Tuesday, April 26, 2016

Day 22 Bersepeda Keliling Pulau Kalimantan 2016

Day 22, Senin, 25 April 2016 (transit di Nunukan, Kaltara)
Rute Perjalanan
Hari ini Iwan meninggalkan kota Tawau, yang berarti mengakhiri perjalanan dia di wilayah Malaysia dan juga Brunei. Ia kembali ke wilayah tanah air, melalui Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara).
Sesuai rencana awal, seharusnya dari Tawau Iwan melanjutkan penyeberangan ke Tarakan dan selanjutnya ke Tanjung Selor. Namun, karena jadwal penyeberangan Tawau - Tarakan baru ada di hari Selasa sedangkan Iwan telah tiba di Tawau pada hari Sabtu, maka ia memutuskan untuk menikmati kota Tawau hanya pada hari minggu saja dan kemudian menyeberang ke Nunukan pada hari ini.

Menjelang sore waktu setempat, Iwan mengabarkan via SMS bahwa ia telah tiba di Nunukan. Di pulau ini ia disambut hangat oleh sahabatnya ketika duduk di bangku SMA, yaitu Lukman.
Lukman dan keluarga tinggal di kota perbatasan Indonesia - Sabah Malaysia ini. Ia bekerja di Kantor Kementerian Lingkungan Hidup.

Berikut ini beberapa foto yang dikirimkan oleh Lukmam kepada saya via WA.
Bersama sahabat saat SMA, Lukman
Di depan pintu masuk pelabuhan Nunukan
Bersama Lukman dan Keluarga
Menikmati kopi dan kudapan di rumah Lukman
Menikmati malam di Nunukan
Bersama sahabat di depan masjid Nunukan
Bersama Lukman di depan masjid Nunukan 
Saat gagal berangkat menuju Tarakan
Dikisahkan oleh Kuwat Slamet

Sunday, April 24, 2016

Day 21, Bersepeda Keliling Pulau Kalimantan

Day 21, Minggu, 24 April 2016 (beristirahat di kota Tawau Sabah Malaysia)
Rute Perjalanan
Rute tempuh hingga hari ke-20 (sejauh +/- 2.213 km)
Hari ini Iwan "terpaksa" beristirahat di kota Tawau, sebuah kota kecil paling Selatan dari negara bagian Sabah Malaysia. Kemarin sore ia telah tiba di sini.Namun, Iwan tidak bisa segera melanjutkan perjalanan dikarenakan penyeberangan ke kota Tarakan Kalimantan Utara baru ada pada hari Selasa.
Mau tidak mau, Iwan harus beristirahat dulu di kota ini. Saya hanya bisa mengatakan bahwa ini semua adalah rencana Allah untuk dirinya. Ya, saya meyakini bahwa Allah menghendaki agar Iwan memulihkan staminanya di kota ini.
Saat tiba kota Tawau, kemarin sore
Malam hari Iwan mengabarkan bahwa ia menumpang nginap di sebuah masjid raya. Saya minta agar ia mencari penginapan sederhana saja agar bisa lebih nyaman dalam memulihkan tenaga. Namun, dengan alasan budget, ia tetap memilih menginap di masjid raya.
Iwan juga mengatakan bahwa besok siang ia akan menyeberang dulu ke Nunukan. Ada seorang sahabat yang tinggal di sana, katanya. Selasa, barulah ia menyeberang ke Tarakan.

Pagi ini, Iwan diajak "jalan-jalan" oleh salah seorang jamaah masjid raya Tawau. Nama beliau adalah haji Bahar. Iwan juga diajak untuk ngopi dan sarapan.
Bersama Haji Bahar, keliling Tawau
Bersama Haji Bahar, jalan-jalan di Tawau
Siang hingga sore hari Iwan mengirimkan kabar kepada saya. Ia mengatakan bahwa siang tadi ia diajak kembali oleh Pak Haji Bahar untuk ngopi dan makan siang. Di saat kembali ke masjid, Iwan merasa seperti pulang ke rumah. Ia merasa betah di sana.
Di masjid tersebut, banyak juga jamaah yang numpang menginap. Iwan pun segera berbaur dengan mereka dan langsung tampak akrab. Bahkan, di kala senggang Iwan juga ngobrol-ngobrol dengan para pedagang kaki lima yang ada di sekitar masjid. Mereka bercengkerama layaknya sahabat yang telah lama saling kenal-mengenal.
Menurut Iwan, masjid raya ini sangat besar. Info yang ia dengar, masjid ini adalah masjid terbesar di negara bagian Sabah Malaysia. Ia menyempatkan mengirimkan beberapa foto kondisi di dalam masjid.
Tempat Wudhu Masjid Raya Tawau
Teras tempat Iwan menumpang nginap
Kios-kios pedagang di Masjid Raya Tawau
Halaman Masjid Raya Tawau
Bagian dalam Masjid Raya Tawau
Tempat Sholat, Masjid  Raya Tawau
Iwan juga mengabarkan bahwa besok pukul 8 waktu setempat, ia akan meluncur ke pelabuhan penyebarangan. Ia ingin berada di sana lebih awal, khawatir banyak hal yang harus dilalui, termasuk berurusan dengan kepabeanan Malaysia. Tujuan esok adalah Nunukan. Seorang teman sudah menantinya di sana.

Dikisahkan oleh Kuwat Slamet

Saturday, April 23, 2016

Day 20, Bersepeda Keliling Pulau Borneo

Day 20, Sabtu, 23 April 2016 (Etape IV, Sabah - Tawau, 546 km)
Rute Perjalanan
Pagi ini Iwan melanjutkan perjalanan etape IV menuju target akhir, yaitu kota Tawau, Sabah, Malaysia. Dari sana nantinya ia akan menyeberang ke Tarakan, Indonesia, menggunakan speedboat dan selanjutnya menyeberang kembali ke pulau Kalimantan untuk menyusuri wilayah Timur pulau tersebut.
Bersama Pak Abdul Hakim, penjaga ladang
sawit, pensiunan tentara Malaysia
Bangunan di tengah itulah pos jaga ladang
sawit tempat Iwan menginap tadi malam
Sebelum meninggalkan pos sekuriti ladang sawit, ia menyempatkan diri berfoto bersama Pak Abdul Hakim, setelah salah seorang teman beliau datang ke kantor tersebut pagi ini. Iwan menuturkan bahwa tadi malam ia berbincang-bincang dengan Pak Abdul Hakim hingga larut malam.
Pos sekuriti dan kantor ladang sawit ini berada cukup jauh dari pemukiman warga maupun tempat tinggal para petugas ladang sawit.
Kembali, Iwan merasa bersyukur karena ia bisa menemukan pos jaga tersebut karena ternyata pagi ini ia mengabarkan bahwa satu kilometer setelah pos jaga tersebut adalah berupa jalan menanjak dan kanan-kiri berupa hutan sawit.
Pemandangan menuju Tawau
Indahnya....
Sejuk, tenang, dan damai....
Hutan Simpan, setelah ladang sawit
Siang hari Iwan berada di daerah bernama Balung. Ada masjid di sana. Ia pun beristirahat, menunaikan sholat, dan bahkan sempat masak di samping masjid.
Setelah sholat, masak di samping masjid, Balung
Satu jam lebih kemudian, Iwan mengirimkan kabar kembali bahwa ia telah memasuki perbatasan kota Tawau.
Memasuki kota Tawau. Masih 28 km lagi.
Menjelang sore hari Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di kota Tawau. Inilah akhir perjalanan etape IV: Sabah - Tawau, sejauh kurang lebih 546 km.

Tiba di kota Tawau, Sabah, Malaysia, sore hari
Namun Iwan mengabarkan bahwa setelah ia melihat jadwal penyeberangan menuju Tawau, ternyata penyeberangan tersebut baru akan ada pada hari Selasa. Ini artinya Iwan harus stay di Tawau selama dua hari.
Saya pun menyarankan agar ia menikmati saja dulu dua hari berada di kota tersebut sambil memulihkan staminanya. Namun Iwan memiliki rencana lain. Ia mengatakan bahwa hari Senin nanti ia akan menyeberang dulu ke Nunukan untuk mengunjungi seorang teman yang tinggal di sana. Hari Selasa, barulah ia menuju Tarakan, untuk selanjutnya ke Bulungan Tanjung Selor, Kalimantan Utara.
Pelabuhan penyeberangan. Tutup hingga selasa.
Dikisahkan oleh Kuwat Slamet

Friday, April 22, 2016

Day 19, Bersepeda Keliling Pulau Kalimantan 2016

Day 19, Jumat, 22 April 2016 (Etape IV: Sabah - Tawau, 546 km)

Tadi malam Iwan menumpang nginap di sebuah masjid di kota Kinabatangan. Ia menuturkan bahwa masjidnya cukup besar dan kalau di negara kita mungkin disebut dengan masjid raya. Penjaga masjid ini adalah seseorang berdarah Jawa sehingga Iwan pun nyaman untuk menumpang beristirahat di sana.
Di depan masjid, Kinabatangan
Pagi-pagi Iwan meninggalkan kota Kitabatangan. Ia berharap tengah hari sebelum Jumatan, bisa mencapai kota Lahad Datu.
Di atas jembatan kota Kinabatangan
Pukul satu siang, Iwan mengirimkan pesan singkat. Ia mengatakan baru saja selesai sholat Jumat di masjid yang ada di kota Lahad Datu. Jarak Kinabatangan - Lahad Datu sejauh kurang lebih 96 kilomenter ia tempuh dalam setengah hari.

Menjelang malam Iwan mengabarkan kembali bahwa ia tengah berada di hutan sawit yang cukup panjang. Ia kemalaman lagi di hutan yang berada di antara Lahad Datu dengan Kunak.
Bersyukur, ada sebuah kantor ladang sawit dan ia diperkenankan menginap di sana. Seorang penjaganya bernama Abdul Hakim. Bapak ini adalah pensiunan tentara Malaysia yang juga pernah bertugas di Timor Leste.
View antara Lahad Datu - Kunak
View antara Lahad Datu - Kunak
Di kantor ladang sawit, sebelum Kunak
Pak Abdul Hakim, pensiunan tentara Malaysia
Dikisahkan oleh Kuwat Slamet

Thursday, April 21, 2016

Day 18 Bersepeda Keliling Pulau Kalimantan

Day 18, Kamis, 21 April 2016 (Etape IV: Sabah - Tawau, 546 km)
Rute Perjalanan
Perjalanan hingga Ranau (kemarin siang), menempuh 1693 km
Semalam Iwan menginap di sebuah bekas warung pinggir jalan. Di sisi kanan kiri jalan letak warung tersebut adalah hutan lebat. Iwan tidak tahu persis di mana lokasi ini. Dugaannya adalah sebuah hutan lindung atau di wilayah tersebut disebut dengan hutan simpan. Ia hanya ingat bahwa kampung terakhir yang ia temui berjarak sekitar 3 kilometer di belakangnya.
Beruntung, ia ditemani seseorang yang sedang bertugas sebagai penjaga traktor. Tak jauh dari lokasi warung tersebut sedang ada kegiatan pelebaran jalan.
Warung tempat menginap tadi malam
Pagi ini. Iwan mengirimkan foto lokasi tempat ia menginap semalam. Ia juga mengatakan bahwa di sekitar lokasi masih terdapat banyak monyet liar. Ia merasa bersyukur karena semalam bisa menemukan tempat berlindung. Pagi ini, setelah mengayuh sepeda lebih dari 5 kilometer, ia masih belum menemukan kampung berikutnya.
Kanan Kiri memang hutan
Masih sering ditemui monyet liar cukup banyak
Belum nampak perkampungan
Pukul 3 sore lebih, Iwan menginformasikan bahwa ia telah berada di pertigaan jalan yang menuju arah Sandakan dan Kinabatangan. Tentu saja ia memilih ke arah Kinabatangan karena tujuan utamanya adalah kota Tawau.
Pertigaan Simpang Batu
Pontianak - Kinabatangan, 1934 km
Pukul 16.35, Iwan kembali memberikan info bahwa ia sedang beristirahat di kota Kinabatangan. Bila melihat peta google, Tawau masih berjarak 241 km lagi. Menurut Iwan, Tawau akan diraih dalam 2 hari perjalanan.

Dikisahkan oleh Kuwat Slamet

Wednesday, April 20, 2016

Day 17, Bersepeda Keliling Pulau Kalimantan 2016

Day 17, Rabu, 20 April 2016 (Etape IV: Sabah - Tawau, 546km)
Rute Perjalanan
Kemarin malam, melalui fitur pesan FB, Om Alex menyampaikan bahwa ia tidak melanjutkan perjalanannya kembali. Ia cukup puas dengan mampu mencapai kota Sabah. Ya, saya pun cukup salut padanya  karena saat di Miri, ia sudah mengutarakan bahwa ia ingin mengakhir perjalanan di kota Miri saja. Nyatanya, ia mampu menembus Kinabalu, Sabah.

Pagi ini, Iwan memberi kabar pada saya bahwa saat ini ia sedang berada di kota Nabalu. Karena tidak mendapat tumpangan menginap, ia tidur di pinggir jalan raya menggunakan sleeping bag. Baginya, hal seperti ini adalah hal yang biasa. Dalam setiap petualangannya, bila ia tidak mendapatkan tempat untuk menginap seperti pos polisi, mushola, masjid, atau pombensin, maka piliha terakhir jatuh pada lokasi apa saja yang dianggapnya nyaman dan aman.
Gunung Kinabalu dilihat dari kota Nabalu
Saya sempat menyindir dia saat ia memperlihatkan gunung Kinabalu dalam foto yang dikirimkan. Saya bilang, "nggak pengen ndaki bawa sepeda ke atas, Boz?"
Iwan menjawab, "biaya masuknya 2 juta! Duit darimana...?"

Waoww terkejut juga saya mendengar angka tersebut. Rupanya cukup mahal untuk bisa mendaki satu-satunya gunung yang ada di pulau Kalimantan ini!

Pukul 8 lewat Iwan mengabarkan bahwa ia baru saja selesai menumpang mandi di sebuah rumah makan. Dan saat ia mengirim pesan, ia sedang memasak mie plus telor. Nasi semalam yang ia buat, tidak basi karena suhu di sana cukup dingin.
masak mie telor dulu, katanya
Siang hari, sebuah pesan WA dari nomor Malaysia masuk ke hape saya. Di pesan tersebut muncul beberapa foto Iwan sedang santap siang dengan seorang pemuda. Ternyata, si pemuda inilah yang mengirim pesan singkat tersebut. Namanya Edy Harun. Ia bertemu Iwan saat sholat di masjid. Mereka pun ngobrol hingga makan siang bersama.
Di depan plang Kinabalu Park
Di depan pintu masuk menuju wisata Gunung Kinabalu
Di depan pintu masuk menuju wisata Gunung Kinabalu
Menuju Ranau
Menuju Ranau
Sunyi senyap
Sunyi senyap
Bersama Bang Edy Harun di Ranau
Santap siang selepas sholat
Santap siang bersama Bang Edy Harun di Ranau
Dikisahkan oleh Kuwat Slamet