Monday, May 12, 2014

Petualangan 2014: Lari Jakarta Surabaya PP, hari ke-35 dan ke-36

Kemarin (Minggu, 11 Mei 2014) Iwan beristirahat total di Balai Diklat Jogja. Selain untuk memulihkan stamina, istirahat total tersebut juga untuk memulihkan cidera pada kaki kirinya. Saya sempat mengirimkan sms yang berisi himbauan agar ia tidak melanjutkan perjalanannya karena khawatir dengan kondisi kaki kirinya yang sudah terasa nyeri. Saya hanya khawatir bila kondisi ini bisa berdampak parah bagi kondisi kaki dia di masa yang akan datang.


Minggu, 11 Mei 2014 (hari ke-35)

"Tidur make AC ternyata enak banget." (05:44)

Atas kekhawatiran saya di atas, Iwan membalas sms, "Ya bener. Tapi kalo dikompres dan di rest-kan nanti akan enak. Kan gw dah cidera sejak di Alas Roban. Makanya di Semarang kmrn gw rest sehari. Besoknya baru manteb." (10:37)


"Ternyata konsumsi makan dan lamanya tidur mempengaruhi kondisi lari. Dan itu terjadi sama gw kemarin." (11:35)

"Perjalanan lari nggak akan gw ulang karena biaya makan dan minum lebih besar daripada perjalanan jalan kaki. Sulit untuk ngirit." (17:59)


Senin, 12 Mei 2014 (hari ke-36)

Pagi ini Iwan melanjutkan kembali "pelarian" nya.

"Gw cuma bisa pamit sama satpam aja. Pegawai lain belum ada." (06:31)

"Gw cabut dulu lah. Mumpung masih pagi." (06:42)

"Gw rest deket simpang Purworejo-Godean-Magelang. Alhamdulillah dah bisa lari 1,5 jam nonstop." (08:25)

"Kaki gw Sabtu kemarin emang sakit banget tapi bukan berarti gw harus stop perjalanan ini. Karena kalo mau tau kesuksesan perjalanan lari ini adalah bagaimana gw bisa mencintai jalan raya rute yang gw lalui dengan baik. Jadi berusaha rileks dan menikmati setiap meter demi meternya..." (09:53)

"Seperti sekarang ini, tatkala gw mulai lapar, gw mencari suasana angkringan yang nyantai yang asik." (09:55)

"Asem. Barusan gw papasan sama bapak-bapak tua main inline skate. Bikin ngiri aja. Perjalanan inline skate Jakarta Surabaya Jakarta, plan tahun 2007 gw yang tertunda tuh!" (10:17)

"Gw udah di Sentolo, Kabupaten Kulonprogo. Rest siang." (12:00)

"Hari ini lari gw udah bisa stabil. Kaki udah enakan daripada Sabtu kemarin." (12:25)

"Gw dah di Wates." (16:29)

"Gw lagi rest di pinggir kali kecil yang airnya lumayan bersih. Menikmati es teh manis setelah tadi makan nasi kucing di angkringan pinggir jalan." (16:42)

"Kartosuro-Balai Diklat padahal jaraknya lebih dekat daripada Balai Diklat-Wates tapi Sabtu kemarin gw emang nggak fit, makanya sampe jam setengah sepuluh malam. Sedang hari ini gw lagi lumayan fit makanya lari terasa enak di samping cuaca nggak begitu panas daripada Sabtu yang amat terik." (16:51)

"Di sini magrib jam setengah enaman. Sama kayak Jatim dan hari ini mulai gelap. Jam 6 udah gelap total. hari ini untuk menjaga kondisi, gw udah cukup lari. Sekarang lagi rest di masjid mau mandi dan sholat. Tapi kayaknya gw nginep di pombensin yang jaraknya 100 m dari masjid ini." (18:03)

"Ohya satu lagi. Jalan yang gw lalui menyempit. Jadi bahaya kalo lari malam. Bus-bus dari tadi kenceng-kenceng." (18:08)

"Sepatu merek Devin (nama temen gw yang ngasih sepatu ini) emang luar biasa. Walau bagian belakang udah tipis tapi masih kuat dihajar lari. Sampe Jakarta dilelang bisa laku 100juta kayaknya hahahaha" (18:20)

"Gw kadang bingung sendiri. Karena ternyata hampir semua masjid yang gw singgahi pas gw rest siang atau malam adalah tempat yang sama yang selalu gw singgahi kalo berpetualang di pulau Jawa. Mungkin karena gw terlalu sering melewati jalur ini." (19:09)

"Udah mandi dan sholat. Seger. Badan nggak lengket dan bau keringat. Tinggal masuk pombensin cari mimpi." (19:47)

Dikisahkan oleh Kuwat Slamet