Monday, August 25, 2008

Jalur tempuh 2008

Inilah jalur keliling pulau Jawa yang kutempuh bersama sepeda Polygon kesayanganku di tahun 2008:

Jakarta - Indramayu - Cirebon - Brebes - Tegal - Pemalang - Pekalongan - Kendal - Semarang - Demak - Kudus - Pati - Rembang - Tuban - Gresik - Surabaya - Pasuruan - Probolinggo - Situbondo - Banyuwangi - Jember - Lumajang - Senduro - Ranupane - Semeru*) - Tumpang - Malang - Blitar - Tulungagung - Trenggalek - Ponorogo - Madiun - Magetan - Maospati - Ngawi - Sragen - Solo - Yogyakarta - Purworejo - Kebumen - Banyumas - Purwokerto - Cilacap - Wangon - Banjar - Ciamis - Tasikmalaya - Garut - Bandung - Cianjur - Sukabumi - Cibadak - Pelabuhan Ratu - Cibangbanbayah - Malingping - Saketi - Labuan - Carita - Anyer - Cilegon - Serang - Tangerang - Jakarta

Rute tersebut kumulai tanggal 20 Juli 2008 dan berakhir di tanggal 24 Agustus 2008
*) manjat sampe puncak bersama sepedaku.....!

Friday, August 15, 2008

TERKULAI DALAM KENIKMATAN MAHAMERU


(Jogja, 14 Agustus 2008, dalam perjalanan)

Rencana perjalanan bersepeda mengelilingi pulau sulawesi,ternyata gagal seperti tahun lalu. Dan, sperti biasa kesulitan dasar masih soal biaya yang sulit kudapat dari pengajuan proposal yang gagal. Tapi seperti biasa juga, aku harus tetap jalan dan harus menghadapi perjalanan cadangan karna komitmenku untuk selalu jalan setiap tahun sebagai wujud loyalitasku pada dunia petualangan.

Akhirnya aku berpikir untuk mengelilingi pulau jawa dengan secara benar,yaitu berangkat melewati jalur pantura dan pulang dengan jalur selatan dari jakarta dan berakhir di jakarta. Dan sebagai inti perjalanannya aku akan mendaki gunung semeru dengan membawa sepeda ke puncaknya sebagai komitku untuk menjadikan diriku sebagai bagian dari regenerasi mas paimo.

Lalu aku menghadap pak peter selaku manager promotion sepeda polygon, untuk mengutarakan maksud perjalananku ini. Seperti diketahui bahwa aku selalu menggunakan sepeda polygon sebagai patner dalam setiap perjalanan bersepeda. Polygon sendiri sudah terlalu banyak membantu dalam setiap perjalanan2ku. Dan akupun takkan mau untuk menggunakan sepeda lain sebagai bentuk loyalitasku kepada polygon. Setelah kuutarakan maksud perjalananku tahun ini, pak peter menyetujui dan tetap mendukung ptualanganku kali ini, padahal inti rencana tahun ini kembali gagal. Itulah polygon aku selalu berhutang budi kepada kebaikan pak peter. Dalam keadaanku yang terjepit beliau masih mau mendukung parjalananku.

Singkatnya aku mulai bersepeda menyusuri jalur pantura, mulai dari jakarta indramayu cirebon semarang rembang tuban surabaya probolinggo situbondo dan banyuwangi. Lalu aku kembali arah balik menyusuri jalur jember dan lumajang sebelum aku menuju gunung semeru. Perjalanan kali ini aku berdua dengan teman yang bertindak sebagai patner.

Dari lumajang aku bersepeda kearah kecamatan senduro diikuti temanku dibelakang. Setelah satu jam setengah aku tiba di senduro dan langsung berbelanja keperluan untuk pendakian semeru.

Dari senduro ini perjalanan akan diteruskan menuju desa ranupane yang berjarak 26km.

Karna temanku tidak mau bersepeda, maka aku menitipkan sebagian tasku untuk dibawanya. Temanku akan menggunakan jasa truk yang biayanya 30 ribu.

Perlu diketahui perjalanan antara senduro akan melewati hutan belantara yang sepi yang jalannnya selalu menanjak sampai ranupane. Dan itu yang membuat temanku mundur untuk mengayuh sepedanya.

Setelah pamit dengan temanku, aku mulai menyusuri jalan aspal yang kecil itu menuju ranupane.

Jengkal demi jengkal aku mengayuh sepedaku dengan iringan keringat yang selalu keluar. Maklum jalan selalu menanjak dan banyak memakan tenaga tapi aku sabar dan berpikir bahwa perjalanan jalur ini bagian dari seni bersepeda. Adapun tanjakan, ya memang harus dilalui karna bagaimanapun juga aku harus “murni” memakai sepeda apapun keadaannnya. Apalagi kalau ingat bahwa aku harus bisa kuat seperti mas paimo sang jawara adventure sepeda indonesia. Hingga kadang terbesit ingin bersepeda bareng mas paimo walau hanya jakarta bandung.

Perjalanan antara senduro dengan ranupane merupakan perjalanan yang paling asyik yang kulalui selama perjalanan ini. Bagaimana tidak, sepanjang jalan aku benar2 sendiri sepi dan hening. sungguh suatu jalur yang akan selalu menjadi sebuah rindu. Kanan kiri hanya pepohonan hutan belantara yang menjadi taman nasional bromo tengger semeru. Walau kadang sesekali ada motor penduduk desa yang lewat, menyapaku. Tapi intinya jalur ini benar2 sepi hening dan pasti selalu menanjak.

Setelah berjuang dengan payah mengayuh 26km, aku tiba di ranupane dengan senang, maklum aku sudah bisa mengatasi jalur yang banyak memakan tenaga ini.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya temanku tiba juga dengan menumpang truk, lalu kami bermalam di pos pendakian untuk istirahat semalam agar besok keadaanku pulih untuk mengahadapi pendakian semeru.

Paginya, setelah ijin dengan petugas pendakian. Kami mulai menyusuri jalur pendakian semeru yang pada musim kemarau ini, banyak yang berdebu. Aku membawa sepeda dan day pack di punggung, sedang teman membawa ransel guna mendukungku di pendakian ini sebagai patner dan dokumentasi.

Awal pendakian aku susuri jalur yang memutari beberapa bukit dengan sedikit jenuh karna suasana yang monoton hingga ranu kumbolo. Pendakian antara ranupane yang biasa memakan waktu 3jam santai, aku malah 4jam. Pendakian dengan membawa sepeda memang lebih sedikit sulit daripada hanya membawa ransel saja. Sepanjang jalan pun aku kesulitan dengan alang2 yang menggganggu pergerakanku. Sering pedal sepedaku menyangkut di alang2 atau dahan yang menjulur kebawah. Setelah ranu kumbolo terlihat, aku baru bersemangat lagi untuk segera istirahat dan bersantai ditepi danau.

Akhirnya kuputuskan untuk bermalam di ranukumbolo agar pergerakan besok tenagaku bisa lebih fit untuk menuju arcopodo. Malampun kulalui tanpa nuansa yang berarti, hanya ingin tidur pulas agar letih mata dan kaki lekas berlalu.

Esok paginya, setelah sarapan tanpa menunggu siang aku bergegas melanjutkan perjalanan menapaki tanjakan cinta dengan semangat. Maklum aku masih butuh cinta hehehehe…lalu aku turun ke rawa2 ombo, dan sepeda kukayuh meninggalkan temanku dibelakang hingga padang terbuka itu habis dan beristirahat. Setelah temanku datang aku melanjutkan pendakian lagi bersama. Kali ini temanku didepan, aku mengikuti dari belakang dengan konsentrasi membawa sepeda. Lelah sekali memang, tapi ya bagaimana, pendakian memang harus lanjut dan harus puncak.

Lewat tengah hari aku tiba di kalimati, disini angin berhembus kencang. Diatas sanapun asap yang keluar dari kawah semeru terlihat tidak membumbung keatas tapi bergeser ke kanan yang menandakan angin diatas juga kencang. Aku berpikir, mungkin ini yang membuat petugas pendakian hanya memberi ijin pendakian hanya sampai kalimati. Selebihnya andai ke puncak tanggung sendiri akibatnya. Selain itu yang pasti karna seismograf membaca gejala alam semeru yang keaktifannnya sering terjadi gempa vulkanik.

Temanku memberi saran untuk bermalam di kalimati tapi aku berpendapat tetap bermalam di arcopodo dengan perhitungan pergerakan menuju puncak dini hari nanti lebih dekat, sedang kalau dari kalimati aku akan menghadapai pendakian yang lebih panjang ditambah pergerakanku sulit karna gelapnya malam. Dan itu kemungkinan besar aku telat ke puncak atau gagal karna kesiangan, ditambah lagi cuaca yang belum bersahabat. Walaupun sedikit otoriter, tapi pendapatku sangat yakin karna bagiku dan juga pendaki lain arcopodo adalah tempat terakhir yang paling cocok untuk attack summit dini hari nantinya.

Aku tahu dari sini temanku mulai gelisah dan mulai berbeda pendapat. Dalam hati, aku juga ingin tahu seberapa besar keberanian dia dialam bebas. Jujur kadang aku selalu percaya dengan irama perjalananku sendiri daripada orang lain. Sedikit egois tapi kesuksesan menuju puncak tetap lebih diutamakan. Karna aku merasa bahwa pendakian itu memang harus berani ( bukan berani babi, tanpa pertimbangan ).

Akhirnya dengan langkah yang terpaksa temanku mengikuti pendapatku. Aku berharap dia mau mengerti diriku yang akan terlalu sulit andai pendakian menuju puncak dari kalimati. Setelah 2,5jam mendaki akhirya aku tiba di arcopodo dan langsung mendirikan bivak dengan flysheet untuk segera beristirahat dan tidur. Dan malam itupun aku hanya berharap bisa tidur pulas agar tengah malam bisa bangun dengan badan yang segar.

Jam 12malam alarm handphoneku berbunyi, aku bergegas bangun dan memasak mie instan untuk mengisi perut agar menambah tenaga. Jam 1, aku dan temanku mulai bergerak mendaki.

Benar, dugaanku tak meleset, terbukti aku kewalahan menghadapi medan antara arcopodo melewati area kelik. Itu karna jurang yang tak kelihatan diantara gelapnya malam, ditambah lagi pandanganku kadang terhalang sepeda. Aku tidak membayangkan andai aku start dari kalimati? Pasti yang bisa muncak hanya temanku. Karna pergerakanku sudah jelas2 terhambat gelap mengingat aku ga mau masuk jurang yang tak terlihat.

Setelah melewati daerah rawan, aku menghadapi medan yang lebih terbuka. Disinipun hambatan masih ada. Aku merasa kondisi badanku masih terlalu lelah tapi dihajar terus terpaan angin, yang membuat badanku semakin tak enak. Bagiku andai hanya mendaki membawa daypack ke puncak, aku masih bisa bertaruh kalau aku sanggup masuk puncak dengan cepat dan aku hanya memerlukan start jam 3 bukan jam 1 dini hari. Tapi ya bagaimana, ini memang obsesiku mendaki dengan membawa sepeda. Karna aku ingin pendakian yang sedikit tantangan.

Sepanjang jalur pendakian yang terbuka itu, aku benar2 loyo, tenagaku semakin waktu kian lemah. Malah aku sempat berpikir untuk menungggu terang, baru melanjutkan pendakian. Cemoro tunggalpun terlewat, tapi keadaanku kian lemah, hanya semangat yang tersisa. Lagipula aku malu dengan semeru 87 nya mas paimo,andai gagal. Aku merasa harus kuat dan wajib puncak. Karna mahameru adalah impian..

Temanku melesat ke depan terus menuju puncak, sedang aku menahan dingin dan lelah. Saat hari mulai dihiasi terang dengan hendak terbitnya matahari, aku masih tertinggal. Angin adalah musuh pendakianku kali ini. Dia tidak mau berhenti berhembus tapi kadang malah semakin kencang. Dan itu yang menjadikanku semakin letoi…

Dengan semangat membara dan tenaga yang tersisa, aku terus berjuang memanggul sepeda manapaki jalur yang berpasir, yang sulit untuk dipijak. Step by step, 10 langkah 20 langkah aku berhenti mengatur nafas dan tenaga ditangan kanan dengan iringan takbir kalau aku adalah manusia bodoh yang harus selalu ingat akan Penciptanya. Arah pikiranku pun kadang mengacau ke segala arah, tentang kehidupan, tentang cinta, tentang anak, tentang kegagalan bahkan tentang kematian. Sempat juga terbesit, andai aku mati disemeru..oh bagaimana..? tidak mungkin !! batinku teriak, aku adalah aku, dan aku harus tembus puncak.harus..harus..! masih banyak gunung yang belum kudaki, masih jauh menjadi pendaki kuat seperti Reinhold messsner kalau aku “tenggelam” disini.

Dan akhirnya pun, aku berhasil mencapai puncak dalam keadaan benar2 lelah. Aku hanya sempat mengambil gambar 3kali, lalu bergegas turun mengingat angin yang berhembus kencang dan cuaca buruk di puncak.

Tanpa buang2 waktu, aku seperti anak yang bloon yang takut dengan pendakian. Jalur turunpun ku hajar seperti orang bermain ski dengan memeluk sepeda dibagian kananku. Memang jalur berpasir seperti ini enak untuk perjalanan turun dengan sepeda dan itu pernah kucoba saat mendaki rinjani 2005. meluncur dan terus meluncur sampai areal berpasir habis.

Sampai di arcopodo, aku istirahat, temanku sudah sampai dahulu jauh meninggalkanku hingga dia lupa mengambil gambar yang bagus dijalur pasir sana.

Lalu bivak kubongkar, kubenahi dan bergegas turun….

Di kalimati kembali istirahat sebentar lalu terus turun dan turun tanpa mau berlama2.

Di ranu kumbolopun aku hanya mencuci muka dan mengisi air untuk minum, lalu terus menuju turun.

Pikiranku sudah tenang, mahameru sudah kudaki dan bayanganku hanya konsentrasi hendak cepat sampai ranupane kembali. Kususuri terus jalur pendakian turun itu tanpa ingin berhenti. Apalagi saat aku tiba dijalur yang sudah ditata. Dari situ sepeda kunaiki lalu meluncur ria tanpa henti sampai ranupane.

Selamat datang kembali ranu pane, selamat datang iwan yang lemah, begitu kudengar angin berkata..

Kamu masih diberi kesempatan muncak dalam keadaan yang kurang tenaga..

Dan ingat kamu jangan congkak, bahwa kamu sudah ke mahameru dengan sepeda..

Akupun menjawab, ya…aku memang beruntung, aku harus banyak berlatih dan berolahraga agar keadaanku selalu fit walau dalam keadaan lelah setelah bersepeda jauh.

Dan yang penting, aku harus tahu diri bahwa kewajibanku akan Tuhanku harus lebih benar. Karna sebenarnya aku diberi hidup untuk mengingat dan menyembah Allah SWT..

Mudah2an dikemudian hari aku lebih bijak dalam menyikapi Sang Pencipta, amin….

Dan

Terima kasih semeru..

Aku sudah diberi ijin menginjak puncakmu dengan sepeda.

Engkau memang ciptaanNya yang sungguh menarik…

Dalam lemasnya diriku, aku masih bisa menikmati sentuhan puncakmu….

Iwan thanks for:

- Allah SWT

- Muhammad SAW manusia yang paling mulia

- George leigh Mallory my son

- Ibu tercinta

- Almarhum Bapak tercinta

- My wife

- Pak Peter Manager Promotion polygon

- Pak Hariadi

- Kuwat slamet

- Oo

- Sepeda polygon tungganganku

- Mata, pundak, tangan, kepala, paha, pantat dan seluruh anggota tubuhku

- Air dan sinar matahari

- Jalan beraspal yang kulewati

- Hutan yang sunyi dengan pepohonan yang rindang

- Potret kehidupan disepanjang jalan

- Orang gila yang kulihat disepanjang jalan, Engkau adalah renunganku..

- Dan lain2 yang lupa kusebut karna aku sudah mengantuk….

Saturday, August 09, 2008

SMS dari Iwansunter (write by Kaes)

29 Juli 2008:
Masih lama. Sekarang di Situbondo Jatim. Gw juga mau naik Semeru paling nggak 5 hari, jadi mungkin sekitar 2 minggu lagi masuk Jogja (sms ini menjawab pertanyaan saya kapan dia masuk Jogja-red)

4 Agustus 2008:
Boz, gw udah deket puncak. Besok jam 1 pagi gw ke puncak. Doain gw tembus karena Semeru lebih sulit dari Rinjani.

6 Agustus 2008:
Semeru dah tembu walau cuaca kacau balau. Gw sempet berpikir "selesai" di Semeru. Tapi pengalaman menjadikan gw lebih hari-hati. Mungkin pendakian Semeru cuma gw doank yang angkat sepeda 17 kg hehehe

Monday, May 12, 2008

Cari Duit....

Kalo pengen tau keseharian gw. Liat ajalah gambar2 ini ya hehehe.
Tiap hari (pagi sampe siang) gw dagang barang-barang kecil keperluan rumah tangga di Pasar Bambu Kuning, Sunter Agung. Barang dagangan itu sendiri gw beli di pasar pagi mangga dua tiap (rata-rata, tapi nggak mesti) seminggu sekali. Kalo sore dan malem kadang gw nurunin sayur-sayuran atau apa aja dari truk kecil yang dateng di pasar itu. Kadang juga alih fungsi jadi tukang parkir hahaha. Pokoknya yang penting halal coy.......
Semua ini gw lakukan untuk membeli susu anak gw yang paling istimewa yang dah mau berumur setahun. Namanya: George Leigh Mallory.......

Kesempatan Jarang Nich



Meskipun telat di upload, tapi nggak apa-apa gw cerita sedikit tentang kesempatan yang sangat
jarang gw peroleh. Meskipun cuma di TV lokal, buat gw undangan dari O Channel adalah penghibur batin gw. Mungkin orang juga jarang yang liat TV ini apalagi yang di luar Jakarta, tapi paling nggak buat gw ini adalah suatu kebanggaan tersendiri. Apalagi diwawacara ama Si Jill yang cantik dan centil dan Si Erwin yang ganteng dan smart.
Wawancara ini sendiri dilakukan pada tanggal 11 Desember 2007, live dari jam 7 pagi selama satu jam full. Trism ya O Channel dan juga Polygon (khususnya Pak Peter yang memprakarsai wawancara ini...)

Monday, January 07, 2008

WILIS SAUDARAKU....


Setelah selesai dengan perjalanan bulan juni hingga agustus 2007, aku kembali mengikuti jiwa adventureku untuk mengobati rinduku akan sebuah pendakian.

Desember dengan musim hujannya, mengundang aku kali ini untuk menjamahWilis dalam rancangan rencana pendakian 20 gunung dengan membawa sepeda polygon ke puncaknya. Dan Wilis merupakan sasaranku dalam perjalanan kali ini, yang kebetulan bersamaan dengan adanya undangan dari Mapala Pelita IKIP PGRI Kediri yang sedang melaksanakan diklat anggota baru. Disini aku dimohon membantu dalam hal memberi pemasukan wawasan terhadap angggota baru guna lebih mengerti arti sebuah kegiatan di alam bebas. Aku tidak keberatan, aku sendiri merasa perlu bertukar pikiran dengan anggota baru karna biar bagaimanapun menilai seseorang tidak dilihat dari sering atau tidaknya seorang pernah mendaki gunung tapi bagiku setiap orang mempunyai kelebihan masing2 walaupun orang tersebut baru mengenal dunia yang akan digelutinya, minimal aku bisa lebih belajar dari watak mereka, BUKAN jam terbang seperti yang didengungkan sebagian besar senior anak Mapala.

Aku sendri bukan apa2, aku hanya sebuah regenerasi dari mas Paimo, Jawara sepeda jarak jauh Indonesia yang tak bisa dipungkiri bahwa beliaulah referensi otakku untuk menjadi bagian dari petualang2an ku dalam pendakian gunung dengan membawa sepeda.

Setelah menempuh perjalanan 5hari dari Jakarta ke kota Kediri dengan guyuran hujan yang kadang menyapaku dalam perjalanan ini, aku tiba dengan selamat dan langsung disambut teman Mapala dengan senyuman, teriakan dan emosi riang. Maklum aku disini sudah seperti saudara tua yang selalu berbagi pengalaman dan pandangan.

Setelah beristirahat semalam, esoknya aku mengayuh sepeda menuju desa Bajulan kecamatan Loceret kabupaten nganjuk untuk memulai pendakian.
Disini teman2 Pelita berkumpul untuk mendaki Wilis dengan anggota baru, sedang aku sebagai tamu akan berusaha membantu semampuku.

Lepas waktu solat isya, mereka berangkat, sedang aku dan seorang teman pelita mendaki esok hari mengingat ada seorang anggota baru yang mengalami sakit, jadi aku menemani teman pelita untuk mengawasi anggota yang sakit agar esok dapat mendaki dengan doa semoga pulih untuk mendaki. Kami menginap diwarung yang biasa dijadikan came sebelum mendaki.

Esoknya setelah sarapan pagi dan dengan tubuh yang lebih segar, kami bertiga yang tersisa dari rombongan lain berangkat menuju indahnya tubuh Wilis.
Aku mendaki membawa ransel dan sepeda polygon yang pernah menemaniku ke sumbawa bulan juli agustus lalu.sedang temanku dan anggota baru mendaki dengan perlengkapan biasa.

Kami susuri punggungan wilis dengan awal pemandangan hutan pinus dengan jalan setapak yang masih sempit namun licin karna seringnya hujan.pendakian kami jalani dengan santai sembari menikmati pemandangan dengan peresapan tinggi. Kadang kami isitirahat sambil membahas tentang gunung lain yang sudah payah hutannya hingga terlihat kurang menarik untuk didakinya.

Tengah hari sebelum kami sampai di tempat came rombongan lain yang berada di sumber air, anggota baru yang kemarin sakit kembali merasakan sakit dan merasa tidak mampu untuk terus mendaki. Akhirnya diputuskan, temanku kembali turun mengawal anggota yang sakit, sedang aku terus mandaki mengingat aku harus memberi sedikit wawasan dan pandangan kepada anggota baru yang lain tentang cara aman mendaki gunung, berbagi pengalaman dan tukar pikiran.

Akhirnya aku tiba di came rombongan lain, akupun berisitirahat sejenak lalu memasang tenda untuk menginap disamping tenda2 teman.tapi rupanya anggota baru sedang ke puncak dengan teman pelita yang lain. Aku sendiri hanya berbincang2 dengan yang lain sambil menunggu mereka yang mendaki, turun lagi.
Malamnya setelah waktu isya barulah acara obrolan malam dilaksanakan. Semua anggota baru dan teman pelita berkumpul, juga aku. Disini kami saling berbagi cerita dan tukar pikiran.

Walaupun diantara rombongan lain aku yang paling tua, dengan selisih umur 7 sampai 17 tahun, aku berusaha untuk tidak merasa sebagai orang yang lebih pintar atau lebih berpengalaman tapi aku menganggap kami semua sama sebagai orang yang hobi dengan kegiatan alam bebas, jadi tidak ada jarak diantara kami. Disini tidak ada istilah senior junior tapi persaudaraan. Dan mungkin ini yang menjadikan aku sedikit istimewa di mapala Pelita.

Dengan diselingi senda gurau ciri khas anak kediri kami bincang2 penuh akrab, hingga waktu dibubarkan dengan hujan. Kamipun masuk ke tenda masing2 lalu tidur dengan mimpi yang berbeda2.
Esoknya aku melanjutkan pendakian kepuncak karna aku selain menghadiri undangan Mapala Pelita, aku juga sedang melaksanakan plan pendakian dengan sepeda.

Lalu diputuskan kembali, kalau anggota baru dan sebagian teman untuk turun mengingat cuaca yang kurang bersahabat. Sedang sisanya, 3 orang ikut mendaki denganku karna belum mendapat dokumentasi dan 3 orang menunggu ditenda.
Setelah aku beres2 dan menyiapkan segala sesuatunya kami mendaki ber4.

Seperti biasanya pendakian yang aku lakukan berbeda dengan pendakian biasa karna harus turun naik bergantian membawa ransel dan sepeda. Dan yang pasti pendakianku memang sedikit lambat. Sedang temanku berusaha mengimbangi pendakianku. Lagipula mereka bisa menikmati pendakian dengan lebih santai namun nikmat.

Singkatnya setelah bersusah payah mendaki karna jalur yang kami lewati licin dan sedikit terjal, akhirnya kami tiba di puncak sekitar pukul 12 siang. Kamipun langsung ambil gambar dan saling berfoto bersama. Bahkan sepedaku laku,teman2ku berebutan untuk berfoto ria dengan”nya”.

Setelah puas berfoto, kami bergegas turun karna cuaca yang semakin tak bersahabat. Hujan turun deras dengan hembusan angin kencang hingga memaksa kami mengenakan rain coat dan sedikit mengendap eandap menghindari kencangnya angin, maklum jalur pendakian wilis antara came dengan puncak medannya terbuka. Sepanjang jalur hanya sabana dengan sedikit hutan. Dan ini yang menjadikan kami harus hati2.

Aku dengan perjalanan turun yang lambat karna harus extra hati2 agar sepedaku tak jatuh, berjalan dibelakang, sedang ketiga temanku sengaja kusuruh turun duluan dan tak perlu menunggu agar mereka lekas sampai di came dan teman lain yang menunggu tidak gelisah.
Akhirnya pula aku sampai di tempat came lagi walaupun dengan susah payah. Mengingat perjalanan turun gunung dengan membawa sepeda lebih sulit dan sangat hati2.

Begitu sampai came, hanya istirahat sebentar, kami bergegas turun agar tidak kemalaman dijalan sebelum sampai desa bajulan. Kamipun segera beres2 dan merapikan peralatan kami masing2 dan langsung turun.
Dari came ini jalur perjalanan turun lebih sedikit mudah walau kadang masih ada turunan terjal. Kamipun saling berjalan cepat sedikit berlari, maklum waktu sudah menunjukan jam3 sore.
Dengan perjalanan yang tergesa2, kami saling bergantian jatuh bangun karna jalan yang licin dengan tawa saling mengejek.

Akhirnya kami tiba di desa bajulan pas waktu magrib, hari sudah mulai gelap. Kamipun beristirahat sejenak di warung lagi sambil memesan minuman teh atau kopi hangat. Dan setelah semuanya beres kami turun kembali pulang ke kediri.
Teman2ku saling berboncengan motor, sedang aku bersepeda ria dengan kawalan satu motor dibelakang.
Sedang teman lain dan anggota baru sudah turun dan pulang ke kediri dengan mencarter mobil bak terbuka sejak sore.
Singkatnya kami semua sampai dikediri lagi dengan selamat.

Dan…….
Ternyata pendakian wilis lebih sulit daripada pendakian ke rinjani dan lebih banyak memakan tenaga.


Wilis….
Dikau adalah saudaraku…
Seperti saudaraku Mapala pelita yang selalu menanti diriku dengan senyuman dan rasa riang.
Tak ada kota lain yang lebih bahagia saat aku berada di kediri dari kota2 lainnya. Dan wilis…dikau merupakan bagian dari itu semua…
Suatu saat aku pasti kembali lagi, karna….
AKU CINTA PADAMU WILIS <
Iwansunter desember 2007>

Iwansunter thanks to :
- Allah Yang Maha Akbar dan Muhammad saw
- Almarhum Bapak Tercinta dan Ibu Tercinta
- My Wife dan George Mallory, anakku
- Pak Ahmad Hariadi, wakil Camat Koja Jakut
- Pak Peter, Manager Promotion Polygon
- Kuwat Slamet, Kepala Balai Diklat Depkeu Yogya
- Mapala Pelita Ikip PGRI Kediri (spesial to: Dian, Demo, Balung, Aripin, Sandi)
- Kepala, mata, pundak, kaki, pantat dan anggota tubuhku lainnya
- Jalan raya, hujan, udara segar dan matahari
- Pemandangan dan semua potret kehidupan yang aku aku lihat dijalan
- dan lainnya yang belum disebut satu satu
Mudah2an perjalanan kali ini menjadikan pemikiranku lebih bijak dari hari ini dan perjalanan ini kujadikan sebagai tempat untuk belajar, amin….

Wednesday, October 10, 2007

TAMBORA 95 YANG HILANG.... :_(

(Ditulis pada bulan Agustus 2007)

Setelah bersepeda menempuh waktu yang cukup lama, aku tiba di Dompu. Aku langsung menuju rumah Ir, temanku dari Humpa Dompu. Tujuanku cuma satu, yaitu mengambil golokku yang tertinggal tahun lalu. Hari itu aku menginap semalam di rumah ir....... Esoknya, pagi jam 7, aku pamit dan langsung mengayuh sepedaku menuju Desa Pancasila yang berjarak sekitar 120 km, yaitu sebuah desa terakhir untuk mendaki Gunung Tambora.

Tak aku sangka, ternyata jalan yang kulalui merupakan jalan yang hancur dan bukan untuk sepeda macam milikku. Sebuah sepeda yang tak memiliki shock dan hanya memiliki ban yang diperuntukkan jalan raya yang mulus, Akupun cuma pasrah dan banyak berdoa agar perjalananku melewati jalan yang rusak parah itu bisa aku lewati tanpa kendala. Suasana yang sepi dan melewati desa yang jarang membuatku kesepian namun masih merasakan kenikmatan berpetualang. Apalagi aku harus melewati jalan yang sepi, yang kanan kiri merupakan padang rumput yang seperti tak ada batas dan itu menjadikan aku seperti di tanah Afrika seperti yang aku lihat di TV.

Setelah melewati jalan rusak dengan penuh kesabaran jam 16.30 aku tiba di Calabai. Lalu aku mencoba singgah di sekre gamping sebuah wadah anak desa yang hobi naik gunung. Aku berkenalan dengan Haris dan aku dibawa menuju tempat kerjanya yang merupakan bekas perusahaan legal logging yang pailit kalah dengan perusahaan illegal logging. Haris disini bekerja sebagai tenaga keamanan yang bertugas malam hari. Perusahaan ini memang sudah mati total, namun aset perusahaan yang berupa bangunan2 dan sebagian alat kerja masih ada dan harus dijaga. Perusahaan loging ini berkantor di Jakarta di daerah Rasuna Said Kuningan, dan perusahaan menunjuk Mr. Hendri untuk menjaga aset perusahaan yang ada di Calabai itu.

Harispun mengenalkan aku pada Mr. Hendri, seorang kebangsaan Skotlandia yang ramah dan bersahabat. Dalam berkenalan aku bisa merasakan persahabatan yang tulus darinya. Bahkan saat aku tidurpun aku dipersilakan tidur di ruangan yang bersih dengan kasur yang empuk dan kamar mandi yang bersih pula. Sungguh, seorang bule yang takkan aku lupa di tanah Calabai sumbawa itu.

Esoknya aku pamit pada Mr. Hendri dan Haris untuk melanjutkan perjalanan ke Desa Pancasila yang memakan waktu 2 jam bersepeda. Tiba disana aku menuju KPATA, sebuah wadah tempat anak2 muda desa yang berprofesi sebagai guide, namun mereka menamakan pecinta alam, aneh...

Aku menemui Saipul yang merupakan ketua kpata, akupun mengutarakan maksudku untuk mendaki Gunung Tambora. Dia menceritakan kondisi jalur Tambora yang tak mungkin didaki sendiri karena mempunyai jalur yang bercabang dikarenakan banyaknya jalur loging dan pemburu. Siapapun yang belum pemah ke Tambora tak akan mungkin bisa mengikuti jalur yang benar karena tidak adanya anak panah atau petunjuk.

Mendengar itu aku mencoba melobi minta bantuan anak kpata untuk mengantar, namun aku tidak bisa membayar guide dan hanya bisa menjamin logistik selama pendakian. Maklum aku bukanlah seorang pendaki yang mempunyai duit banyak. Lagipula Iwansunter cuma seorang pendaki miskin di Indonesia.

Setelah bicara panjang lebar, Saipul menyatakan tak sanggup dengan alasan semua anggota kpata sibuk. Apalagi untuk seorang guide pendaki harus bisa membayar 70 ribu perhari untuk pendaki lokal dan Rp100 s.d. 150 ribu untuk turis asing. Jadi kesimpulannya kpata tidak bisa membantu pendakianku yang sudah di depan mata dengan gratis.

Pendakian tambora sebenamya tidak sulit, kalau kita mendaki berangkat jam 5 pagi sore sebelum gelap sudah bisa mencapai puncak, begitu cerita teman-teman yang pernah aku dengar, karena ketinggian Tambora hanya 2851 mdpl dan posisi Desa Pancasila pun sudah berada di ketinggian yang lumayan. Jadi yang membuat susah mendaki tambora hanyalah jalur yang bercabang-cabang dan tidak mempunyai petunjuk. Dan hal ini memang sengaja tidak dibuat karena menyangkut mata pencaharian anak kpata. Akhimya, dengan terpaksa aku turun esok harinya menuju Calabai lagi untuk mencoba minta bantuan anak Gamping.

Di Gamping aku kembali utarakan maksud pendakianku dengan mohon bantuan teman Gamping sebagai partner menuju puncak, hanya satu orang... Namun temyata disinipun tidak ada satupun yang mau membantu. Mereka hanya menyarankan mendaki bersama 5 hari lagi dalam acara pendakian tujuhbelasan. Mendengar itu aku lemas dan tak menyangka akan menghadapi orang-orang yang tidak mempunyai jiwa persaudaraan sesama pendaki. Untuk menunggu 5 hari sangatlah tidak mungkin karena aku harus menyelesaikan perjalanan ini dengan cepat bukan untuk bersenang-senang. Lagipula di pendakian tujuhbelasan biasanya akan banyak sekali pendaki dan itu bukan tipe aku. Aku lebih senang mendaki dengan suasana yang sepi dan sunyi. Dan andai saja jalur pendakian tambora tidak mempunyai jalur yang bercabang niscaya aku pasti mendaki sendiri karena bagiku mendaki seorang diri adalah sebuah kepuasan dan hal itu bukanlah hal yang harus ditakuti.

Akhirnya, setelah aku merayu dengan argumen yang aku yakin benar dan penuh memohon, aku pun ditolak mentah-mentah. Mereka hanya mau mengantar andai sebagai guide. Dengan hati hancur aku pulang bersepeda lagi menyusuri jalan-jalan yang rusak untuk meninggalkan kaki gunung Tambora. Namun aku sempat menginap lagi 2 malam di tempat Mr. Hendri. HATIKU HANCUR TAMBORA HILANG WALAU SUDAH DIDEPAN MATA…!!! Kesimpulanku Tambora adalah gunung orang kaya, artinya kalau kita tidak mempunyai duit yang cukup janganlah mendaki tambora karena akan sia-sia andai tak mampu membayar guide, kecuali kita mempunyai teman akrab disana...

Rencana dan idamanku sejak tahun 1995 untuk medaki Tambora sia-sia dan gagal total. AKU BERSUMPAH TIDAK AKAN KEMBALI LAGI KE TANAH TAMBORA. SUNGGUH AKU SAKIT HATI.....! Untuk kpata dan gamping janganlah kalian mengaku sebagai pecinta alam atau pendaki gunung kalau tidak mempunyai jiwa persaudaraan dan kepedulian sesama pendaki, apalagi dengan pendaki miskin seperti aku yang untuk mewujudkan hasrat pendakian harus bersepeda dari Jakarta dengan menyusuri jalan sepanjang pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara dan dengan melewati rintangan jalan yang amat rusak...

Untuk teman teman tercinta di tanah air yang ingin mendaki Tambora saranku janganlah ikuti jejakku karena mungkin akan mengalami hal yang sama seperti pengalamanku.

<Dari IWANSUNTER yang penuh air mata, pendaki paling miskin...Indonesia>

Friday, June 22, 2007

Di Puncak G Lawu, 13 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Lawu di Jawa Timur. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Di Puncak G Ringgit Jawa Timur, 6 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Ringgit di Situbondo, Jawa Timur. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Di Puncak G Batur Bali, 2 Juni 2007



Inilah aku di puncak Gunung Batur di Bali. Pendakian ini merupakan rangkaian perjalananku bersepeda seorang diri ke-4 dengan rute Jakarta - Bali - Jakarta selama 28 hari (start 23 Mei 2007 dan finish 19 Juni 2007)

Ekspedisi tahun 2003 di Sinar Harapan

Ekspedisi tahun 2004 di Sinar Harapan

Friday, June 15, 2007

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

Dikisahkan oleh Kuwats, pemonitor petualangan Iwansunter:

Day 18 : Iwan mengayuh sepedanya menuju kota Madiun dan terus menuju pinggir kota untuk menyambangi desa kelahiran kedua orang tuanya. Di pemakaman sebuah desa yang bernama Patihan, terbaring untuk selamanya jasad sang Ayah tercinta. Lepas tengah hari Iwan telah tiba di makam sang Ayah. Ia pun melepaskan rindu meski hanya untuk menatap gundukan tanah seraya memanjatkan doa. Malam hari, Iwan menginap di rumah sanak famili sang Ibunda.
Day 19 : Pukul 10 pagi Iwan meninggalkan desa kelahiran kedua orang tuanya untuk melanjutkan perjalanan. Menjelang sore hari, ia tiba di kota Solo dan langsung menuju ke asrama CPM -AD untuk menemui sahabat baiknya yang tinggal di sana sekaligus untuk menumpang bermalam.
Day 20 : Seharian penuh Iwan melepaskan lelah di kota Solo. Ia berencana untuk mendaki gunung Lawu, dengan menyertakan sepedanya hingga ke puncak, mulai esok hari. Hari ini ia pun sempat mengunjungi beberapa rekan petualang yang akan di kota tersebut.
Day 21 : Pagi ini Iwan mengayuh sepeda Polygon nya menuju kaki gunung Lawu. Ia sempat menuturkan bahwa jalur Tawangmangu-Cemoro Sewu terdapat tanjakan yang luar biasa. Jarak 1 km serasa 10 km, begitu keluhnya.
Day 22 : Hari ini tidak ada kabar apapun dari Iwan. Perkiraan saya, ia sedang mendaki gunung Lawu.
Day 23 : Sejak pagi hingga siang saya tidak mendapat kabar dari Iwan. Namun menjelang magrib ia mengabarkan bahwa ia tengah berada di pinggiran kota Solo. Ia menuturkan bahwa kemarin pagi ia mulai mendaki dan menginap di sekitar puncak gunung Lawu. Dan pagi hari tadi ia mulai menuruni gunung dan tiba di kaki gunung lepas tengah hari. Ini berarti pendakian gunung ini adalah pendakiannya yang ketiga (dengan menyertakan sepeda hingga ke puncak) dalam perjalanannya kali ini setelah gunung Batur dan gunung Ringgit.
Day 24 : Iwan menuturkan hari ini adalah hari pemulihan tenaga setelah energinya terkuras dua hari kemarin.

Friday, June 08, 2007

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)

Selasa, 5 Juni 2007 merupakan hari ke-14 perjalanan Iwansunter. Pagi itu ia mengayuh dari Pelabuhan Ketapang Banyuwangi menuju kota Situbondo untuk memenuhi janji dengan seorang sahabatnya setelah beberapa hari sebelumnya ia menuntaskan misinya di Bali. Sore hari, ia bersama Handoko, Ketua Mapala Baluran Univ Abdurrahman Saleh menuju pos pendakian di kaki gunung Ringgit yang terletak di sebelah barat kota Situbondo. Rabu pagi Iwan dan Handoko mendaki gunung Ringgit. Tentu saja dalam pendakian kali Iwan pun menyertakan sepeda Polygon yang ia kayuh selama ini. Menurut Iwan ia membutuhkan waktu sekitar 5 jam untuk mencapai puncak. Iapun menuturkan bahwa di gunung Ringgit terdapat tanjakan terjal yang mencapai sudut kemiringan hampir 90 derajat. Sedemikian terjalnya, di tebing tersebut telah tersedia tali yang dapat digunakan para pendaki sebagai alat bantu demi keselamatan. Menjelang magrib, Iwan dan Handoko telah berada kembali di kaki gunung Ringgit.

Kamis pagi pukul 10, Iwan kembali melanjutkan perjalanannya menuju Jakarta. Jalur pulang yang ia tempuh adalah jalur selatan pulau jawa. Hari itu ia melahap jarak Situbondo – Probolinggo. Malam hari ia menginap di Mapala Marabunta Univ Pancamarga.

Jumat, 8 Juni 2007, yang merupakan perjalanan hari ke-17 Iwan meneruskan perjalanan menuju arah Madiun. Ia memang mewajibkan dirinya untuk selalu singgah di sebuah desa di pinggiran kota kelahiran kedua orangtuanya. Terlebih lagi, sejak kepergian sang ayah tahun lalu, Iwan merasa sangat harus mengunjungi makam ayah yang sangat ia cintai. Perjalanannya hari ini hanya menempuh jarak Probolinggo – Kertosono. Iwan menuturkan bahwa saat ia melalui jalur Jombang – Kertosono, ingatannya menerawang ke masa dua tahun yang lalu, saat ia menuntaskan misi perjalanan bersepeda seorang diri untuk pertama kali dengan jarak Jakarta – gunung Rinjani, Lombok – Jakarta. Malam ini ia menumpang menginap di Pos Polisi Baron, Jawa Timur.

Polygon Journey: Jakarta-Denpasar-Jakarta

(dikisahkan secara singkat oleh Kuwats)

Jumat siang, 1 Juni 2007, Iwan telah memasuki kota Denpasar. Kedatangannya di sana telah dinanti oleh seorang sahabat baiknya, Toto Totog alias Toto Tapalnise. Perjalanan bersepeda Iwan kali ini memang juga diperuntukkan sebagai ajang “melunasi janji” Iwan kepada Toto untuk melakukan pendakian bersama gunung Batur. Iwan tidak akan pernah melupakan pertolongan yang diberikan Toto kepadanya tahun lalu. Sekedar flash back, tahun lalu saat Iwan tiba di kota Larantuka yang merupakan kota ”ujung timur” sebagai target perjalanannya bersepeda, Iwan mendapat berita tentang kepergiaan sang ayah untuk selama-lamanya. Sulit dipercaya, hari itu juga Iwan bisa tiba di pinggir kota kecil Madiun untuk menemui jasad sang ayah yang siap untuk dimakamkan. Yang pasti, pertolongan demi pertolongan diperoleh Iwan saat itu, termasuk pertolongan dari Toto.

Sabtu pagi, Iwan dan Toto menuju ke kaki gunung Batur di pulau Bali. Iwan tetap menggunakan sepeda Polygonnya sedangkan Toto mengendarai sepeda motor. Saat mendaki gunung Batur, Iwan tetap menyertakan sepedanya hingga ke puncak gunung tersebut. Bila saya tidak salah, ini berarti adalah gunung ke-3 yang ia daki dengan menyertakan sepedanya hingga ke puncak, setelah gunung Rinjani di tahun 2005 dan gunung Sinabung di tahun 2006.

Minggu pagi Iwan dan Toto kembali menuruni gunung Batur. Perjalanan cukup melelahkan mengingat Iwan harus membopong ranselnya dan sekaligus, secara bergantian, membopong sepedanya.

Senin pagi Iwan kembali melalukan perjalan menuju Jakarta. Saat saya hubungi sore tadi, ia sedang berada di kapal feri yang membawanya menyeberangi selat yang menghubungkan pulau Bali dengan pulau Jawa. Malam ini ia berencana menginap di kantor pelabuhan di Banyuwangi. Menurutnya, esok ia akan mengayuh sepedanya menuju kota Situbondo dan akan memenuhi janji dengan seorang temannya di sana untuk mendaki gunung Ringgit. Tentu saja dengan menyertakan sepeda Polygon hingga ke puncak.

Wednesday, May 30, 2007

Bersepeda Seorang Diri IV

Hari ke-1, 23 Mei 2007:
Berangkat dari Sunter Jakarta Utara. Sore tiba di Subang. Nginap di Polsek Patokbesi.
Hari ke-2, 24 Mei 2007:
Berangkat dari Subang pagi hari, tiba di Cirebon sore. Menginap di Kantor Balai Diklat Keuangan Cirebon.
Hari ke-3, 25 Mei 2007:
Berangkat dari Cirebon pagi hari. Tiba di Pekalongan menjelang sore.
Hari ke-4, 26 Mei 2007:
Rute Pekalongan - Semarang.
Hari ke-5, 27 Mei 2007:
Berangkat dari Semarang jam 7 pagi. Jam setengah 6 sore tiba di Kecamatan Purwosari, Bojonegoro.
Hari ke-6, 28 Mei 2007:
Berangkat dari Kecamatan Purwosari, Bojonegoro pukul 6 pagi, tiba di Surabaya jam 4 sore. Sempet nyasar di kota pahlawan tersebut. Nginep di Mapala Pataga, Untag.
Hari ke-7, 29 Mei 2007:
Berangkat dari Surabaya agak siang, pukul 9. Tiba di Probolinggo jam setengah lima. Nginap di Mapala Marabunta, Univ Pancamarga.
Hari ke-8, 30 Mei 2007:
Berangkat dari Probolinggo pukul 9. Sempet kena hujan di daerah pasir putih. Tiba di Situbondo pukul 5. Rencana menginap di Mapala Baluran, Univ Abdurrahman Saleh.

Thursday, May 24, 2007

BERSEPEDA LAGI....

Rabu pagi, 23 Mei 2007, kumulai kembali perjalananku bersepeda seorang diri. Sepeda Polygon type unitoga pemberian sponsorship menemani perjalananku kali ini. Sebenarnya perjalanan kali ini "hanyalah" mengulang perjalanan-perjalananku sebelumnya sekaligus "membayar" janjiku pada Toto sahabatku di Bali. Juga, perjalanan ini adalah perjalanan penghibur diri setelah aku tak berhasil mendapatkan sponsor untuk mendanai rencana petualanganku di tahun 2007 yaitu bersepatu roda Jakarta-Surabaya dan bersepeda plus ndaki gunung pada perjalanan Jakarta-Bali.

Bermodalkan sepeda sponsor dan uang dua ratus ribu perak pemberian pak Lurah Sunter Agung serta beberapa item dari Avtech kumantapkan tekadku untuk tetap melaju di jalan raya dengan kayuhan. Targetku kali ini adalah bersepeda dari Jakarta menuju Denpasar Bali, pulang pergi. Rencananya, sesampai di Bali nanti aku juga akan mendaki gunung Batur. Dan dalam perjalanan pulang nanti, ku kan daki pula gunung Merbabu di Jawa Tengah.

Kuberharap pada akhir Juni aku sudah bisa tiba kembali di Sunter Jakarta Utara. Tawaran perjalanan dari seorang rekan untuk kegiatan sosial telah menantiku di awal bulan Juli.

Ya Allah...lindungi aku dalam perjalanan ini.....

MALLORY-KU

Tanggal 22 Februari 2004 aku “menakdirkan” diri ke Kecamatan Gisting Kabupaten Tanggamus Lampung Selatan yang berada di kaki Gunung Tanggamus untuk mendaki Gunung Tanggamus (2132 mdpl) dalam rangkaian perjalananku mendaki 15 gunung pulau sumatera. Gunung Tanggumus merupakan gunung ke-13 dalam perjalanan kali itu.

Kemarin, tanggal 10 Mei 2007, aku “ditakdirkan” untuk kembali menginjak Kecamatan Gisting. Namun kali ini bukan untuk mendaki Gunung Tanggamus melainkan untuk menyaksikan lahirnya anak pertamaku di Rumah Sakit Panti Secanti Gisting. Kuberi nama anak laki-lakiku itu: George Leigh Mallory yang kuambil dari nama pendaki legendaris Everest asal Inggris yang hilang di tahun 1924. Mallory adalah sosok seorang pendaki yang penuh ambisi serta mental dan keberanian yang dahsyat. Selain Mallory, pendaki lain yang juga menjadi idolaku adalah Reinhold Messner, sang Dewa Gunung asal Italia.

Pilihanku memilih Mallory untuk kusandangkan nama tersebut pada anakku semata-mata karena aku lebih “feeling” kepadanya. Aku kagum padanya lantaran ia merupakan pendaki tahun 1920-an yang menghajar Everest sebanyak tiga kali dalam cuaca dan iklim yang masih perawan dan amat berbahaya. Dan saat banyak orang bertanya padaku tentang alasan pemberian nama Mallory pada anakku, kujawab, “because he born there” sambil kutunjuk kaki Gunung Tenggamus.

Bila saja anakku yang lahir tersebut berjenis kelamin perempuan, pastilah ia kuberi nama Inerie Cartensz Gasherbrum….

(Lampung, 11 Mei 2007)

Thursday, February 15, 2007

Awan Suci kah????


Sore ini (Rabu, 14 Februari 2007) sekitar pukul enam sore secara nggak sengaja mataku terarah pada sekumpulan awan putih yang disekitarnya bersih tanpa awan.
Hatiku langsung bergetar begitu ku tangkap sekilas awan tersebut membentuk tulisan nama Allah...
Aku nggak tau apakah memang awan itu membentuk tulisan seperti itu atau tidak. Namun yang pasti hatiku sontak mengucapkan takbir! Belum pernah kulihat kumpulan awan yang seperti itu.
Sejenak kemudian aku pun tersadar. Segera ku raih hape sony ericsson tipe K-700 yang senantiasa menemaniku. Ku bidikkan kamera build-in hape tersebut untuk sekedar mengabadikannya. Juga kusempatkan untuk merekamnya dengan fasilitas dari kamera tersebut.
Jujur...aku tak tahu bermaknakah ini semua bagi ku dan bagi kita semua????

Sunday, November 05, 2006

Perjalanan Mengenang 100 hari Wafat Sang Ayah Tercinta


Bersepeda Seorang Diri dengan Sepeda Onta Tua: Jakarta-Madiun-Jakarta
(dikisahkan oleh Kuwat, Pemonitor Perjalanan Iwansunter Sang Penakluk Bersepeda Seorang Diri)

Hari ke-1: Sabtu, 4 November 2006

Rencana perjalanan Iwansunter kali ini terbilang sangat pendek, karena hanya mengayuh untuk rute di pulau Jawa saja. Terbilang pendek pun karena ia adalah sang penakluk rute Jakarta – Sabang, NAD – Jakarta – Larantuka, NTT dengan bersepeda seorang diri beberapa bulan lalu. Meskipun demikian, Iwan tetap mempersiapkan rencana perjalanannya ini dengan sungguh-sungguh. Dalam setiap ekspedisinya, baik mendaki gunung maupun bersepeda, ia tidak pernah meremehkan medan yang akan dilaluinya. Semuanya harus dengan perhitungan, begitu katanya. Perjalanan bersepeda kali ini Iwan dedikasikan sebagai bentuk kecintaannya pada sang Ayah yang telah berpulang ke rahmatullah beberapa bulan lalu, tepatnya tanggal 6 Agustus 2006 di Jakarta. Saat itu, Iwan persis sedang berada di kota Larantuka. Saat mendapat kabar tentang kematian sang Ayah, ia baru saja mengayuh sepeda beberapa kilometer meninggalkan kota Larantuka menuju Jakarta. Saat itulah kepedihan luar biasa yang belum pernah ia rasakan menimpanya. Dengan rasa kalut dan duka ia berusaha sedemikian rupa agar bisa menyaksikan pemakaman sang Ayah di desa kelahirannya. Di Desa Patihan Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Alhamdulillah, dengan kuasa Allah, Iwan masih diijinkan untuk ikut memakamkan sang Ayah pada hari Senin, 7 Agustus 2006. Meskipun untuk hal itu, ia mesti melego sepeda Polygon kesayangannya di pada seseorang di Larantuka. Pertemuan terakhir dengan sang Ayah juga dilepas dari bantuan kawan-kawan Iwan yang ada di beberapa kota, khususnya Bang Toto, sahabat baiknya yang tinggal di Denpasar, Bali. Iwan memulai ekpedisi kali ini, tepat pada pukul 08.46 WIB dari kediamannya di Sunter Agung, Jakarta Utara. Dengan menggunakan kaos berwarna merah, topi merah, celana panjang butut, dan bersandal, Iwan memulai mengayuh sepeda Onta Tua milik sang Ayah ketika ia masih aktif bekerja. Sore pukul 18.40 WIB, Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di Pamanukan, Jawa Barat. Seperti biasa, ia menumpang nginap di kantor polisi setempat. Menurutnya, perjalanan hari ini lancar-lancar. Hanya saja, saat menjelang tiba di Pamanukan, hari telah gelap. Beberapa kali ia hampir dicium bus-bus malam dari bagian belakang karena memang sepeda yang ia gunakan tidak dilengkapi lampu dinamo dan lampu kucing. (ksg)

Hari ke-2 dan ke-3 (Minggu-Senin, 5-6 November 2006)

Sore ini Iwan mengabarkan bahwa ia telah tiba di kota batik, Pekalongan, Jawa Tengah. Ini merupakan hari ke-3 Iwan mengarungi jalan pantura untuk kesekian kalinya dengan bersepeda seorang diri. Kemarin ia menempuh jarak: Pamanukan, Jawa Barat hingga ke Desa Playangan, Cirebon. Hari ini dan kemarin, problem yang dihadapi Iwan sama yaitu terik panas matahari yang luar biasa! Ditambah lagi, menurutnya, ternyata bersepeda dengan menggunakan sepeda Onta cukup berat. Di samping bentuknya yang tinggi yang mengharuskan Iwan berjinjit saat mengayuh, juga karena kayuhan yang berat. Iwan merasakan perbedaan luar biasa antara bentuk sepeda gunung dengan sepeda tukang ojek! Bila kemarin malam ia menginap di rumah seorang sahabatnya di Desa Playangan, malam ini Iwan menumpang nginap di Kampus STAIN Pekalongan. (ksg)

Hari ke-4 (Selasa, 7 November 2006)

Perjalanan hari ini dimulai dari Kampus STAIN Pekalongan dan berakhir di Kampus Universitas Diponegoro Semarang. Menurut Iwan kondisi di perjalanan masih sama dengan kemarin, yaitu panas terik. Saat ia telah melalui Jalur Alas Roban, ia berkirim sms yang isinya: ”Demi bapak alas roban gua hajar nggak pake nuntun sepeda. Sangat buerrraaaat tapi puas. Mudah-mudahnya bapak tau kalo sepedanya hebat! (ksg)

Hari ke-5 (Rabu, 8 November 2006)

Jalur yang ditempuh Iwan hari ini adalah Semarang – Solo. Jalan yang kadang menurun dan kadang menanjak ia raih dengan relatif mudah. Alhamdulillah tidak ada halangan berarti yang menerpa Iwan. Ia pun tiba di kota Solo sore hari tadi. Malam ini ia menumpang nginap di Malimpa Universitas Muhammadiyah Solo. Besok, sesuai rencana ia telah tiba di desa kelahiran sang ayah tercinta yang berada di pinggiran kota Madiun. (ksg)

Hari ke-6 (Kamis, 9 November 2006)

Menjelang magrib Iwan tiba di Desa Patihan Kabupaten Magetan yang berada di pinggir kota/kabupaten Madiun. Hari ini ia mengayuh sepeda tuanya dari kota Solo hingga desa tersebut. Saat tiba di desa kelahiran sang ayah, ia tidak menuju ke rumah sang ayah melainkan langsung menyambangi makam sang ayah tercinta. Meskipun hari telah gelap namun tidak menyurutkan langkah Iwan untuk bertandang ke pemakaman yang sunyi tersebut. Ia nampak puas mampu menyelesaikan misi pendeknya kali ini. Ia puas mampu menunjukkan bahwa sepeda tua ayahnya ternyata mampu ia kayuh dari Jakarta hingga ke tanah kelahiran sang ayah. Kita memang tidak tahu tentang alam baka. Yang Iwan hadapi saat di pemakaman pun sesungguhnya hanyalah gundukan tanah yang menyelimuti jasad-jasad yang telah terlepas dari raganya. Namun, ia tetap berbangga bahwa keinginannya membawa sepeda tersebut hingga ke tempat yang ia inginkan telah terlaksana dengan baik. Hanya Allah yang Maha Besarlah yang maha tahu segala yang diperbuat hambanya. (ksg)

Hari ke-7 (Jumat, 10 November 2006)

Seharian ini Iwan menghabiskan waktunya untuk beristirahat dan mengunjungi kerabat-kerabat nya yang ada di desa tersebut dan desa tetangga lainnya. Tak lupa siang hari inipun ia kembali mendatangi makam sang ayah untuk sekedar menghibur diri. Menurutnya, masih ada rasa penyesalan mendalam yang ia rasakan saat ini. Kenangan pahit beberapa bulan lalu pun tersirat kembali. Ia teringat saat sang ayah dipanggil oleh-Nya, ia sedang berada di pinggiran kota Larantuka, NTT. Saat itu ia baru saja akan meninggalkan kota Larantuka setelah ia rengkuh dengan kayuhan sepeda dari Jakarta. Iwan sadar bahwa semua adalah rahasia Allah dan Allah selalu memberikan yang terbaik bagi ummat-Nya. Kini ia hanya bisa berikhlas diri seraya berdoa untuk arwah sang ayah yang sangat ia cintai.

Hari ke-10 (Selasa, 13 November 2006)

Sepanjang hari Sabtu dan Minggu kemarin, Iwan menggunakan waktunya untuk lebih banyak berinstopeksi diri dan bersilaturahmi dengan kerabat-kerabatnya. Sesekali ia mengunjungi makam sang ayah. Bahkan selesai acara tahlilan (doa bersama) yang diadakan pada minggu malam, Iwan menyempatkan datang ke makam sang ayah. Keadaan area pemakaman saat itu tentu saja hening plus gelap gulita. Namun tekad bajanya telah menghilangkan rasa takut dalam diri Iwan. Baginya menyambangi makam pada siang atau malam hari tidak ada bedanya. Semakin sering mengunjungi makam, semakin sadar pula ia akan datangnya hari akhir. Pagi ini Iwan kembali mengayuh sepedanya untuk menuju kembali ke Jakarta. Ekspedisinya kali ini tidak diselinginya dengan mendaki gunung. Ekspedisi singkatnya benar-benar ia gunakan untuk mengayuh sepeda onta tua peninggalan sang ayah. Ia merencanakan menempuh jalur selatan untuk menuju Jakarta. Kalau tidak ada halangan, Insya Allah hari minggu ia bisa tiba di Jakarta, begitu tutur Iwan via sms kepada saya. (ksg)