Wednesday, October 10, 2007

TAMBORA 95 YANG HILANG.... :_(

(Ditulis pada bulan Agustus 2007)

Setelah bersepeda menempuh waktu yang cukup lama, aku tiba di Dompu. Aku langsung menuju rumah Ir, temanku dari Humpa Dompu. Tujuanku cuma satu, yaitu mengambil golokku yang tertinggal tahun lalu. Hari itu aku menginap semalam di rumah ir....... Esoknya, pagi jam 7, aku pamit dan langsung mengayuh sepedaku menuju Desa Pancasila yang berjarak sekitar 120 km, yaitu sebuah desa terakhir untuk mendaki Gunung Tambora.

Tak aku sangka, ternyata jalan yang kulalui merupakan jalan yang hancur dan bukan untuk sepeda macam milikku. Sebuah sepeda yang tak memiliki shock dan hanya memiliki ban yang diperuntukkan jalan raya yang mulus, Akupun cuma pasrah dan banyak berdoa agar perjalananku melewati jalan yang rusak parah itu bisa aku lewati tanpa kendala. Suasana yang sepi dan melewati desa yang jarang membuatku kesepian namun masih merasakan kenikmatan berpetualang. Apalagi aku harus melewati jalan yang sepi, yang kanan kiri merupakan padang rumput yang seperti tak ada batas dan itu menjadikan aku seperti di tanah Afrika seperti yang aku lihat di TV.

Setelah melewati jalan rusak dengan penuh kesabaran jam 16.30 aku tiba di Calabai. Lalu aku mencoba singgah di sekre gamping sebuah wadah anak desa yang hobi naik gunung. Aku berkenalan dengan Haris dan aku dibawa menuju tempat kerjanya yang merupakan bekas perusahaan legal logging yang pailit kalah dengan perusahaan illegal logging. Haris disini bekerja sebagai tenaga keamanan yang bertugas malam hari. Perusahaan ini memang sudah mati total, namun aset perusahaan yang berupa bangunan2 dan sebagian alat kerja masih ada dan harus dijaga. Perusahaan loging ini berkantor di Jakarta di daerah Rasuna Said Kuningan, dan perusahaan menunjuk Mr. Hendri untuk menjaga aset perusahaan yang ada di Calabai itu.

Harispun mengenalkan aku pada Mr. Hendri, seorang kebangsaan Skotlandia yang ramah dan bersahabat. Dalam berkenalan aku bisa merasakan persahabatan yang tulus darinya. Bahkan saat aku tidurpun aku dipersilakan tidur di ruangan yang bersih dengan kasur yang empuk dan kamar mandi yang bersih pula. Sungguh, seorang bule yang takkan aku lupa di tanah Calabai sumbawa itu.

Esoknya aku pamit pada Mr. Hendri dan Haris untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Pancasila yang memakan waktu 2 jam bersepeda. Tiba disana aku menuju KPATA, sebuah wadah tempat anak2 muda desa yang berprofesi sebagai guide, namun mereka menamakan pecinta alam, aneh...

Aku menemui Saipul yang merupakan ketua kpata, akupun mengutarakan maksudku untuk mendaki Gunung Tambora. Dia menceritakan kondisi jalur Tambora yang tak mungkin didaki sendiri karena mempunyai jalur yang bercabang dikarenakan banyaknya jalur loging dan pemburu. Siapapun yang belum pemah ke Tambora tak akan mungkin bisa mengikuti jalur yang benar karena tidak adanya anak panah atau petunjuk.

Mendengar itu aku mencoba melobi minta bantuan anak kpata untuk mengantar, namun aku tidak bisa membayar guide dan hanya bisa menjamin logistik selama pendakian. Maklum aku bukanlah seorang pendaki yang mempunyai duit banyak. Lagipula Iwansunter cuma seorang pendaki miskin di Indonesia.

Setelah bicara panjang lebar, Saipul menyatakan tak sanggup dengan alasan semua anggota kpata sibuk. Apalagi untuk seorang guide pendaki harus bisa membayar 70 ribu perhari untuk pendaki lokal dan Rp100 s.d. 150 ribu untuk turis asing. Jadi kesimpulannya kpata tidak bisa membantu pendakianku yang sudah di depan mata dengan gratis.

Pendakian tambora sebenamya tidak sulit, kalau kita mendaki berangkat jam 5 pagi sore sebelum gelap sudah bisa mencapai puncak, begitu cerita teman-teman yang pernah aku dengar, karena ketinggian Tambora hanya 2851 mdpl dan posisi Desa Pancasila pun sudah berada di ketinggian yang lumayan. Jadi yang membuat susah mendaki tambora hanyalah jalur yang bercabang-cabang dan tidak mempunyai petunjuk. Dan hal ini memang sengaja tidak dibuat karena menyangkut mata pencaharian anak kpata. Akhimya, dengan terpaksa aku turun esok harinya menuju Calabai lagi untuk mencoba minta bantuan anak Gamping.

Di Gamping aku kembali utarakan maksud pendakianku dengan mohon bantuan teman Gamping sebagai partner menuju puncak, hanya satu orang... Namun temyata disinipun tidak ada satupun yang mau membantu. Mereka hanya menyarankan mendaki bersama 5 hari lagi dalam acara pendakian tujuhbelasan. Mendengar itu aku lemas dan tak menyangka akan menghadapi orang-orang yang tidak mempunyai jiwa persaudaraan sesama pendaki. Untuk menunggu 5 hari sangatlah tidak mungkin karena aku harus menyelesaikan perjalanan ini dengan cepat bukan untuk bersenang-senang. Lagipula di pendakian tujuhbelasan biasanya akan banyak sekali pendaki dan itu bukan tipe aku. Aku lebih senang mendaki dengan suasana yang sepi dan sunyi. Dan andai saja jalur pendakian tambora tidak mempunyai jalur yang bercabang niscaya aku pasti mendaki sendiri karena bagiku mendaki seorang diri adalah sebuah kepuasan dan hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti.

Akhirnya, setelah aku merayu dengan argumen yang aku yakin benar dan penuh memohon, aku pun ditolak mentah-mentah. Mereka hanya mau mengantar andai sebagai guide. Dengan hati hancur aku pulang bersepeda lagi menyusuri jalan-jalan yang rusak untuk meninggalkan kaki gunung Tambora. Namun aku sempat menginap lagi 2 malam di tempat Mr. Hendri. HATIKU HANCUR TAMBORA HILANG WALAU SUDAH DIDEPAN MATA…!!! Kesimpulanku Tambora adalah gunung orang kaya, artinya kalau kita tidak mempunyai duit yang cukup janganlah mendaki tambora karena akan sia-sia andai tak mampu membayar guide, kecuali kita mempunyai teman akrab disana...

Rencana dan idamanku sejak tahun 1995 untuk medaki Tambora sia-sia dan gagal total. AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN KEMBALI LAGI KE TANAH TAMBORA. SUNGGUH AKU SAKIT HATI.....! Untuk kpata dan gamping janganlah kalian mengaku sebagai pecinta alam atau pendaki gunung kalau tidak mempunyai jiwa persaudaraan dan kepedulian sesama pendaki, apalagi dengan pendaki miskin seperti aku yang untuk mewujudkan hasrat pendakian harus bersepeda dari Jakarta dengan menyusuri jalan sepanjang pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dan dengan melewati rintangan jalan yang amat rusak...

Untuk teman teman tercinta di tanah air yang ingin mendaki Tambora saranku janganlah ikuti jejakku karena mungkin akan mengalami hal yang sama seperti pengalamanku.

<Dari IWANSUNTER yang penuh air mata, pendaki paling miskin...Indonesia>

Friday, June 22, 2007

Di Puncak G Lawu, 13 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Lawu di Jawa Timur. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Di Puncak G Ringgit Jawa Timur, 6 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Ringgit di Situbondo, Jawa Timur. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Di Puncak G Batur Bali, 2 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Batur di Bali. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Ekspedisi tahun 2003 di Sinar Harapan

Ekspedisi tahun 2004 di Sinar Harapan

Friday, June 15, 2007

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

Dikisahkan oleh Kuwats, pemonitor petualangan Iwansunter:

Day 18 : Iwan mengayuh sepedanya menuju kota Madiun dan terus menuju pinggir kota untuk menyambangi desa kelahiran kedua orang tuanya. Di pemakaman sebuah desa yang bernama Patihan, terbaring untuk selamanya jasad sang Ayah tercinta. Lepas tengah hari Iwan telah tiba di makam sang Ayah. Ia pun melepaskan rindu meski hanya untuk menatap gundukan tanah seraya memanjatkan doa. Malam hari, Iwan menginap di rumah sanak famili sang Ibunda.
Day 19 : Pukul 10 pagi Iwan meninggalkan desa kelahiran kedua orang tuanya untuk melanjutkan perjalanan. Menjelang sore hari, ia tiba di kota Solo dan langsung menuju ke asrama CPM -AD untuk menemui sahabat baiknya yang tinggal di sana sekaligus untuk menumpang bermalam.
Day 20 : Seharian penuh Iwan melepaskan lelah di kota Solo. Ia berencana untuk mendaki gunung Lawu, dengan menyertakan sepedanya hingga ke puncak, mulai esok hari. Hari ini ia pun sempat mengunjungi beberapa rekan petualang yang akan di kota tersebut.
Day 21 : Pagi ini Iwan mengayuh sepeda Polygon nya menuju kaki gunung Lawu. Ia sempat menuturkan bahwa jalur Tawangmangu-Cemoro Sewu terdapat tanjakan yang luar biasa. Jarak 1 km serasa 10 km, begitu keluhnya.
Day 22 : Hari ini tidak ada kabar apapun dari Iwan. Perkiraan saya, ia sedang mendaki gunung Lawu.
Day 23 : Sejak pagi hingga siang saya tidak mendapat kabar dari Iwan. Namun menjelang magrib ia mengabarkan bahwa ia tengah berada di pinggiran kota Solo. Ia menuturkan bahwa kemarin pagi ia mulai mendaki dan menginap di sekitar puncak gunung Lawu. Dan pagi hari tadi ia mulai menuruni gunung dan tiba di kaki gunung lepas tengah hari. Ini berarti pendakian gunung ini adalah pendakiannya yang ketiga (dengan menyertakan sepeda hingga ke puncak) dalam perjalanannya kali ini setelah gunung Batur dan gunung Ringgit.
Day 24 : Iwan menuturkan hari ini adalah hari pemulihan tenaga setelah energinya terkuras dua hari kemarin.

Friday, June 08, 2007

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)

Selasa, 5 Juni 2007 merupakan hari ke-14 perjalanan Iwansunter. Pagi itu ia mengayuh dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju kota Situbondo untuk memenuhi janji dengan seorang sahabatnya setelah beberapa hari sebelumnya ia menuntaskan misinya di Bali. Sore hari, ia bersama Handoko, Ketua Mapala Baluran Univ Abdurrahman Saleh menuju pos pendakian di kaki gunung Ringgit yang terletak di sebelah barat kota Situbondo. Rabu pagi Iwan dan Handoko mendaki gunung Ringgit. Tentu saja dalam pendakian kali Iwan pun menyertakan sepeda Polygon yang ia kayuh selama ini. Menurut Iwan ia membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk mencapai puncak. Iapun menuturkan bahwa di gunung Ringgit terdapat tanjakan terjal yang mencapai sudut kemiringan hampir 90 derajat. Sedemikian terjalnya, di tebing tersebut telah tersedia tali yang dapat digunakan para pendaki sebagai alat bantu demi keselamatan. Menjelang magrib, Iwan dan Handoko telah berada kembali di kaki gunung Ringgit.

Kamis pagi pukul 10, Iwan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta. Jalur pulang yang ia tempuh adalah jalur selatan pulau jawa. Hari itu ia melahap jarak Situbondo – Probolinggo. Malam hari ia menginap di Mapala Marabunta Univ Pancamarga.

Jumat, 8 Juni 2007, yang merupakan perjalanan hari ke-17 Iwan meneruskan perjalanan menuju arah Madiun. Ia memang mewajibkan dirinya untuk selalu singgah di sebuah desa di pinggiran kota kelahiran kedua orangtuanya. Terlebih lagi, sejak kepergian sang ayah tahun lalu, Iwan merasa sangat harus mengunjungi makam ayah yang sangat ia cintai. Perjalanannya hari ini hanya menempuh jarak Probolinggo – Kertosono. Iwan menuturkan bahwa saat ia melalui jalur Jombang – Kertosono, ingatannya menerawang ke masa dua tahun yang lalu, saat ia menuntaskan misi perjalanan bersepeda seorang diri untuk pertama kali dengan jarak Jakarta – gunung Rinjani, Lombok – Jakarta. Malam ini ia menumpang menginap di Pos Polisi Baron, Jawa Timur.

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)

Jumat siang, 1 Juni 2007, Iwan telah memasuki kota Denpasar. Kedatangannya di sana telah dinanti oleh seorang sahabat baiknya, Toto Totog alias Toto Tapalnise. Perjalanan bersepeda Iwan kali ini memang juga diperuntukkan sebagai ajang “melunasi janji” Iwan kepada Toto untuk melakukan pendakian bersama gunung Batur. Iwan tidak akan pernah melupakan pertolongan yang diberikan Toto kepadanya tahun lalu. Sekedar flash back, tahun lalu saat Iwan tiba di kota Larantuka yang merupakan kota ”ujung timur” sebagai target perjalanannya bersepeda, Iwan mendapat berita tentang kepergiaan sang ayah untuk selama-lamanya. Sulit dipercaya, hari itu juga Iwan bisa tiba di pinggir kota kecil Madiun untuk menemui jasad sang ayah yang siap untuk dimakamkan. Yang pasti, pertolongan demi pertolongan diperoleh Iwan saat itu, termasuk pertolongan dari Toto.

Sabtu pagi, Iwan dan Toto menuju ke kaki gunung Batur di pulau Bali. Iwan tetap menggunakan sepeda Polygonnya sedangkan Toto mengendarai sepeda motor. Saat mendaki gunung Batur, Iwan tetap menyertakan sepedanya hingga ke puncak gunung tersebut. Bila saya tidak salah, ini berarti adalah gunung ke-3 yang ia daki dengan menyertakan sepedanya hingga ke puncak, setelah gunung Rinjani di tahun 2005 dan gunung Sinabung di tahun 2006.

Minggu pagi Iwan dan Toto kembali menuruni gunung Batur. Perjalanan cukup melelahkan mengingat Iwan harus membopong ranselnya dan sekaligus, secara bergantian, membopong sepedanya.

Senin pagi Iwan kembali melalukan perjalan menuju Jakarta. Saat saya hubungi sore tadi, ia sedang berada di kapal feri yang membawanya menyeberangi selat yang menghubungkan pulau Bali dengan pulau Jawa. Malam ini ia berencana menginap di kantor pelabuhan di Banyuwangi. Menurutnya, esok ia akan mengayuh sepedanya menuju kota Situbondo dan akan memenuhi janji dengan seorang temannya di sana untuk mendaki gunung Ringgit. Tentu saja dengan menyertakan sepeda Polygon hingga ke puncak.

Wednesday, May 30, 2007

Bersepeda Seorang Diri IV

Hari ke-1, 23 Mei 2007:
Berangkat dari Sunter Jakarta Utara. Sore tiba di Subang. Nginap di Polsek Patokbesi.
Hari ke-2, 24 Mei 2007:
Berangkat dari Subang pagi hari, tiba di Cirebon sore. Menginap di Kantor Balai Diklat Keuangan Cirebon.
Hari ke-3, 25 Mei 2007:
Berangkat dari Cirebon pagi hari. Tiba di Pekalongan menjelang sore.
Hari ke-4, 26 Mei 2007:
Rute Pekalongan - Semarang.
Hari ke-5, 27 Mei 2007:
Berangkat dari Semarang jam 7 pagi. Jam setengah 6 sore tiba di Kecamatan Purwosari, Bojonegoro.
Hari ke-6, 28 Mei 2007:
Berangkat dari Kecamatan Purwosari, Bojonegoro pukul 6 pagi, tiba di Surabaya jam 4 sore. Sempet nyasar di kota pahlawan tersebut. Nginep di Mapala Pataga, Untag.
Hari ke-7, 29 Mei 2007:
Berangkat dari Surabaya agak siang, pukul 9. Tiba di Probolinggo jam setengah lima. Nginap di Mapala Marabunta, Univ Pancamarga.
Hari ke-8, 30 Mei 2007:
Berangkat dari Probolinggo pukul 9. Sempet kena hujan di daerah pasir putih. Tiba di Situbondo pukul 5. Rencana menginap di Mapala Baluran, Univ Abdurrahman Saleh.

Thursday, May 24, 2007

BERSEPEDA LAGI....

Rabu pagi, 23 Mei 2007, kumulai kembali perjalananku bersepeda seorang diri. Sepeda Polygon type unitoga pemberian sponsorship menemani perjalananku kali ini. Sebenarnya perjalanan kali ini "hanyalah" mengulang perjalanan-perjalananku sebelumnya sekaligus "membayar" janjiku pada Toto sahabatku di Bali. Juga, perjalanan ini adalah perjalanan penghibur diri setelah aku tak berhasil mendapatkan sponsor untuk mendanai rencana petualanganku di tahun 2007 yaitu bersepatu roda Jakarta-Surabaya dan bersepeda plus ndaki gunung pada perjalanan Jakarta-Bali.

Bermodalkan sepeda sponsor dan uang dua ratus ribu perak pemberian pak Lurah Sunter Agung serta beberapa item dari Avtech kumantapkan tekadku untuk tetap melaju di jalan raya dengan kayuhan. Targetku kali ini adalah bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar Bali, pulang pergi. Rencananya, sesampai di Bali nanti aku juga akan mendaki gunung Batur. Dan dalam perjalanan pulang nanti, ku kan daki pula gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Kuberharap pada akhir Juni aku sudah bisa tiba kembali di Sunter Jakarta Utara. Tawaran perjalanan dari seorang rekan untuk kegiatan sosial telah menantiku di awal bulan Juli.

Ya Allah...lindungi aku dalam perjalanan ini.....

MALLORY-KU

Tanggal 22 Februari 2004 aku “menakdirkan” diri ke Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Lampung Selatan yang berada di kaki Gunung Tanggamus untuk mendaki Gunung Tanggamus (2132 mdpl) dalam rangkaian perjalananku mendaki 15 gunung pulau sumatera. Gunung Tanggumus merupakan gunung ke-13 dalam perjalanan kali itu.

Kemarin, tanggal 10 Mei 2007, aku “ditakdirkan” untuk kembali menginjak Kecamatan Gisting. Namun kali ini bukan untuk mendaki Gunung Tanggamus melainkan untuk menyaksikan lahirnya anak pertamaku di Rumah Sakit Panti Secanti Gisting. Kuberi nama anak laki-lakiku itu: George Leigh Mallory yang kuambil dari nama pendaki legendaris Everest asal Inggris yang hilang di tahun 1924. Mallory adalah sosok seorang pendaki yang penuh ambisi serta mental dan keberanian yang dahsyat. Selain Mallory, pendaki lain yang juga menjadi idolaku adalah Reinhold Messner, sang Dewa Gunung asal Italia.

Pilihanku memilih Mallory untuk kusandangkan nama tersebut pada anakku semata-mata karena aku lebih “feeling” kepadanya. Aku kagum padanya lantaran ia merupakan pendaki tahun 1920-an yang menghajar Everest sebanyak tiga kali dalam cuaca dan iklim yang masih perawan dan amat berbahaya. Dan saat banyak orang bertanya padaku tentang alasan pemberian nama Mallory pada anakku, kujawab, “because he born there” sambil kutunjuk kaki Gunung Tenggamus.

Bila saja anakku yang lahir tersebut berjenis kelamin perempuan, pastilah ia kuberi nama Inerie Cartensz Gasherbrum….

(Lampung, 11 Mei 2007)

Thursday, February 15, 2007

Awan Suci kah????


Sore ini (Rabu, 14 Februari 2007) sekitar pukul enam sore secara nggak sengaja mataku terarah pada sekumpulan awan putih yang disekitarnya bersih tanpa awan.
Hatiku langsung bergetar begitu ku tangkap sekilas awan tersebut membentuk tulisan nama Allah...
Aku nggak tau apakah memang awan itu membentuk tulisan seperti itu atau tidak. Namun yang pasti hatiku sontak mengucapkan takbir! Belum pernah kulihat kumpulan awan yang seperti itu.
Sejenak kemudian aku pun tersadar. Segera ku raih hape sony ericsson tipe K-700 yang senantiasa menemaniku. Ku bidikkan kamera build-in hape tersebut untuk sekedar mengabadikannya. Juga kusempatkan untuk merekamnya dengan fasilitas dari kamera tersebut.
Jujur...aku tak tahu bermaknakah ini semua bagi ku dan bagi kita semua????

Sunday, November 05, 2006

Perjalanan Mengenang 100 hari Wafat Sang Ayah Tercinta


Bersepeda Seorang Diri dengan Sepeda Onta Tua: Jakarta-Madiun-Jakarta
(dikisahkan oleh Kuwat, Pemonitor Perjalanan Iwansunter Sang Penakluk Bersepeda Seorang Diri)

Hari ke-1: Sabtu, 4 November 2006

Rencana perjalanan Iwansunter kali ini terbilang sangat pendek, karena hanya mengayuh untuk rute di pulau Jawa saja. Terbilang pendek pun karena ia adalah sang penakluk rute Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT dengan bersepeda seorang diri beberapa bulan lalu. Meskipun demikian, Iwan tetap mempersiapkan rencana perjalanannya ini dengan sungguh-sungguh. Dalam setiap ekspedisinya, baik mendaki gunung maupun bersepeda, ia tidak pernah meremehkan medan yang akan dilaluinya. Semuanya harus dengan perhitungan, begitu katanya. Perjalanan bersepeda kali ini Iwan dedikasikan sebagai bentuk kecintaannya pada sang Ayah yang telah berpulang ke rahmatullah beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2006 di Jakarta. Saat itu, Iwan persis sedang berada di kota Larantuka. Saat mendapat kabar tentang kematian sang Ayah, ia baru saja mengayuh sepeda beberapa kilometer meninggalkan kota Larantuka menuju Jakarta. Saat itulah kepedihan luar biasa yang belum pernah ia rasakan menimpanya. Dengan rasa kalut dan duka ia berusaha sedemikian rupa agar bisa menyaksikan pemakaman sang Ayah di desa kelahirannya. Di Desa Patihan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Alhamdulillah, dengan kuasa Allah, Iwan masih diijinkan untuk ikut memakamkan sang Ayah pada hari Senin, 7 Agustus 2006. Meskipun untuk hal itu, ia mesti melego sepeda Polygon kesayangannya di pada seseorang di Larantuka. Pertemuan terakhir dengan sang Ayah juga dilepas dari bantuan kawan-kawan Iwan yang ada di beberapa kota, khususnya Bang Toto, sahabat baiknya yang tinggal di Denpasar, Bali. Iwan memulai ekpedisi kali ini, tepat pada pukul 08.46 WIB dari kediamannya di Sunter Agung, Jakarta Utara. Dengan menggunakan kaos berwarna merah, topi merah, celana panjang butut, dan bersandal, Iwan memulai mengayuh sepeda Onta Tua milik sang Ayah ketika ia masih aktif bekerja. Sore pukul 18.40 WIB, Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di Pamanukan, Jawa Barat. Seperti biasa, ia menumpang nginap di kantor polisi setempat. Menurutnya, perjalanan hari ini lancar-lancar. Hanya saja, saat menjelang tiba di Pamanukan, hari telah gelap. Beberapa kali ia hampir dicium bus-bus malam dari bagian belakang karena memang sepeda yang ia gunakan tidak dilengkapi lampu dinamo dan lampu kucing. (ksg)

Hari ke-2 dan ke-3 (Minggu-Senin, 5-6 November 2006)

Sore ini Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di kota batik, Pekalongan, Jawa Tengah. Ini merupakan hari ke-3 Iwan mengarungi jalan pantura untuk kesekian kalinya dengan bersepeda seorang diri. Kemarin ia menempuh jarak: Pamanukan, Jawa Barat hingga ke Desa Playangan, Cirebon. Hari ini dan kemarin, problem yang dihadapi Iwan sama yaitu terik panas matahari yang luar biasa! Ditambah lagi, menurutnya, ternyata bersepeda dengan menggunakan sepeda Onta cukup berat. Di samping bentuknya yang tinggi yang mengharuskan Iwan berjinjit saat mengayuh, juga karena kayuhan yang berat. Iwan merasakan perbedaan luar biasa antara bentuk sepeda gunung dengan sepeda tukang ojek! Bila kemarin malam ia menginap di rumah seorang sahabatnya di Desa Playangan, malam ini Iwan menumpang nginap di Kampus STAIN Pekalongan. (ksg)

Hari ke-4 (Selasa, 7 November 2006)

Perjalanan hari ini dimulai dari Kampus STAIN Pekalongan dan berakhir di Kampus Universitas Diponegoro Semarang. Menurut Iwan kondisi di perjalanan masih sama dengan kemarin, yaitu panas terik. Saat ia telah melalui Jalur Alas Roban, ia berkirim sms yang isinya: ”Demi bapak alas roban gua hajar nggak pake nuntun sepeda. Sangat buerrraaaat tapi puas. Mudah-mudahnya bapak tau kalo sepedanya hebat! (ksg)

Hari ke-5 (Rabu, 8 November 2006)

Jalur yang ditempuh Iwan hari ini adalah Semarang – Solo. Jalan yang kadang menurun dan kadang menanjak ia raih dengan relatif mudah. Alhamdulillah tidak ada halangan berarti yang menerpa Iwan. Ia pun tiba di kota Solo sore hari tadi. Malam ini ia menumpang nginap di Malimpa Universitas Muhammadiyah Solo. Besok, sesuai rencana ia telah tiba di desa kelahiran sang ayah tercinta yang berada di pinggiran kota Madiun. (ksg)

Hari ke-6 (Kamis, 9 November 2006)

Menjelang magrib Iwan tiba di Desa Patihan Kabupaten Magetan yang berada di pinggir kota/kabupaten Madiun. Hari ini ia mengayuh sepeda tuanya dari kota Solo hingga desa tersebut. Saat tiba di desa kelahiran sang ayah, ia tidak menuju ke rumah sang ayah melainkan langsung menyambangi makam sang ayah tercinta. Meskipun hari telah gelap namun tidak menyurutkan langkah Iwan untuk bertandang ke pemakaman yang sunyi tersebut. Ia nampak puas mampu menyelesaikan misi pendeknya kali ini. Ia puas mampu menunjukkan bahwa sepeda tua ayahnya ternyata mampu ia kayuh dari Jakarta hingga ke tanah kelahiran sang ayah. Kita memang tidak tahu tentang alam baka. Yang Iwan hadapi saat di pemakaman pun sesungguhnya hanyalah gundukan tanah yang menyelimuti jasad-jasad yang telah terlepas dari raganya. Namun, ia tetap berbangga bahwa keinginannya membawa sepeda tersebut hingga ke tempat yang ia inginkan telah terlaksana dengan baik. Hanya Allah yang Maha Besarlah yang maha tahu segala yang diperbuat hambanya. (ksg)

Hari ke-7 (Jumat, 10 November 2006)

Seharian ini Iwan menghabiskan waktunya untuk beristirahat dan mengunjungi kerabat-kerabat nya yang ada di desa tersebut dan desa tetangga lainnya. Tak lupa siang hari inipun ia kembali mendatangi makam sang ayah untuk sekedar menghibur diri. Menurutnya, masih ada rasa penyesalan mendalam yang ia rasakan saat ini. Kenangan pahit beberapa bulan lalu pun tersirat kembali. Ia teringat saat sang ayah dipanggil oleh-Nya, ia sedang berada di pinggiran kota Larantuka, NTT. Saat itu ia baru saja akan meninggalkan kota Larantuka setelah ia rengkuh dengan kayuhan sepeda dari Jakarta. Iwan sadar bahwa semua adalah rahasia Allah dan Allah selalu memberikan yang terbaik bagi ummat-Nya. Kini ia hanya bisa berikhlas diri seraya berdoa untuk arwah sang ayah yang sangat ia cintai.

Hari ke-10 (Selasa, 13 November 2006)

Sepanjang hari Sabtu dan Minggu kemarin, Iwan menggunakan waktunya untuk lebih banyak berinstopeksi diri dan bersilaturahmi dengan kerabat-kerabatnya. Sesekali ia mengunjungi makam sang ayah. Bahkan selesai acara tahlilan (doa bersama) yang diadakan pada minggu malam, Iwan menyempatkan datang ke makam sang ayah. Keadaan area pemakaman saat itu tentu saja hening plus gelap gulita. Namun tekad bajanya telah menghilangkan rasa takut dalam diri Iwan. Baginya menyambangi makam pada siang atau malam hari tidak ada bedanya. Semakin sering mengunjungi makam, semakin sadar pula ia akan datangnya hari akhir. Pagi ini Iwan kembali mengayuh sepedanya untuk menuju kembali ke Jakarta. Ekspedisinya kali ini tidak diselinginya dengan mendaki gunung. Ekspedisi singkatnya benar-benar ia gunakan untuk mengayuh sepeda onta tua peninggalan sang ayah. Ia merencanakan menempuh jalur selatan untuk menuju Jakarta. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah hari minggu ia bisa tiba di Jakarta, begitu tutur Iwan via sms kepada saya. (ksg)

Friday, August 18, 2006

SAAT KEPEDIHAN ITU DATANG.....



Ini adalah sepenggal kisah saat-saat kepedihan mendera diriku. Saat dimana aku berhasil menggapai impian perjalananku dengan peluh dan derita. Namun semuanya sirna seketika saat aku menerima kabar bahwa Bapakku tercinta telah meninggalkan dunia fana ini selama-lamanya.....
Memasuki Kota Ujung Timur Pulau Flores: Larantuka
Sabtu, 5 Agustus 2006 sekitar jam setengah enam sore waktu setempat akhirnya akukota Larantuka Provinsi Nusa Tenggara Timur. Kota kecil ini berada di paling ujung timur pulau Flores yang menjadi target akhir perjalanan ku sebelum balik kembali menuju Jakarta. Dua puluh lima hari telah berlalu semenjak aku menggenjot kembali sepeda Polygon type Unitoga dari Jakarta pada tanggal 12 Juli 2006. Dan hari ini merupakan hari ke-110 ku dalam perjalanan bersepeda seorang diri di tahun ini dengan rute Jakarta – Sabang, Nanggroe Aceh Darussalam – Jakarta – Larantuka – Jakarta yang ku mulai sejak tanggal 18 April 2006. Wuaah, tak terasa telah hampir tiga bulan aku menggenjot sepeda. Alhamdulillah hingga saat itu aku masih sanggup mengenjot sepeda meskipun badan dan perut mulai sakit-sakitan. Terutama, perut! Sudah beberapa hari belakangan ini aku sering ke belakang. Kalau ku ingat-ingat penyebabnya mungkin karena aku minum air mentah di Bajawa (kota kecil juga di Flores). Waktu itu, air yang ku minum berasa ada aroma kapurnya. Aku nekad meminumnya karena saat itu sudah nggak ada pilihan lagi. Nasib! sampai di
Begitu tiba di kota Larantuka, aku langsung mencari rumah dinas bupati untuk menemui dan meminta tanda tangan pak bupati beserta stempel resmi kabupaten agar bisa ku jadikan bukti bahwa aku telah sampai di titik paling timur pulau Flores dalam perjalanan tahun ini. Aku harus bertanya berkali-kali kepada beberapa orang yang kutemui di jalan sebelum akhirnya dapat menemukan rumah dinas bupati. Segera saja aku masuk untuk melapor dan mengutarakan niatku ke petugas jaga rumah dinas bupati tersebut. Tapi sayang, ternyata Bapak Bupati yang terhormat sedang tidak berada di tempat! Kata bapak-bapak petugas jaga, Pak bupati sedang ada tugas dinas di Jakarta. Nasib! Akhirnya aku pun cuma bisa menumpang istirahat sejenak sambil ngobrol-ngobrol dengan bapak-bapak petugas jaga. Sewaktu santai-santai tersebut tiba-tiba HP-ku berbunyi. Ternyata abangku di Jakarta yang menelponku. Seperti biasanya, ia menanyakan posisiku hari ini. Langsung saja kujawab bahwa aku telah tembus Larantuka. Kemudian aku pun berpesan pada Abangku agar memasukan di milis bahwa perjalanan ku dari Jakarta sampai Larantuka ini ku dedikasikan untuk Rahmi Awalina, seorang wanita yang ku kenal saat aku melakukan perjalanan Jakarta – Sabang – Jakarta.
Di saat istirahat, petugas jaga rumah dinas bupati memberi saran agar aku bertandang saja ke rumah dinas wakil bupati. Mereka juga memberi petunjuk arah mana yang harus ku tempuh. Tanpa menunda waktu, segera ku genjot kembali sepedaku menuju rumah dinas wakil bupati. Beberapa menit kemudian aku tiba di sana. Dasar sedang tidak beruntung, kekecewaan kembali menerpa. Saat aku melapor ke ajudan wakil bupati yang kebetulan sedang berada di depan rumah, permohonan untuk bertemu Sang Wabup ditolak Sang Ajudan yang “ramah” dengan alasan Pak Wabup yang terhormat sedang sibuk dan akan pergi meresmikan pertandingan final bola voli antarkecamatan. Dengan memendam kekecewaan besar, tanpa basa-basi aku langsung cabut dari rumah pejabat tersebut. Sempat terlintas dalam benak ku. Mungkin mereka mengira kalau aku ini adalah seorang pengemis yang mau meminta-minta. ”Ah biar aja dech,” begitu pikirku, ”positif thinking ajalah”! ”Toh perjalanan panjang ku bersepeda ini tak mungkin tidak akan punya makna sama sekali hanya karena aku tidak bisa bertemu dengan para Penguasa Daerah”.
Dalam keremangan malam, ku genjot sepeda untuk mencari warung nasi masakan padang. Sebenarnya perut ini sudah berteriak terus semenjak tadi sore tapi sengaja ku tahan untuk sekedar bisa bertemu muka terlebih dahulu dengan para penguasa. Saat menuju kota ini dari kota Maumere pagi tadi, aku sudah berniat: bila nanti tiba di Larantuka, aku akan makan di warung padang sekenyang-kenyangnya. Ku tembus hari yang semakin gelap. Mata kuarahkan terus ke kanan dan kiri jalan untuk mencari warung nasi padang. Saat itu waktu menunjukkan jam 8 malam lebih. Pada jam begini, kondisi di Larantuka lebih gelap dibandingkan pada jam yang sama di Jakarta. Setelah beberapa ratus meter menggenjot sepeda, sebuah warung padang yang tidak terlalu besar di sisi kanan jalan tertangkap mata ku. Seketika ku hentikan laju sepeda. Ku parkir sepeda di depan warung dan segera ku pesan seporsi masakan padang dengan lauk ikan laut. Wuihh…lezat sekali rasanya! Maklum, aku sudah lapar berat! Dengan lahap ku terjang semua makanan tersebut. Tiba-tiba, tanpa sengaja aku teringat wajah Rahmi, sosok wanita padang anggota KOMMA Pecinta Alam Fakultas Pertanian Universitas Andalas Padang Sumatera Barat.
Mas Ibrahim Yang Baik Budi
Setelah perut terisi penuh aku segera menuju ke masjid yang ada di pinggir kanan jalan untuk menumpang tidur dan menunggu datangnya fajar esok hari. Saat memasuki masjid, aku mendapat sambutan ramah dari Mas Ibrahim, pengurus masjid. Belum lama aku ngobrol-ngobrol dengan Mas Ibrahim, HP kembali berbunyi penanda ada pesan singkat yang masuk. Ternyata Abang ku mengirimkan sms. Dia memberi kabar bahwa Bapakku tercinta masuk rumah sakit pagi tadi. Ia juga menyarankan agar aku bisa segera pulang dengan naik kapal laut. Kaget bukan kepalang aku membaca pesan singkat itu. Terpikir olehku bahwa kondisi Bapakku pasti sangat lemah dan mungkin lebih buruk dari saat pertama kali beliau masuk rumah sakit sekitar 4 bulan yang lalu.
Seketika itu juga pikiran ku kacau. Aku benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Bila harus menumpang kapal laut dari Larantuka menuju Jakarta sangat tidak mungkin karena pelayaran hanya ada 2 minggu sekali. Ingin naik pesawat udara pun sulit. Penerbangan dari bandara Larantuka terbilang jarang. Bahkan kabarnya setiap pejabat daerah yang akan keluar kota, khususnya ke Jakarta, lebih memilih terbang melalui kota Maumere yang berada cukup jauh di sebelah barat kota Larantuka. Selain itu, aku tidak punya cukup uang! Bila aku harus menembus jalan darat lagi dengan bersepeda jelas-jelas lebih tidak mungkin!!! Pulau Flores adalah pulau dengan pegunungan yang membentang dari barat hingga ke timur. Oleh karenanya, medan jalan yang harus dilalui sangat berat. Apalagi bila bersepeda! Dengan medanku tempuh pada pagi hingga menjelang malam saja). Di samping itu, tenaga sangat ekstra harus disiapkan dengan baik. Bukan bermaksud menyombongkan diri, bila boleh berpesan, “kalo nggak punya mental tinggi dan fisik yang prima, jangan sekali-kali menyusuri pulau Flores ini dengan bersepeda. Apalagi seorang diri!!!” penuh tanjakan dan turunan yang sangat panjang akan memakan waktu paling tidak 6 hari untuk menempuh dari barat ke timur atau sebaliknya (catatan: perjalanan hanya
Membayangkan hal itu pikiran ku bertambah ruwet. Sempat terlintas hal terburuk yang akan terjadi pada diri Bapakku. Namun Mas Ibrahim segera menenangkan diri ku dan mengajak ku masuk ke dalam masjid. Sepeda kuparkir di samping masjid, kukunci dan kukaitkan pada sebuah steger aluminium yang ada di sana. Sesaat kemudian Mas Ibrahim pamit pulang tapi ternyata ia kembali lagi dengan membawa 4 bungkus kecil nasi kuning dan 3 gelas aqua gelas. Ia langsung mempersilakan aku untuk makan dan meminta aku untuk menenangkan pikiran. Ia pun memberi banyak nasihat agar aku banyak berdoa dan berpasrah diri kepada Allah SWT. Tak lama kemudian ia pamit pulang dan mengucapkan selamat tidur seraya menutup pintu masjid meninggalkan aku seorang diri.
Sepeninggalan Mas Ibrahim, aku langsung merebahkan diri dengan sleeping bag sebagai alas tidur. HP ku yang sudah butut (bukan blue tooth lho), kuletakkan di samping kepala. Sengaja aku belum ingin tertidur karena telah berjanji pada Rahmi untuk menelponnya pada jam 11 malam. Tapi ternyata aku tertidur juga. Jam 12 malam aku bangun dan kaget karena HP sudah tidak ada lagi di dekat kepalaku. Kontan aku stress berat karena membayangkan aku tidak akan bisa dipantau oleh abang ku lagi. Memang aku membawa dua buah HP (yang sama bututnya). Yang satu berisi kartu IM3 dan yang satu lagi berisi kartu Simpati. Selama perjalanan di Nusa Tenggara, kartu IM3 hampir jarang mendapat sinyal. Kartu Simpati-lah yang ku andalkan sebagai media komunikasi dengan abang ku maupun teman-teman. Nah HP yang berisi kartu Simpati itulah yang saat ini hilang!
Segera ku acak-acak sleeping bag. “Siapa tahu terselip”, pikirku. Setelah ku cek ternyata tetap tak kutemukan HP tersebut. Ku lihat pintu masjid sedikit terbuka. Aku pun langsung berjalan keluar karena kupikir pasti ada yang telah mengambil HP milikku. Di luar masjid, kulihat dua anak muda lokal sedang begadang sambil minum minuman keras. Kudatangi mereka dan bertanya baik-baik apakah mereka melihat ada orang yang masuk ke masjid atau tidak. Mereka menjawab tidak tahu. Tak lama kemudian seorang anak muda lainnya datang dan bertanya. Kujelaskan padanya bahwa aku telah kehilangan HP di dalam masjid. Aku pun meminta anak muda tersebut untuk mengantar ku ke rumah Mas Ibrahim. Namun sebelumnya, aku kembali masuk masjid untuk mengamankan barang-barang ku yang lain.
Saat aku kembali ke masjid bersama Mas Ibrahim, salah seorang dari anak muda yang nongkrong di depan masjid tersebut bertanya lagi kepada ku sambil mengikuti kami ke dalam masjid. Saat berada dalam masjid, aku tersadar kalau aku masih memiliki satu buah HP lagi. Kugunakan segera HP tersebut untuk menghubungi nomor HP ku yang hilang seraya berharap terdengar bunyi dari HP tersebut. Dan benar saja, sesaat kemudian terdengar bunyi dari HP ku yang hilang. HP itu ternyata berada di pojok dalam masjid dan bukan dekat sleeping bag tempat aku meletakkannya pertama kali. Aku pun langsung bersyukur dan mengucap alhamdulillah. Siapapun yang telah memindahkannya tak ku ambil peduli lagi. Bagi ku, HP tersebut telah ketemu lagi saja sudah bersyukur banget. Saat ini, HP tersebut sungguh merupakan barang yang sangat vital bagiku. Setelah menyempat ngobrol-ngobrol kembali dengan Mas Ibrahim, aku pun pamit tidur. Meski masih dirundung perasaan yang tidak tenang dan gelisah, kupaksa agar bisa tertidur. Lelah yang menderaku sepanjang hari, akhirnya membuatku tertidur pulas.
Kumandang adzan subuh membangunkanku dari mimpi. Bergegas aku mengambil air wudhu untuk sholat berjamaah. Selesai sholat aku langsung membereskan peralatan dan mengikatkannya ke atas bagian belakang sepeda. Sebelum berangkat, Mas Ibrahim datang membawakanku dua buah nasi bungkus. Yang satu untuk sarapan dan yang satu lagi untuk bekal di jalan, begitu tutur Mas Ibrahim. Setelah sarapan dan semua persiapan beres, aku menuruti saran Mas Ibrahim untuk menunaikan sholat hajat sebelum meninggalkan Larantuka.
Ledakan Maha Dahsyat di Pagi Hari….!
Berulang-ulang kali aku mohon pamit pada Mas Ibrahim seakan tidak ikhlas meninggalkan sahabat baruku yang sangat berkepribadian mengesankan tersebut. Tak lupa kuku tinggalkan Mas Ibrahim seraya mulai mengayuh sepeda dengan mengucapkan takbir memohon kebesaran NYA agar melindungi bapakku. Aku menangis hebat setiap memikirkan keadaan Bapakku. Masih teringat segar dalam bayanganku saat Bapakku dirawat di rumah sakit empat bulan lalu sebelum aku memulai petualangan tahun ini. Di malam hari selama ia terbaring di rumah sakit Sunter Agung, aku selalu menemaninya. Saat aku akan memulai petualangan ini, beliau telah dinyatakan sembuh oleh dokter. Dan saat 74 hari kemudian aku berhasil kembali tiba di Jakarta dari perjalanan menuju kota Sabang pulang pergi, beliau pun tampak segar bugar. Kebugarannya inipun tampak sebagaimana saat aku memulai perjalanan ke Larantuka. Sedih rasanya membayangkan beliau masuk ke rumah sakit kembali. Perasaan kalut pun semakin bertambah bila terbayang medan yang harus kulalui beberapa hari ke depan sangat kejam dan akan memakan waktu lama. Aku benar-benar pusing! memohon pada Mas Ibrahim agar turut pula mendoakan kesehatan Bapakku yang sedang terbaring di rumah sakit Husada Jakarta. Dengan penuh linangan airmata dan perasaan yang sangat kacau,
Sepeda kugenjot dengan paksaan agar bisa segera tiba di Maumere. Jarak yang kutempuh baru mencapai sekitar 20 km dari Larantuka dengan posisi berada pada sebuah tanjakan di jalan yang sangat sepi, saat HP ku berbunyi. Spontan tanganku meraih HP tersebut. Terdengar jelas abangku mengatakan bahwa Bapakku baru saja menghembuskan nafasnya yang terakhir! Innalillahi wainnalillahi rojiun....
Bagai diterpa sebuah ledakan luar biasa, sekujur tubuhku seketika bergetar dan lemas. Kengerian yang kubayangkan namun tak pernah sedikitpun kuharapkan, akhirnya terjadi!!! ”Huaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa.....!!!!”, aku berteriak keras dan menangis sejadi-jadinya di tempat sepi itu. Aku termangu dan marah pada Abangku yang kuanggap tak bisa menjaga Bapak dengan baik hingga malaikat maut mampu mengambil nyawanya dengan mudah. Ingin rasanya menantang duel pada malaikat maut yang telah merenggut nyawa bapakku itu. Seketika aku marah! Aku muak dengan doa! Ternyata semuanya nggak ada gunanya! Bahkan sholat hajat dua rokaat ku sesaat akan meninggalkan Larantuka dan juga doa dari mulut Mas Ibrahim, nggak ada gunanya!!! Yah, SEMUA DOA DAN IHKTIARKU SIA-SIA DAN NGGAK ADA GUNANYA!!!
Aku bahkan juga marah pada Allah. Kuberteriak keras menggugat diri Nya bahwa IA bukanlah Maha Pengasih dan Maha Pemberi. Buktinya, Bapakku tercinta diambil tanpa memberiku kesempatan terlebih dahulu untuk menyelesaikan perjalananku ini. Padahal, aku telah bernadar setiba di Jakarta nanti dan melihat bapakku dalam keadaan sehat, aku akan membaca surat Yaasin selama dua minggu penuh dan akan menjaga bapak-ibuku baik-baik di hari tua mereka hingga akhir hayatnya. Namun apa yang kuhadapi sekarang ini?!!! DIA begitu tega dengan keadaanku yang belum siap menerima semua kenyataan ini. Padahal selama ini aku selalu terus mengingat-Nya dan berdoa agar semua keluarga yang kucintai diberikan perlindungan selama aku melakukan perjalanan panjang ini. Kini semua sia-sia! Keyakinan ku goyah. Timbul keraguan dalam diri ku akan kemahapengasihan-Nya. Tapi apa mau dikata, DIA yang punya kuasa. Aku sadar andai kita mengamuk dan menjadi buta lalu berpaling dari-NYA kemudian terjerumus ke dalam limbah dosa maka kita juga yang akan merugi karena di hari akhir nanti kita pasti akan kembali pada-NYA dan akan mendapat hukuman yang nggak bisa aku bayangkan siksaannya. Aku pun jadi serba salah!
Dalam keadaan bingung, setiap pengendara yang lewat di depanku aku stop dan kutanya tentang jadwal pesawat di Larantuka maupun di Maumere yang menuju Jakarta. Sempat aku mendapat informasi yang salah dan hampir saja aku kembali lagi ke Larantuka untuk mengejar pesawat menuju pulau Jawa. Akhirnya kuperoleh kepastian bahwa pesawat menuju pulau Jawa lebih mudah diperoleh dari kota Maumere. Tak lama kemudian HP ku berbunyi kembali. Kali ini kakak perempuanku yang memberikan kabar tentang hal yang sama. Ia juga menyampaikan bahwa jenazah bapak akan dibawa hari ini juga dari Jakarta menuju desa kelahirannya di pingiran kabupaten Magetan Jawa Timur. Kembali aku menangis meraung-raung meratapi kenyataan nasib berada jauh dari Jakarta tanpa teman, tanpa tawa, dan hanya sunyi sepi yang ada. Aku benar-benar sangat sedih. Inilah kali pertama dalam hidupku aku mengalami kepedihan luar biasa. Aku pun kembali mengutuk takdir! Takdir yang sangat menyakitkan hati dan telah memporak-porandakan perjalananku. Takdir yang juga telah menghancurkan diriku. Jujur saja, inilah saat yang selama ini aku takuti dalam hidupku. Sungguh aku tak sanggup menghadapi kenyataan akan kematian orang-orang yang kusayangi, terutama BAPAK dan IBU ku. Sungguh aku muak dengan semua ini!
Dalam keadaan menangis ransel kulepaskan dari ikatan sepeda dan kubereskan semuanya. Kucopot sandal yang saat itu kupakai dan kuganti alas kakiku dengan sepatu. Barang-barang yang kuanggap tidak diperlukan, aku buang begitu saja di pinggir jalan sampai ketika seorang bapak tua menghampiriku dan bertanya perihal aku menangis. Ku jawab pertanyaan bapak tersebut dengan tangisan dan memberikan semua barang-barang yang semula kubuang kepadanya.
Setelah menunggu cukup lama di pinggir jalan, lewatlah dua buah mobil dinas pejabat yang kutahu dari plat nomornya. Ternyata kedua mobil tersebut dikemudian oleh supir-supir pejabat daerah. Mereka mengatakan akan menuju bandara di Maumere untuk menjemput atasan mereka masing-masing, yaitu Wakil Ketua DPRD dan Ketua Bapeda. “Kebetulan,” begitu pikirku. Kuutarakan masalah yang sedang menimpa diriku. Dengan senang hati sang supir Ketua Bapeda mau memberikan tumpangan padaku. Hanya saja ia bingung mau diletakkan dimana sepeda yang kubawa. Aku pun bingung dengan keberadaan sepedaku. Saat ini yang ada dalam benakku adalah bagaimana caranya agar aku bisa segera tiba di Jakarta untuk melihat jenazah Bapakku tercinta. Saudara ataupun kerabat tak kumiliki di pulau ini. Uang yang ada dalam saku pun rasanya tidak akan cukup untuk membeli tiket pesawat. Demikian pula dengan sepeda yang telah setia menemani perjalananku selama ini, ia pun tak mungkin kubawa serta dengan pesawat.
Dalam kepanikan tersebut, terlintas pikiran singkat untuk menjual sepeda tersebut. Kutawarkan niat itu kepada sang supir yang hingga kini tak pernah kuketahui namanya karena saat itu tak terpikirkan olehku untuk bertanya tentang hal tersebut. Sang supir setuju. Hanya saja ia cuma mampu menawar 200 ribu rupiah. Mendengar angka tersebut semakin lemas tubuhku. Betapa tidak. Sepeda pemberian PT Polygon Cycle seharga lebih dari satu juta rupiah yang memiliki sejarah bagiku karena telah menemaniku dalam perjalanan Jakarta–Sabang–Jakarta–Larantuka dan bahkan menemaniku pula hingga puncak gunung Sinabung di Sumatera Utara hanya sanggup dibayar sebesar itu. Dalam keputus-asaan, kukatakan bagaimana bila 500 ribu rupiah. Kujelaskan pada sang supir bahwa bila saja aku tidak ditimpa kemalangan dan bisa tiba kembali ke Jakarta kemudian ada orang yang berniat ingin membeli sepedaku maka pasti kukatakan bahwa aku tak akan pernah menjual sepedaku dengan harga berapa pun! Sang supir sangat mengerti maksudku, ia pun ingin sekali membantu kesusahanku. Sayangnya ia tidak memiliki cukup uang. Akhirnya ia pun hanya berani membayar sepedaku dengan harga 300 ribu rupiah saja. Tak ada lagi pilihan untukku! Dengan sangat terpaksa dan penuh penyesalan kuterima tawaran tersebut.
Oleh sang supir sepeda dititipkan di sebuah desa yang berada di bawah yang berjarak sekitar 1 km dari tempat kami bertemu. Menurut sang supir pada jam 12 siang nanti kebetulan ada pesawat menuju Surabaya. Ia pun memacu mobilnya dengan sangat kencang. Ia bercerita biasanya ia mampu menempuh Larantuka ke Maumere hanya dalam waktu 2,5 jam. Aku pun terperangah. Dengan bersepeda kubutuhkan waktu satu hari penuh untuk menempuh jarak tersebut. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya aku memikirkan kenyataan yang aku sendiri tidak mampu untuk mengerti. Aku masih tak percaya kalau bapakku tercinta telah meninggal dunia di Jakarta sana. Untuk sejenak melupakan kenyataan pahit yang sedang kuhadapi, kadang aku mencoba mengomentari setiap jalan yang kami lalui yang dua hari lalu kulibas dengan genjotan sepeda. Dari caranya menyetir, aku bisa merasakan betapa ia sudah familiar dengan medan yang penuh dengan tanjakan dan turunan serta berliku. Aku sama sekali tidak khawatir meskipun ia menggeber mobil tersebut dengan kecepatan tinggi. Akhirnya, pukul 11 siang kami tiba di bandara Waioti Maumere. Aku sangat bersyukur sudah bisa tiba di sana sebelum pukul 12 siang. Bila saja aku menumpang bus umum, aku yakin tidak mungkin tiba dengan cepat di tempat ini. Rupanya Allah masih sayang padaku.
Jujur saja aku belum pernah naik pesawat. Aku sungguh tidak tahu bagaimana tata cara membeli tiket dan seterusnya. Kuberanikan diri untuk mendatangi loket penjualan yang ada, yaitu Merpati. Kuanggap saja saat ini aku seperti akan membeli tiket bus malam. Namun sebelumnya aku sempat bertanya kepada seorang petugas berseragam bandara dimana letak ruangan kepala bandara. Kuutarakan maksudku untuk bisa memperoleh potongan harga seperti yang kulakukan bila aku akan naik kapal feri penyeberangan. Dijawab petugas tersebut bahwa karena hari ini adalah hari minggu maka kepala bandara tidak masuk kantor. Dengan lunglai, akhirnya kudatangi loket Merpati. Kusampaikan kembali niatku untuk bisa mendapat keringanan harga namun karyawan merpati hanya menggelengkan kepala sambil berkata bahwa permintaan keringanan harga ditujukan kepada kantor cabang dan bukan pada loket penjualan tiket. Dan dengan terpaksa aku membeli tiket tujuan Denpasar Bali seharga 750 ribu rupiah. Jumlah uang yang terbilang besar bagi diriku yang seorang pedagang kaki lima musiman ini. Sebenarnya sasaran tujuanku adalah kota Surabaya yang harga tiketnya mencapai Rp1.060.000. Namun karena tiket tujuan kota tersebut telah habis dan uang yang kumiliki pun tidak cukup untuk membeli tiket tersebut maka tiket menuju Bali pun tidak masalah bagiku. Yang penting jarak menuju pulau Jawa semakin pendek, begitu pikirku cepat.
Saat waktu keberangkatan tiba, tak lupa aku mohon pamit dan berterima kasih pada supir kepala bapeda yang telah menolongku. Mengingat betapa besar jasa pertolongannya padaku, maka segera saja kuikhlaskan sepedaku yang telah berpindah tangan itu. Selama perjalanan mengendarai mobil dengannya, sebenarnya aku masih berat melepas sepedaku itu. Saat akan menaiki tangga pesawat aku merasa diriku teramat bodoh. Benar-benar seperti orang kampung pedalaman yang baru saja masuk ke kota besar! Namun aku sama sekali tidak merasa bangga bisa naik pesawat terbang karena perasaan teramat sedih yang sedang menerpa. Dan aku nggak mau merasa senang di atas kesedihan yang sedang aku alami. Sepanjang penerbangan aku lebih banyak melamun dan merenung tentang sebuah kehidupan dan kematian yang ternyata berjarak sangat dekat. Ternyata kehidupan dunia lebih banyak menutup mata hati kita sehingga tidak pernah membuat kita bersiap siap menghadapi kematian. Seperti diriku saat ini!
Bantuan Berharga dari Sahabatku Toto Togog
Selama berada di atas pesawat aku cuma mendapat sebungkus kotak snack yang berisi tiga buah kue dan segelas teh hangat. Setelah 1,5 jam terbang kami pun tiba di bandara Ngurah Rai, Denpasar Bali. Cepat sekali perjalanan ini pikirku. Di bandara, rekan milisku Toto Togog telah menanti kedatanganku. Aku memang telah menghubunginya saat aku masih berada di Maumere. Kukatakan padanya saat itu, bila ia ingin menolongku maka inilah saat yang tepat untuk membantuku. Kukatakan demikian karena saat aku tiba di Bali beberapa minggu yang lalu, Toto mengutarakan keinginan untuk membantuku namun kutolak karena aku memang tak ingin menyusahkan teman. Kukatakan pula bahwa bila suatu saat nanti aku butuh bantuan maka aku pasti akan menghubunginya. Dan saat ini, aku memang membutuhkan bantuannya! Kuceritakan tentang kepergian bapakku selama-lamanya dan keinginanku untuk bisa bertemu dengannya walau hanya berupa jasad. Kukatakan pula pada Toto bahwa aku sudah tidak memegang uang lagi saat ini. Bila ia memang ingin membantuku, aku minta tolong padanya agar meminjami aku sejumlah uang untuk membeli tiket pesawat Denpasar-Surabaya dan tiket bus Surabaya-Madiun. Alhamdulillah Toto setuju.
Di bandara Ngurah Rai, Toto membeli tiket menuju Surabaya seharga 550 ribu rupiah. Harga yang cukup mahal karena harus dibeli lewat calo. Kami terpaksa membeli melalui calo karena pada loket-loket resmi dikatakan bahwa semua tiket telah habis terjual! Toto pun memberikan uang sebesar Rp150.000 kepadaku untuk biaya melanjutkan perjalanan nanti setibaku di Surabaya. Sehingga jumlah keseluruhan uang yang kupinjam dari Toto adalah Rp700.000. Terus terang saja, hingga tulisan ini kubuat aku belum mengembalikan pinjaman tersebut karena Toto tidak mau memberikan nomor rekening banknya padaku. Ia malah tertawa setiap kali menanggapi sms ku yang memintanya untuk mengirimkan nomor rekening. Akhirnya kukatakan padanya bahwa tahun depan aku akan naik sepeda lagi menuju Bali dan akan mengantarkan uang itu secara langsung.
Sambil menunggu jam keberangkatan menuju Surabaya, aku sempat makan nasi padang yang ada di halaman bandara dengan menu sepiring nasi dan lauk telor seharga 10 ribu. Karena masih lapar, aku ditraktir makan sate di luar lingkungan bandara oleh Toto dan diantar pula oleh dua orang teman Toto yang ikut menemuiku di bandara. Menjelang gelap saat magrib akan tiba, aku pamit pada Toto dan kedua temannya. Tak lupa kuucapkan banyak terima kasih atas kebaikan Toto yang sangat luar biasa yang tidak akan pernah aku lupakan sepanjang hayatku. Segera aku check-in dan masuk ke dalam ruang tunggu. Setelah boarding pada pukul 7 malam waktu setempat, setengah jam kemudian pesawat lepas landas menuju bandara Juanda Surabaya. Di sebelah kananku duduk seorang bapak. Kuberanikan diri untuk bertanya padanya tentang seberapa jauh jarak dari terminal kedatangan Juanda di Surabaya menuju jalan raya. Bapak itu pun menjawab lumayan jauh. Lalu kutanya lagi apakah ada bus damri dari bandara yang menuju terminal bus Bungur Asih. Kutanyakan demikian karena bila aku harus naik taksi, biayanya pasti mahal. Bapak itu pun menjawab lagi bahwa kalau sudah malam bus Damri sudah tidak beroperasi, angkutan umum yang ada hanya tinggal taksi. Lalu aku memohon pada bapak itu agar aku diperbolehkan menumpang sampai jalan raya utama seandainya ia akan naik taksi. Bapak itu menanggapi permintaanku tadi hanya dengan tertawa kemudian terdiam, walau aku menjelaskan padanya tentang kisah perjalananku bersepeda seorang diri yang berakhir dengan berita duka dari Jakarta!!!
Sesaat kemudian aku tertidur. Tenaga dan pikiranku benar-benar sangat terasa lelah. Belum lama tertidur aku terbangun karena dibangunkan oleh bapak disebelahku dan mengatakan kalau pesawat sudah mendarat di bandara Juanda. Sebentar banget penerbangannya pikirku dalam hati. Mungkin nggak ada satu jam! Lalu bapak itu berpesan agar aku hati-hati di jalan sambil memberiku uang 50 ribu rupiah. Aku kaget dan agak sungkan untuk menerimanya. Aku merasa seperti pengemis. Aku tidak tahu apakah ia memberikannya karena takut padaku atau karena kasihan. Dilihat secara fisik, saat itu tubuhku memang kumal sekali dengan pakaian dekil dan rambut panjang yang menggimbal karena jarang keramas. Ditambah kulit tubuhku yang legam terbakar matahari. Aku sebenarnya masih punya uang 150 ribu hasil pinjaman dari Toto tapi aku tidak berani menggunakannya secara sembarangan sebelum aku bisa tiba di desa kelahiran bapakku. Dan juga, aku berpikir agar sebisa mungkin untuk bisa memperkecil utangku pada Toto. Aku terpaku saat menerima uang pemberian sang bapak yang tidak kuketahui namanya itu. Ia langsung berlalu dari hadapanku dan bergegas turun dari pesawat sedangkan aku menunggu penumpang lain turun karena nggak mau berdesak- desakan.
Setelah mengambil ransel di ruangan pengambilan bagasi di bandara, aku bertanya pada seorang satpam bandara apakah ada angkutan yang murah untuk menuju terminal bus Bungur Asih. Pak satpam itu pun menganjurkanku untuk berjalan lurus ke areal tempat parkir sepeda motor karena biasanya akan ditawari oleh tukang ojek motor yang tarifnya jauh lebih murah daripada naik taksi. Aku pun mengikuti saran pak satpam tadi. Dan benar saja, seorang lelaki menawarkan ojek dengan tarif 20 ribu menuju terminal Bungur Asih. Lalu aku tawar 15 ribu dan mas pengojek setuju. Aku pun meluncur berboncengan menuju terminal bus Bungur Asih Surabaya. Setiba di terminal bus, aku langsung naik bus jurusan Solo Jawa Tengah sesuai saran abangku via sms saat aku masih di Bali. Karena rute bus jurusan Solo ini akan melalui jalan raya yang akan mengantarkan aku ke desa Patian Kecamatan Karang Rejo Kabupaten Magetan Jawa Timur, tempat peristirahatan terakhir bapakku tercinta.
Bertemu Bapakku Tercinta yang Telah Terbungkus dalam Peti.
Tarif bus yang membawaku ke pinggiran kota Madiun adalah Rp19.500. Ini berarti uang pemberian seorang bapak di pesawat tadi masih tersisa Rp20.500. Aku terpaksa berhemat karena telah banyak pengeluaranku untuk membayar tiket pesawat yang gila-gilaan. Selama berada di dalam bus aku tertidur tapi sesekali bangun untuk mengetahui apakah tujuan sudah dekat atau belum. Saat tengah malam, aku tiba di pinggiran jalan raya Madiun-Ngawi. Aku turun di depan kecamatan glodog dan langsung naik becak menuju desa Patihan. Kembali aku bersyukur kepada Allah karena telah mengijinkan aku tiba di kampung halaman bapakku. Sungguh Engkau tidak membenci diriku meskipun tadi pagi aku menghardik-Mu dengan keras. Aku sadar hanya karena kebesaran-Mu lah aku bisa tiba di tempat ini yang sebelumnya aku berada pada sebuah pinggir jalan raya di sebuah hutan di pinggiran kota Larantuka, NTT. Allahu Akbar. Engkau sungguh Maha Besar.
Saat tiba di gubuk tua dan sederhana milik bapakku yang dihuni dan dirawat oleh saudara bapakku, waktu menunjukkan pukul 12 malam. Ternyata aku tiba lebih awal dibandingkan rombongan yang membawa jenazah bapakku. Kutanya abangku via sms tentang posisinya saat itu. Ia menjawab bahwa ia dan rombongan baru berada di kota Salatiga. Namun, katanya lagi, ambulans berada jauh di depan mereka. Aku pun menunggu dengan tidak sabar. Kegelisahan dan rasa kepedihanku masih kental terasa. Aku tidak bisa tidur. Tak sabar aku menunggu kedatangan jenazah. Perih hati ini rasanya bila membayangkan akan bertemu bapakku hanya dalam bentuk jasad saja. Yaa Allah berikanlah keteguhan iman pada diriku.
Senin, 7 Agustus 2006, sekitar pukul 3 dini hari ambulans datang. Seketika badanku gemetar menyaksikan peti jenasah yang berisi bapakku. Kukuatkan hati untuk ikut mengangkat peti jenasah dan meletakkannya ke dalam rumah di ruang tamu. Lalu aku bengong penuh tatapan kosong duduk di sebelah peti dan masih tak percaya atas apa yang kulihat dihadapanku. Lebih perih lagi karena aku tidak dapat melihat wajah bapakku untuk terakhir kalinya. Jenasah dalam tiga lapis balutan kain kafan telah tertutup dalam peti dan tidak boleh buka kecuali saat jenazah akan dimakamkan. Larangan ini disebabkan karena jenazah bapakku telah 20 jam sejak kematiannya. Proses pembusukan jasad pasti telah terjadi. Yang bisa kulakukan hanyalah mencari info dari beberapa kerabatku yang ikut serta dalam ambulans. Cerita para kerabatku dapat sedikit menenangkan hati meskipun tak bisa menghilangkan kepedihan. Setelah mendengarkan cerita dari mereka, aku kembali duduk termenung di sebelah peti jenasah dan menangis penuh penyesalan karena aku tak bisa menemani bapakku di saat-saat terakhirnya. Aku juga menyesal karena melakukan perjalanan ke Larantuka. Bila saja aku tahu bahwa ajal bapakku sudah dekat, aku pasti takkan ingin jauh darinya. Yang tersisa kini tinggallah penyesalan. Aku sadar sepenuhnya bahwa tidak ada satu pun makhluk di bumi ini yang mampu mengubah sesuatu yang telah menjadi ketentuan Allah.
Ingatanku menerawang jauh ke masa lalu ketika aku masih kecil dan saat-saat bapakku masih sehat dan menyayangi kami anak-anaknya dengan penuh cinta dan keikhlasan. Mulai detik ini, seperti yang kurencanakan sejak awal keberangkatanku ke Sabang, aku berkata dalam hati bahwa keseluruhan perjalanan ini secara KHUSUS AKU DEDIKASIKAN UNTUK BAPAKKU TERCINTA YANG BERPULANG SELAMA-LAMANYA SAAT AKU DALAM PERJALANAN MENINGGALKAN LARANTUKA MENUJU ARAH PILANG.
Aku terus merenung sambil menangis, aku tidak tahu harus berbuat apa dalam menghadapi hidup ini selanjutnya tanpa bapak disisiku. Bahkan aku berpikir apakah aku akan sanggup bertahan hidup karena aku begitu sayang dan cinta padanya. Sayangku padanya melebihi rasa sayangku pada diriku sendiri. Bila saja kematiannya boleh kugantikan maka dengan senang hati akan kulakukan. Aku selalu mengharap agar bisa dipanggil oleh NYA lebih awal dibandingkan kedua orang tua dan keenam saudara-saudaraku karena aku takkan kuasa menyaksikan orang-orang yang kucintai berpulang kepada NYA. Tapi keinginan tinggallah keinginan. Kenyataannya saat ini adalah aku harus melihat bapakku yang meninggal lebih dulu menghadap Allah SWT, Dzat yang Maha Dahsyat pencipta alam semesta ini. Awalnya, aku amat yakin kalau umur bapakku akan bisa mencapai lebih dari 80 tahun karena ia sangat rajin berolahraga, terutama lari pagi. Ia juga aktif di sebuah lembaga seni pernafasan dengan level yang sudah cukup tinggi. Sejak ia pensiun pada tahun 1988, ia secara disiplin melakukan lari pagi hingga sakit menerpanya di bulan Maret 2006 lalu. Ia masih sanggup mengikuti lomba lari marathon 10 km di saat usianya telah lebih dari 70 tahun. Cita-citaku untuk menjaga dan merawat kedua orang tuaku hingga hari tuanya sebagai balasan kasih sayang yang mereka berikan kepadaku sejak kecil kandas sudah. Kini tinggal ibuku yang masih bisa kan ku rawat. Tinggal kepadanya pulalah kan kucurahkan seluruh rasa sayangku pada orang tuaku.
Sekitar pukul 9 pagi peti jenasah bapakku diangkat ke mushola untuk disholatkan. Dengan hati hancur aku turut mengangkat begitu pula abang dan kedua adik laki-lakiku. Aku mengambil wudhu lalu sholat jenasah berjamaah. Dalam sholat aku berdoa dan memohon agar bapakku dihindari dari siksa kubur dan dijadikan tamu terhormat saat kembali menghadapNYA. Aku sangat berharap pada Allah agar bapakku benar-benar dipermudah menghadapi alam kubur dan menjadi tamu terbaik NYA. Setelah pembacaan doa dan ungkapan bela sungkawa dari para sesepuh desa serta menceritakan sedikit riwayat bapakku pada semua yang hadir, peti jenasah kami bawa menuju areal pemakaman desa yang berada tidak jauh dari mushola.
Di depan lubang liang lahat yang telah disiapkan oleh warga desa, peti pun dibuka. Baut berukiran penutup peti yang berjumlah empat buah aku kantongi untuk kujadikan kenangan hidupku. Aku dan ketiga saudaraku turun ke liang lahat menerima jenasah bapakku. Penuh hati-hati kami menerima jenasah bapak dan dengan hati bergetar penuh tangis yang tertahan aku memeluk tubuh bapak untuk terakhir kalinya tanpa bisa melihat wajahnya. Kami letakan ia di atas tanah dengan hati penuh tanya kenapa bapak meninggal begitu cepat. Setelah dikumandangkan adzan, lubang liang lahatpun ditutupi dengan tanah. Dengan berlinang air mata aku ikut menutupi lubang tersebut. Berat membayangkan bapakku kutanam dengan gundukan tanah. Namun aku segera disadarkan oleh kenyataan bahwa yang berada di dalam tanah sana hanyalah jasad belaka. Sementara ruh bapakku tetap hidup di alam yang telah disiapkan oleh Allah untuk semua mahluknya yang telah mati. Yah, semuanya sudah berakhir. Jasad bapak telah tidur di tempat peristirahatannya yang terakhir persis di samping makam ibu dan bapaknya di desa tanah kelahirannya. Semoga ia nanti tetap akan bisa tersenyum bila aku, anaknya, bisa menjamah wilayah-wilayah Indonesia dengan sepeda!!!
Selamat Jalan Sang Sosok Idola dan Tauladan Keluarga dan Hidupku...
Selamat Jalan Pria yang Sangat Sabar, Jujur, Ulet, Telaten dan Penuh Tanggung Jawab…
Selamat Jalan Pak, Selamat Tidur dengan Tenang...
Bila Saatnya Tiba Aku Pun Pasti Kan Menyusulmu...
Engkau Kan Kusimpan Dalam Hati Setiap Saat …….
Aku Sangat Cinta dan Sayang Padamu…….

Saturday, August 05, 2006

PERJALANAN: LABUHAN BAJO – KELIMUTU (FLORES, NTT)



Ini adalah jurnal perjalananku di hari ke-105 s.d. ke-108 yang merupakan bagian dari perjalanan bersepedaku seorang diri: JAKARTA – SABANG, NAD – JAKARTA – LARANTUKA, NTT – JAKARTA

Senin, 31 Juli 2006 (Hari ke-105) Perjalanan ke Arah Timur:

Pagi ini kumulai perjalananku di pulau Flores nan indah. Sejak pukul 7 pagi aku telah siap untuk mengayuh kembali sepedaku. Tubuhku terasa lebih segar setelah kemarin aku lebih banyak beristirahat di atas kapal yang menyeberangkan aku dari Pelabuhan Sape di Pulau Sumbawa ke Labuhan Bajo yang terletak di ujung barat pulau Flores. Perjalanan membelah Selat Sape selama 8 jam tersebut memang menjemukan. Tapi bagiku, itulah saat-saat dimana aku bisa beristirahat sejenak dari ”kewajiban” mengayuh sepeda.

Setelah berpamitan dengan komandan pasukan marinir yang mengijinkan aku menumpang nginap di markasnya tadi malam, segera kukayuh sepedaku ke arah pegunungan yang berdiri angkuh seolah telah menantikan kedatanganku. Target capaianku hari ini adalah kota Ruteng yang berada di dataran tinggi. Di luar dugaanku jalan yang kulalui menanjak terjal. Kewalahan juga aku dibuatnya. Saat lepas dari Labuhan Bajo, di sisi kanan jalan yang kulalui berupa tebing nan tinggi sementara di sisi kiri berupa jurang yang di bawahnya menganga pemandangan laut nan indah. Setelah itu jalan terasa tidak ada yang menurun. Tanjakan-tanjakan terjal sering memaksaku untuk menuntun sepeda Polygon yang kubawa. Sungguh menguras tenaga! Bila dibandingkan dengan kondisi jalan menanjak di Sumatera, maka jalan menanjak di Flores ini tak tertandingi. Ibaratnya, bila tanjakan di Sumatera adalah sebuah bukit maka tanjakan di Flores adalah sebuah gunung tinggi!

Dengan kondisi jalan seperti itu, jarak yang berhasil kutempuh hanya beberapa puluh kilometer saja. Saat gelap mulai menyerang aku tiba di Desa Paang Lembar Kabupaten Manggarai Barat. Aku sempat kebingungan di desa ini. Aku tidak tahu dimana harus menginap dan menunaikan sholatku. Tidak kutemui masjid ataupun musholah di desa ini. Sebelum aku sempat mencari rumah kepala desa, seorang pemuda bernama Avelinus Jaman menegur dan bertanya ke arahku. Tak kusangka, ia segera bersimpati kepadaku setelah kuceritakan maksud dan tujuan perjalananku ini. Ia pun mempersilakan aku untuk bermalam di rumahnya yang sederhana. Bahkan aku diijinkan menunaikan sholatku di salah sebuah kamar rumahnya. Terima kasih Saudaraku....

Selasa, 01 Agustus 2006 (Hari ke-106) Perjalanan ke Arah Timur:

TANJAKAN DAN TURUNAN TERKEJAMMMMM...!!!

Setelah sarapan seadanya di rumah Avelinus, pemuda yang menolongku, segera aku berpamitan dan mengayuh kembali sepedaku sekuat tenagaku. Namun genjotan sepedaku terasa sia-sia. Tanjakan tajam yang menghadangku semakin sadis saja. Serasa sepedaku tak berhasil maju melangkah. Kusemangati diriku sendiri. Kuyakinkan diriku bahwa aku pasti mampu melalui tanjakan terjal ini. Sekitar 3,5 jam kemudian, semangatku langsung rontok. Ada rasa marah dalam diriku karena ternyata mentalku belum siap menghadapi tanjakan yang sungguh luar biasa ini yang panjangnya sekitar 30 KM . Kuakui, jalur menuju kota Ruteng inilah jalur menanjak ”tergila” yang pernah kujalani!!!

Down sudah mental dan semangatku. Kunyatakan dalam diriku bahwa rasanya aku tak akan sanggup bila harus melalui jalan itu lagi saat perjalanan pulang nanti. Ingin rasanya bisa segera tiba di jalur datar. Sempat terlintas sebuah niat, setibaku nanti di Larantuka aku akan kembali ke pulau Sumbawa melalui jalur laut saja!

”Penderitaanku” ternyata belum berakhir. Setelah kugapai kota Ruteng, jalan menurun yang sangat terjal menghadangku untuk menuju kota Mborong. Aku sunguh-sungguh mengandalkan rem sepedaku yang tak ada cadangannya. Di sisi kanan dan kiri jalan menganga jurang yang sangat dalam. Maut rasanya sudah dekat dengan diriku Sedikit saja aku lengah, maka akibat fatal yang kan kuterima. Hanya doa yang bisa membantuku melalui jalur itu. Dan saat aku berhasil tiba di kota Mborong yang berada di tepi pantai selatan Flores, segera kupanjatkan doa syukur karena aku bisa selamat tiba di sana. Sungguh tak bisa kubayangkan kejamnya jalur yang baru saja kulalui...!!!

Setelah cukup beristirahat dan sambil berusaha menghilangkan rasa shock dalam diriku, kulanjutkan kembali kayuhan sepedaku. Menjelang sore, sekitar pukul 17.00 WITA, aku tiba di kota Aimere, sebuah kota pelabuhan kecil yang berada di pesisir selatan pulau Flores. Malam ini aku berisitirahat di sebuah masjid yang ada di kota tersebut.

Rabu, 02 Agustus 2006 (Hari ke-107) Perjalanan ke Arah Timur:

Meskipun kurasakan badanku masih letih, hari ini aku tetap berupaya mengayuh sepeda Polygon type Unitoga sekuat tenaga. Perjalanan hari ini memang tidak seberat kemarin.

Meskipun masih berkutat dengan jalur yang menanjak namun tidaklah securam jalur kemarin. Sekitar pukul 07.00 WITA kutinggalkan kota Aimere yang terletak di pesisir selatan pulau Flores. Kukayuh sepeda dengan rasa penat dan letih yang mulai sangat terasa. Aku bersyukur tidak ada hambatan berarti untuk mencapai kota Bajawa. Sekitar pukul 11.00 WITA aku telah berada di kota itu.

Setelah cukup beristirahat, kupaksakan kayuhanku agar bisa mencapai kota Ende sebelum hari gelap. Dengan sisa kekuatan tenaga yang kumiliki, meskipun harus melalui jalan menanjak yang berada di kaki gunung Inerie dan gunung Ambulombo, keinginanku tercapai. Sekitar pukul 17.30 WITA aku tiba di kota Ende. Saat itu hari sudah gelap. Saat kudapati sebuah masjid di kota itu, segera saja kutunaikan kewajibanku sekaligus meminta ijin kepada pengurus masjid untuk menumpang bermalam. Udara dingin yang menerpa tubuhku sepanjang perjalanan hari ini membuat tubuhku mengigil saat akan tidur. Semoga saja esok hari tenagaku pulih kembali.

Kamis, 03 Agustus 2006 (Hari ke-108) Perjalanan ke Arah Timur:

JALUR SERAAMMM...!!!

Sepanjang malam aku tertidur dengan tubuh menggigil. Vitalitas tubuhku menurun setelah diterpa perjalanan yang maha berat tiga hari kemarin. Maha berat, karena memang baru kali ini aku berhadapan dengan jalur yang sangat sadis untuk dilalui dengan bersepeda. Namun demikian, aku patut bersyukur dan berbangga telah mampu melaluinya. Perjalanan bersepeda di Sumatera pada bulan April hingga Juni lalu seolah menjadi ajang latihan bagiku untuk menghadapi medan berat di Flores ini. Aku sungguh tak tahu apakah perjalanan di depan sana, menuju Larantuka, akan lebih ringan atau lebih berat.

Saat pagi datang, kepalaku terasa sedikit pusing dan perut serasa bermasalah. Beberapa kali aku buang air besar. Aku berdoa memohon kepada Allah agar aku diberi kesehatan pagi itu. Kutunggu sampai rasa mulas diperutku berkurang sebelum kelanjutkan kembali perjalananku. Dengan kondisi tubuh yang kurang fit, akhirnya kupaksakan juga untuk meneruskan kayuhanku. Kupasrahkan diriku pada Yang Mahakuasa...!

Maut ternyata masih setia mengintai diriku. Selepas kota Ende menuju Maumere, aku melalui jalur terseram yang pernah kulalui. Di jalur ini kehati-hatian kembali dituntut karena nyawa taruhannya. Betapa tidak, jalur tersebut adalah jalur pegunungan dengan sisi kanan dan kiri menganga jurang dalam. Yang mengkhawatirkan diriku adalah karena tidak semua jalan tersebut terpasang road barriers (palang baja pengaman di sisi jalan).

Alhamdulillah, sekali lagi aku diberi perlindungan oleh Allah untuk melalui jalur tersebut dengan selamat. Sebenarnya hari ini aku berkonsentrasi untuk bisa mencapai kota Maumere, namun aku tersadar saat kakakku menginformasikan bahwa di dekatku terdapat tempat wisata yang amat terkenal, yaitu Kelimutu, sebuah gunung mirip Gunung Tangkuban Perahu di Jawa Barat yang memiliki keunikan berupa Danau Tiga Warna. Segera saja kuarahkan sepedaku ke sana. Untuk mencapainya, jalan menanjak sejauh kurang lebih 13 kilometer harus kulalui terlebih dahulu. Setelah itu, aku harus menapaki jalan tanpa sepeda sekitar setengah jam. Sepeda kutinggalkan di tempat parkir yang telah disediakan. Allahu Akbar. Itulah kata-kata bisa kuucapkan saat melihat ciptaan Allah tersebut. Ada tiga buah danau yang letaknya tidak terlalu berjauhan di sana. Sebuah berwarna hitam. Yang lainnya berwarna kuning dan coklat kehitaman. Danau yang saat kulihat berwarna coklat kehitaman tersebut, kabarnya akan berwarna merah pada saat-saat tertentu. Setelah puas menikmati pemandangan di sana, aku pun turun kembali menuju sepeda dan selanjutnya mengayuh menuju kantor Pos Taman Nasional Kelimutu yang berada di kecamatan Kelimutu. Malam ini aku menumpang menginap di kantor tersebut setelah. Jarak yang berhasil kulalui hari ini hanya sekitar 66 kilometer!