Friday, April 12, 2013

Menapaki bukit munara yg penuh sensasi dgn sepeda



Perjalanan pendek ini hanyalah sebuah pemanasan sebelum aku berangkat bersepeda dan mendaki 5gunung 2013. Rencana ini ku utarakan pada temanku, juned untuk menemaniku seminggu yang lalu saat aku dan juned berkemah di balkon rumah menghabiskan malam minggu. Dalam perjalanan ini aku berharap juned bisa ikut agar dia bisa membantuku mengambil gambar untuk dokumentasi perjalanan bersepeda dan mendaki bukit munara.
Perjalanan menuju bukit munara kurencanakan pada hari sabtu dan berangkat setelah aku selesai menuntaskan kerjaanku sebagai kuli panggul di pasar. Sedang pendakian ke bukitnya akan dilakukan pada tengah malam, karna pendakian ke bukit munara tidaklah lama, hanya memakan waktu sekitar satu jam.
Lalu sambil menunggu hari sabtu, aku berbagi tugas dengan juned, selaku pendamping dalam pendakian ini. Merencanakan apa saja barang yang aku bawa dan apa saja yang dibawa juned. Hal ini cukup penting juga agar kami tidak saling memberatkan barang bawaan dalam tas daypack yang akan kami bawa masing masing.
Singkat cerita, seminggu telah berlalu dari obrolanku dgn juned di balkon rumahku. hari itu hari sabtu tanggal 6 april 2013. Pagi2 aku bangun, semua perlengkapan yg akan kubawa sudah kupersiapkan dgn matang dan kutaruh dikamar. Lalu aku mandi dan sarapan pagi, sebelum akhirnya aku berangkat ke ujung gang pasar mendorong sebuah gerobak kayu yg sudah keropos dimakan terik matahari dan hujan.  Gerobak ini adalah sarana aku utk mempermudah membawa barang yg akan aku kuli ke toko2 dari mobil bok droping yg masuk ke gang pasar. Ya walau hanya sebuah gerobak butut tapi benda ini sudah sgt membantu pekerjaanku sebagai kuli angkut di pasar dekat rumahku tinggal.
Aku memang seperti ini, aku hidup dari pekerjaan kasar yg aku lakoni, tapi pekerjaan ini sudah membuatku bahagia, aku tak pernah iri dgn teman2ku yg bekerja asyik dikantor2 atau teman2ku yg sudah maju atas pekerjaannya, bagiku menikmati pekerjaan dan mensyukuri rejeki  yg seadanya adalah hal yg sederhana, namun mendamaikan hati. Bagiku pekerjaan adalah tanggung jawabku akan usaha mencari nafkah utk anakku dan membantu ibuku. Sekarang ini tak terlintas dibenakku utk menikmati hasil keringatku utk kemauanku atau ambisiku.  Aku tak pernah berpikir utk menjadi kaya atau mengada ada hidup dgn membeli barang2 mewah, yg ada diotakku, aku hanya ingin hidup sederhana dan mencari kedamaian. Apalagi setelah aku mengalami tragedi jiwa, hidup bagiku adalah berusaha utk ibadah, anak, ibu dan petualangan. Tak ada tujuan utk mencari sensasi hidup.
Dalam melakoni pekerjaan ini, disaat tengah hari aku berusaha sempatkan utk istirahat dan menunaikan dzuhur. Setelah itu kembali bertarung memeras keringat membawa barang ke toko2 dari mobil bok yg masuk ke gang pasar. Sedangkan Kalau sedang belum ada mobil bok yg masuk, biasanya aku nongkrong di bengkel dynamo sebelah gang, aku banyak bertukar pikiran ato guyon dgn pak haji sang pemilik bengkel. Keseharian ini aku lakukan dgn pemikiran mengalir saja tanpa ingin berpikir yg neko neko.  Bagiku nafas yg tersisa ingin aku manfaatkan dgn sebenarnya, aku ingin menjadi manusia yg menjalani hidup dgn apa adanya.. karna hidup bagiku Cuma proses menuju mati. Dimana didalam prosesnya kita harus mengerti menapakinya..
Tak terasa hari sudah menjelang sore, saat waktu menunjukkan ba’da  ashar, aku sudah bersiap siap, aku hanya menunggu kalau2 masih ada mobil bok yg masuk gang. Dan ternyata hari ini, lepas jam4 sore mobil bok memang sudah tak ada lagi yang masuk gang, lalu aku bergegas pulang, menyiapkan perlengkapan ke dalam daypack dan menyiapkan sepeda yg sudah  stanby di halaman rumahku.
Setelah semua beres, lalu aku pamit pada ibuku dan mencium tangannya, aku juga tak lupa pamit pada kakak perempuanku. Kakak yg sama2 berada dirumah ini, yg hidup bersama ibuku.
Dengan basmalah, aku mulai mengayuh sepeda menyusuri  jalan raya menuju parung, dimana aku dan juned sudah berjanji akan bertemu disana . namun baru 1km aku mengayuh sepeda, hujan turun rintik2 yg semakin lama semakin menjadi hujan walau hujan yg tak begitu deras, namun cukup membuat kaosku basah, diujung depok sana, dimana juned tinggal, juned mengabarkan bahwa depok sedang dilanda hujan deras .
Aku mengayuh sepeda melewati  rute areal PRJ, pasar baru, hayam wuruk, monas, thamrin, sudirman terus kearah ciputat. Dalam kayuhan ini, pikiranku melayang jauh 4bulan yg lalu, aku mengayuh dalam keadaan sedih, bayanganku mengingatkan aku saat mengawal coni yg sedang mengayuh sepeda dari sunter ke pamulang menuju  rumah kontrakan kakaknya setelah dia bersepeda ke pekalongan seorang diri. 


Coni adalah wanita yg sangat kucintai, yg telah menemaniku selama 9bulan, berbagi suka dan duka namun yg pada kenyataannya akhirnya dia pergi meninggalkanku dan berganti membenciku dgn alasan yg tak kumengerti dalam keputusannya yg janggal dan pikirannya yg berubah drastis. Dia mengambil keputusan dalam keadaan emosi dan dalam intervensi keluarga besarnya yg kurang menyukaiku. Dan akhirnya hubungan yg telah kami bina berakhir dgn tragedi jiwaku. Aku terpuruk dalam hidupku yg terluka. Padahal awalnya Cuma dari selisih yg bermula dari guyonan.. ah sungguh hal yg tak pernah aku sangka2 dan jauh dari nalarku. Hidup kadang emang aneh untukku.. sebuah cinta yg kuingin menjadi yg terakhir tapi berujung airmata..padahal aku mencintainya karna ALLAH swt..
Aku terus mengayuh dalam hujan, setiap kayuhanku aku merenung dan melayang jauh, aku membayangkan saat2  masih berdua dan bahagia dgnnya.
Jalur antara sunter ciputat pamulang adalah jalur kenangan yg tak pernah bisa kulupa. Jalur ini sudah tak terhitung kulalui bersamanya dalam deru motorku, asyik berboncengan dan penuh mesra. Setiap jengkalnya adalah nyanyian hati, nyanyian cinta, yg pernah tumbuh dgn sangat dasyatnya, terhadap coni. Tak ada yg indah dari jalur lain selain yg kulalui ini bersama coni dulu.
Saat aku memasuki ciputat, aku berhenti sejenak menepikan sepedaku, kaosku sudah sgt kuyub, badanku mulai kedinginan, lalu kaos dan sarung tangan kubuka dan kuperas agar air yg meresap bisa berkurang, setelah itu kukenakan kembali. Lumayan, bisa terasa lbh hangat daripada sebelum kuperas, lalu aku kembali mengayuh sepeda menyusuri jalan ciputat raya itu menuju parung.
Aku mengayuh  sudah melewati magrib, hari sudah malam dan sepeda aku pasang lampu belakang dan depan agar keberadaanku terlihat pengendara motor atau mobil di belakangku, aku  tak mau konyol, tertabrak kendaraaan lain karna tak adanya lampu belakang dan depan. Aku tetap mengayuh dalam jalan yg sebagian tak diterangi lampu jalan. Aku semakin berhati hati dlm mengayuh sepeda, karna baru kali ini aku bersepeda dalam malam dan dalam hujan. Dalam hatiku aku banyak berdoa agar perjalananku yg tak terlalu jauh ini tanpa kendala apa apa.
Saat melewati wilayah pamulang kayuhan kupelankan, aku sedikit mencoba menghikmah, mengingat tentang suasana dulu, suasana kenangan saat masih bersama coni. Bahkan aku teringat pada sebuah pom bensin dimana aku mengimami coni sholat magrib di musholanya. Ah sungguh mudah aku bersedih, terlalu tipis hatiku, waktu memang tak pernah bisa ditebak, kini aku lunglai dalam bayanganmu…



Aku kembali menguatkan kayuhanku, jalanraya yg kulalui kuhajar dgn kuat, aku mengayuh agak bergegas, aku ingin cepat sampai parung. Saat aku melewati sawangan dan persimpangan depok, aku kabarkan posisiku pada juned, dgn maksud dia juga cepat sampai diparung.tapi tak ada balasan, aku terus mengayuh dan baru berhenti saat aku tiba di parung. Aku menunggunya di depan salah satu minimarket.
Juned tetap tak ada kabar, hingga membuatku sedikit kecewa, dia tak mengontrol posisiku padahal seharusnya dia selalu mengontrol dgn melihat handphone nya, karna aku selalu mengirim sms. Akhirnya kuhubungi temanku yg lain yg tinggal di parung, abu..  Tanpa menunggu lama, dia membalas sms dan mengajakku utk minum kopi di mess tempatnya bekerja. Tapi karna aku lupa jalannya, akhirnya dia yg menuju tempat dimana ku menunggu juned. Tanpa menunggu lama aku menuju mess nya mengikuti dia yg menggunakan sebuah motor.  beristirahat sejenak, numpang solat dan minum kopi, sedang juned ternyata mengalami mogok motor dipersimpangan depok. Dia meminta bantuan bayu, temannya utk menariknya menuju mess abu.
Saat aku sedang santai menikmati  segelas kopi setelah usai solat, tak beberapa lama, juned dan bayu tiba. Lalu kami terlibat pembicaraan ringan. Aku mengatakan pada juned kalo perjalanan dilanjutkan tengah malam saja, biar kondisiku lebih fit setelah bersepeda hujan2an selama hampir 3jam.
Tanpa direncanakan, abu mengajak bayu utk ikut mendaki bukit munara, ikut pada perjalananku dan juned. Mungkin dalam hati abu dgn pertimbangan ingin menyaksikan sepeda sampai dipuncak munara, atau bagaimana gayaku saat sedang mendaki bersama sepeda, Mungkin… tapi yg jelas abu dan bayu sudah biasa main ke munara, bahkan lebih sering daripada aku yg masih belajar mencium munara.

Setelah hasilnya positif, abu dan bayu menyiapkan perlengkapan simple utk mendaki munara, jam setengah dua belas malam kami mulai bersiap berangkat, aku mengayuh sepeda, bayu sendiri dgn motornya, sedang juned terpaksa dibonceng abu karna motornya yg masih ngambek mogok dan terpaksa terdiam di parkiran tempat abu bekerja.
Dari persimpangan parung ciseeng, aku mengayuh sepeda dgn kawalan sorot lampu motor abu, sedang bayu melesat ke depan seperti ada yg dia cari. Aku terus mengayuh dgn sisa semangat, maklum selama ini aku tak pernah bersepeda semalam ini. Tiap tanjakan aku lalui dgn senyum yg mengantuk, keringat kembali membasahi tubuhku. Aku terus mengayuh mengikuti jalan yg membentang kedepan. Saat baru beberapa kilo aku mengayuh, abu mengisyaratkan berhenti, rupanya abu berbelok ke sebuah mini market pinggir jalan, dimana bayu sudah duluan berada disitu, rupanya mereka ingin membeli sedikit tambahan logistic utk bekal di munara.
Sebelum mereka selesai berbelanja, aku sms juned, kalo aku ingin melanjutkan perjalanan duluan agar aku tak menunggu lama. Dgn pertimbangan toh mereka bisa menyusul dgn cepat karna kecepatan sepeda  dgn mudah dikejar  kecepatan motor.
Kulanjutkan perjalanan bersepeda dimalam itu dgn menahan dinginnya, tiap kayuhan kurasakan dgn kesabaran agar aku tak patah semangat dan tetap bertahan dalam kayuhan yg konstan sampai desa dikaki bukit munara sana, apalagi jalan yg kulalui banyak terdapat jalan yg rusak parah yg membuat pantat terasa sakit saat melewatinya.  Aku terus mengayuh, dibelakangku abu sudah terlihat dan berusaha mengimbangiku dgn sorot lampu motornya agar aku dapat melihat jalan dgn baik, sedang bayu beriring dibelakang abu.
Malam itu adalah malam dimana aku pertama kalinya bersepeda dgn ritme yg tak kusukai. Bersepeda dalam dingin, melewati  jalan rusak, melewati tanjakan jalan rusak dan mengayuh dalam keadaan mata yg mengantuk. Sungguh hal ini adalah sejarah dalam kayuhan sepedaku.
Setelah sekitar 2jam mengayuh sepeda, akhirnya aku tiba di desa kaki bukit munara dan langsung ke rumah pak RT setempat disusul abu, juned dan bayu dibelakangku.  Rumah pak RT emang selalu dijadikan tempat menitipkan motor bagi pendaki yg ingin mendaki ke munara. Sedang aku yg masih pemula hanya mengikuti kebiasaan 3 temanku itu. Sejenaklah kami  beristirahat sambil menarik nafas agar lbh tenang, sebelum bergerak keatas.  Pak RT langsung terbangun, begitu mendengar suara motor yg memasuki halaman depan rumahnya, baginya hal itu emang biasa, apalagi kalau malam minggu seperti pas kami datang itu.
Sedikit bincang2 dan guyon adalah kebiasaan juned, wajahnya udah familiar dimata pak RT. Sedang aku yg hanya anak bawang mendengarkan saja obrolan mereka.
Abu yg merasa matanya agak sepet langsung membuka kopi saset dan mengambil airpanas yg ditawarkan pak RT. Abu dan pak RT lalu minum kopi together, aku hanya ngerecokin kopinya abu aja, sedang juned dan bayu sibuk mempersiapkan perlengkapan. Pak RT ini emang  punya kebiasaan membawa air putih, gelas dan termos kalau ada tamu pendaki yg datang, lumayanlah begitu sambutannya, walau sedikit agak okem dan gaul..


Setelah segelas kopi ludes ditenggorokan abu, dan motor sudah aman dalam posisi parkir, lalu kami pamit pada pak RT utk memulai pendakian. Headlamp kami gunakan dimasing2 kepala kami, lalu Kami berjalan beriringan menapaki jalan desa itu lalu menyebrangi sebuah jembatan kecil yg dibawahnya mengalir sungai yg tak terlalu lebar dan tak dalam. Sepeda aku papah dgn hati2 seperti menggandeng wanita jelita yg kucinta agar tak benjut terkena benturan batu, apalagi saat jalan sudah mulai menanjak, sepeda kupanggul dgn lebih hati2 agar tak menyangkut alang alang atau aku terpeleset dan mencium tanah. Begitulah memang, pendakian membawa sepeda memang harus ekstra hati2, pemahaman dan penjiwaan terhadap sepeda memang harus terekam dgn baik dlm diriku. Dan walaupun yg sedang kudaki adalah sebuah bukit dan waktu pendakiannya tak memakan waktu lama, tapi bagiku pendakian seperti ini tetap haruslah serius, aku bukanlah tipe pendaki yg meremehkan keadaan karna ketinggiannya yg tak sampai 1000 mdpl itu. Pemikiran seperti inilah yg harus selalu kujaga, karna dgn pemikiran seperti  ini, aku tak mau mengalami hambatan di sebuah pendakian. Aku juga tak mau bergumam dlm hati bahwa aku pernah mendaki membawa sepeda ke gunung yg lebih tinggi dan lebih sulit, aku hanya ingin berpikir bahwa pendakian yg kuhadapi didepan mata adalah pendakian yg harus serius, walaupun Cuma sebuah bukit. Mudah2n pemikiran ini bisa menular kepada teman2 pendaki lain,,  intinya kita dilarang angkuh didalam alam bebas walau sekalipun kita sudah mendaki berpuluh2 gunung..
Malam dini itu terus merambah, kakiku mulai berat, trek pendakian terus menanjak, setapak yg kulalui  becek dan agak licin karna bekas curahan hujan. Sandal yg kupakai sepertinya sulit menapak dgn baik, ku lepaslah lalu kumasukan ke sebuah plastic kresek dan kuikat diboncengan sepeda. Aku sepertinya lebih nyaman mendaki dgn “nyeker”, krna dgn begitu aku bisa melangkah lebih leluasa.
Setapak demi setapak kulalui pendakian itu dgn tumpahan keringat yg terus mengalir, beban yg kubawa lumayan berat. Perlu sedkit info, sepeda yg kubawa adalah polygon jenis extrada 2.0 yg pernah kulihat di brosur berat nya 15kg, sedang sepedaku itu sudah kutambah boncengan dan botol air minum, jg kaos, sandal dan pompa yg kuikat di boncengan, mungkin perkiraanku beratnya hampir 17kg. lumayan berat utk hitungan mengangkat sepeda dalam sebuah pendakian.. karna selama ini ada beberapa pendaki  yg pernah mendaki gunung membawa sepeda, beban sepeda  yg dibawa adalah sepeda yg lbh ringan dari sepedaku, rata2 biasanya antara 8 – 12kg, belum lagi mereka biasanya membawa sepeda bergantian atau menyewa porter. Belum lagi ada pendaki yg mempreteli bagian sepeda menjadi beberapa bagian, lalu akan dirakit kembali saat telah tiba dipuncak, entah apa maksudnya,atau kebanyakan dari mereka utk menuju gunung yg akan didaki, sepeda biasanya dibawa menggunakan mobil pribadi, menumpang bus atau kereta api. Tidaklah dgn aku, aku selalu menjaga idealisme yg ku anut, aku selalu membawa sepeda yg akan kubawa mendaki gunung, selalu kukayuh dari Jakarta sampai kaki gunung dan pulang juga kukayuh, bagiku pendakian yg benar dan mempunyai arti kepuasan batin, ya seperti itu… namun jujur bagiku, aku pernah menumpang kendaraan umum saat aku pertama kali mengayuh sepeda jarak jauh, saat itu mentalku tergoda akan kendaraan umum, mengingat jalan yg akan kulalui kedesa terakhir gunung adalah menanjak dan sepi, yaitu dari aikmel  ke desa sembalun di Lombok sana namun kembali tetap kukayuh, selebihnya semua perjalananku selalu kukayuh tanpa ada bantuan kendaraan lain, pengalaman menjadikan aku lebih kuat dan memegang teguh idealisme  perjalanan.  Kini aku sudah mendaki 18 gunung dgn membawa sepeda dan akan kulanjutkan hingga mencapai 20 gunung, sebagai tahap awal rencana pendakian dgn sepeda, kedepannya semua gunung yg sekiranya asyik diambil gambar dgn sepeda akan aku kunjungi. Karna bagiku mendaki dgn membawa sepeda lbh menantang dan melatih kesabaran daripada mendaki gunung yg Cuma membawa ransel saja.
Malam kian dini, aku mendaki di urutan belakang, abu dan bayu kusuruh mendaki duluan sedang juned didepanku. Gelap yg dingin itu membuatku mulai terasa letih dan lapar, mungkin ini akibat aku yg mengayuh sepeda dari sunter hingga parung dalam keadaan hujan2an. Sebentar aku berhenti sejenak dan mengambil beberapa potong kue yg kubawa, setelah itu kembali aku melangkahkan kaki mengikuti trek pendakian yg terus menanjak… bukit munara yg mempunyai ketinggian tak mencapai 1000 mdpl, namun trek pendakiannya mampu membuat mata terpukau, karna di jalur pendakian itu kita akan melewati batu2 besar, lorong pendek berbatu atau tebing batu yg lumayan tinggi. Juga kita akan menemui sebuah goa yg asyik utk dijadikan tempat menginap jika kita ingin beristirahat.
Dan.. setelah mendaki yg lumayan letih dgn cucuran keringat dan menahan rasa kantuk, akhirnya aku dan ketiga temanku itu sampai dipuncak bukit munara sebelum subuh,  juned langsung memasang tenda, sedang bayu melilitkan flysheetnya ditiang tiang sebuah saung yg ada dipuncak,  yg kami jadikan tempat beristirahat utk menahan angin.  Tas tas daypack kami, kami buka, semua logistic dikeluarkan, begitu juga peralatan memasak. Aku yg merasa letih, duduk terpaku disudut saung menatap dini yg masih gelap, sambil merenungkan pendakian pendek ini dgn menghikmah ulang. Akhirnya aku bisa menuntaskan sedikit emosi dan ambisi tentang bukit munara ini…
Setelah tenda dome terpasang, juned mulai sibuk memasak air panas utk membuat kopi sebagai teman pendamping dingin. Sedang bayu dgn kompor gas satunya, dia memasak cireng dan sejenis kue otak2.. mereka memasak sambil bincang2 dan bercanda apa adanya. Sedang aku tetap sendiri  didepan mereka, menyantaikan tubuh yg lelah, sambil menikmati suasana puncak munara.
Saat air yg dimasak juned telah mendidih, aku langsung bergegas membuat white coffe, bagiku meminum segelas white coffee di udara dini itu adalah kenikmatan yg tiada tara, apalagi ditambah sebatang rokok sebagai teman merenung. Keindahan yg sesungguhnya terekam disini walau yg sedang aku daki hanyalah sebuah bukit. Bagiku semuanya ini adalah tetap keindahan yg Maha Kuasa yg menghiasi kedamaian hati. Aku mencintai alam terbuka karna aku mengakui akan kebesaranNYA. Dan aku bersyukur atas segala nikmat yg telah diberikan Allah pada kehidupanku ini…
Tak lama aku merebahkan diri, memanjakan kantuk dimata dgn berselimut sarung, sedang ketiga temanku asyik terus berbincang. Aku berusaha utk tertidur agar fisikku tak lemah, utk mengayuh sepeda kembali ke Jakarta. Akupun mencari mimpi walau sebuah mimpi yg singkat ataupun  tak indah…..


Aku terbangun saat hari sudah memperlihatkan terangnya, ketiga temanku ternyata sudah menggila  dgn mengambil pose foto yg menurutnya  mungkin keren.  Bahkan juned lbh sedikit gila, tenda dome dia angkat lalu dia pindahkan keatas sebuah batu, lalu mengambil gambar dgn background pemandangan nan indah kebawah sana. Mereka  bertiga terlihat sibuk, kaya foto model dan fotographer beneran,  padahal mah kacangan hehehehe…  aku pun bangun beranjak dari saung, lalu kuangkat si polygon ke atas batu besar, tapi karna susah aku minta bantuan juned, masalahnya kalau salah angkat, aku bisa terjatuh ke jurang yg dalamnya bikin kepala puyeng tujuh turunan, atau bahkan hidupku bisa selesai.
Diatas batulah, fotoku terimajinasi dgn baik, gagah benar sepertinya aku, seperti foto2ku dipuncak gunung lainnya yg pernah kudaki. Sebuah pendakian yg lengkap bagiku,jika pendakian itu aku bisa dokumentasikan, aku dan sepeda di puncak dgn gambar yg baik. Paling tidak hal itu adalah tambahan motivasi hatiku utk mengunjungi gunung2 lain. Dan memberi rasa kangen satu saat nanti jika kembali melihat foto2 itu.. setelah puas aku mengambil gambar, kutawarkan ketiga temanku utk berfoto  juga dgn si eks keliling Sulawesi 2010 itu, polygon extrada 2.0 , sepeda yg menurutku sgt bersejarah, yg juga pernah dibawa coni bersepeda dari  sunter ke pekalongan, sepeda yg tak mungkin kujual walau ditawar 10juta sekalipun, kecuali otakku lagi semprul ….
Setelah lelah dgn macam gaya dari pengambilan gambar itu, aku kembali duduk disaung dgn santai menanti waktu yg pas utk kembali turun bukit. Kembali juga ketiga temanku nyantai disaung,  sambil sedikit guyon dan bincang2 ngalor ngidul..lalu juga memasak air panas utk kopi dan membuat mie…
Sekitar jam 10 lewat, matahari sudah mulai berangkat tinggi, aku mengajak juned utk bersiap utk turun dan juned pun membereskan tendanya yg Cuma ditiduri bayu saat dia lelah, sedang aku dan lainnya packing barang2 yg kami bawa ke dalam daypack masing2. Dan tak memerlukan waktu lama utk bersiap karna kami masih mempunyai kesibukan masing2 setelah dari bukit munara ini, paling tidak melepas lelah dahulu setelah sampai di rumah nanti..
Setelah semuanya siap, kami pun melangkah menuruni bukit, aku kembali memeluk sepedaku menuruni dgn lebih hati2 karna perjalanan turun lebih bahaya daripda perjalanan mendaki. Sepeda bisa saja terbanting jika aku terpeleset atau terbentur batu2.. belum lagi sepeda bisa tersangkut pohon2 kecil atau alang2. Perjalanan turun ini aku lebih serius menatap jalan setapak yg kulalui. Waspada tingkat tinggi…
Aku sengaja memilih turun paling belakang, abu dan bayu berjalan didepan, sedang juned membantuku mengambil  video perjalanan turun itu dgn menggunakan handphone nya,  sekedar iseng dan selingan perjalanan turun, sambil ngobrol ngawur. Pelan tapi pasti langkahku terus menuju bawah,  tiap jengkalnya aku menahan lelah dan rasa kantuk yg masih ada.  Dalam perjalanan itu aku kerap berpapasan dgn pendaki lain, rupanya hari itu byk penikmat munara berdatangan.
Selama perjalanan turun itu juned sibuk sekali memegang handphone nya  mengambil gambar video, aku terus saja turun sambil tetap ngobrol dgn juned, bercerita tentang pendakian yg lalu atau rencana pendakian yg akan datang, atau rencana kemping di balkon rumahku lagi. yg tentunya  perjalanan itu tak terasa..


Dan tanpa halangan yg berarti dan karna memang perjalanan turun itu tak memakan waktu yg lama, akhirnya aku juned , abu dan bayu sampai di pinggir kali desa. Kami pun langsung membersihkan kaki, sandal  dan tangan yg kotor, sedang aku juga membersihkan ban sepedaku yg kotor akan tanah yg menempel. Di ujung kali sana, abu dgn asyiknya buang hajat dgn khayalan tingkat tingginya…
Setelah selesai membersihkan dari kotoran yg menempel, kami meninggalkan kali menuju rumah pak RT, sampai disana tanpa berlama lama ketiga temanku itu mengambil  motor dan pamit pulang sambil memberikan sedikit duit sebagai biaya parkir…….
Munara sudah selesai, munara sudah memberikan letih dimataku….
Sepeda kembali kukayuh, perlahan kutinggalkan rumah pak RT didesa kaki bukit munara itu, jalan desa yg tak beraspal mulai tersentuh lagi roda sepedaku. Dari desa itu aku terus melanjutkan mengayuh melewati  jalan yg tadi malam aku lewati menuju arah parung. Aku tetap masih ada semangat walau kayuhanku menahan rasa lapar dan kantuk. Sebenarnya aku mempersilahkan ketiga temanku itu utk meninggalkanku, tak usah menunggu dan mengawal ku dibelakang, aku tak mau menjadi beban bagi mereka, tapi mereka tak mau dan tetap memacu motornya pelan di belakangku.
Ketika aku sudah mencapai pertigaan ciseeng parung yg merupakan sebuah pasar, jalan disitu macet hingga temanku tak bisa dekat dgn posisiku, sedang aku bisa selap selip diantara macetnya kendaraan yg berjejer dan aku terus meluncur begitu sudah berada di jalan raya parung ke arah ciputat. Bayanganku langsung sedih mengingat jalan raya itu yg pernah aku lewati saat berboncengan dgn coni dulu saat menuju bogor, sehingga aku terus mengayuh meninggalkan temanku yg entah dimana, aku bermaksud utk terus melaju pulang tanpa harus mampir ke tempat mess abu seperti saat aku berangkat.. dan aku  berhenti sejenak saat juned menelpon aku bertanya tentang posisi keberadaanku, aku langsung menjawab dan mengatakan kalau aku terus mengayuh dan melanjutkan langsung pulang ke arah ciputat.


Setelah mengucap terima kasih dan salam kepada juned, aku kembali mengayuh sepeda, kecepatan sepeda kupercepat, perutku semakin lapar, aku ingin segera tiba di lebak bulus. Ada yg aku tuju disana. Jalan raya parung menuju ciputat, aku lewati dgn serius, aku mengayuh dgn  kecepatan konstan dan penuh hati2.  Akhirnya dgn kesabaran dalam kayuhan yg menahan rasa lapar itu, aku tiba di lebak bulus, aku langsung menuju sebuah jalan kecil disamping terminal. Disitu aku mampir pada sebuah warung mie ayam, aku benar2 rindu pada tempat ini, bagaimana tidak, dulu saat aku masih menjalin hubungan dgn coni, kami hampir tiap minggu selalu singgah disini utk makan mie ayam bersama, hingga sang penjual mie itu yg merupakan suami istri hafal dgn wajah kami berdua.
Namun saat aku memesan semangkuk mie dgn membawa  sepeda seorang diri, secara spontan sang penjual bertanya padaku menanyakan, kenapa aku sendiri tanpa coni, lalu aku jawab bahwa kami sudah berpisah, aku sudah diputus dan ditinggalkan pacarku itu, sontak saja mereka berdua kaget tak percaya, maklumlah dulu aku dan coni selalu terlihat mesra seperti tak ada masalah, bahkan aku sendiri  sgt yakin kalau aku kelak pasti bisa menikah dgn coni, ya tapi apa daya, takdir berbicara lain, aku dihempaskan dan di tinggal pergi. Sang penjual mie ayam itupun Cuma bisa berkata dan menyabarkan hatiku. Aku diam dan  hanya membisu sambil membawa semangkuk mie yg sudah terhidang menuju bangku di pinggir jalan yg agak menjauh. Aku menikmati mie ayam dalam bayangan kenangan yg selalu kuingat dan tak mungkin bisa kulupa. Berkhayal kalau coni masih bersamaku dan makan mie disebelahku.. dan akupun mulai gila lagi…..
Setelah mengucap terimakasih dan membayar, aku sempatkan menitipkan salam pada sang penjual mie ayam itu, kalau saja suatu saat coni singgah kesitu, aku masih rindu padanya.
Dan akupun kembali mengayuh sepedaku menuju arah pulang menuju sunter. Kayuhanku  dari lebak bulus itu melewati jalanraya yg ke arah blok M, senayan, sudirman, thamrin, monas,  gunung sahari, PRJ dan terus ke sunter. Selama perjalanan menyusuri jalan raya Jakarta itu, aku tak mendapatkan halangan yg berarti hingga aku tiba dirumah dgn selamat.. Alhamdulilah perjalanan pendek yg  kurancang ini akhirnya selesai dgn baik, walau pada awalnya aku merasa sedikit ragu, mengingat saat keberangkatan dari rumah aku mengayuh sepeda dalam keadaan hujan yg membuat semangatku agak kendur. Dan akupun mencari ibuku utk mencium tangannya menandakan aku sudah pulang dgn selamat..

Munara dirimu adalah bukit yg mempesona, seperti  bayangan coni yg selalu menghantuiku.. munara dirimu adalah bukit yg penuh kharisma, satu saat aku pasti masih ingin bermain ditubuhmu, karna aku mencintaimu, karna aku tahu dirimu layak utk dicintai…
Semoga kedepannya, aku bisa menjadi manusia yg bisa lebih bijak dari mengambil  hikmah setiap perjalanan2 yg aku lakukan, amiiin…


Tulisan ini aku dedikasikan utk coni tapak erang, wanita yg sangat aku cintai....
semoga dirimu mengerti ade...



    Iwan thanks to :

   1.       Allah yg Maha Besar
   2.       Muhammad, junjungan kami, manusia yg paling lembut.
   3.       Almarhum bapakku tercinta
   4.       Almarhum adikku tercinta
   5.       Ibuku tercinta
   6.       George Leigh Mallory, anakku permata hatiku
   7.       Coni tapak erang, wanita yg masih dan selalu kucintai
   8.       Sepeda polygon extrada 2.0
   9.       Juned elpiji
  10.     Abu
  11.     Bayu
  12.     Jalan raya antara sunter pamulang, yg penuh kenangan dan airmata
  13.     Handphone bututku
  14.     Mata pundak tangan dan kakiku
  15.     Warung mie ayam samping terminal lebak bulus yg penuh kenangan
  16.     Kentut indahku
  17.     Semua bayanganmu yg membuatku menangis…..








2 comments:

edealliawiza a lestari said...

keren bang,,,jadi pengen jajalin kesana+mie ayam nya,,,enak gak tuh?

Somad Firdaus said...

Bamg iwan sunter....sunter mana nya bang