Tuesday, November 29, 2011

Coretan Perjalananku JALAN KAKI JAKARTA - GUNUNG SEMERU - JAKARTA 2011 (Part 1)

Rencana ini sudah kupikir sejak tahun 2007, setelah aku melakukan perjalanan sepeda ke pulau bali dan mendaki 3 gunung. Sebuah perjalanan yang sebenarnya diluar kemampuanku. dimana perjalanan ini adalah perjalanan yang belum pernah aku lakukan tanpa tahu apa resikonya. aku sebelumnya belum pernah sekalipun jalan kaki jarak jauh walau hanya sebatas jakarta-bogor. jadi perjalanan ini adalah perjalanan yang kulakukan dengan bermodal semangat baja saja. apalagi aku juga ga tau tentang kekuatan kaki ku dalam berjalan kaki, berapa lelah yang akan kudapat dan berapa kuat aku bertahan berjalan dalam seharinya.
Tahun 2011 ini baru bisa aku realisasikan, itu karna dari 2007 sampai tahun 2010 aku masih ada rencana lain yang ku anggap lebih utama untuk didahulukan..
Sebenarnya perjalanan ini adalah perjalanan yang cukup nekat, bagaimana tidak, aku gagal mencari dana dari pengajuan proposal yang aku ajukan ke perusahaan2 yang aku pikir bisa untuk diajak kerjasama.
mungkin mereka berpikir kalo perjalananku ga layak di dukung walau perusahaan tsb kalo beriklan tentang adventure atau olahraga jalan kaki.
bahkan lsm yang terkenal, yang rencananya ingin kuajak untuk bergabung ga ada jawaban dari proposal yang ku ajukan, padahal perjalananku bertema berjalan untuk bumi dalam memperingati hari bumi tanggal 22 april. maksudku biar perjalananku bisa terekspos dengan baik dan menjadi inspirasi orang lain. karna lsm ini sangat berpengaruh bagi publik. lsm ini adalah lsm besar. tapi nyatanya lsm ini adalah lsm payah...capek deh, gada duitnya ya makanya gamau gabung..

Hanya tekad yang kupunya untuk merealisasikan perjalanan jalan kaki ini, bagaimana tidak, seminggu sebelum berangkat, aku belum dapat dana. akhirnya dgn terpaksa sepedaku yg kurus, aku jual seharga 300ribu. Dan sampai aku berangkat aku hanya membawa duit 500ribu dengan tambahan 200ribu dari temanku yang wakil camat koja. tapi aku tak lupa menghubungi abangku agar bisa membantu pendanaan untuk perjalanan ini via transfer rekening bank, sebagai dana cadangan kalo ada apa2 dijalan.
Akhirnya dengan dana seadanya, hari minggu tanggal 24 april pagi aku mulai melakukan perjalanan jalan kaki ini.

Perjalanan arah berangkat sengaja aku pilih menyusuri jalan pantura yang melewati  cikampek pamanukan lohbener cirebon tegal pemalang pekalongan semarang pati rembang tuban brondong gresik surabaya hingga pasuruan.
perjalanan jalan kaki perhari aku hanya mampu mencapai jarak 40 - 50 km, berbeda dengan perjalanan yang menggunakan sepeda, sehari bisa mencapai 200 - 250 km.

Perjalanan jalan kaki ini aku bertumpu pada sebuah sandal dan pembalut wanita yang kuletakkan di telapak kaki dan di tutup kaos kaki. karna ternyata jalan kaki mempunyai efek yang sangat berbeda dengan bersepeda, dimana telapak kaki akan cepat panas dan bisa melepuh hebat. hal inilah yang menjadikan alasan kenapa berjalan kaki jarak jauh membutuhkan pembalut wanita. dengan pembalut wanita, telapak kaki akan terasa empuk dan nyaman saat melangkah.
dan satu lagi, penggunaan sepatu tidak layak untuk perjalanan jalan kaki jarak jauh, karna sepatu lebih memberikan efek yang lebih tidak baik bagi kesehatan kaki. yaitu kaki akan lebih cepat panas dan membuat jari kuku perih dan mengelupas. mungkin karna faktor ujung jari akan sering membentur ujung sepatu dan tidak adanya ventilasi udara.
jadi sandal adalah pilihan yang paling tepat dalam melakukan perjalanan jalan kaki jarak jauh, lebih fresh dan lebih nyaman, hanya saja kita akan membutuhkan banyak sandal untuk berjalan itu.

Dalam perjalanan ini, aku juga harus bisa mencari tempat nyaman saat aku beristirahat malam hari. maksudnya tempat pemberhentian disaat jalan kaki akan berbeda.
dengan bersepeda yang biasa aku lakukan selama ini.
biasanya disaat bersepeda, terutama dipulau jawa ini, aku akan lebih sering berhenti di titik2 yang kuanggap tepat seperti kantor polisi atau mesjid dan sekretariat mapala sebuah kampus. tapi karna perjalanan jalan kaki ini hanya dapat menghasilkan jarak hanya 40km perhari, maka aku akan lambat sampai tujuan suatu kota yang biasanya lebih cepat dengan bersepeda.
makanya kuambil keputusan kalo aku harus menyamakan tempat bermalam tanpa harus beristirahat pada tempat yang semaunya seperti bersepeda. maka dengan pengalaman dijalan yang aku lakukan, aku memilih bermalam pada setiap spbu yang ada dipinggir jalanraya, karna dengan pertimbangan spbu adalah tempat umum yang selalu ramai dan bersahabat bagi siapa saja, pengendara ato orang yang ingin beristirahat di tempat itu. hanya saja aku harus lebih sedikit waspada dengan barang bawaanku, mengingat di spbu banyak pengunjung, baik pengendara motor, mobil pribadi atau truk.
Di spbu aku akan memilih beristirahat di musholanya, tentunya dengan meminta ijin pada petugas spbu sebelumnya.
Memilih bermalam di spbu adalah hal yang tepat untuk perjalanan jalan kaki ini, lebih bebas dan nyaman. daripada aku harus singgah dikantor polisi dan masjid. dimana kalo singgah untuk numpang bermalam di dua tempat itu, sangatlah malas, maklum dikantor polisi banyak sekali pertanyaan curiga dari petugas jaga, sedang mesjid selalu saja dicurigai akan
keberadaanku saat tidur di areal masjid. intinya aku sudah hapal pahit getirnya kalo bermalam di dua tempat itu..
sebuah perjalanan jarak jauh intinya, kita harus bisa mencari kenyamanan dan kebebasan saat beristirahat malam hari.

Dari pasuruan aku berjalan menyusuri jalan yg menuju arah gunung bromo. ya untuk menuju ke gunung semeru aku memang sengaja ingin melewati bromo. aku rindu pada lautan pasirnya, aku ingin menyebrangi lautan pasir sampai ke desa ranupane dikaki gunung semeru. aku pernah ke bromo tahun 1997, jadi wajar kalo aku merundukan bromo kembali, mengingat keindahannya layak untuk dinikmati berulang kali.

Dari pasuruan aku menyusuri jalan yang kian lama kian menanjak. jarak yang tidak aku ketahui antara pauruan - gunung bromo membuat rencanaku berubah. mulanya aku pikir aku bisa mencapai bromo dalam sehari dan berniat bermalam dekat bromo. tapi kenyataannya jarak pasuruan - bromo cukuplah jauh, dan lagi jalan terus menanjak.
menjelang isya aku tiba di sebuah dusun, aku bermalam pada sebuah mesjid, setelah aku minta ijin pada pengurus mesjid.
di dusun ini cuaca lumayan dingin hingga aku tidur yang hanya berselimut sarung, harus tidur tanpa nyenyak. pagi subuh pun saat mengambil air wudhu terasa sekali dingin air itu. sungguh malam pertama di areal kaki gunung yang dingin.
Setelah pamit pada pengurus mesjid dan berterima kasih, aku melanjutkan kembali perjalananku. jalan kian lama kian menanjak, tapi aku tetap bersemangat dan menikmati perjalanan itu hingga akhirnya aku tiba di simpang dingklik sebelum dzuhur. disini aku beristirahat sebentar melepas lelah, mengatur nafas dan sambil menikmati pemandangan gunung bromo dan batok dibawah sana dgn hamparan lautan pasirnya.
Setelah kurasa cukup beristirahat, aku langsung menuruni jalan yang berliku hingga sampai dibatas lautan pasir jam 12.30 . tadinya aku berniat kembali untuk bermalam di dekat bromo tapi mengingat waktu yang masih siang maka kuputuskan untuk terus melanjutkan perjalanan menyebrangi lautan pasir hingga sampai ranupane, desa di kaki gunung semeru.
Dalam perjalanan mengarungi lautan pasir, aku kadang tak bisa melihat jalan dengan jelas dikarenakan kabut yang menghalangi pandangan mata. tapi semuanya ga menyurutkan aku untuk terus melangkah walau aku berjalan seorang diri di lautan pasir yang luas. kadang memang aku berpapasan dengan penduduk yang mencari rumput tapi aku lebih banyak melewatinya dengan suasana sepi.
Akhirnya keinginanku untuk menyebrangi lautan pasir dari kawasan bromo menuju ranu pane tercapai, aku bisa mengekspresikan nya dengan penuh hikmah.
aku juga merasa nikmat bisa solat ditempat yang sepi dan sunyi, sungguh ini sebuah kebebasan yg indah dalam berpetualang.
menjelang magrib aku tiba di ranupane dengan gelap yang mulai datang.

Ranupane adalah desa kecil yang lumayan ramai di kaki gunung semeru yang masuk dalam kabupaten lumajang, dari desa inilah rencana pendakianku ke puncak semeru akan ku mulai.
malam ini aku bermalam di pondok pendaki yang telah disediakan oleh pengelola taman nasional bromo tengger semeru. disini udara begitu dingin, dan menjadikan aku tak bisa membuat mimpi dengan indah. aku hanya bisa meringkuk dalam sarung yang kugunakan sebagai senjata pamungkas menahan rasa dingin.

Dalam perjalanan jalan kaki ini memang sengaja aku hanya membawa peralatan sesederhana mungkin agar aku bisa bergerak dengan beban yang tak berat.
mulanya memang aku berniat untuk membawa lengkap peralatan pendakian tapi disaat aku melakukan simulasi perjalanan jalan kaki dari sunter ke rumah dinas abangku di bintaro, aku bisa mengambil kesimpulan bahwa melakukan perjalanan jalan kaki, aku harus membawa beban seringan mungkin karna kalo beban yang kita bawa berlebih dan berat maka tekanan gravitasi pada kaki akan lebih terasa cepat pegal dan otomatis telapak kaki kan panas dan cepat melepuh. belum lagi pundak aku kan terasa pegal yang membuat perjalanan ga nyaman karna akan selalu istirahat untuk melepas lelah pundak.

Dengan keputusanku yang membawa beban seringan mungkin itu, aku mengabarkan temanku yudi avtech, menjelaskan kalo peralatan gunung yang di sponsorinya tidak semua aku bawa untuk memperingan beban. dan aku berjanji untuk membuat dokumentasi yang menonjolkan logo avtech selama perjalanan.sedang peralatan yang tidak aku bawa, yang sudah di sponsorinya akan kugunakan pada perjalanan bersepeda berikutnya.
intinya aku tetap menjadi petualang yang setia pada avtech yang telah mendukungku dan selalu mendukung setiap perjalanan2ku. terima kasih banyak avtech, padamu aku selalu loyal dan tetap menjaga loyalitasku ini.
Jadilah malam itu aku hanya tidur dengan sarung tanpa hangatnya sleeping bag dan matras.

Walau malam aku tidur kedinginan tapi sebenarnya merasa puas, aku bisa merasakan kembali suasana pegunungan yang segar yang damai, tidak seperti suasana kota yang semrawut dengan polusi yang menyesakan pernapasan,
Dan perlu diketahui sebenarnya aku juga rindu akan suasana dingin yang menggelisahkan disaat tidur.
Aku jadi teringat saat aku masih permulaan mendaki dan mengenal gunung. aku selalu melakukan pendakian dengan sangat minim peralatan, aku hanya mengandalkan sarung dan jaket tanpa pernah tidur dalam tenda dengan sleeping bag yang hangat. mengalami dingin malam adalah makanan kebiasaanku tiap saat mendaki. bahkan tidak jarang aku tidur dalam keadaan hujan yang hanya tertutup ponco, sebuah jas hujan yang bisa dibuka lebar.
Semuanya adalah masa lalu, sebuah masa dimana aku ditempa oleh keadaan yang sangat sederhana dan pengalaman minim digunung yang membuatku kuat terhadap suhu dingin gunung.

Esoknya aku bangun terasa segar, aku duduk  didepan pondok pendakian sambil berjemur sinar matahari pagi. kupandangi alam desa ranupane dekat pos pendakian, sungguh sebuah suasana desa yang damai. rasanya membuat betah untuk menikmati suasana yang tidak ada di kota ini.
dengan segelas kopi hangat kunikmati pagi sambil merenung indahnya pagi, segarnya udara juga persiapan untuk mendaki nanti.

Setelah puas berjemur, aku menuju pos pendakian untuk mendaftar perijinan pendakian, namun karna hari itu tidak ada sama sekali pendaki yang akan naik maka aku disuruh menunggu. aku dilarang melakukan pendakian seorang diri walau aku merasa berani dan sanggup untuk mendaki sendiri.
Dengan terpaksa aku menuruti peraturan yang ditetapkan petugas dan jadilah hari itu aku seharian menghabiskan waktu dengan santai dan berjalan jalan di sekitar pos pendakian.
tapi aku juga berjanji akan melakukan pendakian nekat sendiri tanpa ijin jika esok hari tidak ada pendaki yang datang. karna aku berpikir bahwa aku harus cepat menyelesaikan misi perjalanan jalan kaki ini yang menjadikan gunung semeru sebagai titik akhir ujung timur aku berjalan.
aku tidak mau berlama lama di ranupane untuk menunggu pendaki yang datang karna aku masih mempunyai jarak perjalanan yang masih jauh menuju pulang ke jakarta.

Dengan bersabar akhirnya benarlah seharian aku hanya bisa menunggu dan menunggu. dan malam pun kembali datang mengantarkan sajian udara dingin kembali pada tubuhku yang hanya berbalut sarung.


Di ranupane aku hanya sendiri, belum ada pendaki yang akan mendaki karna itu aku dilarang untuk mendaki walau aku sanggup melakukan pendakian sendiri.
esok paginya, aku kembali bangun dan langsung berjemur sinar matahari agar badanku hangat setelah semalam udara dingin menemani tidurku..
sambil nongkrong aku memandangi kebun2 penduduk yang menghampar di depan mata, sungguh damai suasana disini.andai saja aku tinggal disini rasanya mungkin aku betah dan mencintai kedamaian ini.
Lamunanku buyar tatkala sebuah truk berhenti di pos pendakian. dua pendaki turun dengan membawa ransel yang cukup besar. rupanya hari ini aku di takdirkan untuk mendaki juga tanpa harus menunggu lama. akhirnya ada juga pendaki yang datang sehingga aku dapat mendaki bersama.
kuhampiri mereka dan mencoba untuk kenalan. aku bertanya tentang asal mereka dan kapan mendakinya.
Ternyata mereka berasal dari bekasi dan akan mendaki segera mungkin setelah mendaftar ijin pendakian di pos jaga..setelah cukup kenal, akhirnya kami sepakat mendaki  bersama. akupun mengambil tasku dan mulai mempersiapkan pendakian.
Dua teman baruku itu bernama deden dan agun, tanpa ada kendala kami bertiga langsung terlihat akrab dan bisa menyesuaikan keadaan dan perasaan masing2..

Sekitar jam 8 pagi, setelah mempersiapkan perbekalan air secukupnya, dengan berdoa sejenak kami langsung bergegas memulai pendakian. langkah kami sama, beriringan  tak saling mendahului, deden berjalan paling depan sedang agun ditengah dan aku dibelakang.
sengaja aku memilih berjalan paling belakang agar aku bisa mengontrol teman baruku itu. tak ada dalam benakku untuk meremehkan mereka berdua tapi pengalaman yang kupunya membuatku ingin menjaga keduanya selama dalam perjalanan mendaki. aku menganggap mereka adalah teman yang asyik untuk mendaki bersama walau mereka baru kukenal dan belum tahu sikap dan sifat mereka.
Dalam pendakian itu aku hanya ingin sebagai penyeimbang tanpa ingin mengajarkan mereka dan menganggap diriku leader dalam pendakian bersama itu. aku juga tidak merasa semerta merta jauh lebih tua atau lebih pengalaman, aku hanya berpikir sebuah pendakian yang dilakukan bersama ini adalah pendakian yang harus dilakukan dengan kompak dan sehati walau kami baru saja berkenalan.
Kesimpuilannya adalah bahwa deden dan agun adalah dua pemuda yang hobi mendaki tapi tidak egois dan cepat beradaptasi dengan pendaki yang baru mereka kenal sepertiku. karena kami saling pengertian maka sebuah pendakian ini terasa lebih akrab tanpa ada rasa sungkan diantara kami.

Menjelang tengah hari kami tiba di ranu kumbolo, sebuah danau di tengah gunung yang biasa menjadi tempat camp para pendaki. disini kami hanya beristirahat sejenak dan mengambil perbekalan air yang cukup banyak untuk perbekalan sampai puncak dan kembali ke sumber air ini lagi.
setelah itu kami kembali melanjutkan pendakian dengan beriringan seperti semula. berjalan dengan irama yang sama dan akan beristirahat sejenak untuk mengatur nafas yang terengah yang kadang sambil merokok dan bercanda.
selama perjalanan pendakian ini kian lama kami kian terasa akrab dan saling menjiwai watak masing2, sungguh indah memang jika kita mendaki bersama dengan teman yang baru saja kita kenal tapi ternyata teman itu sangat mengasyikan dan saling pengertian.

Akhirnya tanpa kendala kami melewati oro oro ombo dan kalimati, hingga kami memutuskan terus mendaki dan bermalam di arcopodo..sebuah tempat titik pemberhentian terakhir para pendaki sebelum menuju puncak semeru, pada esok dini hari ato menjelang subuh.
arcopodo adalah sebuah tanah agak lapang dan datar permukaan tanahnya. yang terasa cukup nyaman untuk mendirikan tenda.
disini deden dan agun mendirikan tenda dome, sedang aku ingin mendirikn bivak dengan flysheet yang aku bawa. tapi baru saja aku mengeluarkan flysheet dari dalam tas deden sudah berteriak agar aku jangan membuat bivak tapi mengajakku untuk berbagi dalam tenda mereka, apalagi katanya tenda mereka memang cukup menampung tiga orang.. akhirnya aku mengalah dan merasa dihargai, tanpa berpikir lama aku langsung segera membantu mereka mendirikan tenda karna hari sudah mulai gelap saat kami tiba di tempat ini.
kebersamaan inilah yang menjadikanku lebih menghargai mereka walaupun mereka lebih muda dariku..aku ga berani mengajari ato menggurui mereka. aku hanya berani share ato memberikan saran selama dalam pendakian ini.
Setelah tenda berdiri, aku segera melakukan sholat dan menyendiri sejenak.sedang deden dan agun membuat air panas yang akan dijadikan seduhan kopi atopun teh.
keheningan malam itu memberikan suasana yang damai bagi diriku untuk merenung kembali perjalanan yang sedang aku lakukan dari jakrta hingga semeru ini.
tidak lupa aku berdoa dan berterima kasih atas karunia dan kesehatan yang diberikan padaku hingga aku sampai di semeru ini tanpa kendala yang berarti.
setelah itu aku masuk tenda dan bergabung dengan deden dan agun, kami banyak bercerita dan saling tukar pengalaman sambil menikmati hangatnya kopi dan hisapan rokok. kami saling bercanda dan saling memberi masukan..kami  bercerita apa saja, panjang lebar dan penuh keakraban..
menjelang tidur kami sepakat bahwa kami akan mulai mendaki jam 4 pagi. akupun memasang alarm jam 3.30 agar aku bisa memasak dahulu membuat mie buat sarapan sebelum mendaki ke puncak.
tanpa di komando, akhirnya kami terlelap dalam mimpi kami masing2..membuat mimpi dengan jalan cerita masing2 pula..

Tepat jam 3.30 alarm hp ku berbunyi, aku bangun lalu membangunkan deden dan agun, bergegas aku mengambil nesting dan menuang air dari botol kemasan air mineral, lalu membakar parapin untuk memasak mie. dalam pagi yang dingin itu kami bersiap diri untuk mendaki menuju puncak, sambil menunggu matangnya mie yang aku masak.
tak lama hanya untuk memasak mie. setelah matang kami segera menyantap sarapan pagi itu untuk mengganjal perut kami guna menambah energi dalam perjalanan ke puncak..
selesai makan, kami mulai mempersiapkan pendakian. deden dan agun terlihat mulai menutupi bagian tubuhnya dengan jaket sarung tangan dan kupluk, begitu kaki ditutupi gaiter setelah memakai kaos kaki dan sepatu. sedang aku hanya mempersiapkan kupluk, kaos kaki dan sandal. sedang badanku hanya kututupi kaos lengan panjang dan sarung.
tak lupa aku membawa daypack untuk membawa perbekalan air dan kue2 makanan ringan.
(bersambung....)

5 comments:

JejakShally said...

ini serius tulisaan fakta???
woooow kereeeeeeen... kaki ajaib itu.
yang naik kendaraan aja blom tentu sampe Semeru :)

Anonymous said...

keren om petualangannya...

iwansunter petualang utara said...

JejakShally, trims komennya. Ya, itu perjalanan riil... Semua ada dokumentasinya... Silakan baca tulisan yang per hari bila mau hehehe

aka saprul liansyah said...

Luar biasa bang perjalanan anda
Salut dengan tekad dan kerja keras yg anda laluin

Gregorius Samodra said...

SALUT bung Iwan Sunter...BRAVO untuk setiap petualangannya...