pagi ini aku kembali mengayuh sepeda Polygon-ku. Kususuri jalan sepanjang pinggir pantai Samudera Indonesia. Ombak-ombak nan besar seolah melambai-lambai kepadaku. Entahlah, apakah mereka turut menyemangatiku atau malah mengejekku karena melihatku mengayuh sepeda. Kulalui kota-kota kecil seperti Kertopadang, Cahayanegeri, Tais, Masmambang, Tallo, Allas, Pinoh, dan Manna (masih di wilayah Provinsi Bengkulu). Di kota terakhir itulah malam ini aku menginap di sebuah masjid yang diurus oleh anak-anak SMA setempat.

Jumat, 23 Juni 2006 (Hari ke-67) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah berpamitan dengan sobat-sobat mudaku, anak-anak SMA pengurus masjid, kulanjutkan perjalananku. Hari ini jalurnya masih jalur pinggir pantai. Namun jalan yang kulalui kadang datar, kadang menanjak, dan kadang menurun. Siang hari aku telah tiba di perbatasan antara Provinsi Bengkulu dengan Provinsi Lampung. Di wilayah Tanjung Merpas (perbatasan) aku menyusuri hutan alam yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan. Sungguh sebuah pemandangan hutan yang benar-benar alami!

Sore harinya aku tiba di Desa Rata Agung Kecamatan Lemong Kabupaten Lampung Barat. Malam ini aku menginap di rumah seorang kepala desa. Baru kali ini aku diterima dengan baik oleh seorang kepala desa dan memperkenankan aku menginap dirumahnya. Trims ya Pak Kades...

Sabtu, 24 Juni 2006 (Hari ke-68) Perjalanan Arah Pulang:

Kukayuh kembali sepedaku pagi ini setelah berpamitan dengan Bapak Kepala Desa. Kuucapkan terima kasih atas kebaikkannya menerima dan mengijinkan aku menginap di rumahnya. Kulalui kota kecil Pugungtampat dan Lokpandan sebelum memasuki kota kecil Krui (wilayah Provinsi Lampung). Dari kota kecil ini kuambil jalan yang berbelok ke kanan menuju kota Liwa. Mulai saat itu jalur yang kulalui sangat menanjak dengan sudut tanjakkan sekitar 45 derajat. Wuiih sungguh berat perjalanan kali ini. Inilah rute dengan tanjakan yang paling ”ganas” dari banyak rute yang telah kulalui selama 2 bulan ini. Semua jalan-jalan seperti ini kunikmati saja meskipun telah membuat betisku semakin mengeras. Sekitar pukul 14.30, aku tiba dan beristirahat sejenak di kota nan sejuk Liwa.

Setelah kurasakan tenagaku pulih kembali, kulanjutkan kayuhanku kembali. Saat menjelang petang aku tiba di kota kecil KINALI, Lampung Barat. Namun aku mengalami kesulitan mencari tempat bermalam. Di kota ini keinginanku menumpang menginap di rumah Kades ataupun Camat, ditolak. Pasrah dengan keadaan, kucari sebuah masjid untuk menunaikan sholat Magrib. Alhamdulillah, setelah sholat, seorang jamaah menghampiriku dan bertanya tentang aku. Lantas, kuceritakan saja segalanya tentang diriku dan perjalananku. Spontan, pemuda tersebut (belakangan aku tahu ia seorang yatim dan bernama Agus) mengajakku untuk bermalam di rumahnya. Sungguh Allah selalu memberikan pertolongan kepada hamba-Nya yang membutuhkan.

Minggu, 25 Juni 2006 (Hari ke-69) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini jalur yang kulalui sangat menanjak. Bahkan saat memasuki wilayah gunung Sekincau di siang hari, terpaan udara dingin sangat terasa. Ini menandakan tingginya wilayah tersebut diukur dari atas permukaan laut. Kupompa terus semangatku agar mampu mengayuh sepedaku melalui wilayah pegunungan ini. Setelah melalui kota kecil Pajarbulan, jalan mulai menurun kulalui untuk menuju kota kecil lainnya, Cahayanegeri. Akhirnya menjelang petang aku tiba di kota Kotabumi, Lampung. Karena kurasakan hari masih cukup terang, sepeda tidak kuhentikan di kota ini. Kulanjutkan kayuhanku hingga hari menjadi cukup gelap. Kira-kira 10 kilometer dari kota Kotabumi, aku tiba di kecamatan Kali Balangan dan bermalam di sana. Malam ini aku menumpang menginap di kantor Polsek setempat.

Senin, 26 Juni 2006 (Hari ke-70) Perjalanan Arah Pulang:

Kubutuhkan waktu sekitar 2 jam untuk bisa tiba di desa Padang Ratu. Di desa ini aku menyambangi sanak keluargaku yang tinggal di sana. Yah, hari ini dan besok aku ingin beristirahat cukup setelah menempuh jalur-jalur yang ”ganas” dua hari kemarin.

Selasa, 27 Juni 2006 (Hari ke-71) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini full waktuku kuhabiskan untuk beristirahat guna memulihkan tenagaku. Insya Allah besok perjalan menuju kembali ke Jakarta akan kulanjutkan.

Rabu, 28 Juni 2006 (Hari ke-72) Perjalanan Arah Pulang:

Pagi-pagi sekali kuberpamitan dengan sanak keluargaku yang ada di desa Padang Ratu. Kukayuh kembali sepedaku dengan target tujuan adalah kota Bandar Lampung. Tidak ada yang terlalu istimewa dalam perjalananku hari ini. Jalan-jalan yang relatif datar kulalap dengan mudah. Sampai-sampai, rasanya seperti tidak mengayuh. Maklum, kemarin-kemarin kakiku telah ditempa tanpa henti dengan jalur menanjak.

Sore hari aku tiba di kota Bandar Lampung dan menumpang beristirahat di Gumpalan (Mapala Fakultas Pertanian Universitas Lampung).

Kamis, 29 Juni 2006 (Hari ke-73) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini kutempuh perjalan dengan jalur yang cukup menanjak menuju pelabuhan Bakauheni. Awalnya aku membayangkan akan dihadang oleh jalur terjal yang ganas karena masih teringat dalam memoriku bagaimana dua bulan lebih yang lalui aku sempat kewalahan untuk mengayuh sepeda di jalur ini. Namun ternyata semuanya berjalan lancar. Tanjakkan yang kukhawatirkan tidak lebih ganas dibandingkan jalur Bengkulu- Lampung.

Sekitar jam 3 siang aku sudah berada di atas feri penyeberangan menuju pelabuhan Merak. Sesaat setelah turun dari feri di Pelabuhan Merak, kuucapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT karena aku masih diberikan kekuatan dan kesehatan untuk bisa menginjakkan kakiku kembali di tanah Jawa ini. Tanpa membuang waktu, ku kayuh kembali sepedaku menuju Jakarta. Semula aku berencana untuk menginap di kota Cilegon, Banten. Namun karena saat tiba di kota tersebut hari masih sangat terang, kuputuskan untuk tetap mengayuh menuju kota berikutnya, kota Serang.

Setibaku di kota Serang, kuarahkan sepedaku menuju Universitas Tirtayasa (UNTIRTA) untuk beristirahat di sana malam ini.

Jumat, 30 Juni 2006 (Hari ke-74) Perjalanan Arah Pulang:

Pukul 9.30 kumulai kayuhanku hari ini. Jalan yang kulalui semakin terasa ringan. Kalau pun terasa berat, itu lebih disebabkan karena jalan-jalan tersebut dipenuhi dengan kendaraan-kendaraan yang hilir-mudik. Maklum, aku hampir mendekati ibukota.

Siang hari sebelum waktu sholat Jumat, aku telah tiba di kota Balaraja, Tangerang. Kucari masjid untuk menunaikan sholat Jumat sekaligus mengistirahatkan kaki dan pantatku. Sekitar pukul 3.00 sore kayuhanku memasuki pinggir kota Jakarta. YES...!!! Setelah 74 hari, aku tiba kembali di kampung halamanku........ ALLAHU AKBAR...TUHAN MAHA BESAR...

Terima kasih Yaa Allah yang telah memberiku kelancaran dalam melaksanakan ekspedisiku kali ini.....

Thursday, June 22, 2006

PERJALANAN: KOTA PADANG - KOTA BENGKULU


Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-61 s.d. ke-64 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

Sabtu, 17 Juni 2006 (Hari ke-61) Perjalanan Arah Pulang:

Selama empat hari aku ”tertahan” di kota Padang, Sumatera Barat. Semula, menurut rencana, aku hanya dua hari saja menikmati kota nan indah ini. Namun kondisi telah membuatku ”betah” di kota tersebut. Seseorang telah ”menyandera” aku bersama sepedaku hehehe.

Hari ini kupaksa diriku untuk melanjutkan perjalananku kembali. Aku tidak boleh terlena untuk berlama-lama menunda perjalananku. Apalagi perjalananku kali ini masih sangat jauh. Aku masih harus mencapai kota Jakarta kembali sebelum akhirnya melanjutkan perjalanan tahap II menuju NTT, pulang pergi.

Kuarahkan kayuhanku ke Provinsi Bengkulu. Menurut hitunganku, dalam 3 atau 4 hari bisa kucapai kota Bengkulu yang merupakan ibukota Provinsi Bengkulu.

Kuarungi jalur lintas pantai Barat Sumatera. Beberapa kilometer setelah meninggalkan kota Padang, jalan menanjak menyapa dan mempersilakan aku untuk melaluinya. Ya, hari ini aku melalap dua kali jalan tanjakan berupa bukit dan menyusuri jalan rata pinggir pantai. Menjelang sore kayuhanku tiba di kota Balaiselasa, Sumbar. Malam ini aku beristirahat di kota kecil tersebut di sebuah kantor polisi.

Minggu, 18 Juni 2006 (Hari ke-62) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah sarapan seadanya pagi ini kulanjutkan kayuhan sepedaku. Kutinggalkan kota kecil Balaiselasa untuk menyusuri jalur nan indah di tepi pantai Barat Sumatera. Jalur hari ini masih sama seperti kemarin, naik dan turun. Mendekati waktu Azhar, wilayah perbatasan antara Provinsi Sumatera Barat dan Provinsi Bengkulu telah aku lewati. Namun tidak lama kemudian hujan yang cukup deras menghampiriku. Akupun terpaksa berteduh sembari mengendurkan otot-otot kakiku yang telah lama mengeras.

Petang hari aku tiba di kota Lubuk Pinang, sebuah kota kecil tidak jauh dari perbatasan. Targetku untuk bisa tiba di kota Mukomuko, Bengkulu pada sore hari menjadi kandas. Tapi aku tidak kecewa. Hujan mengenalkan aku lebih dekat dengan kota Lubuk Pinang ini. Hari telah gelap. Setelah menunaikan sholat Magrib, akupun segera mencari tempat singgah untuk bermalam. Awalnya aku berniat menginap di Kapolsek Lubuk Pinang namun karena kamar mandi di Polsek tersebut tidak memiliki cukup air, aku berusaha mencari tempat lain. Alhamdulillah seorang laki-laki yang tinggal di depan Polsek mempersilakan aku untuk bermalam di tempat kost-annya. Namanya Bang Teddy. Ia pun ternyata seorang perantau dari Jawa. Terima kasih ya Bang. Semoga kebaikan Abang dibalas oleh Yang Mahakuasa.

Senin, 19 Juni 2006 (Hari ke-63) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah berpamitan dan berterima kasih pada Bang Teddy yang dengan baik hati mengijinkan aku menumpang bermalam di tempat kost-annya, aku pun memulai kembali perjalananku hari ini. Kayuhan demi kayuhan kulakukan kembali. Kunikmati setiap perjalanan yang kulalui. Laut nan biru menemaniku di sepanjang jalan pinggir pantai. Ombak menderu seakan melambai-lambai ke arahku. Betapa indah negeri tercinta ini.

Hari ini perjalananku mendapatkan corak. Setiap kali aku berpapasan dengan penduduk lokal, mereka dengan riang dan santun menyapaku, ”Haloo Misteerr...!” Wah, bangga juga aku dipanggil dengan sebutan Mister.

Belakangan aku baru tahu. Rupanya mereka terbiasa memanggil orang asing yang lewat di jalur tersebut dengan mengendarai sepeda dengan panggilan Mister. Karena jalur itu sering sekali dilalui Bule-Bule yang berlalu-lalang bersepeda menuju pantai untuk berselancar! Hah, ketipu aku hehehehe.

Sore hari aku tiba di desa SP5 (baca: espe lima) Kecamatan Putri Hijau, Bengkulu. Karena tidak ada masjid maupun kantor polisi di desa tersebut, kucoba untuk meminta ijin pada Bapak pemilik warung nasi untuk menumpang nginap di semacam posko (mirip tempat poskamling) yang ada di sebelah warung nasi tersebut. Tak kuduga, Pak Endang, pemilik warung nasi tersebut, malah menawari aku untuk menginap di rumahnya. Alhamdulillah, sekali lagi aku bertemu dengan orang-orang baik yang dengan tulus dan ikhlas membantu orang lain yang tidak mereka kenal sebelumnya.

Ya, malam itu kurebahkan badanku di sebuah kamar milik Pak Endang yang ternyata juga seorang perantau dari Tasikmalaya.

Selasa, 20 Juni 2006 (Hari ke-64) Perjalanan Arah Pulang:

Yeah! Sore ini aku tiba di kota Bengkulu. Sesuai rencana, empat hari bisa kurengkuh kota ini melalui kayuhan sepeda Polygon-ku. Wuih....tenang rasanya. Sebuah tahap antar kota telah kucapai kembali. Jarak sejauh kurang lebih 150 km yang menaik dan menurun kulahap hari ini. Sejak meninggalkan warung nasi milik Pak Endang pagi tadi, konsentrasiku memang hanya tertuju pada kota Bengkulu ini. Alhamdulillah aku tiba dengan selamat.

Oya, masih seperti kemarin, perjalananku hari ini masih diwarnai dengan banyaknya penduduk yang menyapaku dengan panggilan yang seragam, ”Halo Mister”. Maka, kujuluki saja kampung-kampung yang kulalui tersebut dengan sebutan ”Kampung Norak”. Maaf, sebutan itu terpaksa kuberikan karena begitu banyaknya orang yang meneriaki aku dengan istilah Mister. Mereka menganggap setiap orang asing yang bersepeda di pinggir pantai Barat adalah turis asing. Padahal dilihat dari segi tampang saja, terlihat jelas nggak mungkin aku seperti orang Bule hahaha.

Malam ini aku beristirahat di basecamp Mapala Universitas Bengkulu. Selama satu hari besok, kuingin menikmati kota yang sangat terkenal dengan ”ketupat”-nya ini (Ketupat Bengkulu hehehe).

Tuesday, June 13, 2006

JALUR: PEKANBARU - PADANG

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-55 s.d. ke-57 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

PERJALANAN: PEKANBARU - PADANG

Minggu, 11 Juni 2006 (Hari ke-55) Perjalanan Arah Pulang:

Pagi ini aku kembali melanjutkan perjalanan. Kali ini sepeda tidak aku arahkan menuju Jambi melainkan ke arah kota Padang, Sumatera Barat. Ya, aku berencana untuk singgah di kota tersebut sebelum pulang menuju Jakarta.

Cuaca pagi ini tidak cukup bersahabat. Sesaat setelah meninggalkan kota Pekanbaru hujan menghantamku dengan derasnya. Karena tidak ingin kehilangan jarak tempuh, kuputuskan untuk mengenakan rain coat dan tetap mengayuh sepeda Polygonku.

Namun, lebatnya hujan mampu ”menembus” rain coat yang kupakai. Akupun basah kuyuh. Baju, celana, dan sepatuku basah.

Siang hari aku beristirahat sejenak di kota Bangkinang, Riau. Di sore hari kayuhanku membawaku tiba di desa Tanjung Pauh, kecamatan Pangkalan, Sumatera Barat. Kuputuskan untuk mencari tempat beristirahat di sana. Alhamdulillah, seorang pengurus masjid bernama Pak Mochtar memberikan sambutan kepadaku dengan sangat ramah. Malam itu, aku bermalam di masjid tersebut.

Catatan khusus:

Sahabat, pemandangan yang kusaksikan selama dalam perjalanan dari kota Bangkinang menuju Tanjung Pauh, Subhanallah, sangat luar biasa. Sungguh menakjubkan! Selama melakukan ekspedisi kali ini, baru saat ini aku menyaksikan suatu pemandangan alami yang begitu menakjubkan. Sungguh sulit kulukiskan, sahabatku.

Senin, 12 Juni 2006 (Hari ke-56) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah berpamitan pada Pak Mochtar dan mengucapkan banyak terima kasih atas sambutannya yang hangat, kulanjutkan kembali perjalananku pagi ini. Setelah merengkuh meter demi meter, siang hari aku tiba di kota Payakumbuh, Sumatera Barat. Pemandangan dalam jalur yang kulalui hari ini pun ternyata tidak kalah dengan jalur kemarin. Terlebih saat aku melalui Kelok Sembilan, Wuihh sungguh indah nian Sumatera Barat, begitu gumamku.

Di kota Payakumbuh, kusempatkan untuk mampir ke sebuah Gerai Telkomsel yang ada di kota ini untuk sekedar melaporkan kondisi sinyal telepon seluler selama dalam perjalanan yang telah kulalui beberapa hari ini.

Sore hari ini aku tiba di kota Padang Panjang. Kususuri kota itu untuk mencari tempat bermalam. Tak terasa aku telah mengarah keluar kota Padang Panjang. Tanpa ragu, kukayuh terus sepedaku untuk mencari masjid, kantor polisi, atau apa saja yang bisa kujadikan tempat melepas lelah. Namun hingga jam 8 malam, aku masih belum menemukannya. Beberapa masjid kecil yang kudatangi menolak mengijinkan aku untuk bermalam. Aku berpikir malam itu aku telah menjadi ”gelandangan”. Alhamdulillah kayuhanku tiba di sebuah kompleks Brimob Polri. Setelah kujelaskan kisah perjalananku dan keinginanku untuk menumpang bermalam, aku diijinkan oleh petugas jaga. Syukurlah aku tidak jadi menjadi seorang ”gelandangan” malam itu J

Selasa, 13 Juni 2006 (Hari ke-57) Perjalanan Arah Pulang:

Pagi-pagi kukayuh kembali sepedaku dengan bersemangat. Aku sudah tidak sabar untuk bisa menginjakkan kakiku di kota Padang. Aku tahu (melalui peta yang kubawa) jarak dari Padang Panjang menuju kota Padang sudah tidak terlalu jauh. Segera saja kususuri jalan menurun yang ada dihadapanku.

Sekitar jam 12 siang, aku tiba di kota Padang. Allahu Akbar, akhirnya aku tiba di kota nan indah. Di kota itu, aku menemui seorang teman kenalanku. Rasa senang hinggap di hatiku saat kubisa bertemu dengan teman yang sebelumnya hanyalah seorang teman virtual J Aku pun berniat untuk menghabiskan waktuku esok hari di kota nan indah ini sekaligus menghilangkan rasa lelah yang telah lama menghinggapiku. Rencana, lusa aku akan mengarungi jalur Barat Sumatera untuk pulang kembali di Jakarta. Aku juga ingin singgah di Bengkulu. Insya Allah.

Oya, malam ini aku bermalam di markas Mapala Fakultas Pertanian Universitas Andalas.

Sunday, June 11, 2006

PERJALANAN: MEDAN - PEKANBARU

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-50 s.d. ke-54 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

Selasa, 6 Juni 2006 (Hari ke-50) Perjalanan Arah Pulang:

Pagi ini kutinggalkan kota Medan dan keramahan sobat-sobatku di Mapala Institut Teknologi Medan (ITM) dan Mapala Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU). Ya, aku harus melanjutkan perjalanan pulangku kembali menuju Jakarta. Selama hampir 3 hari ini, aku beristirahat full di kota Medan. Semenjak turun dari gunung Sinabung (2457 mdpl) dan kemudian mengayuh sepeda kembali menuju kota Medan, kaki terasa sangat pegal. Makanya kuputuskan untuk beristirahat cukup agar bisa memulihkan tenaga dan terutama kakiku. Aku sangat bersyukur sobat-sobatku di kedua Mapala tersebut sangat menerima kehadiranku di tengah-tengah mereka. Terima kasih wahai sobat-sobatku.

Sore hari ini aku tiba di daerah Simpang Kawat, Sumut yang berjarak kurang lebih 150-an kilometer dari kota Medan (kurang lebih 8 kilometer setelah kota Kisaran). Dan malam ini aku bermalam di sebuah kantor polisi lalu lintas yang ada di kota tersebut.

Rabu, 7 Juni 2006 (Hari ke-51) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah berpamitan dengan para Polisi yang baik hari, aku segera mengayuh sepedaku. Targetku hari ini adalah kota Rantau Prapat. Dan alhamdulillah sebelum senja aku telah tiba di kota tersebut. Di kota ini sobatku dari GMPA Mapala ITM telah menungguku. Malam ini aku menginap di tempat tinggalnya.

Kamis, 8 Juni 2006 (Hari ke-52) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini kukayuh sepedaku sejauh kurang lebih 140-an km, menempuh jarak kota Rantau Prapat, Sumut ke kota Baganbatu, Riau. Ya, hari ini aku telah memasuki Provinsi Riau. Di kota ini aku bermalam di sebuah masjid.

Jumat, 9 Juni 2006 (Hari ke-53) Perjalanan Arah Pulang:

Jarak yang kutempuh hari ini sebenarnya terasa sama dengan hari-hari sebelumnya. Hanya saja, jalanan yang kulalui hari ini begitu melelahkan. Hal ini bukan disebabkan oleh konsidi jalan yang terjal melainkan karena jalanan yang kulalui adalah ”jalan tiada berujung”. Jalan yang menghubungkan kota Baganbatu dengan kota Duri lebih banyak lurusnya dengan kebun sawit berada di kanan dan kiri jalan. Selama mengayuh sepeda, bila perhatianku kuarahkan ke depan akan nampak jalan yang begitu lurus seperti tiada berujung. Wuahh lelah sekali rasanya.

Malam ini kuhabiskan waktu di sebuah masjid. Ingin rasanya ikut menyaksikan pertandingan perdana PIALA DUNIA malam ini. Tetapi apa daya, kelelahanku mengalahkan hasratku menonton sepakbola dunia.

Sabtu, 10 Juni 2006 (Hari ke-54) Perjalanan Arah Pulang:

Kurang lebih pukul 3 sore tadi aku telah memasuki pintu gerbang kota Pekanbaru. Jarak yang kutempuh hari ini sekitar 100-an km. Langsung saja, kayuhan sepeda kuarahkan menuju Universitas Lancang Kuning. Setibanya di sana aku sempat tertegun. Tak terasa, hampir satu bulan yang lalu aku menumpang istirahat di tempat ini saat aku akan menuju Aceh. Satu bulan terasa begitu cepat berlalu. Malam ini kugunakan untuk beristirahat dengan cukup. Besok, sesuai niatku, aku akan mencoba menuju kota Padang. Rute ini berbeda dengan rute ketika aku berangkat.

Saturday, June 03, 2006

MERAIH PUNCAK G. SINABUNG (2451 mdpl) BERSAMA SEPEDAKU

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-45 s.d. ke-46 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

EPISODE: Naik Gunung Sinabung (2451 mdpl) bersama sepeda Polygon

Kamis, 1 Juni 2006 (Hari ke-45) Perjalanan Arah Pulang:
Pagi-pagi aku dan Acong, sahabatku dari Medan, mengayuh sepeda kembali menuju kaki gunung Sinabung, Sumut. Kami tiba di Danau Lao Kawar sekitar pukul 2 siang. Setelah merasa cukup beristirahat, kami pun bergegas mendaki gunung tersebut. Aku membawa sepeda Polygon-ku sedangkan Acong tidak. Selain menemaniku mendaki gunung, ia bertugas mengabadikan moment ini dengan handycam yang ia bawa. Pukul 6 sore kami tiba di Pos 2. Kami segera memasang tenda, menyiapkan makan malam, dan beristirahat.

Jumat, 2 Juni 2006 (Hari ke-46) Perjalanan Arah Pulang:
Setelah sarapan dan mengemas barang bawaan, aku dan Acong melanjutkan pendakian kembali. Sekitar pukul 12 siang kami telah tiba di puncak. Wuaah luar biasa senang hatiku bisa kembali mendaki gunung hingga puncak dengan membawa sepeda. Yah, ini adalah kali keduaku melakukan hal tersebut. Tahun lalu aku bersepeda dari Jakarta menuju gunung Rinjani (3726) di pulau Lombok. Kemudian kudaki gunung tersebut dengan membawa sepedaku. Saat itu sepeda yang kupakai adalah sepeda ”biasa” namun masih laik pakai. Saat kembali ke Jakarta pun, kulalui jalan pulang dengan kayuhan sepeda.
Setelah merasa cukup di puncak gunung Sinabung tersebut, aku dan Acong kembali turun. Saat itu jam menunjukkan pukul setengah dua. Jalur turun kami lalui lebih cepat dibandingkan saat naik. Pukul lima sore kami telah tiba kembali di Danau Lao Kawar.
Malam ini, kami menginap di rumah seorang pendiri Mapala USU (Univ. Sumatera Utara) di desa Naman. Selain untuk menumpang melepas lelah, kunjunganku ini kulakukan dalam rangka bersilaturahmi.
[Note: Insya Allah, kisah lengkap tentang suka-duka pendakian di gunung Sinabung ini akan kutorehkan dengan keyboard setelah aku tiba di Jakarta nanti. Amin.]
Besok, aku dan Acong kembali ke kota Medan dengan mengayuh sepeda sebagaimana kami berangkat. Perjalananku masing panjang. Dari Medan, dalam perjalanan pulang ini, aku berencana untuk mengunjungi kota Padang.

Thursday, June 01, 2006

MAMPIR KE GUNUNG SINABUNG, SUMUT DENGAN SEPEDA

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-41 s.d. ke-44 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

Minggu, 28 Mei 2006 (Hari ke-41) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini aku mengayuh sepedaku dari kota Sigli menuju Lhokseumawe. Kayuhanku kali ini terasa begitu ringan. Selain karena jalanannya relatif datar, tidak seperti jalur Banda Aceh – Sigli yang menanjak dan menurun tajam, aku juga merasa seperti baru kemarin saja melintasi jalan ini. Yah, delapan hari yang lalu aku melintasi jalan ini menuju Banda Aceh untuk mencapai Sabang.

Aku tiba di kota Lhokseumawe menjelang magrib. Kuarahkan kayuhan sepedaku menuju Universitas Malikussaleh untuk menemui rekan-rekan Mapala di sana dan menumpang berisitirahat. Namun, malam ini aku ”dipaksa” begadang oleh teman-teman Mapala hingga jam 3 dini hari.

Senin, 29 Mei 2006 (Hari ke-42) Perjalanan Arah Pulang:

Setelah sempat memejamkan mata selama hampir dua jam, pukul 5 pagi aku bangun, mandi, dan menunaikan sholat Subuh. Setelah ”sarapan” seadanya, aku berpamitan dengan rekan-rekan Mapala dan segera kukayuh kembali sepedaku menuju kota berikutnya yaitu Langsa.

Sebelum memasuki kota Langsa, di sekitar kecamatan Peureulak aku berpapasan dengan iring-iringan truk yang mengangkut pendemo RUU Pemerintahan Aceh yang baru saja pulang dari kota Langsa. Melihat iring-iringan pendemo yang jumlahnya cukup banyak dan agak beringas, tentu saja aku was-was. Segera kulipat bendera merah putih yang selama ini terpasang di sepedaku. Hal ini kulakukan untuk menjaga keamanan diriku semata.

Sekitar pukul 6 sore aku memasuki kota Langsa. Segera saja aku menuju Universitas Samudera untuk menemui rekan-rekan Mapala yang telah menanti kedatanganku di sana.. Saat aku tiba, mereka pun memberikan ucapan selamat kepadaku karena telah berhasil tiba di titik nol Indonesia dengan bersepeda.

Selasa, 30 Mei 2006 (Hari ke-43) Perjalanan Arah Pulang:

Seperti biasanya, pagi hari setelah berpamitan dan mengucapkan terima kasih aku melanjutkan perjalananku kembali. Kukayuh sepedaku sekuat tenagaku menuju kota Medan. Alhamdulillah tidak ada rintangan berarti selama dalam perjalanan di jalur yang menghubungkan kedua kota ini. Menjelang petang kayuhanku memasuki kota Medan. Sebelum memasuki kota, aku berhenti dan mencari-cari rekanku yang katanya akan menemuiku di muka kota ini. Setelah kutunggu beberapa menit ternyata rekanku tidak ada. Kuputuskan untuk memasuki jalan-jalan di kota Medan yang sama sekali tidak kuhapal untuk mencapai Universitas Muhammadiyah. Hasilnya? Aku tersasar!

Karena telah larut dan lelah, aku mencari kampus terdekat yang berada dalam posisiku saat itu. Akhirnya, aku pun menuju Institut Teknologi Medan (ITM), menemui para rekan Mapala di sana, dan menumpang beristirahat....

Rabu, 31 Mei 2006 (Hari ke-44) Perjalanan Arah Pulang:

Hari ini rekanku yang kemarin berjanji untuk bertemu di muka kota datang menemuiku di ITM. Namanya Acong. Ia minta maaf atas hal kemarin. Sebenarnya, saat aku di Medan dua minggu yang lalu, kami berdua berencana untuk mendaki gunung Sinabung (2451 mdpl) Sumatera Utara. Dan hari ini kami sepakat untuk mendaki gunung tersebut dengan menggunakan sepeda hingga ke puncaknya.

Siang hari kami berdua berangkat menuju arah selatan kota Medan dengan menggunakan sepeda masing-masing. Aku menggunakan Polygon Unitoga yang telah setia menemaniku sejak dari Jakarta sedangkan Acong menggunakan BMX. Acong mendokumentasikan perjalanan kami ini dengan sebuah handycam.

Saat hari mulai gelap kami tiba di pinggiran kota Brastagi. Jarak menuju kota masih sekitar 8 km lagi namun kami memutuskan untuk beristirahat dan menginap di pinggir jalan dengan memasang tenda. Yah, malam ini kami tidur di sebuah tenda yang kami pasang...

Saturday, May 27, 2006

Catatan petualangan: perjalanan kembali ke Jakarta

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-37 s.d. ke-40 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

Rabu, 24 Mei 2006 (Hari-37):

Hari ini aku kesal sekali. Sedianya aku akan bersilaturahmi sekaligus melaporkan ekspedisi bersepeda tunggalku ke petinggi kota Sabang. Ya, hari ini aku berniat bertatap muka dengan Pak Walikota atau Wakil Walikota ataupun Pak Sekretaris Kota Sabang. Namun sayang, semua rencana tersebut tidak ada satu pun yang terrealisasikan. Jangankan untuk bertemu pada Wali atau wakilnya, untuk bertemu sekretaris kota saja aku harus menunggu berjam-jam bersama tamu-tamu lainnya. Ada kesan aku tidak dilayani. Mungkin karena penampilanku yang lebih mirip seperti peminta-minta kali hehehehe.

Setelah lebih dari 2 jam menunggu tanpa kepastian yang jelas, akhirnya kuputuskan untuk membatalkan niatku bertemu para petinggi tersebut. Sisa waktu yang kumiliki gunakan untuk melepas lelah kembali.

Kamis, 25 Mei 2006 (Hari ke-38):

Tepat pukul 12.23 WIB aku tiba di TITIK NOL INDONESIA. Untuk mencapai titik ini, pagi-pagi sekali aku sudah harus mengayuh sepedaku sejauh kurang lebih 30 Km dari kota Sabang ke arah utara dengan kondisi jalan yang turun-naik. Kugunakan waktuku di titik nol sebaik-baiknya. Untungnya di sana ada anggota Paskhas TNI yang bersedia membantuku mengabadikan aku bersama sepeda Polygon-ku. Sambil melepas lelah, aku mengobrol banyak dengan para anggota TNI tersebut.

Aku hanya istirahat sekitar satu jam. Setelah itu aku harus segera kembali mengayuh sepedaku menuju ke kota Sabang agar ketika tiba di sana hari masih terang. Alhamdulillah sekitar jam setengah 6 sore aku telah tiba kembali di kota Sabang. Malam ini menginap di asrama Polri.

Jumat, 26 Mei 2006 (Hari ke-39) Perjalanan Arah Pulang:

Jam 7 pagi aku telah tiba di pelabuhan Balohan. Aku tidak ingin terlambat karena feri yang berangkat ke pulau besar (kota Banda Aceh) berangkat jam 8 pagi.

Satu jam kemudian aku telah tiba di Banda Aceh kembali. Hari ini kugunakan waktuku untuk mengunjungi beberapa kenalan baru di kota ini. Besok aku akan melakukan perjalanan pulan menuju Jakarta dengan mengambil rute yang sama seperti ketika aku datang. Hanya saja, dalam perjalanan pulang ini aku berencana mengunjungi kota Padang, Sumatera Barat.

Sabtu, 27 Mei 2006 (Hari ke-40) Perjalanan Arah Pulang:

Kutinggalkan kota Banda Aceh pagi-pagi sekali. Kukayuh sepedaku menyusuri jalanan yang baru beberapa hari yang lalu aku lewati. Jalanan menuju kota Sigli sangat turun-naik. Tadinya kupikir tanjakan menuju Sigli dari arah Banda Aceh lebih terjal, ternyata dugaanku keliru. Setelah kulalui jalanan tersebut, aku bisa tiba di kota Sigli jam 4 sore. Ini berarti jauh lebih cepat daripada ketika aku menyusuri jalan dari Sigli ke Banda Aceh beberapa hari yang lalu. Malam ini aku menginap di sebuah masjid di kota ini. Masjid yang sama yang aku kunjungi saat perjalanan menuju Banda Aceh.

Tuesday, May 23, 2006

Jurnal Pejalanan Bersepeda: Medan - Banda Aceh

Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-32 s.d. ke-36 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT – Jakarta

Sponsored by: Majalah Sunter, Avtech, Polygon, dan Telkom
Jumat, 19 Mei 2006 (Hari-32):

Pagi ini kutinggalkan kota Medan, kota terbesar ketiga di Indonesia. Kukayuh kembali sepedaku seperti hari-hari yang lalu. Aku berharap dalam waktu 3 atau 4 hari ke depan aku bisa tiba di ibukota serambi mekah, Banda Aceh. Hari ini, aku bersholat Jumat di kota Pangkalan Brandan yang masih berada di wilayah Sumatera Utara. Petang hari, aku telah tiba di kota Langsa, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Malam ini aku menginap di basecamp Saudara-Saudaraku di MAPALA UNIVERSITAS SAMUDERA (Mapala Unsam). Hari ini kukayuh sepedaku sejauh kurang lebih 130-an kilometer dengan kondisi jalan yang relatif lebih datar.


Sabtu, 20 Mei 2006 (Hari ke-33):

Hari ini jalur yang harus kulalui adalah jalur ”berbahaya” di masa konflik RI dengan GAM. Yah, aku harus melalui jalur antara kota Langsa menuju Lhokseumawe. Kutelusuri jalur yang berada di pesisir timur provinsi NAD ini. Jalan yang kulalui relatif datar. Alhamdulillah, sore hari aku memasuki kota Lhokseumawe dengan selamat. Jujur saja, ada sedikit rasa khawatir lho selama aku melintasi jalur ”rawan” tersebut. Selama dalam perjalanan, semuanya kupasrahkan kepada Illahi Robbi.

Malam ini, aku menumpang nginap di Universitas Malikussaleh.

Minggu, 21 Mei 2006 (Hari ke-34):

Seperti biasa, pagi-pagi sekali kukayuh pedal sepedaku. Walau letih terasa belum hilang, walau panas di pantat belum mendingin, kutekadkan kembali niatku untuk mencapai kota Banda Aceh sesegera mungkin. Hari ini targetku adalah kota Sigli.

Sepanjang jalan kulantunkan asma Allah dalam hatiku. Aku selalu mencoba memberikan senyuman kepada setiap orang yang kulalui dan yang memandangiku dengan rasa penuh tanda tanya. Awalnya aku sempat mengibarkan bendera merah putih pada sepedaku. Namun lama kelamaan aku malah merasa risih sendiri ketika setiap orang memandang aneh terhadap diriku. Ada yang menatapkan heran, ada yang memberikan acungan jempol, ada yang menganggukkan kepala dan sebagainya. Akhirnya kuputuskan untuk melipat bendera merah putih tersebut dan menyimpannya dalam tasku.

Sekitar jam 6 sore, aku tiba di kota Sigli dan menginap di sebuah masjid yang ada di kota tersebut. Selepas sholat Isya, kelepaskan rasa letih dan penatku dalam buaian mimpi.

Senin, 22 Mei 2006 (Hari ke-35):

Perjalanan pagi ini dari kota Sigli menuju Banda Aceh sangat berbeda dengan perjalanan tiga hari sebelumnya. Bila beberapa hari yang lalui jalanan sangat datar karena menyusuri pesisir pantai, kali ini aku harus mengayuh sepedaku dengan lebih berat. Yah, jalanan yang menanjak dan menurun yang kuhadapi kali ini. Mirip dengan perjalananku ketika berada di wilayah Lampung, Palembang, maupun Jambi.

Saat aku akan memasuki Kecamatan Sibreh, tiba-tiba angin yang sangat keras menggantamku dan sepedaku. Nyaris saja aku terpelanting. Seketika kuhentikan kayuhanku dan kucari perlindungan. Tidak lama kemudian hujan deras pun turun.

Hampir satu jam aku tertahan di situ. Dan saat hujan mulai reda cepat-cepat kukayuh kembali sepedaku agar tidak kemalaman di jalan. Kota Banda Aceh tinggal beberapa kilometer lagi. Alhamdulillah, sekitar jam 5 sore aku memasuki kota Banda Aceh. Dengan semangat yang masih membara kekayuh terus sepedaku menuju masjid raya.

Selama mengayuh, kubayangkan kejadian tsunami di tahun yang lalu. Dalam diriku aku bertanya, ”Yaa Allah mengapa Engkau memilih bumi Aceh tercinta ini sebagai tempat yang harus dilanda tsunami? Apa pesan sebenar-Mu kepada kami Yaa Allah?”

Selasa, 23 Mei 2006 (Hari ke-36):

Hari ini koran lokal di Banda Aceh memberitakan kejadian topan kemarin yang melanda kota Banda Aceh, Aceh Besar, dan sebagian Pidie. Pagi ini pula kusambangi pelabuhan Uleuleu yang merupakan ”pintu masuk” terjangan tsunami tahun lalu. Menurut informasi yang kudengar dari masyarakat setempat, ketinggian ombak saat itu mencapai 15 m dan menerjang kota Banda Aceh sejauh kurang lebih 15 Km ke dalam pusat kota. Allahu Akbar. Sungguh Maha Besar Engkau Yaa Allah.

Aku baru dapat menginjakan kakiku di Pulau We pada sore hari. Aku harus menunggu hingga jam 2 siang untuk menyeberang ke Pulau We dengan kapal Feri.

Begitu tiba di pelabuhan pulau We, segera kukayuh sepedaku menuju kota Sabang yang berjarak kurang lebih 11 Km dari pelabuhan.

Perjalananku ke kota Sabang ternyata masih membutuhkan energi besar. Jalan menanjak menghadangku untuk memasuki kota Sabang. Aku jadi teringat ketika aku tiba di pelabuhan Bakauheni menuju kota Bandar Lampung beberapa minggu yang lalu. ”Persis,” dalam hatiku. Perjuanganku tak sia-sia. Di hari ke-36 sejak aku meninggalkan Jakarta (catatan: aku sempat tertahan satu minggu di Jambi karena terserang cacar), akhirnya kutambatkan sepedaku di kota paling Barat Indonesia!!!!

Terima kasih Yaa Allah...........