Friday, March 08, 2013

Catper Perjalanan Bersepeda Ho chi minh - Jakarta 2012



Rencana perjalanan sepeda ini sudah tercetus 2 tahun sebelumnya.
Dan tahun 2012 ini baru bisa terealisasi. 

Perjalanan ini adalah perjalanan bersepedaku ke luar negeri untuk pertama kali. 
Perjalanan ini juga adalah salah satu mimpi yang kurancang dalam daftar rencana perjalanan-perjalananku.

Namun perjalanan ini termasuk perjalananku yang berakhir kacau. 
Mengapa?
Pada perjalanan ini aku mengajak seorang teman. 
Hal ini sebenarnya kulakukan untuk membuktikan bahwa aku tak anti memberi kesempatan kepada orang lain untuk bersepeda denganku. 
Bahkan walaupun ia belum pernah bersepeda jarak jauh sekalipun! 
Selain itu, ingin ku buktikan juga bahwa aku adalah petualang yang tidak membedakan suku, ras atau agama!

Selama ini aku lebih banyak melakukan perjalanan seorang diri.

Aku juga tak mau dibilang sebagai pesepeda yang takut disaingi! 
Bagiku semua orang berhak untuk menjadi petualang, sepanjang ia mampu dan punya kemauan.
Nyatanya teman yang kuajak, tak bisa mengikuti prosedur manajemen perjalanan yang selalu menjadi pedomanku selama ini. 
Prosedur ini kulakukan untuk menjamin perjalanan bisa berakhir dengan baik. 
Secara nyata, rute yang kurencanakan bisa selesai kulalui dengan baik. 
Tapi secara hati, menurutku perjalanan ini rusak!!! Karena kami hanya bisa bersama sampai Thailand. 

Selebihnya, kami mengambil jalan masing-masing.
Padahal sebelum perjalanan, aku sudah berulang kali memberikan briefing dan bayangan ritme perjalanan kepadanya. 
Tapi sudahlah, hal yang telah terjadi tak mungkin bisa kembali.


Perjalanan bersepeda ke luar negeri ini, aku masih di dukung oleh sepeda Polygon dan peralatan outdoor Avtech.
Keduanya adalah produk yang selalu setia mendukung perjalanan2ku. 
Akupun selalu loyal kepada kedua "saudara"ku itu. 
Aku berusaha menjunjung tinggi kehebatan kualitas keduanya walau kadang ada kekurangan yang kudapati.   
Aku selalu berusaha mengenalkan dan mempromosikan kedua produk itu. 
Aku tak dapat berpaling dan ingin selalu setia.

Perjalananku dimulai dengan menumpang pesawat Air Asia menuju Ho Chi Minh City.
Sepeda dibungkus dalam kardus dan dimasukkan bagasi pesawat.
Dari sanalah perjalanan bersepeda dimulai. 
Setiba di bandara Ho Chi Minh, sepeda segera kurakit. 
Perjalanan kali ini memang sengaja kumulai dari Vietnam. Karena bagiku perjalanan dari ujung akan membuat semangat bertambah. 
Aku bisa berpikir tentang arah pulang yang damai.

Awalnya, perjalanan berjalan lancar dan sesuai rencana. 
Namun akhirnya berantakan setelah dalam perjalanan Vietnam Kamboja Laos dan Thailand.
Banyak terjadi sikap temanku yang bertentangan dengan idealisme perjalananku. 
Hal yang membuatku kecewa. 

Aku bingung kenapa saat sudah dalam perjalanan banyak sekali hal yang ia langgar dari apa yang sudah ku briefing sebelum perjalanan dimulai.
Ia tak pernah berpikir bila perjalanan yang sedang dijalani adalah rencanaku dan perjalananku!
Perjalanan ini sudah kurancang jauh2 hari!
Ia lah yang kuberi kesempatan untuk bersepeda bersamaku.
Jadi, secara etika, seharusnya ia wajib mengikuti prosedur rencana yg sudah kubuat.

Ketika kurasakan sikapnya sudah kelewat batas, pagi itu di Thailand 100-an kilometer menjelang masuk Malaysia, kutitipkan peta untuknya dan tanpa sepatah kata aku langsung meninggalkan dirinya. 
Maaf sobat! Aku sudah merasa tidak nyaman jalan denganmu.

Menurutku, kamu sudah merasa dirimu hebat! Selama perjalanan kamu banyak mengatur irama perjalanan. Padahal kamu belum pernah melakukan perjalanan bersepeda untuk jarak jauh. 
Pengalamanku mengatakan, untuk mampu melalui perjalanan bersepada jarak jauh, kita harus disiplin dengan skedul awal yang kita buat. Irama bersepeda per hari harus di jaga ketat!
Ingat, kamu aku ajak karena aku ingin memberi kesempatan padamu ikut dalam perjalananku.
Nyatanya kamu seperti orang yang sudah banyak pengalaman. 
Bahkan tidak jarang kamu meremehkan diriku.
Jadi, menurutku, keputusan meninggalkan mu adalah hal yang tepat!
Sekali lagi, aku minta maaf padamu Sobat!
***

Tanpa bekal peta, sepeda kupacu kuat melesat jauh meninggalkan dirinya yang terpaku. 
Aku sudah tak peduli. Aku hanya fokus perjalanan yang ada di depanku.
Perjalanan yang ku lalui adalah kebebasan dan perlu ku nikmati.
Bukan untuk diajarkan dan menelan sikapnya yang konyol.
Ya, aku memang terkesan egois. Tapi, bagiku ini adalah idealisme.
Idealisme seorang petualang yang telah memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengikuti iramanya.
Sudah sejak tahun 2004 aku bersepeda seorang diri.
Bagiku, setiap perjalanan akan terasa nikmat bila kita selalu meresapi inti dan makna perjalanan dengan baik.

Kini aku tidak butuh partner lagi. 
Mungkin ini adalah perjalanan terakhir aku mengajak orang lain. 
Aku sudah jera.
Kuanggap hal ini sebagai pelajaran yang tak boleh terulang lagi.
Ini perjalananku yang terakhir mengajak orang lain. 
Apalagi orang yang kuajak ternyata tidak pernah berterima kasih. Malah mengecewakan perjalanan yang sudah kurancang matang.

Tanpa halangan berarti aku mendekati perbatasan Malaysia.
Segera ku melapor ke kantor perbatasan Thailand dan Malaysia. 
Tanpa kendala berarti pula aku tidak mengalami birokrasi berbelit.

Akupun meluncur, mulai menikmati udara Malaysia dengan kedamaian. 
Jalan aspal mulus membentang ke arah Selatan. 
Ku kayuh sepeda di pinggir jalan dengan hati2. 
Tak disangka aku akhirnya bisa menginjak bumi Malaysia. Negara yang selalu berselisih dengan Indonesia.
Negara tetangga yang budayanya hampir sama dengan Indonesia.

Perbedaan mulai kurasakan. Sangat berbeda.
Aku lebih bebas dan fresh saat aku mengayuh sepeda seorang diri di banding saat masih berdua beberapa hari lalu. 
Kini aku lebih bisa menikmati petualangan ini. 
Tiap meter aku coba menghikmah perjalanan ini dan mengintrospeksi diri ini.
Aku seperti lahir kembali. 
Aku menjadi seperti baru menemukan kembali jati diri yang selalu berpetualang seperti petualangan2 lalu. 
Yang selalu sendiri. 
Keadaan psikologi ku kembali jernih.
Aku benar2 bahagia bisa menikmati sisa perjalanan ini sendiri.
Akupun mengayuh sepeda dengan sangat ceria.

Saat hari menjelang gelap, aku singgah di sebuah masjid untuk sholat magrib.
Aku memohon izin kepada pengurus masjid untuk diperbolehkan menumpang menginap malam itu. 

Disini aku disambut ramah oleh pengurus masjid
Bahkan menjelang tidur aku diberi makan malam dan minum, juga tambahan logistik. 
Ternyata benar prinsipku, perjalanan itu harus disikapi dengan pemikiran jernih. 
Niscaya keberkahan selalu ada menghampiri. 

Setelah sholat magrib, ku sambung dengan shalat Isya. 
Aku lalu beramah tamah, bincang2 ringan dengan pengurus masjid tentang perjalananku.
Malam itu aku tidur beralas tikar dengan bantal dan sebuah sarung. 
Sungguh keramahan pertama yang kudapat di tanah Malaysia. 
Allah memang Adil. Ia tidak membiarkan hambanya yang berjalan tanpa pernah melupakan-Nya.

Paginya aku terbangun saat azan subuh berkumandang.
Akupun bergegas mandi dan mengambil wudhu dan sholat berjamaah. 
Selesai Sholat, aku mempersiapkan peralatanku kembali untuk melanjutkan perjalanan.

Sebelum berangkat, aku diajak salah satu jamaah, seorang bapak, untuk sarapan pagi bersama di sebuah warung makan pinggir jalan.
Sepeda ku tinggalkan sebentar di masjid.
Akupun sarapan pagi sambil bincang2 bertukar pikiran tentang apa saja.

Setelah sarapan aku pamit pada bapak yg mentraktirku dan juga kepada pengurus mesjid.
Ku sampaikan ucapan banyak terima kasih karena mereka telah menyambutku dengn baik layaknya tamu.

Dengan membaca basmalah ku lanjutkan perjalanan kembali.
Mengayuh sepeda menyusuri jalan raya Malaysia ke arah Selatan, ke arah Kuala Lumpur yang berjarak masih sangat jauh.

Saat aku menyusuri jalan raya, aku tak tahu kalo aku memasuki jalan tol.
Karena di sana tertulis Lebuh Raya, bukan jalan toll..!

Lagi pula aku melihat sepeda motor boleh melintasi jalan itu, jadilah aku  ikut memasuki jalan tol itu. 

Aku lewat pinggir dari pintu toll, mengikuti motor yang melintas. 
Di sini motor memang tak dikenakan biaya. 
Aku pun terus mengayuh sepeda menghajar jalan toll Malaysia itu.

Bersepeda di jalan toll sungguh sangat mengasyikan.
Aku bisa melintas dengan cepat tanpa harus ada halangan lampu merah atau kemacetan. 
Aku berjalan di pinggir jalan, di luar garis putih. 
Jalur aman yang tak mungkin diseruduk kendaraan lain. 
Apalagi di Malayisa pengendara selalu disiplin.
Mobil tidak menggunakan jalur pinggir. 
Pengendara mobil juga tidak menyalip dari sebelah kiri.
Sungguh berbeda dengan pengendara di negara kita! Yang berkendara semau udelnya sendiri!

Sesekali aku berhenti menikmati suasana pemandangan sepanjang jalan yang kulewati sambil meneguk air menghilangkan sedikit dahagaku.
Kadang juga aku berhenti untuk mengambil gambar dari kamera yang kubawa. 
Sungguh perjalanan yang asyik yang tak pernah kudapati di Indonesia.

Namun saat aku sudah mengayuh sekitar 100-an km lebih, tiba-tiba aku di suruh menepi oleh mobil peronda (patroli jalan raya ) yang melintas. 
Aku ditanya dari mana dan tujuanku. 
Mereka pun memberitahu bahwa sepeda tidak boleh melintas di Lebuh Raya karena takut tertabrak kendaraan lain yang melaju dengan cepat. 
Logis memang hehehe...

Dalam hati aku kecewa.
Padahal melewati jalan toll sangat nikmat dan mengasyikkan. 
Lagi pula jalan toll Malaysia aman, menurut ku. 

"Motor saja diperbolehkan melintas. Mengapa sepeda tidak?," begitu gerutu ku.
"Padahal aku kan berada di jalur paling kiri. Di luar garis pula!"
"Ah... asem nih peronda!"

Akhirnya terpaksa aku keluar Lebuh Raya.
Melewati jalan raya biasa yang tentunya jauh lebih apes.

Aku pun mulai mengayuh melewati jalan raya biasa yang banyak simpangan dan lampu merah. 
Perjalananku menjadi agak lambat dan bertambah jauh. 
Tapi apa mau dikata, itulah kenyataannya.
Aku tidak bisa membandel untuk tetap melewati jalan toll itu. Hiks.

Aku terus mengayuh sepedaku menuju arah Selatan.
Tanpa peta aku terus melaju mengikuti petunjuk arah yang terpampang di sepanjang jalan. 
Karena peta yang dibawa dari Jakarta telah kuserahkan kepada partnerku yang kutinggal saat kami di Thailand.
Biar ia tidak nyasar walau bagiku ia begitu sombong dan sok tau tentang perjalanan ini. 
Lagipula peta itu memang ia yang membelinya.
Jadi, aku memang tidak berhak memegang peta itu. 

Tanpa peta sekalipun, bukan masalah besar bagi ku. 
"Toh cuma Malaysia. Bahasanya sama dengan Indonesia", pikir ku dalam hati.
"Jadi kalau salah arah, cukup bertanya pada orang yang kutemui".

Lagipula bila saatnya nanti memasuki pulau Sumatera, aku sudah tahu jalan.
Karena aku sudah pernah merasakan jalur Sumatera (lihat perjalananku tahun 2006). 
Jadi, aku tak perlu merasa khawatir.
Aku santai saja.

Menjelang magrib aku kembali berhenti di sebuah masjid untuk sholat dan menumpang menginap. 
Di sinipun tanpa kendala aku diizinkan untuk bermalam seperti masjid kemarin. 

Namun karena masjidnya berada di lantai dua, aku memilih untuk tidur di pelataran masjid saja.
Di bawah dekat tangga agar aku bisa memperhatikan sepedaku yang ku parkir di pojok tembok. 

Di sini aku memasak nasi dengan lauk ikan teri yang ku beli di mini market beberapa hari yang lalu. 
Tak lupa, aku juga menyempatkan untuk mencuci pakaian kotor.
Lalu menjemurnya di stang sepeda dan boncengan.
Walau tak mungkin kering dalam semalam, tapi paling tidak agak kering dan bisa dijemur kembali saat esok melanjutkan perjalanan.



Esoknya aku melanjutkan perjalanan dengan irama yang sama.
Ku ikuti jalan raya yang mengarah ke Selatan, menuju Kuala Lumpur. 
Mengikuti petunjuk jalan, menikmati daerah Malaysia yang agak sepi dengan panorama yang lumayan indah. 

Saat malam tiba, seperti hari-hari sebelumnya: menginap di sebuah masjid pinggir jalan untuk melepas lelah, mencuci pakaian, dan memasak nasi.

Memasuki hari keempat menyusuri jalan raya Malaysia, ku targetkan hari ini aku harus bisa meraih Kuala Lumpur sesuai perkiraaanku. 
Ku pacu semangat ku mengayuh sepeda.
Aku sungguh penasaran dengan Kuala Lumpur, ibukota yang menjadi kebanggan penduduk Malaysia itu. 
Apalagi di kota ini terdapat gedung menara kembar Petronas yang sangat tinggi.
Yang kabarnya pernah menjadi gedung tertinggi di dunia, sebelum akhirnya rekor tersebut dipatahkan oleh gedung tinggi di Dubai.

Perjalanan satu hari menjelang masuk Kuala Lumpur, suasana jalan terlihat sama seperti beberapa hari sebelumnya. 
Agak lengang dan sepi. 
Hanya sedikit ramai ketika bila memasuki kota kecil.
Dan kembali sepi jika sudah melewatinya. 

Bahkan 30 km menjelang Kuala Lumpur suasana sepanjang jalan masih terlihat sepi.
Padahal sudah mendekati ibukota. 
Sungguh bayanganku tentang Malaysia yang daerahnya ramai benar2 meleset!! Tak seperti Jakarta, rupanya.
Hanya ketika hendak memasuki ibukota saja kondisi jalan terlihat ramai.

***

Memasuki lepas magrib, aku mulai tiba diperbatasan kota Kuala Lumpur.
Aku berhenti sejenak untuk mengambil gambar sepeda dengan background plang selamat datang Kuala Lumpur.

Hari sudah gelap.
Aku mulai nenembus keramaian kota.
Aku terus mengayuh sepedaku mengikuti naluriku saja karena aku tak tahu malam itu akan beristirahat di mana.

Dan di saat aku mengayuh sepeda, dari kejauhan terlihat gedung menara kembar Petronas menyala terang.
Jantungku berdegup kencang terpacu oleh rasa senang.
Segara ku putuskan untuk mengayuh secepat-cepatnya ke arah gedung itu. 

Memasuki Kuala Lumpur sungguh membuatku sangat bingung.
Aku tidak tau akan mengambil arah mana dan ingin menginap di mana malam ini. 
Jadi wajar saja, saat ku lihat gedung Petronas di kejauhan tanpa berpikir panjang aku langsung menuju gedung tersebut tanpa tahu setelah itu akan ke mana.

Jam 8 malam, aku tiba di pinggir jalan di bawah gedung nan megah itu.
Sungguh terlihat indah dan menakjubkan. 

Tak kupungkiri hatiku berdebar keras melihat gedung yang sangat tinggi itu.
Akupun segera membayangkan betapa gilanya seorang Alain Robert, pemanjat gedung asal Perancis yang terkenal itu, saat ia memanjat gedung ini sampai puncak menaranya.

Sungguh tak terbayangkan!
Jika saja Alain Robert gagal memanjat dan jatuh ke bawah, pasti tubuhnya akan langsung remuk terhempas ke bawah dengan dahsyat.

Kemegahan dan ketinggian gedung ini benar-benar membuat diriku takjub.
Sangat berbeda dan kontradiksi antara suasana kota Kuala Lumpur yang megah dan ramai dengan suasana di sepanjang jalan yang tadi ku lalui sebelum memasuki ini.

Di sekitar sini ku lihat banyak turis bule yang sedang mengambil gambar dengan kameranya masing2. 
Gedung ini benar2 menjadi ikon Kuala Lumpur yang wajib dikunjungi para wisatawan. 
Bahkan di malam hari pun banyak sekali yang berkerumun menatap gedung yang sangat tinggi ini. 

Hal ini juga membuat ku betah untuk berlama-lama di sini.
Tatapan ku arahkan terus pada gedung ini sambil terus berdecak kagum.
Diriku bagai orang kampung yang baru masuk kota!

Dua jam lebih aku berada di pinggir jalan di bawah gedung petronas itu.
Sampai akhirnya kelopak mataku terasa berat.
Aku pun segera beranjak dari tempat itu.
Kembali ku kayuh sepeda ke arah yang menurut dugaanku tepat.
Ku ikuti salah satu jalan dan mencari tempat untuk menumpang menginap.

Malam itu aku tidak tau akan tidur dimana.
Yang bisa kulakukan hanya mengikuti naluriku mengayuh sepeda ke arah yang ku mau. 

Jalanan ibukota yang temarang itu terus ku susuri.
Sampai akhirnya ku temukan sebuah pom bensin.
"Inilah tempat yang tepat untuk menumpang tidur", begitu pikir ku.
Dalam perjalananku selama ini, sasaran tempat menginapku antara lain adalah: masjid, pom bensin, kantor polisi, dan rumah penduduk.

Ku hentikan kayuhan sepeda di pom bensin itu. 
Sepeda ku parkir di pojok pom bensin.
Lalu aku membeli sebotol minuman di mini market yang ada di situ, 

Tak lupa ku sampaikan izin pada petugas jaga untuk menumpang nginap. 
Alhamdulillah diizinkan!
Segera ku keluarkan alas tidur lalu kurentangkan di pojok pom bensin.
Aku pun tidur di pojok pom bensin seperti gembel yang keletihan. 
Sarung menahan udara dingin Kuala Lumpur malam itu.
Tak lama kemudian aku pun tertidur mencari mimpi.
***


Saat pagi datang, aku bergegas menunaikan sholat subuh.
Lalu ku persiapkan peralatanku utk melanjutkan perjalanan kembali ke arah Johore. 
Aku tak punya waktu cukup untuk berlama-lama di KL.
Sepeda ku kayuh mengikuti plang arah yang terpampang. 
Pengalaman sebelumnya mengajarkan ku bahwa bersepeda di dalam kota di sini sangatlah sulit mencari arah yang tepat.
Maka saat ku baca petunjuk arah ke kota Johore tapi melewati jalan tol, tanpa berpikir panjang aku langsung ambil jalan tersebut.

"Biarlah masuk jalan toll. Lebih cepet! Paling-paling disuruh keluar lagi sama Patroli, kalau ketahuan!", begitu pikirku.
"Yang penting aku tidak tersesat dalam rumitnya jalan KL itu!"
Aku pun melewati pinggir gerbang tol seperti motor2 yang lewat.
Dengan mengayuh agak cepat, aku terus mengikuti Lebuh Raya itu. 
Aku terus mengayuh dan mengayuh! 
Aku berpikir yang penting aku harus bisa keluar dari ibu kota ini dulu.
Perkara nanti diusir itu masalah gampang.
Yang penting paling tidak aku harus bisa melewati batas ibu kota.

Alhamdulillah....hari ini aku beruntung.
Tak kujumpai petugas patroli.
Aku terus mengayuh sepeda di jalan toll tersebut hingga tiba di tempat peristirahatan di pinggir jalan tol.
Aku pun menginap di sana saat malam datang.
Sungguh hari ini aku beruntung bisa bersepeda di jalan toll. Tanpa hambatan dan tentunya lebih cepat daripada aku melewati jalan raya biasa.

Esoknya, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Kembali mengayuh sepedaku mengikuti jalan tol ke arah Johore. 

Hari ini aku sial.
Ban ku bocor terkena kawat.
Bergegas ku tambal ban tersebut.

Kucari pinggir jalan yang teduh dan nyaman agar aku bisa menambal dengan santai.
Kawat yang menembus ban sepedaku emang sialan. 
Bagaimana tidak? Di sepanjang pinggir jalan tol yang kulalui ini banyak sekali kawat berserakan. 

Aku sudah cukup waspada dan selalu menghindar.
Tapi karena banyaknya kawat yang berserakan, aku jadi sulit menghindar.
Sementara laju kecepatan sepeda selalu kupertahankan. 
Walhasil, jadilah salah satu kawat dari ribuan kawat itu menembus ban sepeda ku.

Setelah ban kutambal, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Namun sial kembali lagi menimpaku.
Lagi-lagi ban bocor! Huff....

Setelah ku cek ternyata kawat kembali menembus ban ku. 
Akupun kembali  berhenti dan sibuk membongkar peralatan tambalku. 

Kawat yang berserakan di jalan toll ini kebanyakan berasal dari pecahan ban luar kendaraan. 
Kadang kawat tersebut masih menempel dengan karet ban mobilnya. 
Tak terhitung jumlahnya.
Yang kutahu, sepanjang aku mengayuh sepeda, selalu dijumpai kawat-kawat berserakan.

Setelah beres, aku kembali melanjutkan perjalanan. 
Kukayuh sepedaku lebih cepat agar aku bisa menggantikan waktu yang terbuang karena dua kali berhenti tadi. 

Namun belum ada satu jam aku mengayuh, ada suara klakson mobil dari arah belakang. 
Ternyata mobil peronda jalan raya!
"Huff....apes lagi nich!", gerutu ku dalam hati.

Aku disuruh berhenti.
Aku pun pura2 bego bertanya ada apa dan kenapa pada petugas tersebut. 

Denga sedikit marah petugas itu menanyakan asalku dan arah tujuanku. 
Dia menjelaskan, seperti peronda beberapa hari yang lalu, kalau jalan toll ini tidak boleh di lintasi sepeda. 

Akupun berdalih bahwa aku tidak tahu.
Aku berargumen mengapa motor boleh melintas sedangkan sepeda tidak boleh?
Padahal mengayuh sepeda pun dilakukan di bagian pinggir jalan dan bahkan yang paling pinggir. 

Lalu petugas meminta pasporku untuk di cek.
Bahkan pasporku di foto. Entah ada maksud apa.

Lalu peronda itu menyuruhku untuk keluar jalan toll setelah menyerahkan kembali pasporku. 
Benar-benar apes! 
Bila saja diperbolehkan melalui jalan toll ini pastilah aku bisa melalui dengan cepat menuju targetku.
Aku paham, pelarangan ini pasti demi keselamatan si pengendara sepeda juga...
 Meskipun kecewa aku akhirnya keluar jalan toll.
Menyusuri jalan raya biasa yang sepi. 
Perjalanan menjadi tambah jauh karena jalan raya biasanya lebih memutar 
Tidak seperti jalan toll yang umumnya lurus dan berupa jalan pintas.



Saat tengah hari aku berhenti di sebuah masjid untuk istirahat. 
Di sini aku juga mencuci pakaian dan menjemurnya. 
Di sini pula kepalaku mulai terasa berat. Agak sedikit pusing. 

Mungkin hal ini dikarenakan terlalu seringnya aku terpapar sinar panas matahari dan kurang tidur saat di pom bensin Kuala Lumpur dua hari lalu. 

Dua jam aku beristirahat di masjid itu.
Bagi ku, ini cukup lama. 
Biasanya kalau rest siang, aku hanya menjatahkan satu jam agar aku bisa mendapat jarak yang lebih jauh sebelum hari menjadi gelap.

Setelah dua jam istirahat, aku bereskan pakaian yang kujemur dan ku ikatkan di boncengan karena belum kering benar. 
Pakaian itu kutaruh di boncengan agar kering kena angin dan matahari saat aku mengayuh.

Dan akupun melanjutkan perjalanan lagi mengikuti jalan raya menuju arah Johore. 
Suasana jalan yang kulalui agak sepi. Tak seperti jalan raya di pulau jawa yang sangat ramai.

Aku mengayuh dan terus mengayuh.
Bayanganku, hari itu hendak lekas sampai di Senai Johore, sebuah kota kecil sebelum kota Johore. 

Seorang temanku bekerja di kota tersebut dan ia sudah menunggu kedatanganku. 
Sudah 4 tahun lamanya ia kerja di Senai.
Ia tinggal di sebuah hostel berlantai lima yang bangunannya seperti rumah susun. 

Namun hari itu, aku tak dapat meraih Senai akibat rest siang yang agak lama.

Menjelang magrib, aku tiba di sebuah desa, yag di pinggir jalannya ada sebuah masjid.
Segera kuputuskan untuk berhenti.
Feelling ku mengatakan bahwa jalan setelah desa itu adalah perkebunan sawit yang panjang. 
Bila terus ku kayuh, aku akan kemalaman di jalan yang kanan kirinya perkebunan sawit yang luas. 
Tidak kebayang dalam perjalanan yang gelap aku terus mengayuh. 
Sungguh berbahaya!
Karena bisa saja tertabrak truk yang melaju kencang.
Belum lagi, biasanya, ular kobra sering melintas di jalan.

Aku pun segera masuk ke halaman masjid dan sepeda kuparkir. 
Tubuh kurebahkan di halaman masjid tersebut.

Kepalaku kian terasa pening. 
Aku benar2 lelah dan merasa tidak sehat. 

Kuambil beberapa potong roti dan sekotak susu kedelai yang ku beli kemarin siang untuk sekedar mengganjal perutku yang terasa kosong. 
Aku benar2 lelah!
Aku merasa fisikku menurun drastis. 
Lalu aku merebahkan tubuhku lagi tanpa menghiraukan orang lain yang datang ke masjid untuk siap2 sholat magrib berjamaah.

Saat azan magrib berkumandang, aku bangun menuju tempat wudhu. 
Saat air menerpa bagian-bagian tubuhku, badanku langsung menggigil mendadak. 

Akupun yakin kalau aku mulai sakit karena badanku benar2 menggigil. 
Bergegas aku menuju ke sepeda mengambil sarung dari panier untuk menutupi tubuhku yang kedinginan.

Dengan terpaksa aku tak dapat sholat berjamaah karena kipas angin di bagian dalam masjid berputar kencang. 
Aku hanya terdiam di belakang barisan menunggu sholat jamaah selesai. 
Lalu aku sholat sendiri jauh di belakang agar tak terkena kipasan angin 

Setelah sholat, aku segera keluar dari masjid
Ku bentangkan kardus yang kubawa sebagai alas tidur.
Kurebahkan tubuhku untuk melepas lelah sambil menahan dingin dan pening.

Tak lama azan isya berkumandang.
Akupun kembali sholat namun tetap tidak berjamaah. 

Selesai sholat ku rebahkan kembali tubuhku yang lemah di luar mesjid dengan selembar kardus tadi. 
Aku memang lemah. Tapi aku yakin kondisiku akan stabil.
Aku masih bisa mengayuh untuk esok hari. 

Bagiku kejadian seperti ini bukanlah halangan. 
Petualangan adalah kenikmatan!
Jadi, kalau sedikit sakit seperti ini, ku jadikan hal ini sebagai pelajaran. 
Petualangan tetap indah!

Saat aku berbaring, seorang bapak yang selesai sholat menyapaku. 
Dia menanyakan apakah aku orang Indonesia?
Karena ada bendera merah putih di belakang sepedaku. 

Bapak itu lalu terkesima saat ku ceritakan perjalananku hingga sampai di masjid itu. 
Rupanya bapak itu juga berasal dari Indonesia.
Ia sedang bekerja di perkebunan karet.
Bapak itu berasal dari Jember, Jawa Timur. 

Segara saja bapak itu mengajakku ke sebuah warung di depan masjid.
Dia mengajakku makan malam dan minum.
Sebuah keberkahan kembali menghampiriku.
Alhamdulillah Yaa Allah....

Di warung, sambil makan kami bincang2.
Aku kembali menceritakan perjalananku dengan serius. 
Kami berbicara dalam bahasa Jawa agar lebih terlihat akrab.
Karena aku sangat menghargai bapak itu yang sangat peduli dengan sesama orang Indonesia.

Dalam bincang2 itu, si bapak melarang aku untuk tidur di masjid.
Aku disuruhnya untuk tidur di rumah tempat dia bekerja agar tidurku malam itu bisa lebih nyaman. 
Rupanya bapak itu juga mengkhawatirkan kesehatanku yang menurun. 
Aku pun mengangguk tanda setuju dengan ucapan terima kasih.

Selesai makan, aku mengambil sepeda lalu mengikuti si bapak dari belakang yang mengendarai sebuah motor.
Sedikit menembus gelap jalan raya lalu berbelok ke kanan masuk ke dalam perkebunan karet. 
Di ujung jalan terdapat sebuah rumah yang lumayan besar.
Rumah yang menjadi tempat berteduh karyawan yang bekerja di kebun karet itu. 
Aku dipersilakan masuk.
Sepeda juga dipersilakan dimasukkan ke dalam rumah agar aman. 
Akupun langsung beristirahat.

Si bapak menyediakan kasur busa yang diletakkan di lantai sebagai alasku tidur.
Malam itu pun aku bisa beristirahat dengan tenang tanpa menggigil lagi.
Hanya sedikit pening di kepalaku yang masih saja ada. 
Dalam hati, aku sangat bersyukur atas takdir yana memudahkan perjalananku ini. 
Akupun juga berpikir rupanya Allah tak melupakan hamba-Nya yang juga tak melupakan-Nya.

***

Esoknya aku terbangun dengan kepala masih sedikit pening namun sudah terasa jauh lebih baik.
Akupun menuju kamar mandi untuk mengambil wudhu dan sholat subuh. 

Setelah itu, aku membuat segelas kopi agar tubuhku bisa terasa sedikit hangat dan lebih semangat untuk kembali melanjutkan perjalanan. 
Maklum tiap pagi dalam perjalanku ini, aku jarang bisa ngopi karena susahnya mencari air panas. 
Makanya mumpung sedang berada di rumah tempat kerja bapak ini, aku bisa meminta air panas untuk membuat kopi.

Sambil ngopi kami ngobrol2 tentang kehidupan mencari rezeki di negara Jiran ini. 
Si bapak menjelaskan kalau mencari duit di Malaysia lebih enak daripada di Indonesia.
Bayarannya tinggi, katanya!
Bahkan si bapak sangat betah di Malaysia. 
Terlebih lagi istrinya sedang bekerja di Timur Tengah. 
Jadi, baginya buat apa pulang ke Indonesia? 
Toh ia mencari nafkah untuk masa depan keluarganya agar lebih baik. 

Si bapak menceritakan kalau anaknya dititipkan pada orang tuanya. 
Targetnya bekerja di sini 5 tahun.
Sekembali ke Indonesia si bapak akan membuat usaha sendiri di Jember. 
Kuamini semua cita-cita dan harapannya....

Selesai minum kopi aku segera bersiap-siap.
Membereskan peralatan lalu mengikatnya di atas panier di boncengan belakang. 
Botol air minum aku isi penuh.
Sepeda lalu ku taruh halaman. 

Akupun pamit kepada si bapak yang baik hati tersebut.
Ku ucapkan banyak terima kasih.
Sungguh aku terharu atas kebaikan si bapak yang sudah mau menerimaku dan memberikan tumpangan untuk tidur di rumah tempatnya bekerja. 
Dengan terharu aku menjabat tangan si bapak, tanda aku pamit diri untuk melanjutkan perjalanan. 
Dengan iringan senyum bapak itu, aku meninggalkan rumah itu dan mulai mengayuh sepeda dengan sedikit linangan air mata.

Kususuri jalan kecil di perkebunan karet itu lalu kembali ke jalan raya berbelok ke kanan. 
Akupun mulai melanjutkan perjalanan menuju Senai Johore untuk menemui temanku yang sudah menunggu.

Pagi itu kondisiku agak lebih baik daripada tadi malam. 
Aku bisa mengayuh dengan santai penuh semangat.   
Apalagi jarak tempatku bermalam ke Senai hanya tinggal 40-an km. 
Jadi aku tak perlu tergesa gesa mengayuh sepeda.

Aku mengamati suasana jalan raya setelah meninggalkan rumah bapak tadi.   
Benar, jalan yang ku tempuh merupakan perkebunan sawit yg panjang. 
Hatiku mengatakan, "untung benar aku mengambil keputusan untuk berhenti di masjid."
"Tak terbayang bila aku terus mengayuh sepeda kemarin sore itu, maka aku akan melewati perkebunan sawit itu dalam kondisi gelap gulita."

Aku terus mengayuh mengikuti jalan raya.
Sudah tak sabar keinginan untuk bertemu temanku. 
Di sana aku akan bisa beristirahat lebih lama dan nyaman.
Aku juga tidak sabar untuk bisa makan enak bersama temanku.
Begitu pikirku hehehehe...

Namun saat aku memasuki kota kecil bernama Kulai, aku diberhentikan seorang bapak.
Dia bertanya apakah aku orang Indonesia dan kemana tujuanku. 
Lalu aku jawab sesuai pertanyaannya. 

Si bapak lalu mengenalkan diri bernama Edi. 
Ia mengajakkku untuk makan. 
Dengan penuh tanya aku mengangguk mengikuti ajakan pak Edi. 

Aku hanya berpikir, kenapa aku masih di izinkan bertemu dengan orang baik. 
Mungkinkah ini pelajaran yang kudapat dari petualangan ini agar aku juga bisa lebih berbuat baik pada orang lain?
Aku juga berpikir mungkin ini jawaban doaku yang selalu memohon kepada-Nya agar dimudahkan perjalananku dan dijauhkan dari segala rintangan.
Memang ini yang kuharap.
Aku harus bisa lebih bijak dalam menghadapi kehidupan, seperti yang dicontohkan dari pertemuan ku dengan Pak Edi ini atau bapak tadi malam.

Lalu aku mengikuti pak Edi yang mengendarai sepeda motor menuju warung makan. 
Sesampainya di warung, aku langsung mengambil nasi dan memilih lauk yang kusuka.
Lalu aku mengambil tempat duduk berhadapan dengan pak Edi sambil bincang2.

Ternyata pak Edi ini berasal dari Madiun, Jawa Timur. Sama seperti kedua orang tua ku yang juga berasal dari kota yang sama.
Ia sedang bekerja di Malaysia. Sama seperti bapak tadi malam.
Tapi nasib pak Edi lebih baik.
Di Malaysia ia bekerja di pabrik dan juga menjadi pemborong bangunan. 

Ada yang kusalut dari ucapannya yaitu tentang mengapa ia memberhentikan laju sepedaku.
Padahal perjalanannya seharusnya berbelok ke kanan menuju rumah kosnya.
Tapi saat melihat ku yang bersepeda dan membawa bendera merah putih, dia memutuskan untuk mengejarku dan memberhentikanku.
Begitu penjelasannya padaku.

Pak Edi adalah seorang yangberjiwa nasionalis.
Ia begitu bersahabat dan merasa senang jika berjumpa dengan sesama orang Indonesia.
Apalagi dengan orang sepertiku yang sedang dalam perjalanan jauh.

Dalam bincang2 sambil ngobrol itu pak Edi membantuku.
Ia menelpon temanku yang berada di Senai.
Aku memang tidak mungkin melakukan panggilan telepon menggunakan HP.
Selama perjalanan aku lebih banyak mematikan H.
Alasannya? Karena bila menggunakan simcard Indonesia, pulsanya sangat mahal! 
Pak Edi memberitahukan temanku kalau aku sudah sampai Kulai dan akan tiba di Senai sekitar satu jam lagi.

Selesai makan, Pak Edi pamit kepadaku untuk pulang ke rumah.
Sebelum beranjak pergi, ia memaksaku agar menerima sejumlah uang untuk tambahan membeli bekal selama di jalan. 

Sungguh, sebenarnya aku risih dan menolak keras.
Tapi pak Edi memaksa dengan alasan bahwa dari rezeki yang ia dapat ada sebagian yang harus diamalkan.
"Ada bagian rezeki orang lain", ucapnya.
 Ia berujar kalau ia ingin sekali beramal kepada seorang musafir sepertiku. 

Akhirnya dengan terpaksa aku menerima pemberiannya. 
Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih atas perhatian dan kebaikannya. 
Walaupun baru bertemu tapi pak Edi telah memperlakukanku bagai seorang teman lama yang telah lama tak berjumpa. 
Kami pun berpisah melanjutkan tujuan masing2.



***

Aku pun segera melanjutkan perjalanan kembali menuju Senai. 
Jalan yang kulewati lumayan ramai.
Antara Kulai dan Senai sudah banyak penduduknya. 
Tak butuh waktu lama untuk tiba di Senai. 
Tengah hari aku telah tiba di senai. 
Hanya satu jam dari Kulai.

Di sebuah halte bus depan pasar Senai aku menunggu kedatangan temanku. 
Di tempat inilah kami janjian untuk bertemu. 
Sepeda kusandarkan pada sebuah dinding samping toko.
Aku lalu duduk di bangku halte menunggu dengan santai.

Cukup lama juga aku menunggu temanku, hingga akhirnya aku dikagetkan oleh seorang wanita dari belakang. 
Ya temanku memang seorang wanita.
Ia sudah 4 tahun bekerja di Senai Johore ini. 
Kami sering berhubungan via sms atau kadang dia yang telepon saat aku di Jakarta. 

Sebelum perjalanan ini dimulai, saat kujelaskan bahwa aku akan bersepeda melewati Malaysia, ia memintaku untuk singgah di kediamannya.
Saat aku tiba di Kuala Lumpur beberapa hari yang lalu, aku mengabarkan posisi ku padanya.

Dia mengucap salam dan menyodorkan tangannya untuk berjabat tangan. 
Tanpa banyak kata, aku langsung diajak ke sebuah warung bakso untuk bersantai sambil ngobrol. 
Tak lupa dia menanyakan kabar anakku George Mallory.

Ia memang akrab dan sayang pada anakku. 
Ia sering menelpon anakku. 
Pertemuan ini adalah pertemuan pertama kami. 
Kami saling kenal dari media sosial facebook
Dan kami sama2 hobi mendaki gunung. 

Temanku ini bernama Tina.
Ia berasal dari Palembang. 
Jarak antara Senai dengan Jakarta tidak menghalangi kami untuk saling berhubungan.

Saking akrabnya, jujur, kami pernah berpacaran.
Walau akhirnya putus karena suatu hal. 
Namun Tina tetap seorang wanita yang tegar. 
Ia tetap mau bertemu denganku.
Padahal aku sendiri tak ada niat untuk bertemu dengannya. 
Namun karna ia memaksa, akhirnya kusempatkan utk bertemu dengannya.
Apalagi aku sedang sakit jadi aku bisa beristirahat di penginapan tempatnya bekerja.

Selesai makan bakso, aku diajak ke tempat penginapannya bekerja.
Penginapannya ini berupa rumah susun berlantai lima. 
Penghuninya kebanyakan pekerja asal Indonesia. Sisanya, sedikit berasal dari Vietnam. 
Di penginapan ini aku tidur di mushola yang berada di lantai dasar.

Tina memang seorang yg baik. 
Ia selalu memperhatikanku. Menyediakan makan dan juga peduli kesehatanku. 
Setiap aku ingin membeli sesuatu dengan uangku, ia selalu melarang. 
Hingga aku merasa tak enak hati dengannya yang telah memutuskan hubungan kami. 

Sungguh, ia memang hebat. Bisa membedakan saat berpacaran dengan saat menjadi teman.
Perasaanku mengatakan bahwa ia masih sayang padaku dan selalu memberi perhatian.

Dalam masa dudaku saat ini, aku memang sedang mencari wanita yg tepat.
Tapi aku tak tahu kenapa sosok Tina yang baik akhirnya bisa kuputuskan. 
Aku hanya bisa menahan malu atas kebaikannya yang ikhlas.

Selama berada di sini, aku juga kadang dimasakkan air panas untuk mandi.
Aku memang belum bisa mandi dengan air dingin.
Tubuhku belum pulih dan masih terasa sakit. 

Tina juga membelikan obat untuk ku.
Tapi dasar kondisiku yang kurang fit, pening di kepala masih saja singgah. 
Selama aku di penginapan yang biasa disebut hostel, aku tak pernah telat makan.
Tina selalu menyediakannya tepat waktu.
Ia benar2 memberiku yang terbaik. 
Sebenarnya aku malu sekaligus juga bangga di sayangi oleh wanita yang baik hati. 
Hehehehe




***

Di hari keempat aku pamit pada Tina.
Aku merasa sungkan bila aku harus tinggal di sini hingga sembuh benar.
Aku tak ingin merepotkannya berhari-hari lagi.
Selain itu, aku juga khawatir Tina akan ditegur pihak kilang (perusahaan) karena membawa teman ke hostel sampai berhari hari.

Aku sedih!
Berat rasanya meninggalkan dirinya
Kebaikannya tak bisa kulupakan. 

Saat pamit berpisah untuk meninggalkannya, tak terasa aku menitikkan airmata. 
Aku tak tega meninggalkannya seorang diri di sana. 
Apalagi ia adalah anak yatim piatu.
Sisa keluarganya berada di Palembang. 
Sungguh kebaikannya tak kan pernah bisa kulupakan seumur hidup. 
Karena rasa sayangnya yang penuh keikhlasan.

Akupun kembali mengayuh sepeda melanjutkan perjalanan.
Perasaanku sungguh sedih.
Hatiku lunglai.

Aku malu, aku sungguh merasa bersalah telah mengecewakan dirinya. 
Kayuhanku lemah.
Pikiranku menerawang jauh kembali ke saat2 kami masih selalu bersama walau hubungan kami hanya sebatas via handphone. 

Namun percintaan kami indah seindah mimpi malam yang lelap. 
Penuh gemerlap bintang2 dan terang bulan. Sungguh cinta yang tak terlupakan.

Dalam kesedihan itu, aku tetap mengayuh sepeda.
Walau kadang airmata masih berlinang. 
Kayuhan yang lunglai penuh pikiran. 

Saat aku tiba di Johore aku merayapi kota itu tanpa semangat.
Pikiranku masih sedih. 
Pandanganku sedikit kosong.

Niat awalku, aku ingin singgah dan istirahat sehari di KJRI. 
Tapi saat aku singgah di KJRI di kota itu, ternyata tutup.
Akupun yang awalnya hendak melapor, akhirnya hanya mengambil gambar di depan gedung KJRI.
Lalu bergegas melanjutkan perjalanan kembali menuju Singapore.

Sepeda kukayuh menuju Singapore.
Aku mengikuti arah sesuai plang petunjuk arah yang terpampang di pinggir jalan.
Dari Johore ini Singapore tak jauh. Karena Johore adalah kota paling Selatan di ujung Malaysia yang berbatasan langsung dengan Singapore.

Saat memasuki border di gerbang Malaysia, pemeriksaan paspor biasa saja.
Hanya memerlukan stempel tanda keluar dari negara itu.

Beda dengan saat memasuki gerbang Singapore.
Aku banyak diajukan pertanyaan.
Lalu aku di bawa ke kantor border Singapore. 
Aku kembali  di intrograsi oleh petugas di sana.
Sangat ketat memang untuk memasuki wilayah Singapore.
Apalagi orang seperti aku yang belum pernah memasuki Singapore. 
Banyak pertanyaan yang harus kujawab.
Tidak hanya itu saja. Bahkan petugas meminta KTP dan sidik jariku.

Karena perjalananku memang hanya menumpang lewat, akhirnya aku diizinkan memasuki negara itu. 
Namun baru beberapa puluh meter, kembali aku diberhentikan petugas untuk pemeriksaan bawaan yang ada di sepedaku. 
Semua isi tas dibongkar untuk diperiksa!

Sebenarnya lumayan kesal juga melihat tas dan panierku diacak2 petugas tersebut.
Tapi apa mau dikata, mungkin itu memang prosedur yang harus dilalui. 
Akhirnya setelah dinyatakan barang bawaanku tak bermasalah, aku diizinkan kembali melanjutkan perjalanan.



***

Saat aku mulai memasuki wilayah Singapore kembali aku dibuat bingung karena jalan raya Singapore banyak didominasi oleh Lebuh Raya.
Sama dengan Malaysia, sepeda tidak boleh lewat!
Aku hanya boleh melewati jalan biasa. 
Aku bingung untuk mencari jalan mana yang jalan raya biasa menuju Harbor Front, pelabuhan Singapore untuk menyeberang ke Batam.

Akhirnya karena hari itu hari Jumat, kuputuskan aku mencari masjid untuk sholat Jumat. 
Aku berpikir setelah sholat Jumat aku bisa bertanya kepada salah satu jamaah yang ikut sholat Jumat.

Setelah sholat Jumat, aku bertanya pada seorang bapak yang kebetulan paham tentang jalan raya di Singapore. 
Aku diberi sketsa jalan mana yang harus kulewati. 
Segera ku kayuh sepeda mengikuti petunjuk sketsa yang dibuat bapak tadi. 
Ternyata jalan yang kulalui memutar dan jauh. 
Tapi tak apalah, yang penting, aku bisa sampai di Harbor Front tanpa harus ke pentok Lebuh Raya.

Sesampainya di depan Harbor Front, aku langsung memasuki pelabuhan itu dan bertanya kepada petugas tentang harga tiket dan bagaimana dengan sepeda bawaanku.

Ternyata sepedaku dikenakan juga biaya seperti saat aku menumpang pesawat. 
Total harga tiket penyeberangan dari Singapura ke Batam plus dengan sepeda seharga 39 Dolar Singapura.
Sungguh harga yang sangat mahal bagiku mengingat waktu penyeberangan yang hanya 30 menit.
Dengan rasa terpaksa aku membeli tiket.
Menurutku, inilah risikonya bila melewati negara yang nilai mata uangnya tinggi. 

Tanpa halangan yg berarti, akhirnya aku merapat di pelabuhan Batam center menjelang magrib. 
Alhamdulillah lega sekali perasaanku karena akhirnya dapat menginjakkan kaki kembali ke bumi tercinta.

Akupun kembali mengayuh sepeda di pulau batam ini untuk mencari tempat bermalam.
Malam ini kepalaku masih terasa pening.
Namun tetap ku sempatkan untuk mengayuh melihat suasana daerah Batam center.
Bahkan aku mengayuh jauh ke arah kota sebelum akhirnya aku kembali mengayuh ke daerah Batam center untuk menginap di masjid raya Batam.

Malam ini aku menginap di masjid raya Batam.
Aku tidur di halaman masjid beralas selembar kardus bekas tempat bungkus sepeda. 
Walau udara malam agak dingin, aku tetap dapat tidur dengan nyenyak.



di jembatan Barelang, Batam

***
Paginya setelah sholat, aku mandi dan mencuci pakaian di kamar mandi masjid. 
Lalu aku menjemur pakaian di halaman masjid nan luas itu.
Di saat menunggu pakaian kering, ku sempatkan untuk menanyakan perihal ada tidaknya Mapala (Mahasiswa Pencinta Alam) di Batam kepada temanku yang berada di kota Solo via handphone

Maksud hati bertanya, berharap ada Mapala agar aku bisa kembali istirahat tapi temanku malah mengabarkan kalau teman satu Mapalanya ada yang bekerja di Batam. 
Beruntung. Aku juga kenal dengan yang bersangkutan.
Namanya Ragil. 

Aku meminta nomer HP Ragil kepada kawannya tersebut. Segera saja kukabarkan kepada Ragil kalau aku sedang berada di masjid raya Batam. 
Namun Ragil menjawab kalau ia baru bisa menemui ku sehabis Isya karena ia sedang bekerja.

Sambil menunggu gelap dan menunggu Ragil datang, aku tidur2an di halaman masjid.
Kepalaku masih pening namun kubuat santai dan senyaman mungkin. 
Bagiku petualangan emang harus dinikmati walau kesehatan sedang menurun sekalipun.

Akhirnya, selepas Isya Ragil datang.
Ia mengajakku untuk tidur di tempat kos nya yang berjarak lumayan jauh. 
Akupun mengangguk.
Aku pikir daripada tidur di halaman mesjid ya tentu saja lebih baik tidur di tempat kos.
Pastinya lebih nyaman.

Lalu aku mengayuh sepeda mengikuti Ragil yang mengendarai sebuah motor menuju tempat kosnya. 
Cukup jauh memang karena letak kos Ragil yang berada di Selatan pulau batam.
Sementara masjid raya berada di sebelah Utara.

Sekitar 45 menit mengayuh sepeda, akhirnya sampai di tempat kos Ragil. 
Ternyata Ragil menyewa sebuah rumah bersama 3 temannya.
Biaya sewa kosnya menjadi lebih ringan. 

Sepeda aku parkir di pojok halaman. Tas dan panier aku masukan ke ruang tamu. 
Akupun dikenalkan pada teman2nya.

tak lama istirahat lalu ragil mengajakku utk makan malam di sebuah warung pinggir jalan. kamipun berboncengan motor. makan malam sambil menikmati suasana malam batam.
setelah makan kami kembali ke kos dan melepas lelah utk mencari mimpi malam itu.

Paginya selepas mandi dan sarapan, aku meminta Ragil utk mengantarku naik motor ke pelabuhan Sekupang, pelabuhan yang menghubungkan Batam dengan Riau daratan. 
Aku ingin mencari info tentang jam keberangkatan kapal feri dan harga tiketnya.

Ternyata jarak antara tempat kos Ragil dan pelabuhan tak sejauh dari masjid raya ke tempat kos.
Di pelabuhan aku mendapat info kalau biaya penyeberangan ke Tanjung Buton seharga 280 ribu dan jam keberangkatannya jam 07.30 pagi. 
Aku pun memutuskan untuk pamit pada Ragil sore hari, agar paginya aku tak ketinggalan kapal Feri.

Karena hari masih siang, aku diajak Ragil singgah ke jembatan Barelang, jembatan yang terkenal di Batam. 
Tak lama kami menikmati pemandangan di sekitar jembatan Barelang karena aku hanya sekedar ingin tahu saja. 
Kamipun kembali ke tempat kos. 
Sesampainya di sana aku segera menyiapkan kembali peralatanku untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Sekupang. 
Malam ini aku ingin bermalam di sana agar esok harinya bisa langsung ikut menyeberang ke Riau daratan.

Sekitar jam 4 sore, aku pamit pada Ragil untuk melanjutkan perjalanan ke pelabuhan Sekupang.
Namun Ragil memutuskan untuk mengawal menggunakan motor sampai pelabuhan.
Ia merasa tidak afdol bila tidak mengantar sampai pelabuhan. 
Aku terkesima atas keputusannya.
Aku bener2 merasa dihormati olehnya.
Ia bener2 seorang Mapala yg mempunyai jiwa pertemanan yang sejati.

Akhirnya aku tiba di pelabuhan Sekupang menjelang magrib.
Sampai sana Ragil tak langsung pulang tapi dia mengajakku ngobrol2 dulu sambil mentraktir makan malam. 
Sungguh sebuah pertemuan dengan seorang teman lama yang tak pernah kubayangkan.

Selepas Isya, Ragil pamit untuk kembali ke kos dan mengucapkan selamat jalan padaku. 
Akupun hanya mengangguk dan mengucapkan banyak terima kasih atas kebaikan dan jamuannya selama aku di tempat kos nya. 
Aku juga berpesan padanya agar mampir ke rumahku bila suatu saat singgah di Jakarta.

Setelah ragil menghilang di ujung jalan, aku bergegas menuju ke kantor polisi perairan.
Aku memohon izin kepada petugas jaga untuk menumpang nginap semalam, sebelum paginya melanjutkan lagi perjalanan dengan menumpang kapal feri speed boat ke Tanjung Buton.

Aku memang sengaja ingin menginap di kantor polisi.
Karena kalau menginap dan menunggu pagi di area pelabuhan, aku rasa keamanan tak akan terjamin.
Feelling-ku di tempat seperti ini banyak sekali orang yang usil atau berpikiran jahat terhadap orang sepertiku.

Lagipula kantor polisi itu bersebelahan dengan pelabuhan. Jadi, aku tak repot jauh2 mengayuh sepeda esok harinya.
Akupun disambut hangat oleh polisi yang piket jaga malam itu.
Bahkan aku diperkenankan untuk tidur di salah satu ruangan yang ber-ac. 
Sungguh malam itu adalah malam yang nyaman bagiku.
Aku sungguh beruntung dan berterima kasih pada polisi perairan itu.

Bagiku berusaha santun kepada siapapun termasuk polisi yang kadang curiga pada tamunya adalah suatu hal yang akan kupertahankan. 
Walau dulu, pada perjalanan2ku yang lalu aku selalu mengumpat jika aku diperlakukan kasar oleh polisi.
Jadilah malam itu aku tidur dengan nyenyak.



***

Paginya, setelah mandi dan sholat subuh, aku sudah kembali membereskan peralatanku. 
Namun sebelum berangkat menuju ke pelabuhan, seorang polisi mengajakku untuk sarapan pagi dan minum teh tarik (teh susu).   
Polisi itu mentrakktirku.
Sepertinya ia tertarik dan simpati dengan perjalanan yang sedang ku lakukan hingga aku diberlakukan dengan baik.

Setelah sarapan dan minum, ternyata polisi itu mengawalku sampai pelabuhan.
Di sana ia melobi pemilik speed boat agar aku diberi tumpangan gratis. 
Sungguh aku tidak menduga kalo perjalananku mendapat perhatian yang serius dari polisi perairan. 
Semula aku hanya berharap mendapat potongan harga tiket.
Ternyata malah mendapatkan tiket gratis.

Akhirnya aku benar-benar diperkenankan naik speed boat tanpa biaya.
Polisi itu bahkan mengawalku sampai aku masuk kapal.
Mungkin ia tidak ingin aku dipersulit oleh awak kapal.

Dengan mengucap terima kasih pada polisi itu, aku memasuki kapal dengan tenang.
Sepedaku ditaruh di bagian atas kapal. 
Sebelumnya polisi itu berpesan agar aku memberi kabar jika aku sudah tiba di Tanjung Buton. 
Aku mengangguk dan memberi senyum padanya.

Tepat pukul 07.30 kapal feri pun berangkat.
Selama perjalanan laut itu, aku hanya melamunkan dengan santai sambil berdoa semoga laut tak bergelombang kencang.
Maklum aku sangat phobia pada ombak besar. 
Apalagi waktu tempuh penyeberangan adalah 3 jam!
Sungguh waktu yang lama mengingat kapal yang aku tumpangi adalah kapal feri kecil, yang rentan dengan ombak laut.
Alhamdulilah, doaku terkabul.
Pagi itu air laut begitu tenang.
Hanya sesekali ombak berayun lembut.
Aku pun tak khawatir pada penyeberangan itu. 

Di dalam kapal feri, kuhabiskan waktu dengan bersantai kadang memejamkan mata mencari mimpi sekejab.
Hal ini adalah pengalaman baruku.
Menyebrang dengan sebuah speed boat tanpa membayar.
Sungguh penyeberangan yang indah dan berkah.
Hehehehehe
***

Setelah 3 jam dalam speed boat, akhirnya kami merapat dengan selamat di pelabuhan Tanjung Buton. 
Para penumpang pun segera turun, termasuk aku.
Namun saat ingin akan mengambil sepeda, aku harus menunggu lama. 
Padahal aku ingin segera bergegas melanjutkan perjalanan agar aku mendapat kilometer yang lumayan jauh.
Semua barang bawaan penumpang diletakkan di bagian atas kapal.
Satu persatu diturunkan.
Namun ternyata sepedaku adalah yang terakhir diturunkan.
Aku kecewa dan menggerutu pada kuli pelabuhan yang menurunkan barang. 
Apalagi pake bayar lagi!! Huks.

Begitu sepeda diturunkan aku langsung bergegas mengayuh sepeda, meninggalkan pelabuhan Tanjung Buton.
Namun saat ingin mengayuh sepeda dengan cepat ternyata jalanan selepas Tanjung Buton adalah jalan yang rusak.
Kondisi jalan rusak tersebut lumayan jauh jaraknya.
Hingga aku harus perlahan mengayuhnya. 

Selepas melewati jalan rusak tersebut barulah aku bisa mengayuh dengan cepat. 
Dan hari itu aku tak bisa menggapai kota Pekanbaru karena jaraknya masih lumayan jauh yaitu sekitar 150 km lebih. 
Sore itu, aku hanya bisa mencapai kota Siak.
Kota kecil di sebelah Timur Pekanbaru. 
Malam itu aku menginap pada sebuah pom bensin untuk melepas lelah.
Paginya, setelah mandi dan sholat subuh, aku langsung melanjutkan perjalanan.
Kunikmati pagi yang cerah dengan mengayuh santai. 
Udara nan segar menambah semangat di pagi itu. 
Jalan yang kulalui lumayan sepi.
Sepanjang jalan kutemui perkebunan sawit nan sangat luas. 
Hal inilah yang menyebabkan provinsi Riau kerap disebut sebagai provinsi yang kaya.
Di atas minyak. Di bawahpun minyak. 

Sayangnya, kondisi tersebut tidak mengubah jalan raya di Riau menjadi mulus.
Banyak sekali jalan yang rusak parah.
Entah di bawa kemana pendapatan daerah yang dihasilkannya itu oleh para pihak pemda!

Aku terus mengayuh dan mengayuh.
Membawa sepedaku melaju menuju kota Pekanbaru.

Di depanku terdapat pertigaan.
Satu jalan menuju Pekanbaru via lintas Timur 
Dan satunya lagi melewati Simpang Minas.

Aku pun memilih jalur simpang minas!
Alasannya?
Karena aku ingin menikmati reuni tentang ingatanku 6 tahun lalu saat aku bersepeda seorang diri menuju Aceh

Aku berandai seakan-akan aku baru saja melewati dari arah Sumatera Utara karena Minas memang mengarah ke Duri dan terus ke Sumatera Utara.

Dari pertigaan itu, perkebunan sawit nan luas masih saja menghias di sepanjang jalan.
Sejauh mata memandang adalah kebun sawit! 
Dan menjelang tengah hari aku tiba di Pekanbaru setelah melewati Simpang Minas.

Sepeda ku arahkan ke jalan riau.
Niatku, hendak mampir di toko sepeda rodalink untuk mengambil ban dalam dan ban luar yang kupesan. 
Toko ini adalah toko sepeda rekanan polygon yang merupakan sponsorku.
Polygon mengabulkan permintaanku akan ban luar dan ban dalam sebagai cadangan.
Untuk jaga-jaga, bila terjadi hal jelek menimpaku di jalan dalam perjalanan menuju arah Jakarta. 

Jarak Pekanbaru ke Jakarta masih lumayan jauh dan memakan waktu sekitar 12 hari jika bersepeda terus tanpa singgah lama di suatu kota.

Tanpa kesulitan aku bisa menemukan alamat toko rodalink.
Di sana aku langsung mengambil ban dalam dan ban luar lalu kembali melanjutkan perjalanan menikmati kota Pekanbaru.
Di Pekanbaru aku memang sengaja akan beristirahat selama 2 hari untuk memulihkan tenaga.
Apalagi abangku menyuruhku untuk singgah di Balai Diklat Kemenkeu.
Agar aku bisa mengupload foto2 perjalananku.
Selain itu, karena Pihak Polygon sudah ingin mengetahui foto2 perjalananku.
Abangku menyuruh ke sana karena di sana ada temannya yang bekerja di kantor tersebut. 
Jadi tak masalah aku minta bantuan dan bahkan menginap di kantor itu.

Saat aku tiba di kantor balai diklat ternyata aku memang sudah ditunggu oleh teman abangku.
Sepeda lalu ku parkir di halaman.
Lalu aku langsung diajak ke warung makan untuk makan siang. 
Sambil bincang2 kecil aku menikmati siang yang panas itu dengan sepiring nasi pecel dan segelas es teh.

Namun tanpa disangka teman abangku mengatakan tak bisa menemaniku selama di Pekanbaru karna ia harus terbang ke Bogor untuk mengikuti rapat kerja dengan kantor pusat. 
Aku dirujuk untuk meminta bantuan kepada salah satu karyawan untuk membantuku mengupload foto.
Maklum karena aku memang bodoh dan tak mengerti banyak tentang komputer. 
Itulah makanya abangku menyuruhku mampir di kantor balai diklat ini.

Akhirnya upload foto dikerjakan oleh salah satu karyawan.
Aku hanya santai dan istirahat menikmati ruangan yg ber-ac itu. 
Tak memakan waktu lama akhirnya foto2 perjalananku sudah di upload.
Akupun tinggal menikmati istirahatku selama 2 hari di sana dengan santai.

Selama menginap dan istirahat di balai diklat itu, aku hanya menghabiskan waktuku dengan sesekali menikmati jalan2 melihat kota Pekanbaru dengan sepedaku lalu kembali lagi ke balai. 
Kadang aku juga singgah di super market untuk belanja perbekalan yang sudah habis. 
Pokoknya selama istirahat dibalai, aku bisa istirahat dengan nyaman.

Lagipula di sini aku juga disambut dengan ramah oleh Kepala Balai. Bahkan saat aku pertama datang, aku sempat berbincang2 lumayan lama dengan beliau.
Aku menceritakan tentang perjalan2anku dan tentang kehidupanku.
Aku sangat berterima kasih, aku bisa diterima dengan baik oleh Kepala Balai dan teman abangku.
Saat waktu kurasa cukup, pagi2 setelah mandi dan sarapan, aku pamit pada Kepala Balai.
Aku tak ingin berlama2 di ini karena khawatir akan merepotkan semua yang ada di kantor ini.
Sepeda kembali kukayuh meninggalkan kota Pekanbaru.
Aku mengayuh mengikuti plang petunjuk arah keluar dari kota menuju arah Jambi.

***


Sepanjang jalan yang kulalui, setelah pangkalan Kerinci, kerap aku melewati jalan yang rusak parah.
Keadaan ini membuatku jengkel karena debu beterbangan ke wajah dan tubuhku.
Debu itu berasal dari terpaan ban kendaraan lain yang lewat.
Sering sekali aku terbatuk-batuk karena debu tersebut. 

Sungguh sebuah wilayah provinsi yang aneh! 
Bayangkan provinsi Riau yang kaya namun jalan raya utama lintas Timurnya hancur.
Sepertinya disengaja. Malas untuk diperbaiki!

Dan yang lebih membuat geleng2 kepala adalah karena saat 6 tahun lalu tepatnya 2006 aku lewat jalan itu, kondisi jalan rusak.
Kini, setelah 6 tahun aku melaluinya lagi, kondisi jalan tetap sama. Rusak!!!

Aku berani bertaruh kalau pemda setempat adalah pemda yang korup.
Pemda yang tidak mau tahu dengan kondisi jalan rayanya.
Entah dikemanakan pendapatan daerah mereka. 
Pilkada di wilyah ini sudah bisa dipastikan adalah lomba merebut kekuasaan lalu mengkorup pendapatan daerahnya. 
Ah sungguh perjalanan di wilayah itu adalah perjalanan yang sama sekali tidak nikmat.

Saat aku mulai memasuki batas wilayah jambi, kondisinya sungguh sangat kontradiktif!
Aku bisa mengayuh sepeda dengan leluasa.
Karena di sepanjang jalan, aku melewati aspal yang mulus tanpa ada jalan yang berlubang, apalagi rusak parah. 
Dalam hati aku bangga pada pemda Jambi yang bisa menjaga jalan rayanya denga baik hingga aku bisa bersepeda dengan lancar.
Sangat berbeda dengan pemda Riau yang bodoh dan korup!

Aku terus mengayuh memasuki wilayah Jambi.
Sepanjang jalan hamparan kebun sawit seperti tak ada batasnya. 
Sunyi menemaniku dengan indah.
Aku merenung dalam keindahan hamparan perkebunan sawit. 
Sungguh perjalanan yang membuatku sangat senang dengan kesendirianku.

Dari perbatasan provinsi Jambi menuju kota Jambi, aku masih merasakan malam di jalan sebelum esoknya mencapai kota jambi pada tengah hari. 
Sebelumnya sejak dari Pekanbaru aku melewati 2 malam menginap di sebuah masjid.

Tengah hari aku memasuki kota Jambi.
Aku langsung mencari kampus STMIK Nurdin Hamzah, untuk mampir di Mapalanya.
Makopala dimitri, namanya. 
Aku merasa harus menyambangi sekre ini karena aku pernah di rawat saat sakit dalam perjalanan ke bersepeda menuju aceh 6 tahun lalu.
Aku benar2 berhutang budi dengan Makopala dimitri. 
Aku ingin mengucapkan terima kasih dengan melakukan kunjungan kembali dan singgah istirahat untuk beberapa hari di sini.

Masih lekat dalam ingatanku, aku terkapar tak berdaya karna terkena penyakit cacar saat itu.
Penyakit itu menyebabkan seluruh tubuhku dipenuhi benjolan air.
Ditambah lagi kepala pusing dan tubuh menjadi lemah.
Padahal target perjalanan ku saat itu adalah Pulau We di Banda Aceh dan kembali lagi ke Jakarta. 
Perjalanan yang masih sangat panjang saat itu.

Aku terbaring di salah satu ruangan sekre Makopala Dimitri. 
Saat itu aku dirawat dengan baik dan penuh ikhlas dari beberapa anggotanya. 
Hal inilah yang membuat ku tak bisa melupakan kebaikan hati mereka.

Akhirnya, setelah bertanya pada orang2 yang kutemui di jalan, aku tiba di kampus STMIK, yang ternyata sudah menempati gedung baru. 
Enam tahun lalu aku singgah masih di gedung lama. 
Bangunan kampusnya lebih besar daripada yang dulu.
Posisinya pun lebih strategis.

Aku masuk ke dalam kampus tersebut dan segera menuju sekre Makopala Dimitri.
Perasaanku senang bercampur haru saat aku menginjak kembali sekre mereka walau teman2 yg pernah merawatku sudah lulus kuliah. 
Namun aku tetap berterima kasih pada anggota yang lain yang ada di sana dan bercerita tentang siapa aku dan tentang perjalananku kali ini.

Tak lupa aku menghubungi teman2ku yang pernah merawatku via handphone
Nomor mereka kudapatkan dari teman2 mapala yang sedang berada di sana..

Sambil menunggu keringat dan lelahku hilang, aku disuguhkan segelas kopi susu sambil ngobrol dengan anggota2 yang baru kukenal.

Setelah itu aku mandi agar tubuhku menjadi segar setelah mengayuh sepeda dari pagi hingga tengah hari.
Malamnya aku memilih tidur di luar sekre di sebuah bangku panjang dengan menggunakan sleeping bag
Di luar suasananya lebih dingin diterpa angin malam.

Esoknya, waktu kuhabiskan bersantai sambil menunggu teman2 yang pernah merawatku datang. 
Kadang juga aku main ke super market yang ada di depan kampus untuk membeli pop mie, saos dan roti tawar sebagai makanan ringan di kala rasa ingin makanku datang.

Waktu yang kuharap tiba.
Dua teman dari 4 orang yang pernah merawatku datang!
Aku langsung berkangenan dan menghaturkan kembali rasa terima kasih pada mereka atas kebaikan yang pernah diberikan kepadaku. 
Dua teman yang lain tak bisa datang karena mereka sekarang bekerja di luar kota Jambi.

Tak lupa aku juga berpesan agar mereka mau singgah dirumahku jika mereka main ke Jakarta. 
Kami banyak ngobrol dan mengulas kembali kejadian 6 tahun silam.
Kami benar-benar ber-reuni tentang pertemuan yang sudah cukup lama itu.

Aku sendiri meminta maaf karena baru bisa mampir kembali ke Jambi setelah 6 tahun.
Itu karena aku mempunyai rencana lain di tiap tahunnya. 
Dan mereka memaklumi karena mereka tahu kalau aku adalah orang yang suka berpetualang ke tempat lain yang belum aku singgahi.

Setelah bincang2, dua temanku pamit karena masih banyak kesibukan yang mereka punya.
Apalagi kedua temanku itu kini sudah menikah dan mempunyai anak. 
Jadi dua temanku itu tak bisa menemaniku terlama.

Aku bersyukur, diizinkan kembali oleh Allah untuk dapat berjumpa dengan kedua temanku itu walau dua lainnya tak bisa kutemui. 
Paling tidak aku masih bisa berterima kasih kembali atas kebaikan mereka. 
Bagaimanapun juga aku mempunyai hutang budi dan patut mengucapkan kembali rasa terima kasihku itu.

***

Setelah dua malam aku menginap di Makopala Dimitri, esoknya aku pamit pada teman2 yang ada di sekre.
Aku ingin melanjutkan kembali perjalananku menuju Palembang. 
Aku ingin secepatnya bisa menyelesaikan perjalanan bersepeda itu sampai Jakarta.

Ada perasaan haru saat aku meninggalkan Jambi.
Aku masih saja terbayang2 tentang sakitku dan masa dirawatku yang memakan waktu seminggu itu. 
Jambi benar2 menjadi kota yang tak bisa kulupakan.

Sepeda kembali kukayuh, kususuri jalan raya kota Jambi menuju luar kota ke arah Palembang.
Saat aku melewati batas provinsi, aku berhenti sejenak.
Aku terkesima memandangi sebuah pos polisi. 
Pikiranku menerawang jauh kembali ke 6 tahun silam.
Saat itu aku menginap disana sebelum paginya melanjutkan perjalanan memasuki kota Jambi. 

Di pos itulah kesehatanku mulai menurun.
Malam itu aku tak bisa tidur nyenyak.
Seluruh tubuhku menggigil.
Dan kepalaku pening.
Esoknya aku terkapar seminggu di kota Jambi.

Aku benar2 terbawa ke masa lalu itu, aku merasakan suasana yang dulu mengalir lagi ke darahku tentang detik2 menjelang sakitku. 
Kuambil kamera lalu ku foto pos polisi itu.
Ah sungguh sedih hatiku, merasakan flashback waktu.

Dalam hatiku berujar, "Allah memang Maha yang menguasai waktu"
"Aku tak sanggup menahan sedih".

Reuni waktu menghantui otakku. 
Waktu yang telah berlalu tapi kini masih bisa ku ingat dengan suasana rindu yang pilu. 
Hanya Allah yang punya waktu.
Waktu menjadikan ku ingat akan yang maha Kuasa.

Sepeda kukayuh kembali sambil menatap sendu kearah pos polisi.
Suasana yang dulu, kulambaikan tangan, dalam hati...

Aku terus mengayuh dan kembali mengayuh.
Sepanjang jalan kucoba mengingat tentang perjalananku yang pernah kulakukan 6 tahun lalu saat melewati daerah ini. 
Aku merasa tak menyangka kalau aku sudah pernah melewati daerah itu.
Saat itu kugunakan sepeda yang sederhana namun dengan semangat yang tak kumengerti.
Sebuah perjalanan bersepeda yang jaraknya sangat jauh namun ku jalani dengan tabah.

Saat gelap menyergap, aku tiba di kecamatan Sungai Lilin.
Dulu waktu kulewati, jalan raya daerah ini sangat jelek dan rusak. 
Kini sudah bagus.
Lalu aku menuju polsek Sungai Lilin utk menumpang inap semalam.
Aku pun melapor dan memohon izin kepada petugas jaga.
Tanpa banyak pertanyaan dari petugas jaga, aku dipersilakan untuk tidur di bangku panjang di bangunan sebelah bangunan utama.

Malam itu aku tak bisa tidur pulas karena nyamuk sungguh banyak.
Dan ini adalah pengalamanku paling tidak nyaman digigit nyamuk.
Selama aku melakukan perjalanan2, baru kali ini nyamuk sedemikian banyak.
Sekali kena gigit perih sekali rasanya.
Nyamuknya sangat sadis dan ganas. 

Jadilah malam itu aku sulit tidur.
Parahnya lagi, aku lupa membeli autan atau soffell untuk mnegusir nyamuk.
Aku sudah malas untuk mencari warung.

Dan yang paling mengherankan, nyamuk di sini bisa menggigit walau harus menembus kaos atau celana.
Malam ini aku menjadi santapan nyamuk2 liar Sungai Lilin. Hiks.
Walau telah mengenakan dua sarung, aku pasrah. 
Sungguh malam yang malas ku lewati di lain waktu.




Esoknya setelah pamit pada petugas jaga, aku kembali melanjutkan perjalanan.
Mengayuh sepeda menuju kota Palembang yang sudah tak jauh.
Hanya sekitar 40-an kilometer.

Di kota palembang, aku ingin beristirahat di balai diklat Kemenkeu.
Aku memang sudah ditunggu oleh teman abangku di sana.
Tak sulit mencari balai itu karena aku sudah pernah mampir pada perjalanan bersepeda 6 tahun lalu. 

Tiba balai diklat aku sudah disiapkan sebuah kamar mess untuk tempatku beristirahat. 
Di dalamnya terdapat kamar tidur dengan kasur empuk dan kamar mandi. 
Aku bisa kembali istirahat dengan nyaman.

Di kantor ini aku melepas lelah selama dua malam.
Aku juga tak ingin berlama-lama di sini karena aku harus segera meluncur ke Lampung untuk menengok anakku tercinta.
Aku sungguh sangat merindukannya.

Dua hari kemudian, pagi2 sekali aku pamit pada satpam dan langsung mengayuh sepeda kembali.
Aku tak perlu pamit pada teman abangku karena yang bersangkutan sedang pulang ke Jakarta.

Saat aku meninggalkan balai diklat, kayuhanku kembali harus terhenti wajib yaitu di jembatan Ampera palembang!
Ya, menurutku jembatan ini wajib diambil gambarnya karena jembatan ini adalah ciri khas kota Palembang.
Walaupun aku sudah pernah mengambil gambar di jembatan ini, tapi perjalanan kali inipun aku merasa wajib untuk kembali mengambil gambarnya.
Sepedapun kuhentikan persis di tengah jembatan.
Seseorang yang sedang lewat aku hentikan untuk meminta tolong menekan kameraku sebagai bagian dari dokumentasi perjalananku. 
Setelah itu kembali ku kayuh sepeda.
Kali ini perjalananku menuju Lampung!

***

Dalam perjalanan antara palembang menuju provinsi Lampung, aku mengambil jalan lintas Timur.
Aku melalui jalan raya yang lumayan sepi dibandingkan jalur lintas Tengah. 
Sepanjang jalan, jalanan lumayan mulus hanya kadang naik turun.
Tapi, bagiku tak banyak membutuhkan tenaga. 

Jalur ini juga menjadi jalur yang kulewati saat aku menuju Aceh enam tahun silam.
Jadi jalur ini masih sedikit kuingat dalam pikiranku.

Saat menjelang senja aku memasuki Mesuji Sumsel, sebuah desa kecil perbatasan antara Sumsel dan Lampung.
Aku pun bergegas memasuki Mesuji provinsi Lampung. 
Mesuji terbagi dua.
Satu masuk wilayah Sumsel dan satu lagi masuk wilayah Lampung.
Persis seperti Losari di Jabar dan Jateng.

Begitu aku memasuki provinsi Lampung, aku langsung mencari pos polisi untuk menumpang inap.
Aku memang harus mencari pos polisi agar aku aman dalam menikmati malam. 
Karena perlu diketahui bahwa jalur lintas Timur ini adalah cukup rawan.
Apalagi daerah mesuji ini. 
Sering kali terjadi penodongan terhadap pengendara yang lewat.

Aku terus menyusuri jalan Mesuji sampai akhirnya kayuhanku terhenti di sebuah pos polisi lalu lintas. 
Akupun langsung menyandarkan sepedaku di depan pos lalu mengucap salam dan masuk ke dalam pos mengutarakan maksud kedatanganku

Aku ditanya dengan teliti oleh kanit lantas.
Juga ditanya identitasku.
Bahkan paspor dan KTP ku ditahan sebagai jaminan aku menginap. 
Aku hanya berusaha senyum dan ramah menghadapi interogasi yang sangat tegas dan pedas dari sang kanit.

Setelah merasa puas dengan penjelasanku, sang kanit berubah ramah.
Bahkan aku dibelikan nasi dengan lauknya sebagai makan malamku. 
Aku juga disediakan satu ruangan dengan sebuah kasur lipat sebagai tempatku tidur..
Sebelum tidur kusempatkan mandi agar badanku segar dan tidur nyenyak.

Esok paginya, setelah meminta KTP dan paspor yang ditahan, aku pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali. 
Kutinggalkan pos polisi lantas itu dengan semangat pagi. Pagi yang cerah!
Sepeda kukayuh kembali menyusuri jalan lintas Timur sumatera itu.
Hari itu aku merasa agak santai dan mencoba menikmati semeter demi meter jalan yang kulalui.
Kadang aku berhenti sejenak mengambil gambar dari kameraku. 

Hari itu juga rasa kangenku pada anakku sangat besar.
Sebuah perasaan cinta yang tak pernah pudar pada anakku yang berada di Padang Ratu, Lampung Tengah.
Menjelang tengah hari aku tiba di Menggala.
Aku mampir ke pasar Menggala untuk membeli nasi bungkus sebagai makanan siangku.
Lalu aku berhenti di sebuah masjid untuk memakan santap siangku dengan santai.
Hembusan angin semilir menemaniku menyantap makan siang.
Damai terasa menyelimuti hatiku. 

Selesai makan aku berbaring sejenak melepas lelah.
Melamun jauh tentang perjalanan yang sedang kujalani hingga tiba di Menggala ini. 
Perjalanan panjang tapi tak kuanggap sebagai perjalanan yang mengasyikan.

Setelah kurasa cukup beristirahat, lalu kembali melanjutkan mengayuh sepeda mengikuti jalan raya.
Sekitar jam setengah empat sore aku tiba dipertigaan Menggala.
Ke kiri ke arah bandar lampung. 
Dari pertigaan itu juga gunung sugih hanya berjarak sekitar 4km, yaitu satu kecamatan yang dipertigaan jalannya biasa aku lewati dengan menumpang angkutan desa menuju kampung anakku. 

Tapi aku tak berencana melewati jalur itu karena jalur itu sangat rawan untuk menuju kampung anakku.
Penduduk lampung asli banyak berprofesi sebagai penodong yang tak segan membunuh kalau kita tak memberi harta yang kita miliki.
Pihak polisi di jalur sejauh 40-an km itu tak berkutik dan malas mengungkap setiap kejahatan yang terjadi disana.

Dari pertigaan Menggala aku memilih berbelok ke kanan menuju kecamatan Kali Balangan yang jaraknya lebih jauh sekitar 26 km
Tapi melewati kecamatan ini untuk masuk ke arah kampung anakku akan lebih aman dan tak berisiko.

Akupun mengayuh sepeda dengan agak cepat.
Aku malas bertemu gelap.
Karena jalur yang kulewati adalah jalan utama lintas Sumatera.
Tentunya kendaraan yang lalu lalang memacu kendaraannya dengan kencang.
Dalam keadaan gelap sangat bahaya dan berisiko terjadi kecelakaan. 

Akhirnya aku tiba di Kali Balangan menjelang magrib.
Aku langsung menuju polsek Kali Balangan sesuai rencanaku.
Enam tahun silam aku juga pernah singgah di Polsek ini.
Dari Polsek inilah aku mendapatkan info bahwa ternyata untuk menuju kampung anakku bisa melewati dari pertigaan jalan di kecamatan ini. Dan tentunya lebih aman. 
Inilah yang menjadikan aku memilih melewati petigaan Kali Balangan.

Tanpa menunggu lama, aku langsung masuk halaman polsek itu.
Sepeda kuparkir sejenak, lalu melapor dan mengutarakan maksud kedatanganku. 
Tanpa banyak pertanyaan yang detail aku dipersilahkan untuk tidur di mushola yang di bagian belakang polsek.
Sepeda ku taruh samping mushola.
Aku mohon izin mandi lalu menikmati malam
Dan tidur di mushola dengan menahan rindu tebal.



***

Paginya, karena para petugas masih tidur, aku melanjutkan perjalanan tanpa pamit kepada mereka.
Segera kukayuh sepeda melewati jalan desa. 
Mulanya aku mengayuh sekitar 4km dengan jalan aspal yang mulus.
Lalu saat berbelok ke kanan, jalan yang kulalui kadang mulai berlubang.
Saat tiba di pertigaan dan berbelok ke kiri, mulai lah aku menikmati jalan rusak. 

Dari jalan ini aku sering bertanya kepada orang yang kutemui di jalan arah menuju kampung anakku. 
Jalan yang kulalui pun sudah mulai tidak bersahabat.
Sepanjang jalan kondisinya rusak parah. Sangat parah tepatnya! Karena lebih mirip medan off-road.
Aku tak bisa bersepeda dengan nyaman.
Dan membuat kepala ku pusing.

Rindu lah yang mengajak hati ini untuk cepat bertemu anakku.
Rindu ini harus ku redam dan bersabar tingkat tinggi.
Dengan perjuangan yg kuanggap lumayan, akhirnya aku tiba di desa tetangga yang bersebelahan persis dengan desa anakku.
Dari sini aku sudah tenang dan senang.

Karena dari sini jalan sudah agak bagus, aku pun bisa mengayuh sepeda ku dengan cepat. 
Aku benar-benar rindu.
Ingin segera melepas rindu dan memeluk anakku dengan erat.
Saat ada warung di pinggir jalan, aku berhenti sejenak.
Ku beli kue dan susu kesenangan anakku dan cemilan lainnya. 

Alhamdulillah, akhirnya aku tiba di rumah dengan selamat.
Aku langsung berteriak memanggil anakku.

Anakku, George Leigh Mallory, yang sedang tidur terperanjat dan berlari keluar rumah begitu suaraku memanggilnya. 
Dia terlihat senang sekali melihat bapaknya datang.
Apalagi aku membawa bungkusan plastik berisi jajanan kesukaannya. 

Rasa kangen yang besar membuat aku langsung menggendongnya dengan erat.
Kuciumi pipinya dengan cinta yang tulus.

Aku benar-benar sangat rindu, aku begitu menyayanginya.
Bagiku Mallory adalah permata yang tak ternilai harganya.

Aku sudah bercerai dengan ibunya Mallory.
Ia kini sudah kuanggap sebagai teman biasa.

Lalu aku banyak bercerita tentang perjalananku mulai dari berangkat hingga tiba di lampung kepada anakku.
Dia hanya bisa mendengarkan dengan baik tanpa bisa memahami dengan benar. 
Maklum usianya baru 5 tahun.
Ibunya hanya sesekali bertanya.

Selama di Lampung, waktu benar-benar kuhabiskan untuk berisitirahat, bermain dengan anakku, dan melihat lihat sawah.
Saat malam tiba aku tidur di lantai dengan beralas tikar dan berselimut sarung.
Anakku dan ibunya di atas tempat tidur.
Kehidupanku dengan ibunya Mallory memang sudah selesai tapi kami sepakat untuk bersama-sama menjaga Mallory dengan baik tanpa memperlihatkan kalau kami sudah bukan siapa-siapa lagi.
Selama di Lampung, benar-benar hanya sebagai teman, bukan lagi seperti suami istri seperti dahulu.

Tak ada yang indah dan bahagia selama perjalanan yang telah kulalui ini, selain saat aku bisa bertemu dengan anakku. 
Bisa mengunjungi kampung halaman mantan istriku dengan bersepeda juga sebuah kebanggaan yang tak terkira.
Karena untuk menuju kampung anakku itu aku harus melewati daerah yang sangat rawan kejahatan.
Makanya selama ini aku hanya bisa dua kali saja berkunjung ke sana. 
Itupun karena aku sedang dalam perjalanan bersepeda yang kebetulan pulangnya bisa singgah sebentar.
Bila harus diniatkan bersepeda dari Jakarta, tentunya aku akan malas dan tak mungkin semangat..

Singkatnya, kebahagiaan yang sejati dalam perjalanan bersepeda tahun ini adalah ketika aku bisa bertemu dengan anakku.
Menumpahkan rasa rindu yang besar.
Di sini pula aku bisa beristirahat dengan baik dan mengisi perutku dengan makanan dan minuman semaunya. 
Aku juga bisa melihat dan bermain ke sawah yang juga adalah hiburan tak ternilai dari depan rumah.
Sawah begitu menghampar sehingga enak di pandang mata. 

Memang posisi rumah anakku itu berada diujung kampung yang berdekatan dengan sawah. 
Makanya tatkala pagi, udara di sini lumayan dingin karena hembusan angin subuh yang bertiup langsung menghempas ke dinding rumah.
Saat mandi pun aku selalu menggunakan air hangat, karena tanpa itu aku tak kuat mandi menahan dingin. 
Di sini pula udara masih bersih dan sejuk. 
Tatkala aku bernafas di pagi hari, begitu terasa kadar oksigen yang masih terasa bersih.
Sangat berbeda dengan udara Jakarta yang sudah bercampur polusi.

Cuma aku tak begitu betah bila harus tinggal di sini.
Karena keadaan jalan menuju desa, harus melewati desa tetangga yang sangat rawan. 
Bagiku kehidupan di Lampung ini kurang bersahabat. 
Penduduk asli Lampung begitu buruk dalam berkehidupan dan bertetangga. 
Karena hal yang satu ini, aku lebih suka tinggal di Jakarta.
Sebuah kota besar, kota angkuh kelahiranku itu.


Aku dan George Leigh Mallory, anakku.

Akhirnya, setelah enam hari beristirahat dan melepas rindu pada anakku, aku pamit untuk melanjutkan perjalanan kembali menuju Jakarta.
Menghabiskan sisa perjalanan tahun ini yang tinggal beberapa hari lagi.

Pagi itu aku sejenak berfoto bersama anakku.
Melepas rindu terakhir dengan membuat dokumentasi perjalanan.

Sepeda dan perlengkapannya sudah aku persiapkan sejak tadi malam.
Sehingga pagi itu aku tak perlu bergegas dan terburu buru. 
Anakku terlihat berat melepas kepergian bapaknya pulang kembali ke Jakarta.
Sepertinya ia juga masih merasa kangen. 

Walau dengan keadaan berat hati, aku harus melanjutkan perjalanan bersepeda kembali menuju Jakarta.
Kuciumi pipi anakku berulang-ulang.
Aku sampaikan pesan agar ia rajin belajar dan nurut sama ibunya. 
Aku juga berpesan agar saat liburan sekolah nanti, datang ke Jakarta untuk bertemu diriku.

Dengan berat hati dan linangan air mata anakku, aku pamit dan mengayuh kembali sepedaku.
Kususuri jalan desa yang tak beraspal menuju jalan aspal di ujung desa tetangga.
Jalan tanah menambah asrinya suasana desa ini.

Melewati sedikit perkebunan sawit yang sepi dengan udara pagi yang masih bersahabat, ku terus mengayuh sepedaku dengan hati-hati. 
Jalan kadang jalan dan terdapat genangan air.
Kadang mendaki kadang menurun.

Ketika jalan desa yang belum di aspal sudah kulewati, aku mulai merasakan jalan desa tetangga yang beraspal.
Dari sini perjalanan ku terasa lebih ringan dan lebih cepat. 
Kayuhanku berasa ringan dan nikmat.
Aku pun mulai mengayuh dengan cepat.
Aku harus bisa mengayuh melewati daerah rawan desa tetangga ini dengan secepat mungkin.
Desa tetangga yang berpenduduk Lampung asli ini terkenal dengan pemuda-pemudanya yang jahil.
Makanya mumpung masih pagi, aku mengayuh dengan bergegas agar aku bisa cepat melewati areal desa ini.

Aku tidak bermaksud mendeskreditkan warga asli Lampung lho. 
Namun kenyataan yang selama ini kulihat dan kudengar dari cerita-cerita teman-temanku, ya seperti itu.
Meskipun aku juga yakin, pastilah di antara mereka tidak semuanya jahil.

Tanpa rintangan, akhirnya aku sampai di pertigaan jalan antara menuju gunung Sugih dan Pringsewu.
Dari sini, aku memilih jalan ke arah Pringsewu.
Kondisi jalan menuju Pringsewu, meskipun konturnya naik turun, menurutku relatif lebih aman.
Selain itu, desa-desa yang dilalui sebagian besar dihuni oleh pendatang bersuku Jawa.

Akupun berbelok ke kanan.
Dari sini hatiku mulai tenang tanpa ada rasa khawatir dalam melanjutkan perjalanan. 
Bahkan saat perutku terasa mules, sepeda kuparkir dipinggir jalan yang sepi. 
Lalu aku turun ke kali kecil untuk buang hajat.
Terasa nyaman dan asyik karena aku bisa merasakan suasana kali kecil sambil merenung.
Sungguh irama boker yang sayang untuk dilupakan. hehehehehe (maaf!)

Sebelum tengah hari aku sudah tiba di Pringsewu.
Dari sini aku melanjutkan perjalanan menuju Bandar Lampung.
Kondisi jalan raya sudah mulai lebih baik.
Jalanannya lebih besar dan lebih mulus. 
Keramaian pun sudah mulai terlihat.
Mudah menjumpai indomart atau alfamart untuk berbelanja cemilan dan minuman. 
Mengayuh sepeda sudah terasa seperti di tanah Jawa, bersahabat dan enak untuk dinikmati.
                       
Kayuhan terus mengirama dengan semangat yang kian bertambah.
Jalan yang kulalui tak begitu asing.
Aku masih hafal jalur ini.
Dulu aku kerap naik angkutan umum untuk menuju Bandar Lampung saat pulang dari kampung mantan istriku itu. 

Sepeda terus ku kayuh sambil sesekali berhenti untuk mengambil gambar.
Karena pemandangan lumayan bagus.

Tanpa kendala  aku memasuki kota Bandar Lampung.
Jalan raya semakin ramai dengan kendaraan.
Sedikit aku berhati-hati agar aku tak terserempet kendaran yang melaju. 

Kayuhan ku arahkan menuju kampus Universitas Lampung untuk mampir di Gumpalan, Mapala Fakultas Pertanian. 
Di sini aku sekalian menjenguk adik-adik Mapala yang biasa aku singgahi walau sebagian besar anggotanya sudah lulus dan bekerja.
Tapi aku yakin masih ada anggotanya yang mengenalku.

Tiba di depan Sekretariat Gumpalan, sepeda langsung ku parkir dekat dinding sekre.
Aku memberi salam dan teman-teman Gumpalan keluar menyambutku kaget.
Mungkin mereka tidak menyangka aku singgah tanpa mereka mengetahui tentang perjalananku kali ini. 

Di sekre tersebut hanya ada beberapa anggota saja yang sedang stanby.
Tapi dari mereka masih ada yang mengenalku. 
Maklumlah aku memang selalu singgah di sini di saat sedang melakukan perjalanan atau pun sedang pulang ke kampung anakku di Lampung ini.

Tanpa basa basi aku disuguhi kopi.
Kami ngobrol ngalor ngidul tentang perjalananku ataupun tentang kabar kegiatan Gumpalan. 
Tak lupa aku juga menanyakan kabar anggota lain yang aku kenal. 
Dari mereka aku mendapat kabar tentang keberadaan anggota Gumpalan lainnya. 
Aku juga tak lupa mengabarkan salah satu anggota Gumpalan yang cukup akrab dengan ku. 
Aku kabarkan kalau aku berada di sekre dan menyuruhnya ke sekre. 

Sambil menunggu teman yang ku hubungi kami terus mengobrol sambil sesekali tertawa.



Menjelang sore, teman yg kuhubungi datang.
Namanya Andi namanya.
Ia datang dengan mengayuh sepeda.
Tak ku sangka ia kini menyukai sepeda.
Rupanya virus sepeda juga sudah menjalar di Lampung ini. 

Sepeda yang ia punya lumayan bagus dan mahal.
Maklumlah ia termasuk berduit dan sedang bagus rezekinya. 

Kangen juga aku karena sudah lama tidak bertemu dengan Andi. 
Selepas magrib Andi mengajakku keluar sekre untuk makan malam.

Aku dan Andi berboncengan motor.
Menikmati malam kota Bandar Lampung.
Kami berhenti di salah satu warung sate untuk menikmati makan malam sambil ngobrol. 
Temanku yang satu ini memang tak pernah lupa padaku.
Aku sendiri tidak tahu mengapa ia begitu baik padaku.
Mungkin sudah sifatnya, kali.

Teman Gumpalan yang lain juga bersikap baik padaku.
Mereka selalu menyambutku dengan ceria jika aku singgah di sana. 
Dari teman-teman Gumpalan termasuk Andi, aku mengerti arti sebuah persahabatan.
Sayangnya, anggota Gumpalan hanya baru satu orang yang pernah main ke rumahku di Jakarta dan menginap. Sedang yang lain, termasuk Andi belum pernah.
Mungkin karena mereka sibukdengan aktivitas masing-masing.

Selesai makan malam, aku dan Andi kembali ke sekre Gumpalan.
Obrolan kami lanjutkan sambil menikmati secangkir kopi. 

Tak lama Andi pamit pulang karena sang istri sudah menunggu di rumah. 
Malam itupun aku tidur di sekre Gumpalan setelah asyik ngobrol dan melepas kangen. 
Kucoba meraih mimpi di kampus Universitas Lampung itu. 
Malam kian tinggi, aku pun terlelap menuju pagi..

***

Esoknya aku bangun lebih dahulu.
Selesai subuh, aku langsung mempersiapkan sepeda.
Aneka perlengkapan perjalanan kembali aku masukan ke dalam panier. 

Karena saat itu, anak Gumpalan masih tertidur, mau tak mau aku bangunkan salah seorang dari mereka agar aku bisa pamit. 
Sebenarnya bisa saja aku langsung berangkat dengan tidak mengganggu mereka tidur.
Tapi sopan santun dan tata krama sebagai tamu yang baik membuat aku harus membangunkan satu diantara mereka. 
Akhirnya satu dari mereka terbangun dan melepas kepergianku untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta. 
Aku diantar sampai pintu gerbang kampus.
Bahkan aku sempat didokumentasikan di depan plang nama kampus.

Setelah mengucap terima kasih pada teman yang melepasku, akupun kembali mengayuh sepeda.
Kembali berkelahi dengan keramaian jalan raya yang penuh dengan asap kendaraan dan debu jalanan. 

Lepas dari kampus Universitas Lampung itu, aku mulanya melewati jalan yang rusak parah.
Jemu juga aku melihatnya karena harus menahan nafas dan menutup hidung dari debu yang berterbangan tatkala kendaraan melintas. 
Sepeda kukayuh perlahan dan sedikit berhati-hati menghindari jalan yang berlubang itu. 
Pantat pun terasa tak enak saat melintasi jalan rusak. 

Pelan tapi pasti dengan sabar ku lewati jalan-jalan yang rusak tersebut.
Hingga sampai di jalan yang beraspal mulus, kayuhan baru bisa ku percepat lagi dan mulai merasakan nikmatnya bersepeda. 

Oya, perlu diketahui bahwa jalan raya antara Bandar lampung menuju Bakauheni ini, lalu lintasnya sangat padat.
Kendaraan truk besar dan bus antar lintas provinsi adalah pengguna jalan yang kerap kutemui. 
Mirip seperti jalur pantura di Jawa.
Namun di sini jalannya lebih kecil dan naik turun.

Hingga saat ini, aku sudah dua kali melalui jalur ini.
Pertama kali adalah pada tahun 2006 dalam perjalanan menuju Aceh pulang pergi (dari Sunter, Jakarta).
Makanya aku tak kaget dengan tanjakan yang ada di jalur ini.
Tak ada kendala bagiku dengan tanjakan-tanjakan yang ku lalui.
Walaupun banyak pesepeda yang mengeluh dengan kondisi jalur ini.
Bagiku tanjakan di sini tak seseram di Flores, NTT ataupun Sulawesi yang pernah kulalui pada perjalanan-perjalanan ku yang lalu.

Tanpa kendala, akhirnya aku tiba dengan selamat di Bakauheni.
Aku segera memasuki pelabuhan penyeberangan kapal feri untuk menuju pulau Jawa. 
Aku juga langsung mendekati sebuah kapal feri besar yang sedang merapat di pelabuhan. 
Tanpa membeli karcis, aku dekati petugas pemeriksa karcis kapal.
Aku sampaikan permohonanku agar aku dipermudah dalam pernyeberangan ke pelabuhan Merak. 

Tanpa bincang-bincang lama, dengan tersenyum petugas itu mempersilakan aku menaiki kapal dengan ikhlas.
Ya, begitulah aku saat berada di setiap pelabuhan penyeberangan kapal feri.
Aku selalu memohon izin kemudahan menyeberang dengan gratis.
Dan biasanya aku dihargai dan dipersilakan. 

Namun untuk penyeberangan selat yang panjang danmemakan waktu lama, biasanya izin akan lebih sulit dan membutuhkan lobi lama. 
Seperti saat aku menyeberangi selat Sape di Sumbawa sana. 
Tidak tanggung-tanggung aku harus melobi dengan santun kepada tiga petugas, 
Mulai dari polisi KP3, petugas pelabuhan, dan nahkoda kapal feri. 
Maklumlah, karena waktu penyebrangannya saja memakan waktu 7 jam, yang berarti karcis penyebrangannya juga mahal.
Jadi, tak mudah kalau kita mengajukan permohonan penyeberangan gratis. 

Aku juga harus menunjukkan identitas dan bukti perjalanan yang sedang kujalani. 
Begitulah kalau kita ingin diberi kemudahan penyeberangan.
Dan biasanya mereka akan menghargai perjalanan kita, asalkan kita bisa menunjukkan keramahan dan sopan santun saat sedang melobi.

Di atas kapal, aku langsung memarkir sepeda, bersandar pada dinding kapal dekat tangga, 
Aku duduk di sebelahnya. 
Aku nikmati sisa-sisa perjalanan panjang ini.
Aku hanya banyak terdiam dan merenung selama dalam penyeberangan yang memakan waktu sekitar 2-3 jam itu.
Aku tak sabar untuk bisa segera menginjakkan kaki di tanah Jawa kembali.
Karena dengan begitu aku sudah mendekati Jakarta.

Bukan karena lelah akibat perjalanan yang aku lakukan ini.
Namun rasa rindu yang membuatku ingin cepat sampai rumah.
Bagaimana tidak, ada seseorang yang sedang menantiku di sana.
Ia selalu gundah menanti kedatanganku sejak aku meninggalkan Jakarta menuju Vietnam beberapa waktu lalu.
Ia begitu setia menanti kabar keberadaanku.

Setelah beberapa jam, akhirnya kapal merapat di pelabuhan Merak.
Sepeda kembali kukayuh.
Lega rasanya, akhirnya aku bisa tiba di Jawa!!

Karna waktu sudah sore, akupun bergegas mengayuh sepeda menuju kampus Untirta Fakultas Tehnik untuk menumpang nginap.
Tujuanku Mapala Krakatau. 

Tak begitu jauh jarak antara Merak untuk mencapai Untirta yang berada di Cilegon, Banten.
Tanpa memakan waktu hinga gelap, aku sudah tiba di depan kampus.
Akupun segera memohon masuk kampus pada satpam yang sedang bertugas.

Tiba di depan sekre, anggota Mapala yang sedang berkumpul tidak kaget dengan kedatanganku.
Rupanya sebagian dari mereka masih ada yang mengenali ku.
Maklum, aku pernah singgah di sini beberapa tahun lalu.
Tepatnya tahun 2008.
Sempat juga aku tinggalkan kenang-kenangan sebuah flysheet 
Dan itu rupanya yang membuat mereka selalu mengingatku.
Aku pribadi sudah lupa dengan hal itu tapi malah mereka yang lebih mengingatnya. 
Lalu sepeda kusandarkan di dinding sekre.
Aku melepas lelah dan langsung di jamu dengan minuman segar dingin.
Duh, mantep banget!
Dahagaku langsung terbayar.

Kami pun larut dalam percakapan, sambil sesekali tertawa dalam canda. 
Akupun bercerita panjang lebar tentang perjalanan yang sedang aku lakukan. 
Di sini aku juga menyempatkan menonton pertandingan sepak bola di malam hari yang memang sedang ramai: Piala Eropa!!

Malam ini aku tidur nyaman di sekre Krakatau.
Walau tidur yang kupunya tidaklah pulas namun terasa indah.
Karena bisa bertemu dengan teman-teman yang lama tak kujumpai.

Paginya, saat terbangun aku langsung mempersiapkan perlengkapan untuk melanjutkan perjalananku yang tinggal sedikit lagi.
Akupun pamit pada teman-teman Krakatau.
Tak lupa ku ucapkan terima kasih atas tumpangan istirahatnya.

***

Kembali mengayuh, aku susuri kota Cilegon dengan santai menikmati pagi.
Aku sempatkan mampir di toko sepeda Rodalink untuk mengecek sepedaku yang mulai kurang nyaman. 
Sisa perjalanan ini kulakukan dengan sedikit santai.
Tak perlu mengejar kilometer karena aku sudah hafal dengan jarak antara Cilegon--Jakarta. 
Selesai dengan urusan di Rodalink, aku kembali mengayuh sepeda menuju Jakarta. 
Kayuhanku mantap menyusuri jalan yang pernah ku lalui beberapa kali ini. 
Tak ada jalan menanjak.
Jalanan rata namun padat lalu lintasnya.
Kewaspadaan perlu ditanamkan pada dalam diri.
Tanpa kendala berarti, tengah hari aku sudah tiba di kota Tangerang. 
Aku langsung menuju areal masjid raya Tangerang.
Di sana, aku sudah janjian dengan adikku yang tinggal dan bekerja di wilayah Tangerang.

Siang itu, aku makan bersama adikku.
Makan siang itu terasa asyik karena aku bisa menceritakan perjalanan perdana ku ke luar negeri.
Perjalanan yang tak pernah dibayangkan oleh adikku itu.
Di keluarga kami, aku memang paling aneh dan doyan keluyuran.
Berbeda dengan adikku yang serius dalam bekerja. 
Demikian pula dengan kakak-kakakk.

Aku kabarkan pada salah satu kakakku kalau aku sudah berada di Tangerang dan sedang makan siang dengan adikku.
Maksudku, agar posisiku terpantau.
Karena selama ini, abangku memang pemonitor di setiap perjalanan-perjalanan ku.

Setelah makan siang dan berisitirahat sejenak, akhirnya aku berpisah dengan adikku.
Aku melanjutkan pulang.
Sedang adikku melanjutkan kerjanya kembali.
Ia bekerja sebagai sales kanvas dengan menggunakan mobil bok kecil.
Di sela-sela kerjanya, ia masih menyempatkan diri bertemu diriku.

Kembali aku mengayuh sepeda menyusuri kota Tangerang.
Tak lama kemudian aku pun memasuki wilayah Jakarta. 
Tak ada yang berubah dari jalan-jalan di Jakarta.
Semua masih sama: terlihat semrawut dan macet!!!

Bila kita bersepeda di dalam kota Jakarta, sebaiknya ekstra hati-hati.
Bila tidak, kita bisa saja tersenggol atau tertabrak kendaraan lain. 
Aku jadi ingat beberapa tahun lalu saat sepedaku tertabrak sebuah motor yang menghantam roda belakang sepedaku hingga bengkok.
Lebih sial lagi, sang penabrak kabur!

Begitulah pengguna kendaraan di Jakarta.
Selain seenaknya berkendara juga tidak mau bertanggung jawab. 
Oleh karenanya, walau jarak yang kutempuh menuju rumah sudah dekat dan akan segera mengakhiri perjalananku bersepeda tahun ini, aku tetap mengayuh sepeda dalam keadaan sangat berhati-hati.

Setelah menyusuri jalan Jakarta yang padat, akhirnya aku tiba di rumah (Sunter, Jakarta Utara) dengan selamat.
Alhamdulillahirobbil 'alamiin....... 

Tak ada yang istimewa saat aku tiba kembali di rumah.
Tak ada seremonial sama sekali!
Keluargaku menyambut dengan biasa-biasa saja.
Maklum, aku memang sudah sering bepergian.
Sehingga kepulanganku ini bagai kepulanganku dari bermain ke rumah tetangga hehehhe...
Padahal dua bulan aku meninggalkan rumah untuk melakukan perjalanan ini.

Sepeda langsung kusandarkan di dinding halaman rumah.
Kutemui ibuku dan mencium tangannya.
Itulah akhir tanda dari kisah perjalananku tahun ini....
Perjalanan yang kurasa bisa menjadikan aku berpikir lebih baik dalam menghadapi kehidupan. 
Kulepas kangenku pada ibuku, kakakku, dan tentu saja kamarku tercinta!!

***

Oya, tak lupa ku kabarkan tibanya aku di rumah ini pada seseorang yang kini kucintai
Ia berada nun di sana.
Dengan setia ia selalu menunggu kabar tentang perjalananku.
Hal ini yang membuatku semakin tak mampu menahan rindu.

Ia mengucap syukur dan mengucapkan selamat atas kedatanganku kembali tiba di rumah. 
Beberapa jam kemudian, ia datang dengan sekuntum bunga di tangan sebagai penghormatan atas kedatanganku kembali ke rumah dengan selamat.

Sungguh, ia begitu sangat memberikan perhatian padaku.
Aku terharu walau aku hanya menyimpannya dalam hati.

Sejujurnya, itu kisah lalu ku.
Saat tulisan ini kubuat, ia sudah pergi meninggalkan diriku.

Kini, ia malah membenciku.
Sikapnya berubah drastis.
Hingga saat ini, aku tak pernah mengerti kenapa bisa seperti itu??

Ia yang sangat kucintai kini telah pergi.
Bersama laki-laki lain.
Aku tak mengerti dengan keputusannya itu.
Sebuah tanda tanya besar yang menghantui ku hingga kini....

Perjalanan ku kali ini adalah perjalanan yang lumayan panjang.
Juga merupakan perjalanan pertama ku keluar negeri.
Banyak sekali pelajaran yang bisa kupetik dan kuambil hikmahnya.

Dalam tulisan ini sengaja tak kuceritakan perjalanan saat melintasi Vietnam-Kamboja-Laos dan Thailand.
Alasannya?
Aku tak mau mengingat kejadian yang membuatku kecewa dan harus mengambil keputusan untuk meninggalkan teman seperjalananku serta memutuskan untuk melakukan sisa perjalanan seorang diri. 
Perjalanan ini akan kujadikan acuan untuk melakukan perjalanan lain ke luar negeri satu saat kelak.

Aku hanyalah seorang petualang miskin yang hanya mampu melakukan perjalanan dengan cara yang sederhana.
Yang ingin bisa mengambil hikmah dari setiap perjalananan yang kulakukan.
Tanpa ingin menjadikan perjalanan ini sebagai bahan pamer kehebatan atau pengalaman. 

Bagiku perjalanan yang baik adalah perjalanan yang bisa menjadikan kita bisa berpikir lebih baik lagi dalam menghadapi kehidupan berikutnya.

Aku bersyukur Allah masih memberikan kemudahan dan keselamatan pada perjalananku kali ini. 
Tak ada yang bisa ku lupakan pada Mu Yaa Allah yang Maha segalanya. 
Mudah-mudahan di masa mendatang aku bisa lebih sederhana, lebih bersyukur dan lebih selalu mengingat-Nya dalam melakukan perjalanan dan petualangan..
Aamiin....Yaa Robbal 'alamiin.....

ia yang selalu dalam hatiku

Ditulis: Jakarta, Maret 2013
Tulisan ini kenangan terakhir mengenangmu, tulisan ini aku dedikasikan untuk mu....Coni Tapak Erang

Iwansunter thanks to:
  1.  Allah SWT
  2.  Muhammad SAW, junjungan kita semua
  3.  Ibuku tercinta
  4.  Anakku George Leigh Mallory
  5.  Almarhum Bapak tercinta
  6.  Almarhum Adikku tercinta, Agus Setiawan aka Iwan Ketan
  7.  Kuwat Slamet abangku
  8.  Coni Tapak Erang, yg selama perjalanan ini setia menunggu kedatanganku
  9.  Coni Tapak Erang, wanita yang kucintai yang kini entah kemana….
  10.  Tina Apache di Malaysia
  11.  Jhon, atas tiket pesawatnya
  12. Yudi avtech
  13. Pak peter polygon
  14.  KBRI yang kusinggahi, utk melapor diri
  15.  Bapak pekerja di Malaysia asal Jember yang kutemui di masjid
  16.  Pak Edi di Malaysia
  17.  Polisi perairan Sekupang
  18.  Ragil malimpa solo
  19.  Balai Diklat Depkeu
  20.  Makopala Dimitri Jambi
  21.  Adit  jambi
  22.  Andi gumpalan dan gumpalan
  23.  Mapala Krakatau
  24.  Dung Tran, Ho Chi Minh
  25.  Rodalink
  26.  Jalan raya yang kulalui
  27.  Masjid yang kusinggahi
  28.  Pom bensin yang kujadikan tempat nginap
  29.  Suasana jalan yang enak dilihat
  30.  Jalan Raya vietnam, kamboja, laos, thailand, malaysia dan singapore
  31.  Mata tangan pundak dan kakiku
  32.  Kentut indahku
  33.  Handphone bututku
  34.  Dan semua yang ku tak bisa kusebut satu satu karena aku sudah ngantuk………………

6 comments:

Ahyar Stone said...

Perjalanan yg luar biasa. Kisah yang mengagumkan.
Semoga menjadi inspirasi bagi orang banyak.

Salam
Ahyar Stone di Batam
(Malimpa UMS)

patuanhandaka said...

salam hangat bg iwansunter, tulisannya sangat menginspirasi saya, dan semoga saya juga punya waktu, kesehatan, dan rezeki untuk berpetualang ke luar Indonesia, amin...

Regards,
don handaka,
"Pasid" 897/SPA/2010

Ilham said...

saya sangat terinspirasi sama ceritanya abang,
cuma memang aga kurang nyaman karena saya asli lampung, sementara anggapan bang iwan seperti menggeneralisir.
meski saya ga bisa berkata bahwa saya sepenuhnya orang baik juga sih, tapi apakah bang iwan ga pernah dibantu ama orang lampung ya? apa karena pengalaman satu, dan cerita beberapa orang sudah cukup untuk dijadikan kesimpulan ya?
saya berusah mengerti karena bang iwan sudah menjelaskan tidak bermaksud mendiskreditkan, dan percaya di antara mereka ada yang baik.
ekstrimnya bisa menjadi mungkin benar pernyataan kalo semua orang asli jawa itu baik, dan mungkin benar kalo menurut orang barat semua orang muslim itu teroris.
mudah-mudahan bisa jadi bahan intropeksi untuk saya sendiri agar bisa jadi lebih baik dan tidak membawa nama jelek bagi suku saya sendiri, amin.

Novadar Daris said...

wah bang iwan emang edan, haha!

iwansunter petualang utara said...

mas stone: makasih mas statementnya...
don: ya don makasih...
ilham:utk suku lampung yg menuju kampung anak sy emang mayoritas seperti itu,,kan sy udah puluhan thun daerah itu, sgt beda dgn lampung barat yg mayoritas mau bersahabat n menolong,,,,
daris: kalo ga edan ga asyik hehehehe

Momyairis said...

assalamualaikum.. menarik cerita ini walaupun sy kurang faham.. jauh sungguh perjalanan kamu.. sila lah ke Malaysia lagi lalu jalan ke pantai timur semenanjung.. by the way saya plan ingin bercuti ke jogja & bandung naik keretapi dengan keluarga kecil (4yo + baby)secara backpack ..harap kamu dapat menghubungi dengan sy di momyairis@gmail.com



salam dari Malaysia..