Friday, August 15, 2008

TERKULAI DALAM KENIKMATAN MAHAMERU


(Jogja, 14 Agustus 2008, dalam perjalanan)

Rencana perjalanan bersepeda mengelilingi pulau sulawesi,ternyata gagal seperti tahun lalu. Dan, sperti biasa kesulitan dasar masih soal biaya yang sulit kudapat dari pengajuan proposal yang gagal. Tapi seperti biasa juga, aku harus tetap jalan dan harus menghadapi perjalanan cadangan karna komitmenku untuk selalu jalan setiap tahun sebagai wujud loyalitasku pada dunia petualangan.

Akhirnya aku berpikir untuk mengelilingi pulau jawa dengan secara benar,yaitu berangkat melewati jalur pantura dan pulang dengan jalur selatan dari jakarta dan berakhir di jakarta. Dan sebagai inti perjalanannya aku akan mendaki gunung semeru dengan membawa sepeda ke puncaknya sebagai komitku untuk menjadikan diriku sebagai bagian dari regenerasi mas paimo.

Lalu aku menghadap pak peter selaku manager promotion sepeda polygon, untuk mengutarakan maksud perjalananku ini. Seperti diketahui bahwa aku selalu menggunakan sepeda polygon sebagai patner dalam setiap perjalanan bersepeda. Polygon sendiri sudah terlalu banyak membantu dalam setiap perjalanan2ku. Dan akupun takkan mau untuk menggunakan sepeda lain sebagai bentuk loyalitasku kepada polygon. Setelah kuutarakan maksud perjalananku tahun ini, pak peter menyetujui dan tetap mendukung ptualanganku kali ini, padahal inti rencana tahun ini kembali gagal. Itulah polygon aku selalu berhutang budi kepada kebaikan pak peter. Dalam keadaanku yang terjepit beliau masih mau mendukung parjalananku.

Singkatnya aku mulai bersepeda menyusuri jalur pantura, mulai dari jakarta indramayu cirebon semarang rembang tuban surabaya probolinggo situbondo dan banyuwangi. Lalu aku kembali arah balik menyusuri jalur jember dan lumajang sebelum aku menuju gunung semeru. Perjalanan kali ini aku berdua dengan teman yang bertindak sebagai patner.

Dari lumajang aku bersepeda kearah kecamatan senduro diikuti temanku dibelakang. Setelah satu jam setengah aku tiba di senduro dan langsung berbelanja keperluan untuk pendakian semeru.

Dari senduro ini perjalanan akan diteruskan menuju desa ranupane yang berjarak 26km.

Karna temanku tidak mau bersepeda, maka aku menitipkan sebagian tasku untuk dibawanya. Temanku akan menggunakan jasa truk yang biayanya 30 ribu.

Perlu diketahui perjalanan antara senduro akan melewati hutan belantara yang sepi yang jalannnya selalu menanjak sampai ranupane. Dan itu yang membuat temanku mundur untuk mengayuh sepedanya.

Setelah pamit dengan temanku, aku mulai menyusuri jalan aspal yang kecil itu menuju ranupane.

Jengkal demi jengkal aku mengayuh sepedaku dengan iringan keringat yang selalu keluar. Maklum jalan selalu menanjak dan banyak memakan tenaga tapi aku sabar dan berpikir bahwa perjalanan jalur ini bagian dari seni bersepeda. Adapun tanjakan, ya memang harus dilalui karna bagaimanapun juga aku harus “murni” memakai sepeda apapun keadaannnya. Apalagi kalau ingat bahwa aku harus bisa kuat seperti mas paimo sang jawara adventure sepeda indonesia. Hingga kadang terbesit ingin bersepeda bareng mas paimo walau hanya jakarta bandung.

Perjalanan antara senduro dengan ranupane merupakan perjalanan yang paling asyik yang kulalui selama perjalanan ini. Bagaimana tidak, sepanjang jalan aku benar2 sendiri sepi dan hening. sungguh suatu jalur yang akan selalu menjadi sebuah rindu. Kanan kiri hanya pepohonan hutan belantara yang menjadi taman nasional bromo tengger semeru. Walau kadang sesekali ada motor penduduk desa yang lewat, menyapaku. Tapi intinya jalur ini benar2 sepi hening dan pasti selalu menanjak.

Setelah berjuang dengan payah mengayuh 26km, aku tiba di ranupane dengan senang, maklum aku sudah bisa mengatasi jalur yang banyak memakan tenaga ini.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya temanku tiba juga dengan menumpang truk, lalu kami bermalam di pos pendakian untuk istirahat semalam agar besok keadaanku pulih untuk mengahadapi pendakian semeru.

Paginya, setelah ijin dengan petugas pendakian. Kami mulai menyusuri jalur pendakian semeru yang pada musim kemarau ini, banyak yang berdebu. Aku membawa sepeda dan day pack di punggung, sedang teman membawa ransel guna mendukungku di pendakian ini sebagai patner dan dokumentasi.

Awal pendakian aku susuri jalur yang memutari beberapa bukit dengan sedikit jenuh karna suasana yang monoton hingga ranu kumbolo. Pendakian antara ranupane yang biasa memakan waktu 3jam santai, aku malah 4jam. Pendakian dengan membawa sepeda memang lebih sedikit sulit daripada hanya membawa ransel saja. Sepanjang jalan pun aku kesulitan dengan alang2 yang menggganggu pergerakanku. Sering pedal sepedaku menyangkut di alang2 atau dahan yang menjulur kebawah. Setelah ranu kumbolo terlihat, aku baru bersemangat lagi untuk segera istirahat dan bersantai ditepi danau.

Akhirnya kuputuskan untuk bermalam di ranukumbolo agar pergerakan besok tenagaku bisa lebih fit untuk menuju arcopodo. Malampun kulalui tanpa nuansa yang berarti, hanya ingin tidur pulas agar letih mata dan kaki lekas berlalu.

Esok paginya, setelah sarapan tanpa menunggu siang aku bergegas melanjutkan perjalanan menapaki tanjakan cinta dengan semangat. Maklum aku masih butuh cinta hehehehe…lalu aku turun ke rawa2 ombo, dan sepeda kukayuh meninggalkan temanku dibelakang hingga padang terbuka itu habis dan beristirahat. Setelah temanku datang aku melanjutkan pendakian lagi bersama. Kali ini temanku didepan, aku mengikuti dari belakang dengan konsentrasi membawa sepeda. Lelah sekali memang, tapi ya bagaimana, pendakian memang harus lanjut dan harus puncak.

Lewat tengah hari aku tiba di kalimati, disini angin berhembus kencang. Diatas sanapun asap yang keluar dari kawah semeru terlihat tidak membumbung keatas tapi bergeser ke kanan yang menandakan angin diatas juga kencang. Aku berpikir, mungkin ini yang membuat petugas pendakian hanya memberi ijin pendakian hanya sampai kalimati. Selebihnya andai ke puncak tanggung sendiri akibatnya. Selain itu yang pasti karna seismograf membaca gejala alam semeru yang keaktifannnya sering terjadi gempa vulkanik.

Temanku memberi saran untuk bermalam di kalimati tapi aku berpendapat tetap bermalam di arcopodo dengan perhitungan pergerakan menuju puncak dini hari nanti lebih dekat, sedang kalau dari kalimati aku akan menghadapai pendakian yang lebih panjang ditambah pergerakanku sulit karna gelapnya malam. Dan itu kemungkinan besar aku telat ke puncak atau gagal karna kesiangan, ditambah lagi cuaca yang belum bersahabat. Walaupun sedikit otoriter, tapi pendapatku sangat yakin karna bagiku dan juga pendaki lain arcopodo adalah tempat terakhir yang paling cocok untuk attack summit dini hari nantinya.

Aku tahu dari sini temanku mulai gelisah dan mulai berbeda pendapat. Dalam hati, aku juga ingin tahu seberapa besar keberanian dia dialam bebas. Jujur kadang aku selalu percaya dengan irama perjalananku sendiri daripada orang lain. Sedikit egois tapi kesuksesan menuju puncak tetap lebih diutamakan. Karna aku merasa bahwa pendakian itu memang harus berani ( bukan berani babi, tanpa pertimbangan ).

Akhirnya dengan langkah yang terpaksa temanku mengikuti pendapatku. Aku berharap dia mau mengerti diriku yang akan terlalu sulit andai pendakian menuju puncak dari kalimati. Setelah 2,5jam mendaki akhirya aku tiba di arcopodo dan langsung mendirikan bivak dengan flysheet untuk segera beristirahat dan tidur. Dan malam itupun aku hanya berharap bisa tidur pulas agar tengah malam bisa bangun dengan badan yang segar.

Jam 12malam alarm handphoneku berbunyi, aku bergegas bangun dan memasak mie instan untuk mengisi perut agar menambah tenaga. Jam 1, aku dan temanku mulai bergerak mendaki.

Benar, dugaanku tak meleset, terbukti aku kewalahan menghadapi medan antara arcopodo melewati area kelik. Itu karna jurang yang tak kelihatan diantara gelapnya malam, ditambah lagi pandanganku kadang terhalang sepeda. Aku tidak membayangkan andai aku start dari kalimati? Pasti yang bisa muncak hanya temanku. Karna pergerakanku sudah jelas2 terhambat gelap mengingat aku ga mau masuk jurang yang tak terlihat.

Setelah melewati daerah rawan, aku menghadapi medan yang lebih terbuka. Disinipun hambatan masih ada. Aku merasa kondisi badanku masih terlalu lelah tapi dihajar terus terpaan angin, yang membuat badanku semakin tak enak. Bagiku andai hanya mendaki membawa daypack ke puncak, aku masih bisa bertaruh kalau aku sanggup masuk puncak dengan cepat dan aku hanya memerlukan start jam 3 bukan jam 1 dini hari. Tapi ya bagaimana, ini memang obsesiku mendaki dengan membawa sepeda. Karna aku ingin pendakian yang sedikit tantangan.

Sepanjang jalur pendakian yang terbuka itu, aku benar2 loyo, tenagaku semakin waktu kian lemah. Malah aku sempat berpikir untuk menungggu terang, baru melanjutkan pendakian. Cemoro tunggalpun terlewat, tapi keadaanku kian lemah, hanya semangat yang tersisa. Lagipula aku malu dengan semeru 87 nya mas paimo,andai gagal. Aku merasa harus kuat dan wajib puncak. Karna mahameru adalah impian..

Temanku melesat ke depan terus menuju puncak, sedang aku menahan dingin dan lelah. Saat hari mulai dihiasi terang dengan hendak terbitnya matahari, aku masih tertinggal. Angin adalah musuh pendakianku kali ini. Dia tidak mau berhenti berhembus tapi kadang malah semakin kencang. Dan itu yang menjadikanku semakin letoi…

Dengan semangat membara dan tenaga yang tersisa, aku terus berjuang memanggul sepeda manapaki jalur yang berpasir, yang sulit untuk dipijak. Step by step, 10 langkah 20 langkah aku berhenti mengatur nafas dan tenaga ditangan kanan dengan iringan takbir kalau aku adalah manusia bodoh yang harus selalu ingat akan Penciptanya. Arah pikiranku pun kadang mengacau ke segala arah, tentang kehidupan, tentang cinta, tentang anak, tentang kegagalan bahkan tentang kematian. Sempat juga terbesit, andai aku mati disemeru..oh bagaimana..? tidak mungkin !! batinku teriak, aku adalah aku, dan aku harus tembus puncak.harus..harus..! masih banyak gunung yang belum kudaki, masih jauh menjadi pendaki kuat seperti Reinhold messsner kalau aku “tenggelam” disini.

Dan akhirnya pun, aku berhasil mencapai puncak dalam keadaan benar2 lelah. Aku hanya sempat mengambil gambar 3kali, lalu bergegas turun mengingat angin yang berhembus kencang dan cuaca buruk di puncak.

Tanpa buang2 waktu, aku seperti anak yang bloon yang takut dengan pendakian. Jalur turunpun ku hajar seperti orang bermain ski dengan memeluk sepeda dibagian kananku. Memang jalur berpasir seperti ini enak untuk perjalanan turun dengan sepeda dan itu pernah kucoba saat mendaki rinjani 2005. meluncur dan terus meluncur sampai areal berpasir habis.

Sampai di arcopodo, aku istirahat, temanku sudah sampai dahulu jauh meninggalkanku hingga dia lupa mengambil gambar yang bagus dijalur pasir sana.

Lalu bivak kubongkar, kubenahi dan bergegas turun….

Di kalimati kembali istirahat sebentar lalu terus turun dan turun tanpa mau berlama2.

Di ranu kumbolopun aku hanya mencuci muka dan mengisi air untuk minum, lalu terus menuju turun.

Pikiranku sudah tenang, mahameru sudah kudaki dan bayanganku hanya konsentrasi hendak cepat sampai ranupane kembali. Kususuri terus jalur pendakian turun itu tanpa ingin berhenti. Apalagi saat aku tiba dijalur yang sudah ditata. Dari situ sepeda kunaiki lalu meluncur ria tanpa henti sampai ranupane.

Selamat datang kembali ranu pane, selamat datang iwan yang lemah, begitu kudengar angin berkata..

Kamu masih diberi kesempatan muncak dalam keadaan yang kurang tenaga..

Dan ingat kamu jangan congkak, bahwa kamu sudah ke mahameru dengan sepeda..

Akupun menjawab, ya…aku memang beruntung, aku harus banyak berlatih dan berolahraga agar keadaanku selalu fit walau dalam keadaan lelah setelah bersepeda jauh.

Dan yang penting, aku harus tahu diri bahwa kewajibanku akan Tuhanku harus lebih benar. Karna sebenarnya aku diberi hidup untuk mengingat dan menyembah Allah SWT..

Mudah2an dikemudian hari aku lebih bijak dalam menyikapi Sang Pencipta, amin….

Dan

Terima kasih semeru..

Aku sudah diberi ijin menginjak puncakmu dengan sepeda.

Engkau memang ciptaanNya yang sungguh menarik…

Dalam lemasnya diriku, aku masih bisa menikmati sentuhan puncakmu….

Iwan thanks for:

- Allah SWT

- Muhammad SAW manusia yang paling mulia

- George leigh Mallory my son

- Ibu tercinta

- Almarhum Bapak tercinta

- My wife

- Pak Peter Manager Promotion polygon

- Pak Hariadi

- Kuwat slamet

- Oo

- Sepeda polygon tungganganku

- Mata, pundak, tangan, kepala, paha, pantat dan seluruh anggota tubuhku

- Air dan sinar matahari

- Jalan beraspal yang kulewati

- Hutan yang sunyi dengan pepohonan yang rindang

- Potret kehidupan disepanjang jalan

- Orang gila yang kulihat disepanjang jalan, Engkau adalah renunganku..

- Dan lain2 yang lupa kusebut karna aku sudah mengantuk….

2 comments:

Prihandoko said...

Terima kasih ya mas atas teladan yang kau berikan kepada kami anak muda bangsa ini. Tetaplah terus menulis teladan2mu sehingga semakin banyak anak bangsa yang mengikuti jejakmu..paling tidak sikap dan kedewasaan kami yang muda ini semakin meniru jejak sampeyan...salut dan selamat, salam kami utk sang putra..dia pasti sangat bangga terhadap ayahnya

Rahel Sukatendel said...

Semeru .. oh ... semeru. tks untuk cerita perjalananya