Thursday, May 15, 2014

Petualangan 2014: Lari Jakarta Surabaya PP, hari ke-39

Kamis, 15 Mei 2014 (hari ke-39)


"Semalam gw tidur di bangku panjang bambu. Paginya gw lari santai sampe Karanganyar nyari sarapan. Menu pagi yang asik: nasi gudeg plus telor. Sekarang nunggu nasi turun..." (07:00)

"Hari ini mood gw payah. Lari baru 3km liat warung lotek malah berhenti. Padahal tadi udah makan nasi gudeg. Pake penutup kopi lagi. Hidup indah kali jadi orang kaya. Petualangan nggak pusing ama duit." (09:16)

"Dua hari lalu gw ketemu sama anak Semper (Jakarta Utara-red). Abis plesiran ke Yogja. Katanya duitnya hilang. Dia coba jalan kaki padahal dia masih pegang hape 2 biji. Yang gw heran tuh anak bego amat milis trus jalan kaki dengan risiko di jalan yang tinggi. Juga biaya makan minum. Kenapa dia nggak jual aja hapenya trus naik kreta. Padahal ibunya udah was-was nyuruh cepet pulang. Awalnya gw simpati. Waktu ngobrol di masjid, gw kasih duit buat makan minum di angkringan. Tapi tambah lama kok gw pikir dia bego banget. Kenapa sampe hari ini masih jalan? Kemarin dia udah teriak minta P3K via sms, kakinya sakit. Mungkin dia pikir kalo dia bisa pulang jalan kaki Yogja Jakarta jadi hebat kali. Padahal jalan kaki itu butuh persiapan lumayan matang. Bukan nyari penyakit dengan cara yang konyol..." (09:33)

Setelah sms di atas, kami saling ber-sms-an membahas kekonyolan si anak Semper tersebut. Kami sebut konyol karena ia tergolong nekad. Hanya karena duitnya hilang ia nekad berjalan kaki pulang menuju Jakarta. Padahal dengan berjalan kaki tentu saja butuh waktu lama, berisiko, dan juga butuh dana untuk makan dan minum. Entah dari mana ia mendapatkan uang untuk makan dan minum yang bila ia dapatkan sebenarnya akan lebih berharga bila ia gunakan untuk membeli tiket kereta api ataupun bus malam.
Agak aneh memang bagi kami berdua, walaupun tetap terbesit rasa iba. Aneh, karena toh ia masih memegang hape 2 buah, meskipun buatan China, yang bisa ia jual untuk sekedar membeli tiket pulang. Aneh, karena bila ia memiliki keluarga, tentu saja ia bisa meminta bantuan keluarganya. Kecuali bila keluarga yang bersangkutan memang tidak peduli.
Ah, akhirnya kami menyudahi pembicaraan tentang si "anak Semper" tersebut dengan tanda tanya di kepala kami masing-masing.
Semoga ia diberikan kemudahan selama dalam perjalanan...

"Gw nyantai di Gombong nich. Tadi sempet tidur setengah jam di warung yang tutup pinggir sawah. Gara-gara liat tempat teduh banget." (09:35)

"Lama nggak ngudut akhirnya gw beli udut karena kangen udut." (16:47)

"Target hari ini Buntu. Tapi Buntu masih 4 km lagi. Gw agak lambat karena hari ini gw banyak berhenti karena lapar. Jadi gw makan mulu." (17:54)

"Pombensin Buntu adalah tempat gw nginep waktu jalan kaki tahun 2011." (18:01)

"Pombensin Buntu adalah pombensin yang paling gw suka di antara pombensin yang pernah gw singgahi. Karena di sini bersih dan juga fasilitas umum gratis. Nggak komersil." (21:52)

Dikisahkan oleh Kuwat Slamet